Full-back 2.0

Foto: Planet Football.

Para pemain seperti Alexander-Arnold, Theo Hernandez, sampai Cancelo membuktikan bahwa peran full-back semakin penting dan integral di sepak bola.

Jamie Carragher pernah berkata, "Tidak ada yang ingin tumbuh menjadi Gary Neville." Yang dimaksud Carragher tentu saja tidak merujuk pada Neville secara personal. Ia tidak mengejek kepribadian kompatriotnya itu. Yang sebenarnya ia maksud: Tak ada yang ingin tumbuh menjadi full-back (di sepak bola).

Well, posisi full-back memang acap diremehkan. Gianluca Vialli pernah punya teori yang menyatakan bahwa pemain terburuk dalam sebuah tim adalah full-back kanan. Ini karena jika sang full-back punya kemampuan lebih cepat dalam mengolah bola, misalnya, ia akan jadi gelandang sayap. Jika ia punya kemampuan bertahan lebih baik pun, ia akan diplot jadi bek tengah atau gelandang bertahan. Karena kemampuannya pas-pasan, ia ditempatkan jadi full-back.

Jika kita berbicara dua atau tiga puluh tahun lalu, apa yang dikatakan Carragher dan Vialli mungkin masih bisa diterima. Namun, jika kita berbicara tentang sepak bola saat ini, rasanya dua argumen di atas tidak berlaku lagi. Sebab, peran full-back jadi begitu integral buat sebuah tim.

Oke, sejarah memang mencatat bahwa sejak dulu memang banyak full-back yang menonjol. Mereka juga diandalkan oleh klubnya masing-masing. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat evolusi dari full-back. Mereka tak cuma sekadar naik membantu serangan, melepas umpan silang, atau membantu pertahanan saja.

Kita bisa melihat saat ini banyak full-back muncul jadi pemain paling kreatif di sebuah tim, menjadi seorang playmaker (role bukan posisi). Mereka juga berperan lebih besar dalam penguasaan bola, seperti seorang gelandang. Kita melihat peran full-back jadi makin penting. Mereka makin diburu dalam tiap bursa transfer, salah satu komoditi panas.

***

Ketika berbicara soal full-back yang kreatif, yang rajin membantu serangan, mungkin orang-orang banyak yang akan menyebut sosok Dani Alves. Itu tak salah. Selama kariernya, Alves memang jadi full-back yang cukup rajin menciptakan assist. Pada musim 2009/10, 2010/11, dan 2011/12 jumlah assist-nya di La Liga selalu menyentuh dua digit. Ia salah satu full-back terbaik di muka bumi.

Namun, kita tahu bahwa di Barcelona pada era tersebut, Alves bukan satu-satunya sumber kreativitas tim. Di sana ada Lionel Messi, Andres Iniesta, dan tentu saja Xavi Hernandez. Ini lantas yang buat Alves berbeda jika kita membandingkannya dengan Trent Alexander-Arnold dan Theo Hernandez.

Dua nama itu bukan cuma jadi full-back kreatif, tapi juga jadi sumber utama kreatif tim. Silakan tengok statistik jika tak percaya. Alexander-Arnold bukan hanya sudah mencatat tujuh assist sejauh ini. Ia juga memuncaki torehan umpan kunci di Liverpool. Jika menengok angka ekspektasi umpan berbuah gol (expected assist/xA) per 90 menit pun, catatan Alexander-Arnold jadi yang paling tinggi.

Bahkan, di Premier League, catatan 0,47 xA per 90 menit milik Alexander-Arnold adalah yang tertinggi di antara pemain lain (yang punya setidaknya 3 penampilan penuh) di Premier League. Angka penciptaan tembakan via operan, dribel, atau tembakan (shot creating actions) miliknya juga jadi nomor dua terbaik di liga. Alexander-Arnold hanya kalah dari Jack Grealish.

Jika menengok Liverpool bermain, kita juga pasti melihat betapa Alexander-Arnold jadi jalur utama serangan tim. Bahkan sebagai full-back ia tak cuma punya area main di pinggir saja. Ia sering mengokupasi half-space atau bahkan menusuk ke tengah. Ia adalah playmaker di Liverpool yang tak punya playmaker itu.

Kreasi peluang Alexander-Arnold via open play. Grafis: Mark Carey via The Athletic

Theo Hernandez juga hampir sama. Milan bertumpu pada umpan-umpannya untuk mencetak gol. Karena itu Theo sudah mencetak lima assist sejauh ini--terbanyak di Milan dan bahkan teratas di Serie A. Angka ekspektasi umpan berbuah gol (xA) per 90 menit milik Theo (0,27) juga yang terbanyak kedua di Milan. Dia hanya kalah dari Rebic yang punya catatan 0,5.

Agresifnya Theo juga bisa kita lihat dari jumlah sentuhannya di kotak penalti lawan. Sejauh musim berjalan, Theo sudah menyentuh bola 27 kali di kotak penalti lawan dan itu jadi yang terbanyak keempat di Milan. Catatan pria berpaspor Prancis itu mengungguli catatan para gelandang seperti Brahim Diaz, Franck Kessie, atau Sandro Tonali.

Theo Hernandez acap menusuk sampai kotak penalti lawan.

Atau, jika dua pemain ini belum cukup, kita bisa menengok mantan rekan Alves, Jordi Alba. Kepergian Messi ke Paris Saint-Germain musim ini membuat Alba jadi tulang punggung kreativitas Barcelona. Sejauh ini, sang full-back kiri sudah membuat 4 assist (terbanyak di tim), 1,8 umpan kunci (terbanyak kedua), dan mencatatkan 24 shot creating actions (terbanyak kelima).

Jika ingin melihat contoh full-back yang punya tugas lebih kompleks lagi, kita bisa menjadikan Joao Cancelo sebagai rujukan. Inilah tipe full-back yang, seperti kami tulis di atas, berperan lebih besar dalam penguasaan bola sebuah tim. Sebab, di Manchester City, Cancelo tak cuma jadi sosok kreatif. Ia juga bisa mengalirkan bola dan menjaga ritme permainan tim.

Mengapa Cancelo bisa melakukan itu? Jawabannya karena Pep Guardiola, sang manajer, menugaskan pemain asal Portugal itu untuk rajin bergerak ke half-space dan area tengah. Cancelo bisa muncul jadi gelandang ekstra atau nomor 10 ekstra. Jika Alexander-Arnold masih rajin bergerak di sisi tepi, Cancelo tidak terlalu. Sebab di sisi tepi akan ada gelandang/penyerang sayap.

Anda mungkin menyebut bahwa Philipp Lahm sudah melakukannya lebih dulu. Itu, lagi-lagi, tak salah. Namun, ketika Lahm diberi tugas oleh Guardiola untuk berkontribusi lebih banyak buat penguasaan bola Bayern Muenchen kala itu, ia justru kemudian dipindahtugaskan jadi gelandang bertahan. Begitu pula di Tim Nasional Jerman.

So, Cancelo melakukannya di level yang lebih termutakhir. Peran itu mungkin pernah dilakukan pemain lain, tapi tak ada yang seperti Cancelo dalam urusan kompleksitas dan keintegralannya. Itu pula yang membuat pria berpaspor Portugal itu bisa mencetak gol dari area ini. Area yang biasanya dihuni oleh para gelandang.

Foto: @PremLeaguePanel

Daley Blind di Ajax juga melakukan hal yang hampir serupa. Di bawah arahan Erik ten Hag, Blind tidak diinstruksikan terus menyisir sisi kiri (toh dia juga lambat). Mantan pemain Manchester United ini justru diinstruksikan untuk masuk ke tengah atau half-space untuk mengalirkan bola dan jadi opsi umpan. Visi dan penempatan posisi yang baik dari Blind membuatnya tambah menonjol dengan peran ini.

Di Arsenal, Takehiro Tomiyasu juga menunjukkan bahwa full-back punya peran penting lain di era sepak bola sekarang. Tidak untuk menyerang, kali ini untuk bertahan. Tomiyasu sebenarnya sama seperti Blind dan Cancelo yang diinstruksikan untuk masuk ke tengah, tidak melulu di area flank. Namun, tugasnya yang berbeda.

Alih-alih untuk menyerang, penempatan posisi Tomiyasu yang lebih ke dalam difungsikan untuk membuat Arsenal jadi punya tiga bek saat tengah melakukan build-up. Saat menyerang pun, Tomiyasu bisa stay di sana agar Arsenal punya tambahan pemain ketika diserang balik. Penempatan posisi itu pada akhirnya bikin pertahanan tim makin kukuh.

Selain nama-nama di atas, contoh full-back yang punya peran teramat penting di timnya masing-masing masih segudang. Para full-back yang tugasnya bukan cuma overlap, track-back, atau sekadar melepas umpan silang saja. 

***

Pada 2009, Jonathan Wilson menulis di The Guardian bahwa menang atau kalahnya sebuah tim di pertempuran sepak bola ditentukan oleh para full-back. 12 tahun setelahnya, apa yang ditulis Wilson itu makin terbukti akurat. Peran full-back di sepak bola semakin penting, semakin integral buat sebuah tim. Mereka (para full-back) pun tak bisa lagi dipandang remeh.

Dan di kemudian hari, ketika makin banyak orang yang menganggap derajat full-back sama tingginya dengan gelandang serang, striker, atau posisi lain di sepak bola, mungkin akan ada perwakilan dari mereka yang mampu mendapat penghargaan pemain terbaik dunia (terserah versi yang mana).

===

Catatan Penulis:

Buat yang bertanya 'Kok tidak ada nama seperti Reece James, Ben Chilwell, Achraf Hakimi, atau Denzel Dumfries di tulisan ini?', maaf. Saya menganggap mereka sebagai wing-back. Saya lantas juga setuju dengan perkataan Tuchel yang menyebut bahwa wing-back lebih cocok disebut sebagai pemain tengah ketimbang pemain belakang seperti full-back.

Wing-back lebih leluasa untuk menyerang karena di belakangnya terdapat tiga pemain belakang. Selain itu, karena posisinya lebih ke depan, mereka juga 'lebih dekat' ke kotak penalti atau area sepertiga akhir pertahanan lawan. Itulah kenapa, misalnya, wing-back bisa mencetak lebih banyak gol ketimbang full-back.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.