Duel Jadi Makin Penting

Jackson Irvine. Foto: Riiana Izzietova

Gelandang-gelandang yang mampu memenangi duel, membaca permainan dengan baik untuk merebut bola kedua, juga akan di-highlight dan bernilai makin tinggi. 

Perkembangan sepak bola tak hanya menghadirkan kesulitan untuk mencetak gol via open play, tapi juga menghadirkan permainan yang lebih physical.

Siapa pun yang ingin memenangkan pertandingan harus mampu memenangkan duel, harus mampu memenangkan second ball, harus mampu membaca situasi dengan cermat. Perkara duel jadi lebih penting.

Meningkatnya tren penggunaan man-to-man marking yang membuat tim memilih untuk mem-by-pass pressing dengan menggunakan long-ball juga menjadi sebab mengapa duel menjadi semakin krusial pada sepak bola modern ini.

Sebagai gambaran, di Premier League jumlah duel udara meningkat dari 28,7 per 90 menit musim lalu menjadi 35,54 duel pada musim ini. Duel-duel udara ini acap menghadirkan situasi 50:50 atau situasi loose ball jika merujuk definisi Wyscout, di mana tak ada satu pun tim memiliki kuasa penuh atas bola. Sebab, bola yang berasal dari duel udara acap sulit ditebak arahnya, sulit untuk dikontrol.


Situasi duel untuk menenangkan loose ball di Premier League meningkat dari 91, 58 per 90 menit musim lalu menjadi 93,38 musim ini.

Di Bundesliga, angkanya bahkan sudah melewati 104 per 90 menit di musim lalu, di mana rerata duel udara juga sudah melewati angka 35 duel per 90 menit.

Dengan Bundesliga cukup layak untuk dijadikan acuan perkembangan taktik bila melihat tren pelatih atau cara tim bermain, bisa dilihat pula bagaimana tim-tim sudah beradaptasi untuk bisa memenangi duel-duel. Sejak musim lalu, persentase duel sukses di Bundesliga sudah melewati 62%.

Premier League pun menyusul musim ini dengan persentase duel sukses sudah menyentuh 62.6%, meningkat dari angka 60.8% pada musim lalu.

Tim-tim di liga top Eropa sudah beradaptasi untuk memenangi duel, beradaptasi untuk menemukan cara agar mampu memegang kendali penuh atas bola dalam pertandingan yang banyak menghadirkan situasi tanpa kontrol (seperti situasi loose ball, 50:50).

Tak heran pula mengapa peran gelandang nomor enam yang piawai memenangkan duel menjadi penting.

Arsenal, misalnya, merekrut Martin Zubimendi untuk membantu mereka memenangkan due dan hasilnya cukup baik: Mereka tak hanya berada di puncak klasemen Premier League, tapi Zubimendi juga berada dalam daftar top 10 gelandang dengan persentase duel sukses terbanyak. Dalam daftar 10 pemain itu, ada nama Declan Rice juga di sana.

Pada laga Derbi London Utara menghadapi Tottenham Hotspur pekan lalu, adalah duel yang menjadi kunci Arsenal memenangkan pertandingan, dengan mereka mencatatkan 71 duel sukses dengan Zubimendi memenangkan seluruh duel di mana ia terlibat.

Salah satu alasan mengapa Manchester City masih konsisten untuk memperebutkan gelar Premier League musim ini adalah karena Rodri konsisten bermain di lini tengah—ia ada pada nomor satu dalam daftar 10 gelandang yang disebutkan di atas, dengan persentase duel sukses sebesar 71.05%.

Salah satu gelandang yang sering dirumorkan jadi buruan klub-klub besar, Elliot Anderson, memang tak masuk dalam daftar 10 gelandang tersebut. Namun, di antara gelandang yang telah mencatatkan setidaknya 800 menit di Premier League, Anderson adalah nama dengan duel terbanyak—ini menjadi nilai plus bagi klub yang ingin meminangnya.

Di Bundesliga, nama-nama seperti Kaishu Sano, Nicolas Seiwald, dan Nicolas Capaldo masuk dalam daftar elite dalam aspek duel.

Yang menarik, ada nama Jackson Irvine pada daftar 10 gelandang dengan rerata duel sukses terbanyak. Kapten St. Pauli itu mencatatkan 6.53 duel sukses per 90 menit sejauh musim ini.

Irvine memang bukan pemain yang menonjol pada aspek teknik, kecepatan, atau bukan gelandang yang mampu menghasilkan umpan-umpan brilian. Namun, ia adalah gelandang yang mampu membaca permainan dengan baik. Dan ini yang menjadi kunci dari keberhasilannya memenangi duel-duel, merebut bola kedua, mengintersep umpan-umpan lawan.

“Untuk mengerti momen yang tepat untuk bergerak mengambil bola, untuk tahu kapan untuk menjadi lebih agresif,“ itu yang jadi kunci bagaimana Irvine mampu memenangkan duel dengan baik.

Namun, ia juga mengakui bahwa kemampuan itu sulit untuk dilatih. Sense untuk memenangkan duel, sense untuk membaca arah bola, sense untuk memenangkan bola kedua, kata Irvine adalah sesuatu yang tak datang dalam satu atau dua latihan.

Video analisis, bagi Irvine, memang membantu, tapi situasi dalam setiap pertandingan berubah-ubah, kadang seorang pemain berada dalam situasi ter-overload oleh lawan, kadang berada pada tim yang memilih lebih agresif (atau lebih memilih bermain front foot) ketimbang lawan.

“Itu (situasi berbeda-beda untuk duel atau second ball) bukan sesuatu yang kami lihat secara spesifik,“ kata Irvine.

Foto: Riiana Izzietova

Bila ada aspek taktik dalam latihan, atau pertandingan, yang mampu membantu seorang pemain lebih mudah untuk memenangkan duel tentu adalah struktur tim dalam melakukan overload atau pressing—kapan atau seberapa agresif pemain untuk lompat ke lawan atau bola.

Irvine memberikan contoh pada saya bagaimana pada babak pertama laga vs Werder Bremen, ia dan rekan-rekannya kesulitan memenangi duel atau bola kedua karena lawan melakukan overload (3 vs 2) di tengah.

Namun, pada babak dua, St. Pauli mengubah pendekatan untuk bermain lebih agresif, membuat bek tengah mampu lompat untuk menekan gelandang lawan, sehingga gelandang seperti Irvine mendapatkan support untuk memenangkan duel atau bola kedua. Mereka tak lagi inferior secara jumlah dan St. Pauli akhirnya menang 2-1 berkat perubahan itu.

Satu hal lain yang membantu Irvine mampu memiliki pemahaman baik dalam membaca momentum untuk memenangi duel atau merebut bola kedua dari lawan tentu adalah pengalaman.

“Bagaimana kamu mengerti dan mampu membaca pertandingan akan membaik seiring berjalannya waktu. Dan buat saya, tentu saja, ini adalah sesuatu yang makin membaik seiring dengan bertambahnya usia saya,“ jelas Irvine.

Foto: Riiana Izzietova

Well, sebagai konteks Irvine sudah 32 tahun dan tren memang menunjukkan bagaimana pemain yang berumur atau berpengalaman tetap mampu menunjukkan performa baik dalam urusan duel ini.

Di Premier League, misalnya, nama-nama senior seperti Palhinha dan Granit Xhaka masih mendominasi soal urusan duel. Pemain macam Zubimendi, Declan Rice, serta Rodri pun sudah berusia lebih dari 27 tahun.

Dan inil bisa menjadi salah satu alasan mengapa beberapa klub besar memilih untuk tidak melulu berinvestasi kepada pemain muda ketika mencari gelandang bertahan. Sebab pengalaman memang menjadi kunci penting.

Beberapa musim silam, aspek yang di-highlight dari seorang gelandang, terutama mereka yang bermain lebih dalam, mungkin adalah soal kemampuan mereka mengontrol permainan, lolos dari pressing, memberikan umpan-umpan progresif atau yang mampu membelah pertahanan lawan.

Tentu saja aspek-aspek itu masih amat penting dan masih akan menjadi nilai jual seorang gelandang. Namun, bila melihat pergerakan tren sepak bola saat ini, kita bisa pula memprediksi bahwa gelandang-gelandang yang mampu memenangi duel, membaca permainan dengan baik untuk merebut bola kedua, juga akan di-highlight dan bernilai makin tinggi.