Haller si Petualang

Foto: AFCAjax.

Haller menyelami penjuru Eropa untuk mencari petualangan--entah di luar atau dalam lapangan.

Apa momen yang bisa membuatmu merasa sangat bahagia? Jika bertanya kepada Sebastian Haller, ia tentu bakal menjawab: “Mencetak empat gol di pertandingan Liga Champions pertamaku.”

Haller menciptakan empat gol di laga Ajax Amsterdam vs Sporting Lisbon, 15 September 2021. Pertengahan Oktober lalu, Haller kembali beringas dengan mencetak satu gol dan dua assist saat Ajax menghadapi Borussia Dortmund.

Kontribusi Haller di laga melawan Sporting terbilang luar biasa. Pasalnya, empat gol di laga debut di Liga Champions terakhir kali terjadi pada 1992 dan pemain terakhir yang melakukan itu adalah Marco van Basten.

***

Haller mulai bermain sepak bola sejak usia tiga tahun. Makin bertambahnya tahun, ia makin menggilai sepak bola. Nyaris setiap waktu ia habiskan dengan bermain bola. Bahkan, ia rela membolos dari klub judo demi bermain sepak bola di jalanan.

Dari jalanan, Haller bergabung dengan Bretigny Foot. Bregtiny adalah salah satu akademi sepak bola populer di Prancis. Nama-nama seperti Jeremy Menez, Patrice Evra and Mehdi Benatia memulai sepak bola dari klub tersebut.

Haller memulai kariernya di Bregnity saat ia berusia 11 tahun. Di sana, ia langsung jadi pemain yang mengerikan buat lawan. Tubuh yang lebih tinggi dan besar ketimbang anak seumuran membuat ia sulit dikalahkan.

Di saat Haller menggila, kondisi fisiknya mulai menurun. Kecenderungannya untuk menahan cedera membuatnya kemampuan lututnya turun. Masalah tersebut membuatnya lebih sering mengalami cedera ketimbang pemain biasanya.

Cedera tersebut membuat Bregnity bergerak cepat untuk mencari pertolongan. Hubungan khusus mereka dengan AJ Auxerre membuat Haller berhak mendapatkan pengobatan spesial di klub besar Prancis tersebut.

Saat melakukan pemeriksaan, perwakilan Auxerre rupanya kaget dengan postur Haller. “Mereka tidak percaya saya baru berusia 13 tahun,” kata Haller kepada Le Monde. Pemeriksaan tersebut membawa Haller jadi murid di akademi Auxerre.

Bergabung ke Auxerre memaksa Haller jauh dari keluarga di usia yang amat muda. Namun, di sinilah jiwa petualangannya dimulai. Ia tidak akan segan untuk mencari tempat baru yang menyuguhkan tantangan.

Haller nyaris selalu menjadi pemuncak daftar pencetak gol terbanyak di Auxerre. Lagi-lagi, kekuatan fisik membuatnya jadi penyerang yang mengerikan. Bahkan, ada masa saat ia nyaris selalu mencetak minimal empat gol per pertandingan.

Pada 2012, manajemen Auxerre menunjuk Jean-Guy Wallemme. Selama berkarier sebagai pelatih, Wallemme dikenal gemar mengorbitkan pemain muda. Haller jadi salah satu pemain yang melakoni debut di tangan Wallemme.

Laga Auxerre vs Nimes pada Ligue 2 musim 2012/13 jadi debut Haller. Ia jadi pemain termuda di laga tersebut. Meski demikian, tidak tampak adanya keraguan. Ia bermain amat gemilang meski tidak mencetak gol.

Lambat laun, Haller mengunci satu posisi di lini depan Auxerre. Namun, yang terjadi di lapangan tidak selaras dengan hubungannya dengan manajemen. Perkara tidak adanya kejelasan kontrak, ia memilih hengkang.

Selanjutnya, giliran Utrecht yang jadi pelabuhan. Di klub ini, Haller dilatih oleh Erik Ten Hag. Ten Hag memberi banyak kebebasan untuk Haller. Pada akhirnya, ia hanya butuh satu setengah musim untuk jadi luar biasa.

“Ten Hag sangat mempercayai pemain-pemainnya, termasuk saya. Ia selalu memberikan dukungan dan saran bagi setiap pemain untuk berkemban. Di luar lapangan, ia adalah sosok terbaik untuk berbicara soal apapun,” kata Haller kepada Eurosport.

Haller mendapatkan dua musim yang sempurna di Utrecht. 30 gol selama dua musim adalah catatan yang baik. Hubungan dengan pelatih, pemain, dan suporter pun amat harmonis. Namun kembali, ia adalah petualang.

Sebelum bergabung Eintracht Frankfurt, Haller sama sekali tidak mengenal Jerman. Dua alasan Haller memilih Frankfurt adalah saran dari Ten Hag dan suhu rata-rata yang lebih hangat ketimbang daerah lain.

Haller meredup di tahun perdananya bersama Frankfurt. Namun, di tahun kedua, ia tampil luar biasa. Di bawah Adi Hutter, ia, bersama Luka Jovic dan Ante Rebic, membentuk trio yang mematikan dengan total 41 gol di Bundesliga.

Pada akhirnya, Haller mengikuti jejak Jovic dan Rebic yang memutuskan pergi dari Frankfurt pada musim panas 2019. Ia bergabung dengan West Ham United setelah Frankfurt menerima tawaran 40 juta euro.

Haller hanya bertahan satu setengah musim di West Ham. Anjloknya performa jadi alasan terbesar mengapa ia tersingkir. Hanya mencetak 10 gol dari 48 pertandingan jelas menjadi catatan yang buruk.

Kegagalan Haller di West Ham disebabkan banyak hal. Namun, yang paling besar adalah keinginan David Moyes untuk memanfaatkan Haller sendirian di kotak penalti lawan. Ini jadi masalah karena Haller jarang bermain dalam peran tersebut

Haller bukan penyerang yang tugasnya hanya menunggu di kotak penalti lawan. Di Frankfurt, ia amat rajin bergerak dan mencari ruang. Nyaris tidak ada ceritnya Haller sendirian dan hanya menyelesaikan peluang.

Kesempatan perlahan menipis pada pertengahan 2020/21. Satu-satunya harapan Haller adalah pindah klub. Hingga suatu hari, Ten Hag, yang sekarang melatih Ajax, datang dan memberikan tawaran kepadanya. Tanpa pikir panjang, ia setuju.

Haller sebetulnya belum menunjukkan kontribusi gol yang amat luar biasa di Ajax. Satu perkembangan yang amat terlihat hanya peran yang amat signifikan dalam pertandingan. Di Ajax, ia menyelami seluruh sisi lapangan untuk mencari ruang.

Sejauh ini, cara tersebut manjur. Total 27 gol sudah ia buat selama berseragam Ajax sejak musim lalu. Dari 27 gol tersebut, ada tujuh gol di Liga Champions yang ia buat hanya dari empat pertandingan. Itu terjadi di musim ini. Menunjukkan bahwa Haller tak hanya ganas di Eredivisie.

***

Petualangan diwujudkan Haller dalam mencari klub baru. Lima klub profesional dalam sembilan tahun berkarier bukan jumlah yang sedikit. Dari Prancis hingga Jerman. Dari Inggris menuju ke Belanda.

Satu lagi, cerita petualangan tidak hanya dilakukan Haller di luar lapangan. Di dalam lapangan, ia gemar berpetualang: Mengejar kemana pun bola bergerak dan mencari ruang kosong di pertahanan lawan.

Kamis (4/11/2021), Haller mencetak satu gol ketika Ajax menang 3-1 atas Borussia Dortmund pada matchday IV Liga Champions. Hasil tersebut tidak hanya membawa Ajax lolos dari fase grup, tetapi juga menunjukkan bahwa sekalipun tanpa banyak pemain bintang, mereka bisa membangun tim yang nyetel satu sama lain, mulai dari pemain, pelatih, hingga para pengurus klub.

Haller, tentu saja, merupakan komponen penting dari mesin besar Ajax yang bekerja dengan baik itu. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.