Gelora Valverde

Twitter @fedeevalverde

Tidak perlu buru-buru menjadi sehebat Ramos, Modric atau Kroos. Valverde masih bisa menjadi dirinya sendiri, memberikan apa yang Madrid butuhkan.

Federico Valverde tak berpikir panjang saat menerjang Alvaro Morata dari belakang. Peduli setan dibilang pecundang, yang penting Real Madrid menang. Betul saja, Atletico Madrid gagal menuntaskan peluang emas karena tekelnya di babak tambahan itu. 

Morata keburu tumbang sebelum berhadapan dengan Thibaut Courtois satu lawan satu. Madrid kemudian menang 4-1 di babak adu penalti dan berhak menggondol trofi Piala Super Spanyol edisi 2019/20.

Hanya sebagian orang yang mengecap Valverde sebagai pesakitan. Sebagian besar lainnya melabeli dirinya pahlawan, Diego Simeone salah satunya. Dia bahkan mengeklaim bakal melakukan tindakan yang sama dengan Valverde dalam situasi seperti itu.

“Saya pikir cukup masuk akal memberi gelar man of the match kepada Valverde karena dia memenangi pertandingan dengan aksi ini,” ujar pelatih Atletico itu selepas pertandingan.

Terkadang sepak bola memaksa pemain untuk berbuat apa saja, tak terkecuali aksi-aksi kotor. Luis Suarez pernah menahan sundulan kepala Dominic Adiyah dengan tangan di Piala Dunia 2010. Kapten Bournemouth, Steve Cook, juga pernah melakukan hal yang sama konyolnya saat menepis tendangan Temu Pukki.

Namun, Valverde berada di derajat yang berbeda. Dia berhasil menjadi Man of the Match walau diusir wasit di tengah pertandingan. Dari ironi itu Valverde mulai menancapkan peran pentingnya untuk Real Madrid.

***

"Dia memiliki kualitas untuk terus tumbuh. Dia anak yang baik sekaligus profesional. Saya sama sekali tidak terkejut dengan apa yang saya lihat tentang dia, karena dia sudah memiliki bakat,” begitu Diego Forlan memuji Valverde, sebagaimana dilansir Radio Marca.

Forlan berbicara bukan sebagai duta pemain Uruguay. Dia tahu betul potensi Valverde semasa membela Penarol. Meski tak lama, keduanya pernah bermain bersama pada musim 2015/16.

Foto: @RealMadrid_GO


Bakat Valverde makin kentara di ajang Piala Dunia U-20. Selain mengantar Uruguay ke semifinal, dia dikalungi Silver Ball atas penampilan ciamiknya.

Akan tetapi, CV mentereng itu tak menjamin Valverde bakal menjadi pemain utama Madrid. Dia harusnya sudah tahu konsekuensi saat memilih El Real ketimbang Barcelona, Chelsea, dan Arsenal yang juga sempat mengincarnya.

Tak lagi rahasia bahwa Madrid gemar membudidayakan pemain muda: Merekrut, kemudian menaruh mereka di Castilla. Ada kemungkinan direntalkan ke klub lain untuk meningkatkan menit bermain. 

Makanya hanya segelintir jebolan akademi Madrid yang berhasil melakukan debut dalam 2,5 tahun kepemimpinan pertama Zinedine Zidane. Luca Zidane dan Achraf Hakimi merupanan dua di antaranya.

Valverde tak luput dari penggemblengan itu. Dia sempat dipinjamkan ke Deportivo La Coruna setelah setahun bersekolah di Castilla. Tipis peluang gelandang manapun untuk menggeser trio Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro di lini tengah. Apa boleh buat, berkat mereka Madrid sukses mengeruk tiga trofi Liga Champions secara beruntun.

Kalau bukan gara-gara cedera, hampir pasti Zidane tak akan mengganti komposisi lini tengahnya. Bukan tak mungkin pula Madrid bakal kelimpungan jika kehilangan salah satu dari Modric, Kroos, atau Casemiro.

Itu benaran terjadi di awal musim 2019/20. Modric tumbang lantaran cedera dan Madrid memulai start yang buruk. Cuma sepasang kemenangan yang mereka raih dalam lima pertandingan di lintas ajang.

Sialnya lagi, Madrid telah melego Mateo Kovacic dan Marcos Llorente, serta meminjamkan Dani Ceballos ke Arsenal. Makin cekak saja opsi Zidane di area tengah

Dari situ Valverde mulai nongol. Titik baliknya tercipta saat Madrid mengalahkan Granada 4-2 di La Liga pekan 8. Valverde berhasil mencatatkan 9 ball recovery, tertinggi di antara para pemain lainnya. Atas kontribusinya pula Eden Hazard sukses mencetak gol di laga itu.

Secara garis besar nilai jual Valverde adalah determinasi serta utilitasnya sebagai pemain serbabisa. Pemain 22 tahun itu bukan berusaha menjadi Modric, Kroos, atau Casemiro, melainkan melengkapi ketiganya. Itulah kenapa dia mampu menembus barikade starter Madrid.

Dalam formasi dasar 4-3-3, Valverde bisa dipasang sebagai gelandang tengah di depan Casemiro. Sementara saat Zidane mengaplikasi pakem empat gelandang, Valverde diutus mengisi tepi kanan. Tugasnya adalah menyokong area tengah sekaligus menyisir sisi tepi.

Kapabilitas Valverde tertuang lewat torehan 5 assist di La Liga 2019/20. Jumlah yang cuma bisa dikalahkan para pemain gaek macam Karim Benzema dan Modric.

Selain berbakat mengemban peran sebagai pemain nomor 10, Valverde sanggup untuk menahan naluri ofensifnya saat dibutuhkan. Mengover area yang relatif luas untuk merebut penguasaan bola lawan. 

Peran defensif semacam ini penting untuk Madrid yang punya garis pertahanan yang relatif tinggi. Bersama Casemiro, Valverde menjadi komponen penting untuk mengover full-back Madrid yang kerap naik.

Foto: Heatmap Valverde di La Liga 2019/20 (Sofascore)

Valverde bukan tipe pemain yang kerap steal the show. Sergio Ramos, Benzema, Ramos, Modric, atau Kroos lebih sering melakukannya buat Madrid. Ini yang menarik, Valverde justru mampu mencuri perhatian di saat-saat genting. Big Game Players, begitu sebutan kerennya.

Lihat saja kesuksesan Valverde menjebol gawang Barcelona di El Clasico edisi pertama. Gol cepatnya di menit kelima, menjadi fondasi kemenangan Madrid di hadapan para pendukung Blaugrana. Valverde juga menorehkan namanya di papan skor saat Madrid unggul tipis 3-2 atas Real Betis di Benito Villamarín.

Leg kedua perempat final Liga Champions versus Liverpool menjadi bukti teraktual. Uniknya, Zidane menurunkan Valverde sebagai full-back kanan. Pelatih berdarah Aljazair itu tak punya banyak opsi lantaran tumbangnya Dani Carvajal dan Lucas Vazquez.

Keputusan jitu. Valverde berhasil mengebiri serangan Liverpool dari tepi kiri. Whoscored mencatat ada 9 intersep yang dia buat atau tertinggi di antara seluruh pemain. Sebagai komparasi, Nacho Fernandez di posisi kedua saja cuma mampu mengumpulkan sepertiganya. Sementara kuantitas tekel sukses Valverde menyentuh angka 3, hanya kalah dari Casemiro dan Toni Kroos.

Itu baru perkara aksi bertahan. Catatan ofensif Valverde tak kalah impresifnya. Dia menjadi pemain dengan dribel sukses dan umpan kunci terbanyak Madrid.

Madrid beruntung memiliki Valverde. Sejak dini dia sudah mempunyai keteguhan hati serta semangat tinggi. Tak ayal Forlan meramal Valverde akan menjadi Sergio Ramos versi gelandang. 

Tidak perlu buru-buru menjadi sehebat Ramos, Modric atau Kroos, karena sejatinya Valverde sudah menjadi apa yang dibutuhkan Madrid saat ini: Menjadi pemain serbabisa yang mampu mencuri perhatian di pertandingan-pertandingan besar.

"Saya akan menawarkan kemampuan saya sebagai gelandang box-to-box. Saya punya kemampuan fisik untuk menekan dan bisa melakukannya kapan pun, sampai kaki saya hancur," tegas Valverde.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.