Fred adalah Glitch dan Kita Hidup dalam The Matrix

Foto: Twitter @ManUtd.

Boleh jadi, selama ini kita keliru melihat Fred sebagai pemain yang buruk. Aslinya, cara memainkannya saja yang sebetulnya salah.

Pada sebuah ruangan gelap, kamu terduduk di tengah-tengahnya, berhadapan dengan satu orang lagi yang wajahnya tak bisa kamu lihat dengan jelas. Ia sempat menjelaskan beberapa hal tetapi kamu juga tak bisa menangkapnya dengan jelas. Dan tiba-tiba saja, ia menjulurkan kedua tangannya.

Di telapak tangan kanannya, ia menaruh pil merah. Sementara, di telapak tangan sebelahnya, ada pil biru. Ia lantas memintamu untuk memilih: Pil merah, kamu tetap berada di dunia khayalan layaknya Alice; pil biru, kamu bisa menggali lubang kelinci lebih dalam hingga keluar di sisi yang lain dan menghadapi kenyataan sesungguhnya.

Jika kamu memilih pil merah, kamu terbangun keesokan pagi dan semuanya berjalan seperti biasa. Kamu berangkat kerja, menghabiskan sepanjang hari berdiam di depan laptop, dan kemudian kembali ke tempatmu tinggal hanya untuk menemukan kenyataan bahwa kamu akan duduk dan berhadapan dengan laptop lagi.

Dalam duniamu yang tumpul dan membosankan itu, tidak ada yang benar-benar luar biasa. Tim kesayanganmu, Manchester United, masih berusaha membebaskan diri dari kemediokeran, persis seperti dirimu sendiri yang berupaya lepas dari segala ketumpulan ini. Gelandang mereka masih Fred, yang saban hari tidak lepas bikin kesalahan dan jadi bahan olok-olok di media sosial.

Namun, ada yang berbeda hari itu ketika kamu menyetel layanan streaming dan menyaksikan United bertanding. Fred yang semestinya menjadi badut justru berhasil menghibur dengan elegan. Ia tidak sekadar menjadi gelandang yang menggonggong lawan tiap kali mereka menguasai bola, tetapi juga mengkreasikan sejumlah peluang. Yang bikin kamu makin tidak percaya, Fred juga mencetak sebuah gol lewat sepakan melengkung.

Kamu tentu bertanya-tanya, ke mana si tolol yang dulu itu pergi? Apakah ini adalah saudara kembarnya yang datang jauh-jauh dari Brasil hanya untuk menggantikannya dalam satu-dua pertandingan? Akan tetapi, kalau begitu ceritanya, mengapa kita tidak membeli si saudara kembar itu saja dari dulu?

Kemungkinan terakhir, dan yang paling absurd, Fred adalah glitch. Ia adalah gangguan dari sistem sempurna yang membatasi hidupmu dengan tembok-tembok membosankan ini. Glitch di dalam sistem itu bisa jadi sedang berbalik menertawai dan mengolok-olokmu karena, sebetulnya, selama ini kamu hidup dalam sebuah matrix, medium, atau struktur yang tidak nyata.

Sebaliknya, kenyataan di luar sana adalah, jika kamu memilih pil biru tadi, Fred yang biasa menjadi badut itu sebetulnya ialah sosok yang bisa tampil berguna kalau bisa menggunakannya dengan tepat. Selama ini, karena terkungkung di dalam matrix tersebut, kamu telah melihatnya dengan cara yang salah.

***

Ketika United mendatangkan Fred pada Juni 2018, mereka memaksudkannya untuk menjadi “mesin” di lini tengah. Dengan menyebutnya sebagai “mesin”, Fred diidentifikasi sebagai gelandang dengan kerja-kerja agresif ketika tim sedang tidak menguasai bola. Sayangnya, role (peran) Fred dalam bermain tidak pernah terdefinisikan dengan baik sehingga ia lebih tampak beban tim ketimbang keping yang berguna.

Fred memang bukan pemain kelas dunia, tetapi tidak perlu menjadi pemain kelas dunia untuk betul-betul bisa berkontribusi positif bagi sebuah tim. Yang perlu dilakukan adalah memainkan si pemain dalam posisi dan role yang pas. Kita semua tahu bahwa Fred cocok memegang role sebagai breaker atau ball-winning midfielder, tetapi tentu ia tidak bisa menjalankan peran tersebut dengan baik jika dipasang sembarangan.

Dalam berbagai formasi yang pernah dimainkan oleh para pelatih United, mulai dari Jose Mourinho hingga Ole Gunnar Solskjaer, Fred sering dipasang sebagai salah satu gelandang poros di hadapan baris pertahanan. Dengan begitu posisinya lebih ke dalam dan berada tepat di depan benteng terakhir tim.

Dengan mengemban role sebagai breaker atau ball-winning midfielder, tetapi masih diserahi tugas pula untuk meng-cover baris pertahanan, Fred kewalahan. Area yang ia cover acapkali terlalu luas. Ini yang menyebabkan ia sering betul meninggalkan ruang di belakangnya, menyebabkan baris pertahanan United terekspos dengan sendirinya.

Solusinya, tentu saja, ada beberapa. Salah satunya adalah dengan memainkan satu orang gelandang bertahan lagi yang bisa bermain sebagai holding midfielder dan cukup disiplin menjaga ruang di depan baris pertahanan. Sayangnya, tidak banyak gelandang United yang cukup cakap memainkan peran tersebut. Malah, faktanya, cuma Nemanja Matic yang bisa memainkannya pada skuad saat ini.

Di United, Fred lebih sering diduetkan dengan Scott McTominay. Di Brasil, ia biasa bermain dengan Casemiro atau Fabinho—dua orang gelandang yang bisa melapis pertahanan dengan baik—sehingga Fred bisa leluasa menjalankan perannya sebagai breaker atau ball-winning midfielder dengan baik. Tidak jarang ia bisa melakukan pressing atau merebut bola sampai lini depan.

Sementara dengan McTominay, karakteristik dan role keduanya nyaris sama. Pelatih Interim United, Ralf Rangnick, menyebut keduanya adalah “nomor 6 yang amat berguna ketika (tim) sedang tidak menguasai bola”. Artinya, baik Fred maupun McTominay sama-sama bisa digunakan sebagai gelandang perebut bola atau breaker.

Dengan memainkan keduanya secara bersamaan tanpa tweak khusus di dalam taktik, bakal repot untuk memastikan baris pertahanan United terproteksi dengan baik. Pasalnya, ada kemungkinan Fred atau McTominay untuk terpancing keluar dari posisi demi merebut bola.

Untuk mengatasinya, Solskjaer pernah menerapkan formasi 3-5-2 dengan menurunkan Bruno Fernandes sebagai gelandang ketiga di antara keduanya. Namun, cara ini tak selalu berhasil. Penerus sementara Solskjaer, sang caretaker, Michael Carrick, memilih untuk memainkan Matic di antara keduanya. Namun, Carrick juga sedikit melakukan tweak dengan meminta McTominay bermain lebih ke dalam (menjaga ruang di antara bek dan lini tengah) ketika tim sedang bertahan di area sendiri.

Hasilnya memang lumayan. Ketika cara itu digunakan, United membawa pulang satu poin dari Stamford Bridge dengan menahan imbang sang tuan rumah, Chelsea, 1-1. Fred pun terlihat lebih leluasa melakukan pressing sejak dari lini depan. Namun, persoalannya, tetap saja ada beberapa momen di mana ketika ia naik ke lini depan, tersisa gap yang cukup besar antara lini tengah dan lini belakang.

Rangnick, yang baru menangani United pada satu pertandingan, yakni melawan Crystal Palace, kemudian menghadirkan solusi dari kantong belakang celananya. Ia mengeluarkan sebuah catatan yang sudah sejak dulu ia gunakan terhadap tim-tim yang ia tangani: Formasi 4-2-2-2.

Dalam formasi tersebut, Fred masih bermain dengan McTominay di depan baris pertahanan. Di depan keduanya ada Jadon Sancho dan Bruno Fernandes, yang disebut Rangnick sebagai “nomor 10 kembar”, sebuah posisi/peran yang ia sebut cukup menantang karena menuntut kedisiplinan dalam menyerang dan bertahan yang sama baiknya. Lantas, di baris paling depan ada Cristiano Ronaldo dan Marcus Rashford.

Dengan formasi tersebut, United bermain lebih rapat. Mereka bakal menekan lawan ke satu sisi secara bersamaan. Ini, tentu saja, berbeda dengan cara United melakukan pressing sebelumnya, di mana mereka menekan secara individual tanpa memikirkan cara untuk menutup jalur operan lawan. Dengan menekan secara kolektif, tidak hanya jalur operan lawan yang tertutup—dan oleh karenanya, build up serangan mereka mudah terputus—tetapi juga kinerja individu-individu menjadi lebih mudah.

Fred menjadi salah satu yang diuntungkan karena ia tetap bisa memenangi bola tanpa khawatir meninggalkan ruang. Semuanya, ya, karena kerapatan antarpemain dan pressing kolektif itu. Jika tidak percaya, simak catatan statistiknya: PPDA (Passes Allowed Per Defensive Action, sebuah stats yang mengukur intensitas sebuah tim melakukan tekanan lewat jumlah operan lawan) United mencapai angka rata-rata 10. Artinya, mereka rata-rata hanya membiarkan Palace melepaskan 10 operan tiap kali melakukan aksi defensif.

Dari sudut pandang intensitas ketika bertahan, semakin kecil jumlah PPDA tentu saja semakin bagus. Namun, buat kasus United, angka tersebut sudah lumayan. Pasalnya, itu adalah jumlah PPDA tertinggi mereka semenjak menghadapi Aston Villa pada September silam (United kalah 0-1 pada laga tersebut).

Dalam aksi bertahan tersebut, Fred menjadi yang paling menonjol. Total, ia memenangi 14 tekel dan ball recoveries, jumlah terbanyak di antara pemain yang bermain pada laga tersebut. Yang tidak kalah penting, ia juga bisa berkontribusi lebih banyak pada area serang United karena tugasnya kini menjadi lebih mudah. Salah satu buktinya, selain gol yang ia cetak ke gawang Palace, Fred, menurut catatan The Athletic, melepaskan operan lebih banyak (yakni 72 kali) dibanding pemain-pemain United lainnya.

Mengingat Fred punya segudang energi dan antusiasme dalam bermain, tidak akan mengherankan apabila ia menjadi kepingan penting dari skema Rangnick, yang amat menekankan pada kedisiplinan dan kontrol permainan. Yang melegakan buatnya adalah kini ia betul-betul bisa digunakan dengan tepat guna sehingga kesempatan untuk menghapus olok-olok amat terbuka.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.