Hate at First Sight

Foto: @Cityreport.

Persaingan antara Mauricio Pochettino dan Pep Guardiola sudah panas sejak pertemuan pertama. Kini kedua pelatih top itu akan kembali bersua. Siapa bakal menang?

Di pengujung Januari 2009, seorang pelatih muda memasuki lapangan RCDE Stadium dengan kepala menengadah. Ini adalah pertandingan debutnya sebagai pelatih. Oleh karena itu, ia enggan bersikap panik dan memilih menunjukkan kepercayaan diri. Apalagi yang dihadapi adalah rival sekota yang punya nama besar dan segudang prestasi.

Si pria yang sama sekali tak punya pengalaman itu merasa bahwa laga ini bisa jadi pembuktian bahwa ia sudah layak melatih dan klubnya tak salah pilih. Dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia juga sama berbakatnya dengan seorang pria muda yang berada di seberangnya. Pria muda lain yang pada awal musim yang sama juga baru ditunjuk menjadi pelatih klub rival.

Duel dua pria muda pada hari itu berlangsung alot. Itu cuma laga leg pertama perempat final Copa del Rey, tapi rasanya sudah seperti final. Pria muda pertama menginstruksikan anak asuhnya untuk melancarkan pressing tinggi. Dia tau lawannya mengendalkan penguasaan bola dengan umpan cepat dari kaki ke kaki.

Karena itu, anak asuhnya dituntut untuk bisa merebut bola dari lawan dengan cepat. Dia ingin ritme permainan klub rival terganggu. Nyatanya itu berhasil. Sang rival bermain tak nyaman dan pada akhirnya tak mampu mencetak satu gol pun. Laga alot ini kemudian berakhir dengan skor imbang 0-0.

Hebatnya, keberhasilan menahan imbang sang rival didapatkan hanya lewat dua kali latihan saja. Latihan pertama berlansung sehari sebelum laga dan latihan kedua dilangsungkan pagi hari sebelum pertandingan berlangsung. Semua harus dilakukan dengan cepat, karena ia memang baru ditunjuk sebagai pelatih.

Keputusannya menengadahkan kepala di awal laga tepat. Timnya tak dipermalukan dan ia tak kalah. Sejak itu publik tau bahwa La Liga punya dua pelatih muda potensial yang layak dapat perhatian lebih. Kelak kita tahu bahwa dua pelatih muda itu adalah Mauricio Pochettino dan Pep Guardiola.

Pochettino adalah pria muda pertama yang kami sebutkan. Dialah sosok yang mampu membuat Espanyol menahan imbang Barcelona, meski pasukannya baru menjalani latihan dua kali di bawah kepemimpinannya. Dia adalah pelatih pertama yang mampu membuat Barcelona-nya Pep Guardiola tak berhasil mencetak gol sejak Agustus 2008, pada laga pertama La Liga.

Espanyol-nya Pochettino kemudian memang kalah 2-3 di leg kedua. Namun, kejutan dari mereka untuk Barcelona-nya Guardiola tak berhenti di situ. Pada pertemuan berikutnya di ajang La Liga, yang jaraknya tak sampai sebulan sejak pertemuan pertama, Espanyol dibawa Pochettino jadi pemenang Derbi Catalunya.

Barcelona-nya Guardiola yang isinya Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Thierry Henry, Samuel Eto'o, Yaya Toure, sampai Carles Puyol itu takluk dari Espanyol. Yang lebih heroik lagi, laga itu dihelat di Camp Nou. Itu adalah kemenangan pertama Espanyol di kandang rivalnya dalam 27 tahun.

Espanyol, yang terseok-seok di zona degradasi dan dipimpin oleh pelatih ingusan yang sama sekali tak punya pengalaman, berhasil menang atas Barcelona yang memiliki segudang pemain hebat dan dipimpin oleh pelatih cerdas. Barcelona yang di akhir musim meraih treble winner

Apa yang dilakukan Pochettino di laga itu sebenarnya sama dengan apa yang dilakukannya di pertandingan pertama: menyuruh anak asuhnya menekan Barcelona tanpa lelah, untuk merebut bola secepat mungkin, dan juga membuat para pemain belakang menempel para pemain depan lawan dengan ketat.

Guardiola, dalam konferensi persnya selepas laga, mengatakan bahwa di laga itu timnya seperti diburu oleh Espanyol. Tak seperti tim-tim lain yang mereka hadapi, Espanyol-nya Pochettino sama sekali tak bermain menunggu. Sejak awal, Ivan de La Pena dkk. memburu bola dan menerjang lawan dengan penuh semangat.

***

Satu dekade lebih sejak dua pertemuan itu dan Pochettino serta Guardiola sudah sama-sama jadi pelatih hebat. Jalan Guardiola memang lebih mulus, karena sejak musim 2008/09 itu dia sudah mendapatkan segalanya; gelar juara liga, piala domestik, Liga Champions, sampai Piala Dunia Antarklub.

Kita tahu seberapa sukses dia di Barcelona. Ketika kemudian pindah ke Bayern Muenchen, trofinya pun masih banyak. Sampai kini kemudian di Manchester City, Guardiola masih jadi pelatih yang hobi mengoleksi piala. Dia masih jadi pelatih berkepala plontos yang cerdas. Juego de posición masih jadi filosofinya.

Cuma, kalau boleh dikatakan, Guardiola sudah tak senaif dulu. Kita tak lagi menemukan pelatih yang ngotot timnya harus bermain cantik di setiap pertandingan. Guardiola juga sudah sadar bahwa ia tak perlu menang besar di tiap laga. Dia tau yang dia butuhkan adalah kemenangan, cantik atau tidak, dengan skor besar atau tidak, itu sudah tak jadi soal.

Hal itu amat terlihat pada musim ini. Tengok saja raihan gol City di Premier League musim ini. Dari 33 pertandingan, anak asuh Guardiola cuma bisa mencetak 69 gol. Musim lalu, dari jumlah pertandingan yang sama, City bisa menciptakan 81 gol. Di musim 2018/19, mereka bahkan bisa mencetak empat gol lebih banyak.

Musim lalu City cuma dua kali menang dengan skor 1-0 di ajang Premier League. Sementara di musim ini mereka sudah melakukannya enam kali. Ugly win bukan lagi sebuah masalah. Guardiola lebih adaptif. Ini juga berlaku dalam hal komposisi pemain.

Musim lalu, ketika Aymeric Laporte yang merupakan andalannya di lini belakang absen karena cedera, Guardiola tak mampu berbuat banyak. City-nya inkonsisten dan acap kalah. Gelar juara Premier League tak bisa dipertahankan dan mereka juga cuma sampai perempat final di ajang Liga Champions.

Namun, di musim ini, Guardiola tak masalah ketika Kevin de Bruyne atau Sergio Aguero absen. Dia beradaptasi dan pada akhirnya bisa menemukan formula untuk bisa membuat City tetap mengerikan meski tanpa pemain-pemain andalannya. Bermain tanpa seorang striker murni bukanlah masalah.

Pochettino, sementara itu, melewati jalan yang lebih berliku ketimbang lawannya. Jika Guardiola punya privilese untuk bisa pindah dari satu klub besar ke klub besar lain, Pochettino harus meniti tangganya sendiri. Dari Espanyol, ia menjejak Southampton, lalu ke Tottenham Hotspur, dan sekarang di Paris Saint-Germain (PSG)

Pochettino juga tak punya trofi mayor. Pencapaian terbaiknya sebagai pelatih hanyalah ketika ia mampu membawa Tottenham menjejak final Liga Champions pada 2019. Namun, kala itu, timnya kalah dari Liverpool. Akan tetapi, meski tanpa piala, pria Argentina ini tetap punya reputasi sebagai pelatih bagus.

Soal gaya permainan, Pochettino boleh dibilang lebih konsisten dari Guardiola. Sejak di Espanyol sampai sekarang, formasi favoritnya masih 4-2-3-1. Secara garis besar, pendekatannya pun masih sama: Permainan menyerang yang cepat plus menerapkan pressing dengan intensitas tinggi.

Namun, bukan artinya Pochettino tak berkembang. Ketika secara garis besar tak berubah, ia memperbaiki detil-detil kecil pada permainannya. Ia juga menyesuaikan gaya bermain ini dengan pemain-pemain yang dimiliki di tiap timnya.

Di PSG musim ini, misalnya, Pochettino memilih Neymar untuk mengisi posisi nomor 10 dan Mbappe untuk mengisi pos nomor 9 untuk memaksimalkan kecepatan keduanya kala melancarkan serangan. Sementara di Tottenham dulu, ia memaksimalkan pertukaran posisi antara Dele Alli (nomor 10) dan Harry Kane (nomor 9) untuk menimbulkan kaos di pertahanan lawan.

Yang jelas, permainan timnya Pochettino sama mengerikannya. Khusus di PSG, dia terbantu oleh komposisi skuad yang secara individu lebih baik ketimbang tim-tim yang dilatihnya dulu. Dengan ini, Pochettino diyakini bisa membuat timnya jauh lebih berbahaya.

***

Secara pertemuan, termasuk tiga laga di tahun 2009 itu, Pochettino dan Guardiola sudah 18 kali bertemu. Dari total 18 kali pertemuan itu, Guardiola membawa pulang 10 kemenangan, sedangkan timnya Pochettino hanya menang tiga kali.

Namun, Pochettino mampu menang di saat-saat yang tepat. Yang pertama di Camp Nou itu, yang kedua di pertemuan pertama mereka di Premier League. Di musim 2016/17, musim di mana Pochettino mampu membawa timnya finis di atas pasukannya Guardiola untuk pertama kali.

Yang terakhir terjadi di laga leg pertama perempat final Liga Champions musim 2018/19. Tottenham dibawa Pochettino menang 1-0 dan hasil itu pada akhirnya membuat City-nya Guardiola harus tersingkir dari Liga Champions. Kekalahan yang sangat meyakinkan buat Guardiola.

Kini, keduanya akan bersua lagi di semifinal Liga Champions musim ini. PSG dan City akan saling berhadapan. Ini akan menarik karena kondisi kedua tim sama-sama sedang meyakinkan dan seperti yang kami jelaskan di atas, kondisi kedua pelatih juga sudah berubah sejak 2009 lalu. Mereka bukan lagi pelatih ingusan.

Keduanya, sepanjang perjalanan karier, boleh saja pernah saling memuji. Namun, sejak malam di RCDE Stadium itu, ada sepercik kebencian yang memanaskan persaingan keduanya. Persaingan di antara dua pelatih bagus yang sama-sama memulai kiprah dari tanah Catalunya.

Siapa pun yang akan menang, entah Guardiola yang selama ini mendominasi pertemuan atau Pochettino yang bisa menang di laga-laga penting, layak melakukan satu hal: keluar dari lapangan pertandingan dengan kepala menengadah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.