Harry Kane atau Bukan, Manchester City Jelas Butuh Penyerang

Foto: @HKane.

Manchester City agresif mengejar tanda tangan Harry Kane. Belum ada hitam di atas putih. Namun, satu yang pasti: Mereka memang sangat membutuhkan sosok seperti penyerang Tottenham Hotspur itu.

Pada mulanya, semua tampak baik-baik saja buat Pep Guardiola. Cedera Sergio Aguero berhasil ia akali dengan menyulap Ilkay Guendogan dan terkadang beberapa pemain lain menjadi false nine. Hasilnya mengesankan sebab mereka mampu menjadi tumpuan gol Manchester City musim lalu.

Guardiola tidak asing dengan false nine. Dalam peran ini, penyerang tidak hanya bertugas mencetak gol, tetapi juga menciptakan ruang di pertahanan lawan. Peran ini jadi sorotan tatkala Guardiola, yang kala itu pelatih Barcelona, menerapkannya saat menghadapi Real Madrid pada 2009.

Sosok yang ia pilih untuk mengemban peran tersebut adalah pemain yang kini mengantongi enam Ballon d’Or. Siapa lagi kalau bukan Lionel Messi.

Peran itu membuat potensi Messi kian termaksimalkan. Bagi Guardiola, sementara itu, peran false nine jadi salah satu bukti kegeniusannya. Ini tak hanya upaya membuka lubang pertahanan Madrid, tetapi juga cara Guardiola menjawab keadaan saat tidak memiliki penyerang tengah yang mumpuni.

Hasilnya: Kemenangan 6–2 atas Madrid.

Bertahun-tahun kemudian, Guardiola yang sudah menjadi pelatih City kembali mencoba peran tersebut. Pemicunya masih sama: Sebagai alternatif di tengah minimnya penyerang tengah berkualitas. Dalam hal ini, Guardiola tak bisa memainkan Aguero yang absen panjang karena cedera.

City sebetulnya masih punya Gabriel Jesus. Musim 2019–20 membuktikan betapa ia bisa jadi andalan di lini depan. Torehan 20 gol di Premier League dan Liga Champions jadi bukti. Yang jadi masalah, Jesus adalah penyerang yang cenderung bergerak dari tepi lapangan.

Lantas, Guardiola mencoba false nine sebagai jawaban atas situasi ini. Yang berbeda dari masanya di Barcelona, Guardiola tak hanya mencoba satu nama (Messi) untuk memerankan false nine. Ia mencoba hampir semua pemain City yang beroperasi di area penyerangan.

Sebagian besar adalah para pemain sayap dan gelandang untuk bergantian mengisi pos penyerang tengah dalam peran tersebut. Selain Guendogan, nama-nama seperti Phil Foden, Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, Riyad Mahrez, dan Ferran Torres bergantian mengisinya.

Tentu, ada alasan mengapa Guardiola memilih mereka. Pertama, nama-nama itu punya kecerdasan dalam bergerak dan membaca ruang. Itulah mengapa, mereka diberi kebebasan dalam bergerak. Mereka tahu kapan harus mengeksplorasi dari tengah dan kapan mesti nangkring di pertahanan lawan.

Kedua, mereka juga punya finishing yang oke. Guendogan, misalnya, menjadi pemain dengan konversi peluang terbaik di City. Masuk akal jika mereka punya catatan gol tertinggi. Guendogan punya 13 gol, Sterling 10, Torres 7, De Bruyne 6, serta Mahrez dan Foden dengan masing-masing torehan 9 gol.

Richard Jolly dalam artikelnya di FourFourTwo bahkan mengatakan bahwa City tampil lebih baik sejak kehilangan penyerang. Tanggung jawab bersama yang diemban para pemain itu untuk mencetak gol bikin mereka sukar ditebak. Ujung-ujungnya, gol bisa datang dari mana saja. 

Malah, City sempat meraih 21 kemenangan beruntun sejak mereka tak tampil dengan striker betulan. Statistik juga menunjukkan bahwa false nine bisa mendongkrak ketajaman City hingga 0,53 gol per laga, melampaui kontribusi Aguero dan Jesus yang cuma 0,42 gol.

Semua catatan spesial itu membuat City pada musim lalu tampak amat spesial. Namun, yang namanya spesial bukan berarti tak punya celah. Pada final Liga Champions beberapa waktu lalu, Chelsea berhasil meredam taktik false nine Guardiola dengan sempurna.

Salah satu buktinya, De Bruyne yang pada laga itu tampil sebagai false nine dalam skema 4–3–3 tak mampu melepaskan satu pun tembakan. Secara keseluruhan, City juga tampak kesulitan sebab heatmap laga itu menunjukkan bahwa mereka cukup jarang memasuki kotak penalti Chelsea.

Dalam kondisi demikian, barangkali yang City butuhkan adalah penyerang tengah sungguhan. Urgensinya jadi makin tinggi mengingat Sergio Aguero, yang performanya pun mulai redup, resmi hengkang ke Barcelona. Kini, City hanya punya Jesus sebagai satu-satunya penyerang di skuat inti.

***

Akhir musim lalu Guardiola mendapat pertanyaan dari seorang jurnalis soal kemungkinan mendatangkan penyerang tengah baru ke Etihad. Kepastian hengkangnya Aguero, yang merupakan topskorer sepanjang masa City dengan 257 gol, jadi pemicunya.

Dalam jawabannya, Guardiola berkata bahwa kondisi finansial yang tak stabil bikin mereka mustahil mencari pengganti pemain asal Argentina itu, setidaknya pada musim panas ini. Di sisi lain, ia punya alasan kuat untuk tak mencari penyerang tengah baru.

“Dengan harga seperti ini kami tidak akan merekrut striker mana pun. Kami tidak mampu membelinya. Itu tidak mungkin. Itu tidak akan terjadi. Kondisi finansial semua klub sedang kusut, kami bukan pengecualian. Lagi pula kami punya Gabriel (Jesus) dan Ferran (Torres).”

“Kami punya cukup banyak pemain di tim utama, belum lagi beberapa pemain menarik di akademi. Kami juga sudah bermain dengan false nine berulang kali,” tutur Guardiola.

Namun, sejumlah rumor yang beredar baru-baru ini malah menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah pandemi yang masih menerpa, City punya budget hingga 200 juta poundsterling untuk belanja pada musim panas. Kabarnya, nominal tersebut ada kaitannya dengan pemasukan mereka musim lalu.

Goal International melaporkan bahwa klub-klub Premier League mendapat keuntungan besar dari hak siar televisi. Sebagai bukti, Manchester United punya cukup uang untuk mendatangkan Jadon Sancho dan Raphael Varane sekaligus dengan nilai total sekitar 100 jutaan pounds. Chelsea juga kabarnya tengah mengincar penyerang anyar.

City, di sisi lain, turut ketiban berkah serupa. Pemasukan mereka bahkan tak cuma berasal dari hak siar, tetapi juga efek memenangi Premier League, Piala Liga, serta menembus final Liga Champions. City juga punya dana tambahan karena beban gaji yang berkurang setelah hengkangnya sejumlah pemain. Belum lagi hasil penjualan dan peminjaman serta nihilnya aktivitas transfer di musim dingin. Banyak.

Lantas, dengan dana itu ada dua pemain yang mereka incar. Pertama Jack Grealish, gelandang serang Aston Villa yang belum lama ini resmi mereka dapatkan. Berikutnya Harry Kane, penyerang Tottenham Hotspur. Kane inilah yang konon disiapkan untuk mengisi lubang di lini depan musim depan.

Dalam laporan The Athletic, upaya City membawa Kane ke Etihad amat berbelit-belit. Kane kabarnya sangat ingin pindah. Bahkan, ia sampai mangkir latihan agar diizinkan pergi. Namun, negosiasi antara kedua klub yang alot membuat kesepakatan tak kunjung terjadi.

Bos Tottenham Daniel Levy saklek hanya akan melepas penyerang yang mereka besarkan dengan harga 150 juta pounds, sedangkan City "cuma" menawarkan 100 juta pounds. Semua jadi kian sulit karena Tottenham enggan melepas Kane ke sesama klub Premier League.

Kendati begitu, City belum patah arang. Kabarnya, mereka bersedia menaikkan tawaran hingga 130 juta pounds. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai hal ini. Satu yang pasti: Ini menunjukkan betapa City amat serius mencari penyerang tengah baru.

Terlepas dari upaya menutupi lubang di lini depan mereka, terutama sepeninggal Aguero, Kane adalah penyerang yang cocok dengan skema Guardiola. Ini tak cuma tentang ketajamannya yang konsisten, tetapi juga bagaimana aksinya sepanjang pertandingan.

Kane adalah penyerang tengah yang dinamis. Ia bisa mengisi peran target man, tetapi juga lihai membuka ruang, bahkan bergerak dan menciptakan peluang dari lini kedua. Silakan simak betapa luwesnya Kane bergerak ke sana sini di helatan Euro 2020 kemarin.

Statistik musim lalu juga menunjukkan bahwa Kane tak cuma piawai menjebol gawang lawan. Total 23 golnya di Premier League sama spesialnya dengan jumlah assist-nya yang mencapai 14. Lantas, ia meraih gelar topskorer sekaligus pencetak assist terbanyak musim lalu.

***

City mengakhiri 2020–21 dengan dominan. Mereka meraih gelar Premier League lewat keunggulan 12 poin. Namun, City mesti ingat bahwa segala sesuatu bisa berubah dengan sangat cepat. Pada 2019–20, Liverpool mencapai hal serupa tetapi hasil pada musim berikutnya nyaris jadi petaka.

Kehilangan sejumlah pemain kunci jadi penyebab buruknya performa Liverpool. Ada Virgil van Dijk, Joe Gomez, Joel Matip, serta Jordan Henderson. Namun, per musim depan nama-nama tersebut sudah pulih dan siap kembali menjadi penantang City di Premier League.

Bukan hanya Liverpool yang bakal jadi pesaing. United, yang musim lalu cukup menyulitkan, akan kembali menyulitkan City setelah melakukan pembenahan besar dengan mendatangkan Sancho serta Varane. Chelsea juga sangat gencar mengincar salah satu dari Erling Haaland dan Romelu Lukaku.

Ini belum menghitung persaingan di Eropa. Paris Saint-Germain baru saja belanja besar. Mereka bahkan santer dikaitkan dengan Lionel Messi yang tak lagi di Barcelona. Kemudian ada Bayern Muenchen, Juventus, dan beberapa klub besar lain yang juga melakukan pembenahan yang cukup signifikan.

Dalam kondisi seperti ini, yang perlu City lakukan adalah terus melihat apa yang kurang dan berusaha memperbaikinya, sebagaimana yang dikatakan pemilik mereka beberapa waktu lalu. Perekrutan Harry Kane atau penyerang mana pun dengan tipe apa pun bisa menjadi salah satu upaya tersebut.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.