Hikayat Derbi Madrid

Twitter @BigDublak

Layaknya sebuah derbi, Atletico dan Madrid bakal berperang demi gengsi. Demi dewa dan dewi mereka, Neptunus dan Cibeles.

Gabi berdiri di atas Neptunus. Scarf merah-putih-biru ditaruhnya di leher sang dewa laut. Di trisulanya, dia tancapkan bendera dengan warna yang sama. Malam itu, Neptunus jadi milik mereka. Sang dewa turut berpesta, merayakan keberhasilan Atletico Madrid sebagai juara La Liga 2013/14.

Sudah enam tahun berlalu sejak Atletico berjaya. Sejak saat itu pula pesta di Neptunus selalu tertunda. Namun, tidak dengan Dewi Cibeles. 'Kuilnya' tak pernah sepi. Para suporter Real Madrid nyaris mengapelinya di setiap akhir musim. Setidaknya, jauh lebih sering dari yang dilakukan Atletico.

***

Atletico tak sebesar Madrid. Itu tak terbantahkan. Atletico mungkin enggan terlahir kalau Madrid tak ada. Karena, ya, Atletico sejatinya dibangun demi mendobrak kemapanan Madrid.

Ia didirikan oleh tiga pelajar Basque yang bersekolah di Madrid pada 1903. Ketiganya resah dengan sambutan para penonton ibu kota saat Athletic Club de Bilbao jadi juara Copa del Rey pada tahun yang sama. Untuk membalasnya, mereka membangun Athletic Club de Madrid, semacam klub cabang Athletic di Kota Madrid.

Sementara itu, Madrid sudah lebih dulu maju. Mereka telah berekspansi dan mengakuisisi klub-klub kecil di Kota Madrid. Bakat-bakat terbaik mereka comot. Hasilnya tokcer. Madrid mendominasi Copa del Rey selama empat musim beruntun dari 1905-1908. Jadi jangan kaget kalau Madrid sukses membabat Atletico 6-0 pada duel perdana mereka, November 1904.


Seiring pertumbuhannya, Atletico lebih identik dengan Basque ketimbang Kota Madrid itu sendiri. Label itu bertahan hingga akhir 1930-an. Tepatnya, setelah patron Atletico bergeser ke Angkatan Udara Spanyol. Mereka lantas berganti nama menjadi Athletic Aviacion de Madrid.

Mulai dari sini Atletico dikait-kaitkan sebagai klub representatif Jenderal Franco. Dua titel La Liga pertama mereka di musim 1939/40 dan 1940/41 bahkan dianggap sebagai hadiah dari sang penguasa Spanyol itu.

Bila ditotal, Atletico telah mengantongi empat gelar liga pasca-perang saudara Spanyol. Ini sekaligus mengukuhkan mereka sebagai tim terbaik di ibu kota.

Namun, Atletico tak berlama-lama duduk dalam belaian rezim. Mereka memutuskan untuk berpisah dengan asosiasi angkatan udara dan berganti nama menjadi Atletico de Madrid.


Lepas dengan Atletico tak membuat Jenderal Franco tak kehabisan akal. Maklum, sebagai penguasa Spanyol dia butuh medium pencitraan diri. Madrid-lah yang kemudian jadi pilihannya. Kebetulan El Real memang lagi bagus-bagusnya di periode 1950-an. Mereka menggamit 2 titel beruntun setelah puasa gelar dua dekade.

Hegemoni Madrid tak terbendung. Sampai musim 1969/70, torehan trofi La Liga mereka genap 14. Jauh meninggalkan Atletico yang baru mengumpulkan 6 gelar.

Tak hanya ranah domestik, Madrid juga sukses menaklukkan Eropa. Bersama Alfredo Di Stefano, mereka memenangi European Cup (Champions League) lima kali beruntun.

Atletico? Nihil. Pencapaian terbaik mereka cuma semifinal. Jangankan berjaya di Liga Champions, bertarung di La Liga saja kembang kempis.

Atletico baru berhasil merengkuh titel kesembilan mereka pada musim 1995/96. Itu berjarak 19 tahun dari gelar La Liga terakhir mereka. Namun, kejayaan itu prematur. Atletico malah terdegradasi ke Segunda Division empat musim berselang. Ironis.

Tak lama kemudian Atletico berhasil pulang ke La Liga. Bukan, bukan sebagai penantang Madrid. Mereka kebanyakan nangkring di papan tengah. Lolos ke Liga Champions pun sudah syukur. Sampai akhirnya Diego Simeone datang dan mengubah peruntungan Atletico.


Simeone bukan orang asing. Dia merupakan bagian penting Atletico di musim 1995/96. Sebagai mantan pemain, dia tahu betul bagaimana cara membahagiakan klubnya. Simeone mengusung Cholismo, filosofi yang memfokuskan permainan tim dibandingkan kemampuan individu pemain.

Bagi klub sekelas Atletico, kolektivitas memang lebih masuk akal ketimbang bersandar pada pemain bintang. Kita tahu, mereka tak punya pemain sekelas Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi sebagai tumpuan utama.

Toh, dengan kolektivitas, Atletico berhasil menyulap Radamel Falcao menjadi mesin gol. Tentu saja dengan bantuan Adrian Lopez, Gabi, dan Arda Turan. Itu belum dihitung dengan kontribusi Diego Godin, Juanfran, dan Thibaut Courtois di departemen pertahanan.

Copa del Rey, Liga Europa, dan Piala Super Eropa adalah bukti kesuksesan Atletico di era Simeone. Puncaknya, ya, titel La Liga di musim 2013/14. Gelar liga pertama Atletico setelah paceklik nyaris dua dekade.

Deretan prestasi itu seirama dengan perbaikan finansial klub. Transfer menjadi lebih efektif sehingga hutang tak lagi membengkak. Sponsor-sponsor berkantong tebal datang menjejal. Toleh saja keberhasilan mereka membangun Wanda Metropolitano sebagai markas anyar.

Perekrutan Joao Felix jadi bukti lain keajegan Atletico. FYI, striker 21 tahun itu merupakan pemain termahal keempat di muka bumi.

Manuver Atletico berlanjut. Giliran Luis Suarez yang mereka gaet pada awal musim. Dengan cuma-cuma pula. Peraih empat titel La Liga bersama Barcelona itu sukses bikin 5 gol dari 7 laga sejauh ini.

Suarez menjadi obat mujarab buat menambal kelemahan Atletico di lini depan. Bila ditotal Atletico sudah mencetak 21 gol dari 10 pertandingan. Sebagai pembanding, jumlah itu dua kali lipat dari torehan mereka di pekan yang sama musim lalu.

Atletico sekarang memuncaki klasemen La Liga. Catatan mereka kinclong; 8 kali menang, dua kali seri, dan belum terkalahkan.

Madrid sekarang berbeda. Mereka tak sekuat di musim-musim sebelumnya. Kepergian Cristiano Ronaldo beberapa musim lalu membuat Los Blancos dingklang. Efeknya masih bertahan sampai sekarang. 

Eden Hazard yang digadang-gadang sebagai bintang anyar justru sibuk dengan cedera. Vinicius Junior dan Rodrygo terlalu lambat berpendar. Belum lagi dengan menuanya para personel favorit Zinedine Zidane. Sebut saja Sergio Ramos, Marcelo, Luka Modric, Toni Kroos, dan Karim Benzema yang sudah menyentuh kepala tiga.

Sekarang Madrid tercecer di posisi keempat di tabel klasemen. Tiga kekalahan sudah mereka telan hingga pekan ke-11. Celakanya, jumlah itu sama banyaknya dengan total kekalahan mereka di sepanjang musim 2019/20. Untuk sekarang, Madrid tak lebih baik dari Atletico .

Minggu (13/12) Derbi Madrid akan digelar. Ini bukan lagi duel David lawan Goliath. Madrid tak seraksasa itu sekarang. Pun Atletico yang lebih dari sekadar medioker. Duel keduanya mungkin imbang atau malah Atletico yang jadi pemenang. Bisa juga menjadi milik Madrid, seperti yang sudah-sudah. 

Layaknya sebuah derbi, Atletico dan Madrid bakal berperang demi gengsi. Demi dewa dan dewi mereka, Neptunus dan Cibeles.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.