Eden Hazard: Dari Gawang Lawan ke Ruang Perawatan

Foto: Twitter @eltransistor

Harapan yang diinginkan Eden Hazard untuk bermain di Real Madrid kini malah lebih tampak seperti mimpi yang suram.

Real Madrid adalah cinta kedua yang ditemukan Eden Hazard setelah sepak bola. Mungkin terdengar klise, tetapi memang itu yang terjadi.

Hazard tidak pernah berbohong soal perasaannya terhadap Madrid. Menurut ayahnya, Thierry, ia memajang banyak poster pemain Madrid di kamar. Ia juga memegang kendali remote televisi di ruang keluarga saat Madrid bertanding.

Perasaan Hazard terhadap Madrid tidak berkurang sedikit pun bahkan saat ia telah menjadi pemain profesional. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan saat memperkuat Lille, ia berkata bahwa Madrid adalah klub kesukaannya.

“Yang saya pikirkan saat ini adalah mendapatkan kesempatan untuk bermain secara reguler. Saya berharap, suatu saat nanti, saya bisa memperkuat Madrid karena adalah tim yang besar dan bermain dalam kualitas tinggi,” kata Hazard.

Pernyataan tersebut diucapkan Hazard tidak lama setelah ia berulang tahun ke-18. Sebelas tahun berselang, harapannya menjadi kenyataan. Ia bergabung Madrid dengan nilai transfer 100 juta euro dan menjadikannya pemain termahal Madrid jika menghitung semua klausul transfer.

Sebelum bergabung Madrid, Hazard menghabiskan tujuh musim bersama Chelsea. Dalam kurun tersebut, ia memberikan The Blues enam gelar, termasuk dua gelar Premier League, yakni pada musim 2014/15 dan 2016/17.

Pada masa awalnya berseragam Chelsea, Hazard ditempatkan di posisi winger kiri oleh Roberto Di Matteo dalam pola 4-2-3-1. Peran ini terus dilakoni Hazard hingga pos manajer diambil alih oleh Jose Mourinho pada musim panas 2013.

Musim 2013/14 atau musim perdana Hazard di bawah kepemimpinan Mourinho jadi tempat baginya untuk unjuk gigi. Dalam musim itu, ia berhasil membukukan rata-rata 2,7 umpan kunci dan 3,8 dribel. Angka tersebut di atas catatan gelandang serang lain, seperti Oscar, Willian, dan Andre Schurrle.

Catatan Hazard pada musim tersebut tidak hanya apik saat menyerang. Ketika bertahan, ia juga menjadi pemain andalan lantaran jeli melepaskan tekel kepada lawan. Rerata tekelnya yang mencapai 0,7 bahkan menjadi yang paling tinggi di antara gelandang serang lain.

Penampilan Hazard juga layak diapresiasi saat Chelsea menjuarai Premier League 2016/17. Meski kembali diturunkan di pos winger kiri, Antonio Conte memberikan Hazard tugas tambahan, yakni sebagai tumpuan mencetak gol.

Peran ini membuat Hazard kian tajam. Setelah rutin mencetak gol dalam tiga pertandingan awal di Premier League, ia menutup musim tersebut sebagai pencetak gol terbanyak kedua di tim dengan total 16 gol.

Saat Chelsea dipegang oleh Maurizio Sarri atau pada musim 2018/19, tugas Hazard kembali bertambah. Ia tidak hanya menjadi tumpuan tim untuk mencetak gol, tetapi juga kunci saat melakukan serangan.

Hazard membalas tugas tersebut dengan penampilan menawan. Ia mengakhiri musim dengan angka-angka apik di segala aspek yang berhubungan dengan serangan. Ia tidak hanya mengandalkan kreativitas, tetapi juga kemampuan menjebol gawan lawan.

Hazard pun menutup musim 2018/19 dengan spektakuler: 16 gol dan 15 assist. Namanya juga dinobatkan sebagai Premier League Playmaker of the Season.

Segala pencapaian apik Hazard di Chelsea (untuk saat ini) ternyata tidak berlanjut di Madrid. Mimpi yang sudah lama ia canangkan, kini sepertinya akan berakhir suram.

Hampir dua musim lamanya bermain di Madrid, Hazard tampak sebagai seorang pesakitan. Jangankan bermain reguler, pilihan utama bukan lagi tempatnya. Sejauh ini, ia bahkan baru diturunkan dalam 26 pertandingan La Liga atau 13 pertandingan per musim.

Jumlah tersebut rasanya tidak masuk akal. Pasalnya, selama tujuh musim berada di Chelsea, ia mencatatkan rata-rata 35 penampilan dalam semusim. Angka ini bahkan di atas Cesar Azpilicueta dan N’Golo Kante yang rutin dimainkan.

Masalah terbesar Hazard di Madrid adalah cedera. Sejak bergabung Madrid, ia telah absen dalam 358 hari atau hampir satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut, ia tidak dapat bermain dalam 58 pertandingan.

Cedera yang dialami oleh Hazard pun bervariasi, mulai dari cedera otot betis, cedera otot paha, retak tulang fibula, retak telapak kaki. Ia juga sempat positif COVID-19 dan diharuskan absen selama 13 hari.

Menurut kepala tim dokter Timnas Belgia, Kristof Sas, apa yang dialami oleh Hazard sudah terhitung berat dan sulit baginya untuk kembali normal. “Hazard mengalami siklus cedera. Jika hari ini ia dinyatakan sembuh, suatu hari, ia pasti akan kembali cedera,” kata Sas.

Sas menambahkan bahwa masalah Hazard tidak hanya akan berdampak fisik, tetapi juga mental. Menurutnya, tidak banyak pemain yang bisa bangkit saat terperangkap dalam siklus ini. Sebab, yang ada di pikiran mereka lagi-lagi adalah cedera.

Pernyataan Sas seakan terbukti akhir pekan lalu saat Hazard diturunkan dalam laga melawan Real Betis. Tampil selama 13 menit, ia gagal menunjukkan segala kemampuan yang dimiliki. Ia tidak sekali pun melakukan dribel, bahkan percobaan ke gawang lawan.

Madrid dijadwalkan akan menjamu Chelsea pada Rabu (28/4/2021) dini hari WIB. Dalam konferensi pers sebelum pertandingan, pelatih Madrid, Zinedine Zidane, menyatakan bahwa Hazard siap untuk diturunkan.

Laga ini seakan menjadi alarm bagi Hazard. Apakah ia dapat kembali menjadi teror untuk lawan? Atau justru membuatnya lebih pantas ditempatkan di ruang perawatan?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.