Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Eredivisie Musim Ini Bukan Hanya tentang Ajax

Foto: AFCAjax

Eredivisie memang kalah pamor dibanding liga-liga top Eropa lainnya. Namun, bukan berarti kompetisi ini tak layak diperhatikan.

Saat musim baru tiba, kita mungkin lebih sering membicarakan lima liga top Eropa: Premier League, Serie A, La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1. Geliat transfer, pergantian pelatih, jersi baru, sampai prediksi siapa yang akan jadi juara menggeliat. Terus diperbincangkan.

Kita tak boleh menafikkan fakta bahwa apa pun yang terjadi di lima liga top Eropa itu, terutama yang menyangkut klub besar, memang menarik. Namun, sebenarnya, tak cuma lima liga top Eropa itu saja yang menarik untuk kita simak. Muncul kompetisi Eredivisie yang juga layak diperhatikan.

Oke, mungkin orang-orang akan bilang bahwa kompetisi ini sedikit kehilangan pamor setelah beberapa bintang muda pergi. Myron Boadu dan Calvin Stengs memutuskan hijrah ke Prancis, sedangkan Donyell Malen memilih Jerman sebagai labuhan barunya.

Ada pula pemain tenar macam Denzel Dumfries yang memutuskan angkat kaki dari Eredivisie menuju Serie A. Belum lagi ada nama Teun Koopmeiners yang dikaitkan dengan Celtic dan Atalanta. Eredivisie berpeluang kehilangan pemain topnya.

Namun, di situlah menariknya. Eredivisie acap jadi wadah di mana banyak pemain muda potensial--yang kemudian jadi incaran klub besar Eropa--bermunculan. Yang pergi musim ini, akan digantikan dengan wajah-wajah baru yang mungkin beberapa musim lalu tak kita kenal namanya.

Selain itu, Eredivisie musim ini juga akan menarik karena Ajax punya peluang tak sedominan musim lalu. Penyebabnya apa? Tentu saja semakin matangnya skuad PSV di bawah racikan Roger Schmidt. Mereka bisa jadi penantang serius buat Ajax musim ini.

Well, daripada makin panjang lebar, mari kita bahas saja preview Eredivisie musim 2021/22 ini.

Ajax vs PSV

Johan Cruijff Shield (Community Shield-nya Belanda) memang tak bisa jadi satu-satunya acuan. Namun, yang membuat kita bisa menoleh ke laga itu adalah kemenanga telak PSV. 4-0. Iya, Ajax, juara bertahan dan favorit juara itu, dibabat habis.

Kemenangan itu menunjukkan bahwa PSV musim ini memang lebih siap ketimbang musim lalu. Memang mereka baru kehilangan Malen dan Dumfries, tapi Schmidt sebagai pelatih mampu membuat skuad yang ada sekarang tetap menakutkan. Komposisinya pas di depan dan belakang.

Dari enam laga kompetitif yang dijalani musim ini, baik di Kualifikasi Liga Champions, Johan Cruijff Shield, ataupun Eredivisie, PSV cuma kebobolan dua gol saja. Sementara ada 17 gol yang berhasil dicetak Mario Goetze cs. Itu jelas menunjukkan kesiapan mereka bersaing musim ini.

Secara skuad PSV beruntung karena kedatangan Davy Proepper yang lumayan berpengalaman. Pengalamannya dan Goetze dibutuhkan tim ini. Selain itu, para pemain muda juga siap muncul dan menjadi andalan, terutama di lini depan untuk menambal kepergian Malen.

Situasi ini jelas membuat Ajax harus waspada. Musim lalu mereka memang unggul 16 poin, tapi musim ini situasinya bisa berbeda. Ada peluang persaingan akan ketat hingga akhir musim dan membuat Ajax harus berpeluh lebih ekstra ketimbang musim lalu.

Kendati, memang, Ajax adalah Ajax. Mereka punya skuad paling mentereng di Eredivisie. Mereka juga tak kehilangan pemain kunci di bursa transfer musim panas ini. Malah Ajax kedatangan pemain sekaliber Steven Berghuis yang bisa menambah kekuatan mereka.

Namun, pasukan Erik ten Hag juga punya problem. Waktu pramusim dan pemulihan beberapa pemain kunci lebih pendek karena berlaga di turnamen internasional selama musim panas ini. Jika pilar-pilar itu cedera, laju Ajax bisa terganjal.

Paket Kejutan: Vitesse dan Feyenoord

Vitesse finis di peringkat empat Eredivisie dan mencapai final KNVB Cup musim lalu. Jelas bukan hasil yang buruk. Di bawah asuhan pelatih asal Jerman, Thomas Letsch, Vitesse tampil dengan pola 5-3-2 (atau 3-5-2) yang stabil dalam menyerang maupun bertahan.

Kedatangan tujuh pemain baru, termasuk Nikolai Baden Frederiksen yang merupakan jebolan Juventus, jelas bisa menambah kekuatan Vitesse. Dan jika mereka bisa lebih konsisten saat menghadapi tim-tim yang levelnya berada di bawah, bukan tak mungkin mantan klubnya Mason Mount ini akan kembali mengejutkan.

Pun dengan Feyenoord yang musim lalu hanya bisa finis di posisi lima klasemen. Oke, mereka memang kehilangan Berghuis selaku pemain andalan. Namun, kedatangan beberapa pemain baru, termasuk Alireza Jahanbakhsh yang berpengalaman di Eredivisie, bisa membuat Feyenoord tak runtuh.

Pun karena tak seperti AZ Alkmaar, Feyenoord mampu mempertahankan pemain kunci seperti Justin Bijlow, Lutsharel Geertruida, dan Marcos Senesi untuk bisa tetap berada di tim. Kedatangan pelatih anyar Arne Slot pun memberikan angin segar untuk musim ini.

Slot adalah pelatih yang mengedepankan permainan menyerang. Musim lalu, racikannya terbukti jitu. AZ berhasil dibawa finis di peringkat tiga Eredivisie, sekaligus jadi tim paling produktif kedua (dengan 75 gol) setelah Ajax. Dan bersama Feyenoord, ia punya peluang mengulanginya. Bahkan bisa lebih baik.

Siapa Pemain yang Layak Disorot?

Yang pertama, tentu saja, Berghuis. Transfernya adalah salah satu transfer paling kontroversial di Eredivisie. Bagaimana tidak, ia pindah dari Feyenoord ke Ajax yang punya perseteruan panjang dan bisa disebut sebagai yang paling panas di Belanda. Buruknya lagi, musim lalu Berghuis berstatus sebagai kapten Feyenoord.

Kepindahan ini pun jelas membuatnya layak disorot. Menarik melihat apakah Berghuis akan bersinar di Ajax atau tidak. Musim lalu, sih, ia moncer dengan mencetak 19 gol dan 13 assist untuk Feyenoord. Sebuah catatan yang luar biasa. Dan jika gagal bersinar, bukan tak mungkin makin banyak cibiran yang mengarah padanya.

Rekan setim Berghuis, Sebastien Haller, juga layak mendapat perhatian lebih musim ini. Memang dia sudah berada di Ajax sejak musim lalu. Namun, musim ini adalah musim penuh pertama Haller di Amsterdam. Di setengah musim lalu, sih, ia mampu mencetak 11 gol.

Di musim penuh ini, menarik melihat apakah pria Prancis ini bisa menggelontorkan lebih banyak gol atau tidak. Di laga perdana vs NEC Nijmegen kemarin, sih, Haller sudah mencetak satu gol. Mungkin ia akan keluar sebagai top-skorer Eredivisie musim ini.

Mario Goetze mungkin dianggap banyak orang sudah habis. Namun, jika musim ini ia diberi peran sentral oleh Schmidt, ada pelaung buat bintang Jerman di Piala Dunia 2014 itu untuk kembali bersinar. Di musim lalu, dari 17 penampilan sebagai starter, Goetze mampu mencetak lima gol dan enam assist.

Nama Davy Proepper dan Alireza Jahanbakhsh yang kembali ke Eredivisie setelah sama-sama bermain di Brighton juga menarik untuk dinantikan kiprahnya. Kebetulan mereka akan jadi nama senior dan tumpuan di masing-masing tim. Proepper bersama PSV dan Alireza di Feyenoord.

Daftar Panjang Pemain Muda Potensial

Eredivisie jagonya dalam hal ini. Banyak sekali pemain muda yang amat layak diperhatikan musim ini. Dari Ajax, kita mungkin sudah mengenal Ryan Gravenberch. Namun, di musim ini, mereka punya satu nama lain. Dia adalah Jurrien Timber.

Timber adalah bek serbabisa berusia 20 tahun yang sudah tampil bersama Belanda di ajang Piala Eropa 2020 lalu. Di musim ini, ia diyakini akan jadi pilar utama Ten Hag di lini belakang. Dan makin menarik untuk memerhatikan kiprahnya karena ia juga ditandemkan dengan bek muda seperti Lisandro Martinez atau Perr Schuurs.

Jika semua lancar, duo PSV yakni Noni Madueke dan Cody Gakpo akan menjadi bintang baru Eredivisie. Keduanyalah yang akan mengambil tongkat estafet dari tangan Donyell Malen. Mereka adalah kunci di balik kemenangan PSV atas Ajax pada ajang Johan Cruijff Shield.

Spesial untuk Madueke, dia memiliki paspor Inggris dan sudah main di Timnas U-21. Dengan begitu, sorotan akan semakin mengarah pada pemain 19 tahun ini. Madueke sendiri memiliki kecepatan, determinasi, dan bisa mencetak gol. Ia hanya tinggal mematangkan pengambilan keputusan untuk semakin matang.

Joey Veerman, bintang Heerenven yang musim lalu membukukan 10 assist, juga layak diperhatikan. Pemain berusia 22 tahun ini bahkan jadi buruan beberapa klub ternama Eropa. Lalu ada juga Jesper Karlsson, pemain AZ yang mencatatkan 11 gol dan sembilan assist musim lalu.

Belum lagi ada Tyrell Malacia dan Owen Wijndal, dua full-back kiri muda yang begitu menjanjikan penampilannya. Malacia bermain untuk Feyenoord sedangkan Wijndal berseragam AZ. Feyenoord juga masih memiliki Guus Til, pemain menjanjikan yang baru pulang ke Belanda setelah menjalani peminjaman di Spartak Moscow.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now