Horizon Eddie Howe

Foto: @worflags.

Spesialisasi Howe mengembangkan pemain "seadanya" adalah jembatan ideal bagi Newcastle melewati masa transisi di dua era, Ashley dan konsorsium Arab Saudi.

Eddie Howe memulai segalanya di Bournemouth. Menjadi bek profesional kemudian diundang Timnas U-21 Inggris untuk tampil di Toulon Cup 1998 bersama Frank Lampard dan Jamie Carragher. Namun, karier Howe tak mulus. Cedera lutut memaksanya pensiun dini. Di usia 30 tahun, Howe gantung sepatu dan meneruskan pengabdiannya untuk Bournemouth dari pinggir lapangan.

Situasinya tak mudah. Pada musim 2008/09 itu Bournemouth benar-benar sergut. Finansial mereka amburadul sehingga merembet ke sektor lainnya. Mulai dari gaji pemain dan staf yang bermasalah serta pengurangan 17 poin di awal musim. Tugas Howe adalah menjaga kelanggengan Bournemouth. Masalahnya, cuma 10 poin jarak mereka dari batas aman degradasi League Two. Bila gagal, habis sudah riwayat The Cherries.

Namun, Howe bisa menunaikan tugasnya dengan sempurna di tengah malapetaka yang ada. Bournemouth finis di posisi 21 dan bertahan di sana. Semusim setelahnya, Bournemouth ia bawa mejeng sebagai runner-up sekaligus mengamankan tiket promosi ke League One. Menjadi spesial karena Bournemouth masih terikat embargo transfer itu. Artinya, Howe benar-benar menggunakan SDM yang ada dengan optimal.

Bournemeouth bukan Juliet bagi Howe. Ia pernah meninggalkan mereka dan berpaling ke Burnley. Namun, itu tak bertahan lama. Satu setengah musim kemudian Howe pulang Dean Court. Dari sini, Bournemouth mulai merintis sejarah.

Meraih tiket ke Championship di musim 2012/13 hingga mentas di Premier League untuk pertama kalinya. Ya, sebegitu spesialnya Howe ini. Ia tak hanya menyelematkan Bournemouth dari kematian, tapi membawa mereka terbang begitu tinggi.

Foto: Bournemouth

Namun, tak ada pesta yang tak usai. Juli lalu Howe berpisah dengan Bournemouth. Tepat enam hari setelah mereka terdegradasi pada musim kelimanya di Premier League. Sekarang Howe resmi menjadi pelatih Newcastle United. Nakhoda pertama The Magpies di rezim baru Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

Barangkali banyak yang beranggapan bahwa Howe hanyalah opsi terakhir dari Unai Emery atau Paulo Fonseca. Bahkan, Zinedine Zidane atau Antonio Conte (yang akhirnya merapat ke Tottenham Hotspur).

Tapi, Howe tidak bisa disalahkan. Ia tak pernah minta dibanding-bandingkan dengan pelatih-pelatih dengan CV mentereng itu. Sementara untuk Newcastle, Howe adalah pilihan realistis dari sedikitnya opsi yang ada.

"Kami sangat terkesan dengan Eddie setelah melalui proses rekrutmen yang ketat ini,” kata Amanda Staveley seperti dilansir Sky Sports. Co-owner Newcastle itu melanjutkan, “Selain pencapaiannya yang jelas dengan AFC Bournemouth, di mana ia memiliki dampak transformasional, ia juga merupakan pelatih energik dan dinamis dengan ide yang jelas untuk masa depan klub”.


Apa yang dibutuhkan Newcastle dari Howe adalah kepribadian, semangatnya. Bukannya kecerdasan taktik menjadi sekunder, tetapi Newcastle memerlukan seseorang yang bisa meniupkan nyawa baru 14 tahun hidup seperti zombie.

Legenda Newcastle United, Alan Shearer, mengakui bahwa Mike Ashley adalah pemimpin klub yang buruk. Selama lebih dari sedekade publik St James' Park dipaksa melihat tim kesayangannya terpuruk. Dua kali terdegradasi, pada musim 2008/09 dan 2015/16 plus kegagalan finis 10 besar klasemen Premier League dalam tiga musim terakhir.

Era gelap Newcastle ini berantai hingga Steve Bruce. Dari dua tahun masa kerjanya, persentase kemenangan pelatih 60 tahun itu hanya 28,9%. Bruce juga bertanggungjawab atas kegagalan klub memaksimalkan pembelian termahal mereka, Joelinton. Itu semua membuat pendukung Newcastle jengah. Chant “Kami ingin Brucey keluar" berdesir di sepanjang Gallowgate End saat The Magpies berhadapan dengan Tottenham tiga pekan lalu.

Bila Newcastle membutuhkan penyembuh dari segala penyakit mereka, Howe adalah tabib yang cocok. Ia sudah membuktikan kapabilitasnya di Bournemouth sejak tahun pertama. Bagaimana bisa ia membawa klub kecil yang hampir mati ke kompetisi selevel Premier League?

Howe menempuhnya lewat kerja keras dan perhatiannya di hal-hal kecil. Ia datang di sesi latihan jam setengah tujuh pagi, kemudian mempelajari video dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Semuanya dicatat dalam sebuah buku kecil. Bila itu hilang, Howe bisa patah hati dibuatnya.

Simon Francis, salah satu pemain veteran Bournemouth, merasakan betul detail-detail yang diinginakan Howe. Pertemuan empat mata dengan para pemain di pagi hari adalah hal lumrah. Dari sana ia menyampaikan isi otaknya ke anak asuhnya. Pun dengan Andrew Surman yang mengenal Howe sebagai pemain dan pelatih. Di ingatannya, Howe adalah sosok yang mampu mengembangkan potensi para pemain.

"Ia ingin pemain meningkatkan diri, selalu lapar, dan berprogres. Saya menikmati itu semua. Anda, sebagai pemain, akan merasakan pelatihan sebagai tempat pembelajaran,” ucap Surman dilansir The Athletic. Jack Wilshere bahkan pernah sampai kena tegur Howe gara-gara duduk di atas bola. Secuil bukti bahwa ia ingin para pemainnya bersikap layaknya seorang profesional.

Howe memilih fokus kepada apa yang Newcastle punya alih-alih menunggu pemain baru di bursa transfer musim dingin. Dan memang itu yang paling tepat, mereka punya sembilan pertandingan lagi sebelum jendela transfer dibuka.

Minimnya produktivitas dan lini pertahanan yang rapuh menjadi PR Howe. Dua hal ini menjadi alasan mengapa Newcastle terdampar di urutan ke-19. Yang lebih memalukan, mereka menjadi satu-satunya tim Premier League yang belum pernah menang di musim ini.

Bila dikomparasi dengan tim lain, agresivitas Newcastle sebenarnya tak buruk. Memang, rata-rata tembakan per laga mereka tak genap menyentuh 11 atau masuk empat besar daftar terburuk di liga.

Di satu sisi, penyelesaian akhir para pemain Newcastle masih terbilang bagus. Mereka mencetak 12 gol dari nilai xG yang hanya 10,44; sebagaimana data Understat. Dengan kata lain masalah Newcastle bukan ketajaman, melainkan kreativitas.

Callum Wilson dan Allan Saint-Maximin tak bisa berdiri sendiri. Mereka perlu disokong oleh lini kedua dengan cara yang benar. Sejauh ini cuma Matt Ritchie yang paling aktif mendulang peluang. Rata-rata umpan kuncinya menyentuh 2,3 per laga. Unggul jauh dari Saint-Maximin (1,5) dan Miguel Almiron (1).
Harusnya ini bisa dipecahkan Howe. 

Permainan dinamis dengan sistem berbasis penguasaan bola miliknya bisa menjadi penawar atas penyakit Newcastle ini. Toleh saja bagaimana Bournemouth mampu mencetak 56 gol di Premier League musim 2018/19. Jumlah itu menjadi yang tertinggi ketujuh di liga. Padahal, mereka cuma finis di peringkat ke-14 di musim itu.

Howe intens mengaplikasi pakem 4-4-2 dengan Wilson dan Joshua King di garda terdepan. Mereka dibantu Harry Wilson dan Ryan Fraser di sisi tepi. Harry Wilson sebagai penyerang ketiga sedangkan Fraser sebagai kreator. Jangan lupakan juga kontribusi Diego Rico dari tepi kiri. Full-back asal Spanyol itu sukses menyumbang 4 assist atau tertinggi bersama Fraser dan King.

Nah, Wilson, Fraser, dan Ritchie bakal memainkan peran penting di Newcastle-nya Howe nanti. Toh, mereka adalah tumpuannya semasa melatih Bournemouth. Well, inilah salah satu pertimbangan mengapa Howe cocok menjadi pelatih Newcastle.


Idealnya begini: Pos dua penyerang masih akan diisi Wilson dan Allan Saint-Maximin. Kemudian Fraser dan Almiron dipasang di kedua tepi. Howe cenderung menyukai gelandang tengah dengan kekuatan fisik menonjol. So, Isaac Hayden hampir pasti mendapatkan satu tempat. Tinggal bagaimana ia memilih Sean Longstaff atau Joe Willock sebagai tandemnya.

Ritchie dan Javier Manquillo akan menjadi pilihan terbaik buat pos full-back. Keduanya punya atribut ofensif yang oke, cocok untuk sistem dinamis Howe. FYI, Ritchie dan Manquillo sudah mengoleksi 3 assist bila dikalkulasi.

Yang barangkali sulit adalah membenahi barisan pertahanan. Newcastle ini rawan dalam mengantisipasi serangan cepat. Bek mereka terlalu lambat, grasah-grusuh pula. Itu terpapar dari empat kali Newcastle kebobolan via tendangan penalti. Tak ada tim Premier League yang mencatatkan lebih banyak dari itu.

Howe bukan pelatih yang punya spesialisasi bertahan. Selama lima edisi di Premier League, Bournemouth-nya kemasukan rata-rata 66 gol per musimnya. Jelas buruk, akan tetapi ia bisa mengovernya dengan agresivitas tadi.

Bila memilih satu sektor yang kudu dibenahi di bursa transfer Januari nanti, itu adalah departemen pertahanan. Makanya deretan bek macam James Tarkowski, Eric Bailly, Clement Lenglet, Wesley Fofana, dan Conor Coady mulai lekat dikaitkan dengan Newcastle. Pun dengan Marc-Andre ter Stegen sebagai pengganti Karl Darlow.

***

Howe memang bukan apa-apa dibandingkan pelatih sekaliber Zidane, Emery, atau Conte yang sempat dikabarkan menjadi target Newcastle. Namun, bukan berarti ia pilihan buruk. Justru Howe yang paling tepat dengan kondisi The Magpies saat ini. Semangat dan kemampuannya mengembangkan pemain "seadanya" adalah jembatan ideal bagi Newcastle melewati masa transisi di dua era, Ashley dan konsorsium Arab Saudi. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.