England's Smartest Club

Foto: @brentfordfc

Dari klub semenjana, Brentford menjadi kontestan yang difavoritkan untuk promosi ke Premier League.

Mundur ke puluhan tahun lalu, Brentford adalah klub semenjana yang tak bisa melakukan apa-apa.

Brentford menghabiskan banyak musim di level ketiga dan keempat dalam piramida sepak bola Inggris. Mereka juga tak sedikit menghamburkan uang demi mentas dan naik ke level teratas.

Semua daya dan upaya yang dilakukan Brentford terasa sia-sia. Tak ada lagi orang kaya yang mau merelakan sedikit hartanya dan tak lagi banyak orang yang mau menonton mereka. Pada akhirnya, serikat suporter Brentford, Bees United, datang menyelamatkan mereka.

Bees United berambisi menjadikan Brentford sebagai fan owned club. Demi mewujudkan ambisi tersebut--dan tanpa bekingan orang-orang kaya--mereka rutin menarik dana dari dompet para anggota dan melibatkan mereka ke pengembangan klub.

Musim demi musim dilakoni Bees United sebagai pemegang saham mayoritas. Beragam cara lawas mereka tinggalkan dan banyak inovasi mereka lakukan. Seiring perubahan tahun, tidak ada hal signifikan yang kelihatan.

Pada 2009, Matthew Benham muncul dan memiliki rencana untuk mengakuisisi beberapa persen saham milik Bees United. Dengan latar belakang dan statusnya yang bukan merupakan anggota Bees United, rencana ini dipandang sebelah mata.

Benham lantas mengadakan pertemuan dengan jajaran petinggi Bees United. Pengusaha ini membawa presentasi dengan mayoritas isi yang berbicara soal pentingnya data, sains, dan teknologi dalam setiap pengambilan keputusan. Bees United setuju dan Benham mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sejak kedatangan Benham, beberapa kebijakan di Brentford tak dibuat hanya berdasarkan perasaan dan pengalaman. Kini, semua hal yang dilakukan oleh Brentford juga menggunakan angka dan data.

Hasil dari perubahan tersebut akhirnya kelihatan. Pelan-pelan, mereka menapaki level yang lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Musim lalu, mereka bahkan berhasil finis di urutan ketiga Divisi Championship dan hanya berjarak dua angka dari tim posisi kedua.

Musim ini, Brentford berhasil masuk ke semifinal Piala Liga. Catatan ini termasuk mengesankan mengingat mereka berhasil mengandaskan empat klub Premier League, Southampton, West Bromwich Albion, Fulham, dan Newcastle United. Sayang, mereka kandas di tangan Tottenham Hotspur 0-2, Rabu (6/1) dini hari WIB.

Matthew Benham/ Foto: @JamesTippett

Berbagai keberhasilan tersebut lantas melabeli Brentford sebagai Moneyball-nya sepak bola. Benham ogah menyebut metodenya dengan Moneyball karena dianggap terminologi tersebut dimaknai orang dengan salah kaprah.

“Orang-orang menganggap bahwa Moneyball adalah suatu bentuk penggunaan data di segala koridor. Padahal, Moneyball yang sebenarnya adalah tentang menggunakan data sebagaimana mestinya,” kata Benham.

Ia lantas mencontohkan bagaimana suatu klub hanya berpegang teguh pada jumlah gol saat memutuskan membeli seorang penyerang. Padahal, menurutnya, ada banyak hal lain yang perlu dilihat, seperti rasio percobaan dan peran pemain yang bersangkutan.

“Dulu, kami bertindak seperti itu. Namun, kini coba menyelami tiap kasus lewat konteks yang berbeda-beda,” imbuh Benham.

Kebijakan Brentford tidak melulu ditentukan oleh Benham. Beberapa tahun setelah memimpin tim, ia mendatangkan Rasmus Ankersen, mantan pemain FC Midtjylland yang setelah pensiun menyeriusi bidang performa pemain dan staf.

Duo Benham dan Ankersen lantas merevolusi budaya sepak bola profesional Inggris. Salah satunya adalah menutup akademi, yang diisi oleh pemain berusia 8 sampai 21 tahun, dan menggantikannya dengan Brentford B, yang berisikan pemain 17-21 tahun.

“Ini adalah cara kami dalam melihat sepak bola secara lebih strategis. Kita semua tahu bahwa kami seringkali hanya mendapatkan 30 ribu poundsterling dari hasil menjual pemain akademi ke klub besar. Secara bisnis, ini tentu merugikan,” kata Ankersen kepada The Athletic.

Mayoritas Brentford B diisi oleh pemain-pemain dari klub yang bermain di kompetisi di bawah Brentford, termasuk pemain amatir. Selain itu, mereka juga rutin mencari pemain yang dilepas oleh akademi klub Premier League.

“Kami memiliki database pemain-pemain yang bermain di di klub Football League dan amatir. Bagi kami, metode ini jauh lebih murah dan memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan kami mengembangkan pemain dari umur 8 tahun,” imbuh Ankersen.

Database bukan menjadi kunci utama Brentford dalam mendatangkan pemain. Mereka juga akan melakukan penilaian karakter hingga masuk ke grup-grup forum suporter untuk menilai sejauh mana potensi pemain yang diincar.

Cara mereka mengembangkan Brentford B tak berhenti sampai di sana. Untuk mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan, mereka memberikan tim ini fasilitas yang hampir serupa tim utama. Selain itu, mereka tak hanya diadu dengan tim cadangan asal Inggris, melainkan juga tim cadangan klub-klub besar Eropa.

“Kami percaya bahwa ada banyak cara untuk mengembangkan pemain muda dan ini adalah cara yang kami anggap paling efektif. Rutin menghadapi tim cadangan klub besar Eropa, tidak hanya akan mengembangkan mental pemain, tapi juga nama pemain kami,” kata asisten pelatih Brentford B, Allan Steele.

Mengembangkan nama pemain jadi program yang diseriusi oleh Brentford. Hal ini akan membuat Brentford masuk ke radar klub-klub besar dan secara tidak langsung akan meninggikan nilai pemain mereka di pasaran.

Marcus Fross jadi salah satu pemain yang namanya terangkat lewat metode ini. Didatangkan Brentford B secara gratis pada 2017/18, striker berusia 21 tahun tersebut kini dikabarkan jadi buruan Borussia Dortmund, usai mereka mengadakan uji tanding.

Secara keuntungan, Brentford menjadi salah satu Divisi Championship dengan pemasukan dari transfer tertinggi dalam tiga musim terakhir. Dalam tiga musim terakhir, mereka mencatat pemasukan transfer rata-rata 36 juta poundsterling. 

Di balik segala keberhasilan Brentford, Benham mengakui bahwa mereka masih belum layak disebut sebagai klub yang mengedepankan data. Kegagalan Marinus Dijkhuizen saat mengemban jabatan pelatih adalah salah satunya.

“Orang menilai kami selalu mengecek data dan latar belakang. Permasalahannya adalah kami juga pernah mengabaikan data dan terlalu percaya diri terhadapnya (Dijkhuizen). Untuk berhasil, Anda harus melihat semuanya dari segala sisi,” kata Benham.

Pada musim ini, Brentford tengah bertengger di urutan keempat Divisi Championship. Dengan satu pertandingan lebih sedikit, mereka hanya berjarak enam poin dari Norwich City yang berada di puncak klasemen.

Musim memang masih panjang dan tak ada yang tahu bagaimana perjalanan Brentford pada akhir musim nanti. Namun, melihat bagaimana mereka sejauh ini, termasuk melaju hingga semifinal Piala Liga, setidaknya menunjukkan bahwa Premier League sudah di depan mereka.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.