Era Bonucci

Foto: Instagram @bonuccileo19

Di Timnas Italia, Bonucci bukan hanya bek tengah kawakan, tetapi ball-playing defender kelas dunia.

Serupa anggur tua yang menyulut keriaan orang-orang muda, Leonardo Bonucci memberi warna eksentrik yang membuat pertahanan Italia tak lagi kolot.

Usianya 34 tahun. Dalam perjalanannya bersama Timnas Italia di Piala Eropa 2020, terkadang Roberto Mancini menandemkannya dengan Giorgio Chiellini, terkadang Francesco Acerbi menjadi rekannya di pos bek tengah. Siapa pun yang menjadi lawan, selalu ada Bonucci di jantung pertahanan Italia.

Kepergian Andrea Pirlo dari Juventus adalah titimangsa baru bagi Bonucci. Keputusan Pirlo memunculkan tanda tanya tentang siapa yang menjadi nyawa permainan Juventus, siapa yang menjadi konduktor irama taktik "Si Nyonya Tua". 

Semua orang paham bahwa Pirlo adalah maestro dalam membangun serangan. Rival-rival Juventus untuk sementara tersenyum, mereka pikir, ini waktu yang tepat bagi Juventus untuk mengucapkan selamat tinggal pada gelar juara.

Harapan tinggal harapan. Juventus bukannya tenggelam, malah tetap menggila. Bahkan kepergian Pirlo mengubah permainan mereka menjadi lebih gahar. Juventus menjadi tim yang jeli membangun serangan dari lini pertahanan dalam formasi dasar 4-2-3-1. Wajah baru itu berutang pada performa Bonucci, sang ball-playing defender.

Sepak bola modern menuntut para pemainnya untuk sanggup mengerjakan lebih dari satu tugas. Pun demikian dengan para pemain bertahan yang diminta untuk bisa mengatur serangan dari belakang. Kemampuan ini dibutuhkan agar tim tidak mudah kehilangan bola saat ditekan lawan, khususnya saat masih di sepertiga pertahanan. 

Dalam menjalankan tugas ini, para pemain bertahan tidak boleh asal membuang bola. Mereka mesti tahu ke mana umpan diberikan sehingga dari situ, tidak ada satu pergerakan pun yang sia-sia. Semuanya harus bertujuan sama: Mencetak gol.

Suporter Italia boleh geram pada Giampiero Ventura. Namun, pelatih ini adalah sebenar-benarnya juru selamat bagi Bonucci. Terbuang di Inter Milan dan Genoa, Bonucci angkat kaki ke Bari. Di bawah asuhan Ventura-lah, Bonucci menjelma menjadi bek tengah modern meski tidak dianugerahi kemampuan bertahan yang terlampau istimewa. 

Meski demikian, Ventura memahami bahwa Bonucci dapat diandalkan untuk melepas umpan-umpan panjang. Saat itu Bari menggunakan formasi 4-2-4 dan mengusung skema permainan direct. Itulah sebabnya, umpan-umpan panjang yang akurat--terlebih dari area pertahanan--krusial bagi Ventura.

Untuk menambal pertahanan, Ventura menandemkan Bonucci dengan Andrea Ranocchia. Keduanya saling mengisi, mengantar Bari menutup klasemen Serie A 2009/10 di peringkat 10. Bari yang menjalani musim itu sebagai tim promosi bahkan cuma kemasukan 49 gol dalam 38 pertandingan.

Performa impresif Bonucci membuat Juventus memburu tanda tangannya. Sayangnya, Bonucci menjalani musim yang tak menyenangkan di awal kepindahannya ke Turin. Di bawah asuhan Luigi Delneri, Bonucci lebih sering kena cibir karena lekat dengan kesalahan individu, termasuk dalam laga penting. 

Akan tetapi, Bonucci enggan tergeletak di bawah kaki cibiran. Toh, ia tahu persis rasanya bangkit setelah terseok-seok di Inter. Kegigihan Bonucci tidak sama dengan usaha menjaring angin. Terlebih sejak Antonio Conte tiba, Bonucci kembali mendapatkan performa terbaiknya.

Conte membawa sistem permainan direct ke Juventus. Ia peduli setan dengan permainan cantik. Yang penting, timnya bisa menang. Baginya tidak ada taktik yang lebih hebat selain taktik yang mengantarkanmu pada kemenangan. 

Watak itu membuat Juventus berlaga sebagai tim yang menggilai kemenangan. Umpan-umpan panjang yang akurat dibutuhkan agar sistem direct ala Conte dapat berjalan. Bonucci lagi-lagi mendapat ruang yang luas karena kebutuhan ini--terlebih ketika Conte memulai pertaruhannya dengan menggunakan formasi 3-5-2. Sistem ini menempatkan Bonucci, Andrea Barzagli, dan Chiellini di jantung pertahanan.

Performa Bonucci yang diplot sebagai bek tengah membuat Conte merasa aman untuk menginstruksikan timnya berlaga dalam skema tiga bek. Dengan begitu, mereka memiliki dua pengatur serangan sekaligus. Ketika Pirlo ditekan lawan, Juventus masih memiliki Bonucci. 

Maka ketika Pirlo meninggalkan Turin, kebergantungan Juventus pada Bonucci ikut meninggi, terutama saat mereka dilatih oleh Massimiliano Allegri yang memang lebih menggilai penguasaan bola.

****

Mereka yang besar dengan menyaksikan sepak bola Italia ataupun yang muak dengan sepak bola Italia sama-sama mengeklaim bahwa pertahanan gerendel adalah watak utama sepak bola negeri piza. Permainan Italia mendunia karena mereka tahu betul memasang pertahanan kokoh dan menjaga kerapatan antara pemain. 

Membosankan, kata mereka yang membenci. Cerdik, kata mereka yang memuja. Terlepas dari apa pun pendapat kedua kubu itu, di dalam sepak bola Italia memang bersemayam spirit catenaccio.

Konon yang menciptakan catenaccio pertama kali bukan pelatih Italia, tetapi pelatih asal Swiss, Karl Rappan. Meski demikian, Rappan menolak menyebut catenaccio sebagai ciri permainannya. Menurutnya, itu hanya satu dari sekian taktik yang dipakainya untuk merengkuh kemenangan. 

Beberapa tahun setelah pertahanan gerendel muncul, catenaccio dimainkan di Italia, berawal dari Salernitana. Kekalahan yang seolah tanpa ujung membuat pelatih tim ini, Giuseppe 'Gipo' Viani, mengutak-atik sistem W-M menjadi serupa 1-3-4-2 milik Rappan. Scudetto 1947/48 adalah buah manis pertama yang dipetiknya berkat taktik tersebut.

Masa keemasan catenaccio disebut-sebut mencuat ketika Helenio Herrera mengarsiteki Inter dan Herberto Herrera mengarsiteki Juventus. Pada dasarnya, catenaccio dapat diartikan sebagai pertahanan kolektif. Dengan sistem itu, tim terhindar dari duel satu lawan satu yang sarat blunder. Sejak 1960-an, Italia mulai beranjak dari catenaccio dengan memainkan sepak bola man-to-man marking.

Pada 1972 dan 1973, misalnya, Italia mengirim dua wakil ke final Liga Champions: Inter dan Juventus. Jika Inter yang dilatih Giovanni Invernizzi menggunakan formasi 4-2-3-1, Juventus asuhan Cestmir Vycpalek memakai skema 4-4-2. Sama-sama menggunakan man-to-man marking, keduanya ditundukkan Ajax asuhan Stefan Kovacs yang turun arena dengan mengusung totaal voetbal.

Ajax juara Liga Champions 1972/73. Foto: Wikipedia


Kekalahan tersebut menginspirasi kelahiran zona mista pada paruh kedua 1970-an. Dipelopori oleh Luigi Radice yang melatih Torino dan Giovanni Trapattoni yang membesut Juventus, sepak bola mengenal permainan ala catenaccio yang menggunakan sistem penjagaan area atau zonal marking.

Perubahan demi perubahan tersebut membuktikan bahwa sepak bola Italia beradaptasi. Namun, adaptasi tersebut berporos pada satu titik yang sama: Pertahanan. Barangkali itu pula yang membuat sebagian besar penonton sepak bola berpikir bahwa sepak bola Italia akan begitu-begitu saja. Bertahan--entah kohesif maupun per zona--tetap saja bertahan, menggagalkan gol, bukan mencetak gol. Toh, watak tersebut juga masih terlihat pada perjalanan Italia di era modern.

Maka ketika Italia akhirnya turun arena di pentas internasional setelah gagal merengkuh tiket Piala Dunia 2018, orang-orang berpikir bahwa sepak bola Italia akan begitu-begitu saja. Buktinya, duet bek gaek, Bonucci dan Chiellini, tetap dibawa. 

Ingatan tentang sekeras apa Italia bertahan pada--katakanlah--Piala Dunia 2006 kembali menguar. Empat pemain bertahan dalam formasi gerendel dan mencetak gol lewat serangan balik. Italia memainkan sepak bola mereka, Italia bertanding sebagai Italia. Italia menjadi juara dunia. Membosankan? Tak masalah. Kebosanan itu akan terbayar lunas saat kau bersorak mengangkat trofi dari atas podium kampiun.

Permainan Italia di Piala Eropa 2020 ternyata tidak sebrengsek yang dipikirkan orang-orang. Mereka subur dalam mencetak gol, bahkan menjadi tim yang belum terkalahkan hingga melenggang ke final. Italia malih rupa, dari tim licik menjadi tim yang terang-terangan menunjukkan taring. Roberto Mancini yang doyan marah-marah itu mengubah Italia menjadi tim yang doyan mencabik lawan.

Dalam sistem yang dibangun Mancini, Bonucci menjadi pemain Italia kedua yang paling sering melepas umpan dengan rataan 57,7 umpan per laga. Meski jumlahnya masif, umpan Bonucci tidak asal-asalan. Buktinya, akurasinya mencapai 87,6%. 

Sepenting apa Bonucci pada bangunan serangan Italia juga tercermin dari umpan panjangnya yang mencapai 6,3 per laga. Jumlah itu merupakan yang tertinggi di antara kawan-kawannya. Artinya, dalam permainan Italia Bonucci benar-benar memegang dua peran sekaligus: Bek tengah utama dan ball-playing defender utama.

Mancini pada dasarnya dikenal sebagai pelatih pragmatis. Ia bukan pelatih yang bersetia pada keindahan permainan, tetapi pada kemenangan itu sendiri. Pemikirannya klasik. Buat apa main cantik kalau ujung-ujungnya jadi pesakitan?

Akan tetapi, Piala Eropa 2020 adalah sebenar-benarnya kejutan. Mancini terlihat aman walau meninggalkan watak pragmatisnya. Ia memang mengangkut sejumlah pemain senior, tetapi tak sedikit debutan yang dibawanya memperebutkan trofi juara Eropa. Pun dengan permainan. Ada sejumlah pemain yang diberikan kebebasan lebih. Dengan begitu, Italia bermain lebih atraktif walau dalam beberapa fragmen mereka mesti bermain se-Italia-Italia-nya: Bertahan serapat-rapatnya.

Kebebasan ditambah kematangan skuad membentuk Italia sebagai tim dengan serangan mematikan. Azzurri telah mencetak 90 gol selama diasuh Mancini. Jika dirata-rata, mereka membukukan 2,4 gol per pertandingan. 

Dalam permainan Italia yang garang, (hampir) selalu ada Bonucci yang mengatur serangan dari area pertahanan. Bonucci barangkali tidak akan pernah bisa memanggul elegansi semewah Pirlo. Namun, sepak bola adalah perkara siapa yang menang, bukan siapa yang anggun.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.