Geliat Portugal

Foto: Twitter @selecaoportugal.

Portugal tak pernah sebaik ini. Pencapaian mereka selama lima tahun ke belakang lebih dari apa pun yang pernah mereka lalui.

Bila ada satu tim yang seharusnya diunggulkan di Euro kali ini, ialah Portugal. Sudah juara bertahan, kampiun UEFA Nations League pula. Portugal tak pernah sebaik ini. Pencapaian mereka selama lima tahun ke belakang lebih dari apapun yang pernah mereka lalui.

Namun, prestasi mentereng itu tak kemudian membuat Portugal benar-benar menjadi jagoan. Terlebih mereka tergabung dalam "Grup Neraka" bersama Prancis, sang juara bertahan Piala Dunia, serta Jerman, kolektor gelar Euro terbanyak.

Potugal dianggap kelewat Ronaldosentris dan jauh dari kolektivitas. Dia menjadi pusat permainan sekaligus meriam melepaskan tembakan dengan dominan.

Sebagai gambaran, Ronaldo mencatatkan rata-rata 5,3 tembakan per laga pada gelaran Piala Dunia 2018. Jumlah itu menjadi yang terbanyak di antara seluruh pemain. Sementara di babak kualifikasi Euro, alumnus akademi Sporting Lisbon itu mencetak setengah dari total gol Portugal.

Tak ada yang salah dengan itu. Namun, tentu saja, ada risiko besar di balik sebuah candu. Portugal bakal kesulitan andai produktivitas Ronaldo mulai tak menentu. Bukan tak mungkin A Selecao akan sakau berat saat ia gantung sepatu.

Itulah mengapa Fernando Santos berusaha sedikit menegasikan eksistensi Ronaldo dari jauh-jauh hari. Pelatih 66 tahun itu membuka kemungkinan untuk menyisihkan superstar-nya andai tampil butut.

“Jika Cristiano tidak dalam performa yang baik, dan tidak memberikan tim apa yang kami inginkan, jelas dia harus menjadi pemain pengganti dan dia harus mengerti," tegas Santos kepada RTP.

Pernyataan Santos cukup berani untuk seorang pelatih pragmatis. Untuk menunjukkan karakteristiknya ini, lihat saja bagaimana monotonnya permainan Portugal di Euro 2016.

Meski keluar sebagai juara, Portugal menjalani fase grup tanpa meraih satu pun kemenangan. Tiket ke fase grup mereka raup dari peringkat ketiga terbaik. Tak sampai di situ, Portugal juga membutuhkan babak tambahan untuk menang pada babak gugur. Pertama versus Kroasia di 16 besar, kemudian adu penalti melawan Polandia di perempat final, dan babak ekstra di partai final versus Prancis.

Jika mendengar pernyataan Santos tadi, mestinya Portugal bakal menampilkan permainan yang berbeda dibanding edisi sebelumnya. Setidaknya, lebih taktis dan kaya alternatif.

Harapan ini bukan pepesan kosong. Toh, Portugal yang sekarang adalah Portugal yang lebih baik. Kualitas skuat mereka nyaris merata di setiap lini. Beberapa personel tua tetap dipertahankan sambil mengaduknya dengan para pemain muda.

Dari 26 personel, hanya 6 di antaranya yang menginjak kepala tiga. Selain Ronaldo, ada Pepe, Jose Fonte, Joao Moutinho, Rui Patrício, dan Anthony Lopes. Sementara pemain potensial macam Ruben Dias Ruben Neves, Renato Sanches, Diogo Jota, Goncalo Guedes, dan Joao Felix usianya tak lebih dari 24 tahun. Sebenarnya masih ada Joao Cancelo. Namun, apes, Portugal mesti melepasnya di detik-detik akhir karena sang pemain terjangkit COVID-19.

Jangan lupa kalau Andre Silva, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, dan Raphael Guerreiro juga dalam usia terbaik mereka. Jadi bisa dibilang rantai generasi Portugal sekarang berada di alur yang benar. Lebih-lebih para penggawa Portugal ini punya skill mumpuni serta mental juara yang sudah teruji. Aspek yang tak hanya dipunyai Ronaldo seorang.

Lima pemain mereka berhasil menjadi raja di tiga liga top Eropa. Sanches serta Fonte menjadi kampiun bersama Lille, kemudian Felix dengan Atletico Madrid, serta Dias dan Silva yang mengangkat trofi bersama Manchester City. Dias malah sekaligus menggamit titel pemain terbaik Premier League.

Oh, ya, itu belum ditambah dengan bintang liga lokal seperti Joao Palhinha, Pedro Goncalves, Sergio Oliveira, dan Nuno Mendes. Nama yang disebut belakangan ini menjadi sorotan karena menjadi personel tim juara, Sporting Lisbon, di usianya yang baru 18 tahun.

Pemerataan kualitas pemain Portugal sekarang memudahkan Santos untuk bermain taktis, lebih tepatnya dalam memperkaya variasi serangan timnya. Ini diperkuat dengan kehadiran para gelandang kreatif di second line.

Bruno Fernandes yang pertama. Kredibilitasnya terbukti dengan statusnya sebagai topskorer sekaligus penyumbang assist terbanyak buat Manchester United musim ini. Spesialisasinya dalam memproduksi peluang, eksekusi bola mati, serta tembakan jarak jauh bisa memberikan keuntungan buat Portugal.

Fernandes nantinya dibantu dua gelandang dalam wadah dasar 4-3-3 yang diusung Santos. Neves dan Moutinho bisa menjadi kombinasi sempurna. Selain cakap bertahan, duo Wolverhampton Wanderers itu juga rajin memproduksi peluang. Sementara Sanches serta Danilo Pereira bisa menjadi penawar untuk meladeni lawan yang mengandalkan kekuatan fisik.

Sementara pos sayap kiri diproyeksikan untuk Jota. Masuk akal, karena penggawa Liverpool itu punya area jelahan luas dan tajam dalam penyelesaian akhir. Perlu diingat bahwa Jota adalah topkskorer sementara Portugal di kualifikasi Piala Dunia lewat 3 golnya.

Andai Santos bersilih ke pakem 4-4-2 atau 4-2-3-1, Felix bisa dimasukkan sebagai striker atau penyerang lubang. Kecepatannya bisa berguna untuk membantu Ronaldo membuka ruang. Yah, sebelas-dua belas dengan yang dilakukannya untuk Luis Suarez di Atletico Madrid.

Foto: Twitter @B_Fernandes8

Last but not last, Andre Silva. Betul, terlalu muluk menganggapnya sebagai suksesor Ronaldo. Karena, ya, jujur saja ia sangat sulit disaingi. Kalaupun ada, itu cuma Lionel Messi.

Di lain sisi, tak berlebihan juga menunjuk Silva untuk menggantikan porsi Ronaldo sebagai pendulang gol Portugal. Jebolan akademi FC Porto itu lagi bagus-bagusnya sekarang. Total 28 gol dibuatnya untuk Eintracht Frankfurt di Bundesliga 2020/21. Jumlah itu cuma satu gol lebih sedikit dari torehan Ronaldo bersama Juventus.

[Baca Juga: Lika-liku Andre Silva]

Malah, Silva lebih unggul dalam penyelesaian peluang dibanding seniornya itu. Menurut Understat, xG Silva ada di angka 25,6 atau surplus 2,4 dibanding jumlah golnya. Bandingkan dengan Ronaldo yang mengemas 29,84 xG dari torehan 29 gol. Kuantitas assist Silva juga menunjukkan dia tak kelewat egois. Jumlahnya mencapai 5, atau 2 biji lebih banyak daripada Ronaldo.

Statistik ini masih bisa diperdebatkan mengingat Silva "hanya" bermain di Bundesliga. Namun, perlu diingat kalau ia tak memiliki kolega yang jago bikin peluang macam Juan Cuadrado, Alvaro Morata, Federico Chiesa, Danilo, Rodrigo Bentancur di Frankfurt. So, dengan kata lain, Silva cukup layak buat bersaing dengan Ronaldo saat ini.

***

Portugal tak pernah sebaik sekarang. Kualitas personel mereka nyaris merata dari depan sampai belakang. Itu yang kemudian membuat Santos tak sepragmatis dulu dan berani melunturkan paham Ronaldosentris.

Boleh jadi Portugal kesulitan bersaing dengan Prancis dan Jerman di fase grup. Hongaria juga punya potensi menjadi batu sandungan buat mereka. Namun, tetap saja, mereka sangat layak menjadi kandidat juara Eropa tahun ini. Dan ingat, Portugal adalah juara bertahan Euro sekaligus kampiun UEFA Nations League.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.