Enjoy, De Jong

Foto: instagram @frenkiedejong

Perjalanan sepak bola De Jong adalah perjalanan yang menggembirakan. Ia menikmati setiap fragmennya sambil merekahkan senyuman.

Frenkie de Jong berkenalan dengan sepak bola ketika berusia dua tahun. Tubuhnya belum ajek betul. Langkahnya pun masih sempoyongan. Namun, dia tahu bahwa bola yang menggelinding selalu disesaki kegembiraan.

Setiap kali menendang bola, wajah De Jong kecil berseri-seri. Senyumnya merekah dan awet. Tingkah De Jong selalu menggemaskan dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, saat bergumul dengan bola.

Itu juga yang jadi pendorong orang tuanya, John dan Marjon, memasukkan De Jong ke akademi ASV Arkel. Mereka tentu saja belum mengendus bakat De Jong. Yang mereka inginkan, anaknya bisa bersenang-senang setiap hari. Hanya itu tok.

"Kami tidak pernah membicarakan betapa berbakatnya dia. Yang kami bicarakan, dia benar-benar menikmati sepak bola," kata Marjon dalam video berjudul "About Frenkie" di situs resmi Frenkie De Jong.

Sedangkan sang ayah, John, berkata: "Ini semua tentang bersenang-senang. Itulah yang akan kamu lihat ketika dia berada di lapangan." Di ASV Arkel, De Jong berlari-lari, menggiring bola, menendang, mencetak gol, dan berkelakar tentang apapun. Semua terasa indah.

Foto: www.frenkiedejong.com

Selaiknya jutaan anak penggila bola di dunia, De Jong kecil membayangkan betapa luar biasanya jika suatu hari nanti, entah kapan, bisa menjadi pesepak bola profesional. Bayang-bayang itu menstimulus De Jong untuk menekuni sepak bola dengan serius. Ya, maksudnya, tidak cuma buat haha-hehe, tetapi juga fokus meningkatkan skill olah bola.

"Dia memiliki begitu banyak dorongan. Selalu ingin menang," kata John. "Dia menetapkan tujuannya sendiri dan tidak ada yang bisa mengubahnya."

Berkat target itu, De Jong bermain dengan sungguh-sungguh dan memberikan yang terbaik dalam semua pertandingan. Tidak lupa, dia akan menebarkan senyuman selama berada di lapangan. Berkat itu juga, bakatnya terendus. Ia diminta pergi ke Tilburg untuk berlatih dengan akademi Willem II.

Kapasitas dan kapabilitas De Jong, pelan dan pasti, meningkat. Jika tidak, mana mungkin Willem II menyodorkan kontrak profesional ketika De Jong berusia 16 tahun. 

Willem II memang bukan klub terbesar di Belanda. Masih ada Ajax Amsterdam, Feyenoord, PSV, dan AZ Alkmaar, yang punya pamor. Namun, Willem II memiliki sarana yang mendukung karier pemain muda berbakat. Willem II juga pernah menjadi pelabuhan pemain-pemain top dunia macam Jaap Stam dan Virgil van Dijk.

Ada banyak trik dan usaha yang De Jong lakukan untuk menggenggam karier yang luks. Selain berlatih dengan sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya, dia mencermati gerak-gerik gelandang klub-klub top dunia. Tidak hanya soal umpan-mengumpan maupun tekel-menekel, dia juga belajar bagaimana cara mengecek pergerakan lawan sekaligus ruang sebelum bola mendarat tepat di kakinya.

"Saya mencoba melihat bagaimana mereka bergerak. Ada begitu banyak pemain yang saya lihat, terutama para gelandang," kata De Jong dilansir The Guardian. "Jorginho di Chelsea adalah salah satunya."

De Jong, bahkan semua orang, berhak mengamati, mecermati, dan meniru siapapun. “Everything is a copy of a copy of a copy,” sebagaimana yang ditulis Chuck Palahniuk dalam opusnya yang bertajuk Fight Club.

Tumbuh kembang di Willem II membuat De Jong merasa beruntung. Meski belum genap berusia 18 tahun, dia sudah menjalani debut profesional ketika Willem II melawan ADO Den Haag pada 10 Mei 2015.

Memang pascalaga tersebut, De Jong tak punya menit bermain lagi. Namun, bakatnya tercium Ajax Amsterdam. Enam bulan setelah melakoni laga debut, Ajax mengajukan kontrak kepadanya.

Foto: www.frenkiedejong.com

Di Ajax, De Jong kudu lebih dulu membuktikan kualitasnya. Dua tahun adalah waktu yang dia habiskan untuk unjuk gigi bersama Jong Ajax. Sebelum pada akhirnya, dia naik pangkat ke tim utama Ajax dan bermain di Eredivise musim 2016/17.

Kendati belum mendapat menit bermain yang melimpah, De Jong mampu menyerap pengalaman-pengalaman seniornya. Hingga kemudian Erik Ten Hag datang untuk mengarsiteki Ajax pada Desember 2017.

Ada banyak menit bermain yang De Jong dapatkan dari Ten Hag. Ada juga pelajaran krusial yang De Jong ambil dari sosok Ten Hag. Ada pula keselarasan antara gaya main De Jong dan skema Ten Hag.

Dalam taktik Ten Hag, setiap pemain punya peran untuk menggiring bola secepat mungkin ke depan dan berada dalam posisi pas guna membuat kans. Ia juga menitikberatkan anak asuhnya melakukan third-man run atau pergerakan orang ketiga. Dua hal itu plus pemosisian yang tepat membuat klubnya menemukan ruang dan opsi umpan saat meneror gawang lawan.

Yang paling menarik minat adalah penekanan Ten Hag soal pentingnya pressing. Ia mewajibkan pemain merebut bola dalam waktu tiga detik setelah kehilangan penguasaan. Itu juga yang membuat Ajax versi Ten Hag bermain agresif dan sulit kebobolan. 

Dalam taktik dan filosofi tersebut, De Jong menjadi titik awal serangan Ajax. Lagi pula, De Jong punya segalanya sebagai pemain tengah. Dribel, umpan, kecepatan, kelincahan, bahkan kemampuan bertahan yang baik dimiliki olehnya.

Berkat deretan atribut itu juga, De Jong mendapat banyak panggilan. Penerus Johan Cruyff-lah, Franz Beckenbauer 2.0, sampai masa depan Belanda. Untuk panggilan yang terakhir, kita tentu harus mengamininya.

“Saya merasa terhormat,” kata De Jong. “Tapi .... Dia (Cruyff) jauh lebih baik dariku. Dia memiliki begitu banyak kualitas. Saya tidak akan pernah mencapai level itu. Saya tidak ingin membandingkan diri saya dengan Cruyff."

Di Ajax, De Jong terbang setinggi-tingginya. Dia menggamit gelar Eredivisie dan KNVB Cup. Dia juga mengantarkan Ajax menjadi semifinalis Liga Champions 2018/19. Paling penting, dia pun menikmati perjalanan sepak bolanya bersama de Godenzonen.

Foto: www.frenkiedejong.com

***

Sebelum musim 2019/20 berjalan, De Jong menelepon ibunya, Marjon. Dalam percakapan tersebut, De Jong memberitahu banyak hal soal masa depannya, terutama kabar ketertarikan Barcelona kepadanya.

Kira-kira begini percakapan ibu dan anak tersebut:

De Jong: Barcelona sangat tertarik merekrutku. Ibu mungkin bisa menebak apa yang akan saya lakukan.

Marjon: Ya, saya pikir, kamu ingin bermain untuk Barcelona. Saya pikir itu pilihan yang sangat bagus.

Barcelona merekrut De Jong dengan nilai transfer 75 juta euro. Marjon yakin betul transfer tersebut akan membuat De Jong bersinar terang benderang. Namun, keyakinan itu tidak lekas-lekas terwujud.

Ya, De Jong mengalami pasang-surut sepanjang musim 2019/20. Di bawah asuhan Ernesto Valverde, ia tidak berkembang karena sepak bola Valverde terlalu pragmatis. Di bawah asuhan Quique Setien, ia jarang mendapatkan kepercayaan. Itu belum termasuk adanya tabrakan peran antara De Jong dan Sergio Busquets di skuad Barcelona.

Ketika kuldesak terus mendesak, De Jong berhasil mengintegrasikan diri dengan segala hal yang terjadi di Barcelona, termasuk pergantian pelatih dari Ronald Koeman ke Xavi Hernandez.

Di bawah asuhan Xavi, De Jong tidak hanya berhasil membuktikan diri, tetapi juga menghidupkan kembali muruah Barcelona yang sempat koma. Namun, kebersamaan De Jong dan Barcelona sedang gonjang-ganjing. 

Per laporan The Athletic, Setan Merah fokus mendatangkan pemain tengah pascakepergian Paul Pogba dan Nemanja Matic. Salah satu pemain yang tengah dibidik United adalah De Jong. Tentu saja, mendatangkan De Jong bukan perkara mudah bagi United.

Kendati begitu, kans United merekrut De Jong masih terbuka lebar. Apalagi, Xavi sudah mengakui bahwa ia akan mempertimbangkan kondisi keuangan klub dalam proses transfer pemain.

Namun, ke mana pun De Jong berlabuh, ia akan menikmati dan berbahagia dengan sepak bola. Tak lupa, ia bakal merekahkan senyuman dalam setiap pertandingan.

"Saya ingin menikmati hidup," kata De Jong. "Berbahagialah."

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.