Final Liga Champions: Bukan Sekadar Proaktif vs Reaktif

Foto: ChampionsLeague

Laga final jelas tak bisa disimpulkan sesederhana itu. Ada detail-detail yang akan (dan bisa) dilakukan Klopp atau Ancelotti.

Orang-orang banyak berbicara soal duel proaktif versus reaktif ketika berbicara soal final Liga Champions musim ini. Duel tim yang akan mendominasi penuh penguasaan bola versus tim yang akan menunggu untuk kemudian menyerang balik lawannya. Liverpool vs Real Madrid.

Di atas kertas, duel dua tim ini memang akan seperti itu. Liverpool memang akan mendominasi penguasaan bola, toh mereka merupakan tim dengan catatan penguasaan bola terbanyak kedua di Liga Champions musim ini (63,2%). Tak ada alasan buat pasukan Juergen Klopp untuk tak mengambil inisiatif atas bola sejak awal.

Justru Madrid yang akan lebih menunggu, karena cara itulah yang berhasil mengantarkan mereka sampai ke partai final. If it ain't broke, don't fix it. Carlo Ancelotti bisa berpikir begitu. Terlebih timnya memang jago soal urusan counter attack--total 8 gol dari situasi itu jadi buktinya. Namun, laga final jelas tak bisa disimpulkan sesederhana itu. Ada detail-detail yang akan (dan bisa) dilakukan Klopp atau Ancelotti.

Buat Klopp, dia tahu bahwa menghadapi Madrid adalah soal keseimbangan. Sebab, Madrid bisa melenakan dan menelan siapa pun. Tengok saja laga semifinal saat City terlena untuk menguasai bola serta membongkar Madrid sepanjang laga, dan kemudian ditelan Benzema sampai Rodrygo di menit-menit akhir.

Karenanya, Klopp harus memastikan bahwa Liverpool bisa sama baik di depan dan belakang. Di depan, peluang-peluang harus bisa dimaksimalkan. Soal penciptaan peluang, terutama yang berkualitas, Klopp sebenarnya tak perlu khawatir. Sebab, Liverpool pandai soal ini. Melihat nilai kualitas peluang mereka (yang diukur via expected goal (xG)) menyentuh 1,94 per 90 menit, peluang bagus pasti hadir.

Masalahnya, kan, bagaimana caranya agar peluang tersebut bisa tepat menusuk Madrid? Nah, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membongkar Madrid lewat tengah. Iya, bukan lewat kanan atau kiri. Alasannya sederhana: Ini karena tiga gelandang genius Madrid itu.

Kita tak perlu menyangsikan fakta bahwa trio Luka Modric-Casemiro-Toni Kroos adalah salah satu trio gelandang terbaik yang pernah ada di jagat sepak bola. Mereka genius, visioner, dan tangguh. Namun, kita juga tak boleh lupa bahwa usia ketiganya sudah lebih dari 30 tahun.

Usia uzur memang tak mengurangi kegeniusan dan visi, tapi itu jelas memengaruhi kecepatan mereka. Ketika ketiganya cenderung naik untuk membantu serangan, akan ada celah di depan garis pertahanan Madrid. Dan ketiganya membutuhkan waktu lama untuk bisa kembali untuk menutup celah tersebut. Jika Anda bertanya kenapa Casemiro acap menjegal lawan yang sedang melancarkan serangan balik, inilah sebabnya.

Ketiga gelandang Madrid terlalu lambat untuk bisa bergerak dari satu kotak (di depan) ke kotak lain (di belakang). Selalu akan ada celah yang bisa dieksploitasi jika Casemiro tak buru-buru menjegal lawan. Celah yang juga tercipta karena Ancelotti enggan membuat garis pertahanannya naik terlalu tinggi. Dan celah itulah yang bisa dimaksimalkan Liverpool.

Untuk memaksimalkannya, Liverpool bisa bergantung pada Luis Diaz, Sadio Mane, Jordan Henderson, dan Trent Alexander-Arnold. Keempatnya bisa memfokuskan diri untuk bergerak ke arah tengah (atau half-space) guna memanfaatkan celah kosong itu. Dengan pergerakan cair nama-nama tersebut, plus shape 2-4-4 atau 2-2-6 yang biasa diterapkan, Liverpool punya peluang besar menghukum Madrid.

Menaruh banyak pemain di tengah & half-space seperti ini akan menguntungkan Liverpool.

Jikapun kemudian Ancelotti memasang Edu Camavinga atau menggeser Federico Valverde ke tengah, Klopp bisa menugaskan anak asuhnya untuk memborbardir sisi kanan Madrid. Sebab, Dani Carvajal bisa disebut sebagai salah satu titik lemah pertahanan. Terlebih ketika menghadapi lawan yang relatif punya kecepatan. Masih ingat dua peluang emas Jack Grealish di laga semifinal kan?

Persoalan menyerang sudah, kini mari membahas persoalan pertahanan. Seperti yang sudah disebut, Liverpool tak boleh lengah di sisi ini. Sebab, serangan balik Real Madrid mematikan. Satu hal yang bisa mereka lakukan untuk mengantisipasi itu adalah dengan bermain lebih agresif, terutama buat pemain tengah.

Fabinho, Thiago Alcantara, Jordan Henderson, maupun Naby Keita harus berani cepat memutus serangan ketika pemain tengah Madrid memegang bola. Mereka bisa melakukan apa yang biasa Casemiro lakukan: Menjegal lawan secepatnya. Sebab, bola tak boleh sampai ke kaki Vinicius Jr. atau Karim Benzema, karena dari situlah biasanya petaka datang.

Kini mari berbicara soal Madrid. Oke, serangan balik memang akan jadi andalan. Namun, Ancelotti bisa mengubah arah serangan baliknya itu. Jika biasanya bola akan diarahkan ke samping--utamanya ke arah Vinicius, di laga final nanti ia bisa menugaskan gelandangnya untuk melepaskan bola ke belakang dua bek tengah Liverpool.

Memang akan selalu ada ruang di sisi-sisi sayap pertahanan Liverpool karena full-back-nya yang suka naik jauh. Namun, itu bisa jadi jebakan karena Madrid justru bisa terkunci di sisi sayap andai bek tengah dan gelandang Liverpool mengover dengan baik. Justru, ketika menyerang ke belakang garis pertahanan Liverpool, ruang akan lebih lega.

Iya, jadi bola harus melewati kepala Virgil van Dijk, Ibrahima Konate, atau Joel Matip. Ini karena Madrid akan membuat pemain belakang Liverpool tak punya waktu untuk kembali ke posisi ideal buat mengantisipasi serangan lawan. Liverpool sering kelabakan ketika menghadapi situasi ini dan salah satunya tercipta di laga terakhir Premier League vs Wolves.

Jika Vinicius, Benzema, atau Rodrygo sudah dalam posisi unggul atas pemain belakang Liverpool, peluang emas pun akan datang dengan sendirinya. Terlebih mereka juga punya Modric atau Kroos yang bisa melepaskan umpan-umpan lambung akurat. Transisi cepat harus bisa dimanfaatkan dengan lebih cermat.

Untuk urusan bertahan, Ancelotti harusnya kembali memasang Valverde sejak awal. Sebab, seperti yang sudah disebutkan, Dani Carvajal bisa jadi titik terlemah jika dibiarkan sendirian menghadapi Andrew Robertson atau Luis Diaz. Valverde bisa mengover Carvajal dengan baik. Pun pemain asal Uruguay itu bisa merapat ke tengah ketika trio gelandang Madrid membutuhkan bantuan.

Hal lain yang patut jadi perhatian juga adalah keagresifan Eder Militao. Ia memang tipikal bek yang akan keluar untuk menekan atau menerjang lawan, tapi menghadapi Liverpool ia harus lebih cermat dalam bertindak. Eks pemain Porto itu tak boleh mudah terpancing. Sebab, jika ia keluar menempel Mane, akan ada ruang di samping David Alaba yang siap dimanfaatkan Diaz, Mohamed Salah, Diogo Jota, atau Roberto Firmino.

Selain itu, tentu saja, Madrid harus mengantisipasi set-piece. Liverpool adalah tim yang amat piawai soal ini. Menghadapi bola mati Liverpool, Ancelotti bisa mengubah pendekatannya dari zonal marking ke man-marking. Sebab, hal yang berbahaya dari bola mati Liverpool adalah soal pergerakan tanpa bola untuk memecah konsentrasi pemain lawan. Man-marking bisa membuat pemain Madrid fokus ke masing-masing lawan--tanpa peduli gerakan yang lain.

Saat kebobolan vs Chelsea di 8 besar, Madrid juga terapkan zonal marking.

***

Pada akhirnya, laga final akan selalu tentang detail atau perubahan kecil yang dilakukan seorang pelatih untuk menghukum kelemahan lawannya. Dan dalam perjalanan menuju final, Klopp maupun Ancelotti sama-sama menunjukkan bahwa mereka sudah tahu benar soal itu. Mereka masternya. Keduanya tau harus mengubah apa, menarik siapa, memasukkan siapa.

Karenanya, duel di Paris nanti akan sangat menarik untuk disimak. Terlebih, tak ada yang lebih menonjol. Liverpool punya sesuatu yang tak dimiliki Madrid, begitupun sebaliknya. Kedua kubu malah punya satu hal yang, seharusnya, bisa jadi pembeda: Mental yang tangguh. Mereka sama soal itu.

Harusnya, laga akan berjalan sengit dan seru. Mungkin akan memutus tren final Liga Champions yang tak pernah menghasilkan lebih dari satu gol di dua edisi terakhir. Dan kalau boleh memprediksi, sepertinya, tak akan ada adu penalti malam ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.