Go! Go! Coutinho

Foto: @phil.coutinho.

Coutinho tertarik dengan penjelasan Gerrard soal klub dan ambisinya. Satu pandangan, satu visi. Tapi, apakah Coutinho akan berguna untuk Aston Villa versi Gerrard?

Kekaguman Philippe Coutinho kepada Steven Gerrard tak pernah memudar. Telinga Coutinho pun selalu terbuka untuk kata-kata Gerrard. Apa saja ucapan Gerrard akan menjadi pertimbangan Coutinho dalam menelusuri kariernya di dunia sepak bola.

Keputusan Coutinho bergabung Aston Villa sebagai pemain pinjaman pada bursa transfer musim dingin salah satunya karena kata-kata Gerrard. Ada banyak hal yang dibicarakan mereka. Salah satunya, road map Villa dan ambisi Gerrard.

Coutinho tertarik dengan penjelasan Gerrard. Satu pandangan, satu visi. Harapan Coutinho untuk kembali menjejak kejayaan dan bersinar usai melewati masa-masa sulit membara.

"Saya banyak bicara dengan Stevie (sapaan Gerrard). Ia memberi tahu saya tentang klub dan ambisinya," kata Coutinho setelah resmi bergabung Villa. Ia melanjutkan soal gairahnya. "Saya berharap ini akan menjadi sisa musim yang hebat.”

Sedangkan Gerrard sudah mengonfirmasi kapasitas dan kapabilitas Coutinho ketika keduanya sama-sama membela Liverpool pada 2013-2015. Dalam buku biografinya bertajuk My Story yang terbit pada 2015, Gerrard menulis bahwa Coutinho adalah pemain top dunia.

Tiga tahun setelah menulis itu, Coutinho hengkang dari Anfield dan memilih Camp Nou. Kepindahan itu tidak hanya meninggalkan rekam jejak negatif, tetapi juga seperti memantik penurunan performanya. Pria 29 tahun itu tidak pernah mencetak lebih dari 8 gol di ajang liga.

Situasi itu menghadirkan beragam pertanyaan yang mendiskreditkan. Bahwa keemasan Coutinho sudah tamat. Ia tidak lagi se-imajinatif tahun-tahun sebelumnya. Daya imajinya dinilai sudah mengendur. Pun demikian dengan lesakan-lesakan dari luar kotak penalti.

Namun, Gerrard meminta orang-orang untuk melirik curriculum vitae Coutinho, terutama di kolom trofi. Ada dua gelar La Liga, dua Copa Del Rey, dan treble bersama Bayern Muenchen pada musim 2019-2020.

Deretan pencapaian itu meneguhkan keyakinan Gerrard bahwa Coutinho adalah pemain spesial. Jika tidak, kata Gerrard, pemain berkebangsaan Brasil itu tidak mungkin mendapat label The Magician.


Setelah proses perekrutan tuntas, kita tinggal menyimak apa yang bisa Coutinho berikan untuk Gerrard, Aston Villa, dan kariernya sendiri.

Delapan laga sudah diarungi Gerrard sebagai arsitek Villa. Dalam kurun tersebut, eks kapten Liverpool itu memakai pola 4-3-3. Itu adalah pakem yang ia gunakan selama melatih Rangers.

Kesetiaan Gerrard pada formasi tersebut membuat permainan Villa lebih menggigit. Mereka bukan lagi tim yang menumpuk pemain di pertahanan dan melangsungkan serangan balik cepat, tetapi kesebelasan yang menerapkan ball possession. Apalagi saat melawan tim yang sepadan.

Villa-nya Gerrard mengutamakan build-up dari bawah via umpan dari kaki ke kaki. Pemosisian pemain amat krusial dalam hal ini. Supaya umpan-umpan efektif, jarak antarpemain dipangkas, terutama tiga gelandang mereka.

Pergerakan dua penyerang sayap yang rutin masuk ke tengah lapangan atau half-space membuat opsi umpan gelandang melimpah. Itu juga yang membedakan Gerrard dengan Liverpool-nya Juergen Klopp.

Gerrard memberikan peran gelandang nomor 10 kepada penyerang sayap. Itu terlihat dari tugas utama penyerang sayap. Bukan menyisir tepi lapangan, melainkan kreator serangan. Daya imaji penyerang sayap sangat menentukan seberapa efisien serangan Villa.

Kemampuan umpan dan dribel penyerang sayap amat dibutuhkan. Sebab, mereka akan menjadi pemain terdepan bersama penyerang tengah yang mendekati dan masuk ke dalam kotak penalti. Bagaimana mereka harus pandai mengendus ruang sekecil apapun untuk menciptakan peluang.

Jika melihat produktivitas, apa yang dilakukan Gerrard sebenarnya sudah cukup oke. Rata-rata gol Villa per 90 menit sejak dinakhodai Gerrard meningkat. Dari 1,2 saat dilatih Dean Smith menjadi 1,62 gol per laga di era Gerrard.

Namun, Gerrard belum menemukan penyerang sayap yang sesuai keinginan. Awalnya, ia memainkan Ollie Watkins di sisi kiri dan Emiliano Buendia di sebrangnya. Laga berikutnya, ia mencoba memainkan Ashley Young dan Leon Bailey sebagai penyerang sayap yang mengapit Watkins.

Eksperimen di pos penyerang sayap terus dilakukan. Gerrard bahkan sempat menurunkan Buendia di sisi kiri agar Bailey bisa menempati sisi kanan. Dalam tiga laga terakhir di Premier League pun, ia belum benar-benar menemukan pakem untuk pos tersebut.

Melihat otak-atik Gerrard yang jauh dari kata selesai, sudah semestinya Villa mendatangkan penyerang sayap bertipikal pemain nomor 10. Dan tentu saja, Coutinho adalah opsi terbaik.

Coutinho bukan pemain sembarangan tentunya. Namun, dalam satu setengah musim terakhir atau selepas kembali dari Muenchen, ia berkawan dengan cedera. Merujuk catatan Transfermarkt, ia melewatkan 246 hari dan 37 laga karena cedera meniskus lateral di lutut kiri dan hamstring.

Wajar saja, toh, kalau perekrutan Coutinho diragukan. Apa iya, ia bisa tampil sebagus di Liverpool? Apa iya, ia bisa se-imajinatif sebelumnya? Apa iya, ia mampu menjawab ekspektasi Gerrard dan seterusnya dan seterusnya?

Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Namun, meragukan Coutinho dengan sangat teramat bukan keputusan bijak. Gerrard saja masih menaruh harapan besar kepadanya.

Coutinho merupakan salah satu playmaker komplet. Tak hanya soal distribusi bola, ia juga memiliki kecakapan dalam melakukan dribel. Daya imaji Coutinho untuk mengkreasikan peluang pun terbilang oke.

Saat membela Muenchen, misalnya, Coutinho mencatatkan rata-rata 4,98 shot-creating actions (SCA) tiap 90 menit. SCA sendiri adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan. Dan angka itu menjadi yang tertinggi kedua di Muenchen setelah Thomas Mueller.

Sisi positif itu akan sangat berguna untuk Villa-nya Gerrard. Coutinho bisa menjadi pelayan yang oke untuk Watkins. Selain itu, umpan-umpan diagonal Coutinho bisa dimanfaatkan full-back untuk meneror lawan.

Jika serangan mampat, tembakan jarak jauh Coutinho bisa jadi solusi. Mengacu Understat, ia mampu mencetak gol dari luar kotak penalti sebanyak 22 kali sejak musim 2014/15. Belum lagi kemampuannya dalam mengeksekusi bola mati.

Dengan segala pertimbangan di atas, mestinya Coutinho akan menjadi pembelian berhasil Villa. Tinggal bagaimana ia mengintegrasikan diri dengan skema dan keinginan Gerrard.

Apabila Coutinho cepat nyetel, bukan tidak mungkin Villa akan memberikan efek kejut. Misalnya, mengalahkan Liverpool.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.