Havertz Sehat, Chelsea Sempurna

Ilustrasi: Arif Utama.

Bersama Thomas Tuchel, Kai Havertz perlahan-lahan menunjukkan tajinya. Dia kini membentuk trio mematikan bersama Christian Pulisic dan Mason Mount.

Kai Havertz hidup dengan memegang teguh ucapan orang tuanya: Langkah pertama adalah hal terpenting tiap kali memulai hal baru. Apa pun itu. Maka, Havertz tak boleh salah sama sekali dan itulah yang terjadi.

Namun, keputusannya meninggalkan Bayer Leverkusen untuk menerima pinangan Chelsea pada musim panas tahun lalu tampak akan menjadi langkahnya yang salah untuk kali pertama.

Hingga paruh pertama Premier League usai, Havertz malah jadi sasaran kritik. Mau bagaimana lagi, performanya amat mengecewakan. Sementara pada dua musim terakhir di Leverkusen sanggup bikin 29 gol dan 9 assist, bersama Chelsea Havertz hanya mampu mencetak 1 gol dan 2 assist.

Berbagai teori bermunculan. Dalam artikel yang kami tulis beberapa waktu lalu, misalnya, tertulis bahwa Havertz tak cocok di skema 4–3–3 Frank Lampard. Pada skema itu Havertz pernah bermain di dua posisi berbeda, penyerang kanan dan gelandang tengah. Tak satu pun yang maksimal.

Sebetulnya tak ada yang salah terkait formasi, begitu pula dengan posisi. Betul bahwa posisi natural Havertz adalah gelandang serang. Namun, ketika Peter Bosz masuk sebagai pelatih Leverkusen pada 2018–19, Havertz berkembang sebagai pemain yang amat versatile alias serba bisa.

Sebanyak lima posisi berbeda yang pernah Havertz emban bersama eks pelatih Ajax Amsterdam itu: Gelandang serang, gelandang tengah, sayap kiri, sayap kanan, dan penyerang. Apa pun posisinya, Havertz kerap bermain dalam skema 4–3–3 dan sesekali 3–4–3.

Yang jadi rahasia adalah pemahaman terhadap ruang yang luar biasa dari Havertz. Kebetulan, Bosz yang seorang Belanda adalah pelatih yang begitu memaksimalkan ruang dalam tiap taktiknya. Tak ayal kalau Havertz amat berkembang.

Bersama Lampard, sayangnya, Havertz tak bisa memanfaatkan kemampuannya tersebut. Pertama, karena perannya amat terbatas. Di sisi lain, gaya bermain Chelsea-nya Lampard cenderung rigid. Ini mereduksi kreativitas dan pergerakan Havertz di lapangan.

Kedua, Havertz kesulitan mengatasi tekanan tim-tim Premier League yang intens. Ia bahkan mengaku sempat terkejut sehingga butuh waktu lebih untuk beradaptasi. Tak ayal jika Havertz jadi pemain dengan angka kehilangan bola terburuk kedua di Chelsea musim ini.

Saat masih di Bundesliga, Havertz sangat bertumpu pada sentuhan pertamanya, terutama di sekitar kotak penalti. Simak saja umpan-umpannya musim lalu yang sebagian berasal dari sentuhan-sentuhan singkat. Delapan dari 12 golnya di Bundesliga juga merupakan sepakan first time.

Itulah mengapa Havertz selalu kesulitan tiap kali berjumpa tim-tim yang intens menekan seperti Bayern Muenchen. Simak saja laga final DFB Pokal tahun lalu: Havertz jadi salah satu pemain dengan sentuhan pertama gagal tertinggi sepanjang pertandingan.

Di Premier League, sebagian tim juga bermain dengan cara demikian, meski tak seintens Bayern. Ini menyulitkan Havertz. Apalagi Premier League cenderung fisikal. Di sisi lain, ia sempat mengalami masalah kebugaran dan tak punya banyak waktu adaptasi karena pernah terjangkit COVID-19.

Bangkit bersama Thomas Tuchel


Keputusan Roman Abramovic memecat Lampard dan menggantikannya dengan Thomas Tuchel tak cuma untuk memperbaiki performa tim. Pada sosok Tuchel, Abramovic juga berharap agar performa dua rekrutan termahalnya musim ini, Havertz dan Timo Werner, bisa membaik.

Sebuah keinginan yang tak muluk-muluk sebab Tuchel berasal dari Jerman, sama seperti Havertz dan Werner. Di sisi lain, eks pelatih Borussia Dortmund itu juga dikenal mampu memaksimalkan, bahkan mengembangkan kemampuan pemain hingga level tertinggi.

Hal pertama yang coba Tuchel lakukan adalah dengan memberi peran yang sesuai untuk dua pemain tersebut. Karena Werner butuh ruang, ia tak lagi menempatkannya sebagai pemain terdepan di dalam tim. Pun dengan Havertz. Tuchel paham bahwa Havertz butuh kebebasan.

Sayangnya, tak ada perubahan hingga Tuchel menjalani delapan laga Premier League. Werner dan Havertz masih saja kesulitan. Werner bahkan terlihat semakin buruk. Lantas, bayang-bayang riwayat rekrutan gagal Chelsea mengarah kepada dua pemain tersebut.

Perubahan baru muncul saat melawan Everton dan Leeds United, tetapi hanya berlaku pada sosok Havertz. Pada laga itu Tuchel menempatkan Havertz sebagai penyerang tengah dalam skema 3–4–2–1. Dari sana ia mendapat peran false nine, bahkan cenderung punya kebebasan bergerak.

Melawan Crystal Palace, Tuchel kembali memberi posisi dan peran serupa untuk Havertz. Jika kala melawan Everton ia hanya tampil bagus tanpa catatan apa-apa, menghadai Palace Havertz berperan langsung lewat torehan satu gol dan satu assist. Chelsea menang 4–1 kala itu.

Posisi yang lebih dekat dengan gawang dan kebebasan yang dia peroleh tampaknya membuat performa Havertz meningkat berkali-kali lipat. Ia bisa bergerak ke mana saja di area penyerangan, menciptakan peluang, bahkan coba menembak langsung ke arah gawang.

“Di posisi saya, Anda selalu ingin mencetak gol. Itu tidak mudah, kami menciptakan banyak peluang dan kami mungkin seharusnya mencetak lebih banyak gol. Namun, tentu kami senang dengan hasil ini,” kata Havertz usai laga.

“Saya diberi kebebasan untuk pergi ke mana pun saya mau. Saya harap bisa terus seperti itu,” sambungnya.

Satu lagi yang juga memengaruhi performa Havertz: Ia mulai beradaptasi dengan intensnya sepak bola Inggris. Simak bagaimana Havertz mencetak gol ke gawang Palace. Meski ditekan dua pemain sekaligus, ia mampu meloloskan diri dan dengan tenang menceploskan bola ke gawang lawan.

Bahkan, tepat sebelum gol tersebut terjadi, Havertz jadi pemain yang berhasil merebut bola di area pertahanan Palace sebelum akhirnya mencetak gol. Ini menunjukkan hal lain yang juga berubah dalam permainannya: Etos kerja yang jauh meningkat.

Membentuk Trio Mematikan bersama Mount dan Pulisic

Havertz dan Pulisic. Foto: Twitter @ESPNUK.


Tuchel punya banyak opsi di lini depan Chelsea. Setelah berbagai percobaan, ia tampaknya mulai menemukan kombinasi terbaik. Havertz yang berperan sebagai false nine jelas salah satunya. Adapun, dua nama lain adalah Mason Mount di sisi kanan dan Christian Pulisic di sisi kiri.

Seperti Havertz, dua nama itu pernah menjalani masa sulit musim ini. Mount dianggap sebagai anak emas Lampard, sedangkan Pulisic bergelut dengan cedera yang tak berkesudahan. Namun, seperti Havertz pula, mereka mulai bangkit dan malah membentuk trio mematikan pada empat laga terakhir.

“Di atas lapangan, kombinasi kami sangat bagus. Kami bisa menciptakan peluang dan bisa memanfaatkannya. Saya rasa ini sesuatu yang jarang kami lakukan musim ini,” ungkap Mount soal mulai padunya kerja sama dirinya dengan Havertz dan Pulisic.

Lini serang adalah aspek yang paling disorot dari Chelsea musim ini. Itulah mengapa rumor soal Erling Haaland dan Sergio Aguero berembus kencang.

Namun, jika Havertz, Pulisic, dan Mount mampu terus seperti sekarang, atau bahkan meningkat, sepertinya Chelsea bisa agak menahan diri. Apalagi jika, misalnya, ketiganya mampu mempersembahkan setidaknya satu dari dua gelar yang mungkin diraih musim ini: Piala FA dan Liga Champions.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.