Ikatan Cinta Sheva dan Ukraina

Sumber Foto: @jksheva7.

Shevchenko menjadi pahlawan Ukraina saat masih menjadi pemain sepak bola. Kini, ia mencoba mengukir kisah yang sama sebagai pelatih.

Sederhana saja: Bagi rakyat Ukraina, Andriy Shevchenko adalah pahlawan. Sheva mampu mengangkat derajat Ukraina di mata Eropa bahkan dunia dengan sepak bola.

Shevchenko adalah anak asuh Valeriy Lobanovskyi dan Dynamo Kyiv-nya yang melegenda pada era 1990-an. Pada ujung dekade itu, Dynamo melenakan Eropa dengan Shevchenko tampil sebagai bintangnya.

Sebagai pesepak bola, Shevchenko memiliki gelar yang melimpah. Secara individu, Shevchenko berhasil meraih satu gelar Ballon d'Or, dua gelar top skor Serie A, dan tiga kali menjadi top skor Liga Champions.

Shevchenko juga pernah membawa AC Milan meraih juara Liga Champions pada musim 2002/03 dan Serie A satu tahun setelahnya. Pencapaian tersebut membuat pemain kelahiran 29 September 1976 itu dianugerahi sebagai pesepak bola terbaik Ukraina sebanyak enam kali.

Sederet pencapaian itu masih belum termasuk dengan keberhasilannya membawa Ukraina lolos hingga babak perempat final Piala Dunia 2006. Pada turnamen yang sama pula, ia mencetak 2 gol dan 1 assist. Dua gol tersebut menjadi bagian dari koleksi 48 golnya untuk Ukraina, yang mana membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak sampai saat ini.

Sedemikian tingginya status Shevchenko untuk Ukraina sampai-sampai ada saja yang menyamakannya seperti Diego Maradona untuk Argentina. Meski Maradona tidak hanya menyentuh warga Argentina, tetapi juga mendapatkan pengkultusan dari warga Naples, pengidolaan akan Shevchenko hingga sampai pada level Maradona adalah penghormatan tersendiri.

Shevchenko bukan sekadar superstar pertama Ukraina selepas mereka merdeka pada 1991, tetapi juga serupa cahaya terang di ujung lorong yang gelap. Ia adalah seberkas harapan. Bila Shevchenko saja bisa, mestinya mereka yang hidup dari menendang bola di Ukraina juga bisa melakukan hal yang sama.

Ini bersinggungan dengan apa yang terjadi dengan Ukraina sendiri. Ketika kemerdekaan mereka diresmikan pada 1991, Ukraina dipandang sebagai negara dengan kondisi ekonomi yang lebih baik ketimbang negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya. Kendati demikian, mereka tetap tidak bisa lepas dari resesi dan inflasi yang tinggi. 

Kesulitan tersebut sempat membuat perekonomian mereka stagnan selama hampir satu dekade. Sampai kemudian terjadilah kegelisahan yang berujung pada demonstrasi besar-besaran. Sudah resesi, tingkat kriminalitas dan korupsi pun tinggi. Perubahan besar-besaran adalah jalan keluar yang mutlak mesti diusahakan.

Menurut sebuah makalah yang dipublikasikan oleh Carnegie Endowment, Ukraina pada era itu berada dalam posisi serba-salah. Tingkat kriminalitas dan korupsi tersebut sudah terbukti problematik, tetapi untuk mengenyahkannya pun sulit karena kondisi politik yang juga tidak stabil. Ini bukanlah iklim yang bagus untuk kompetisi bisnis, investasi, dan pertumbuhan industri baru.

Mereka baru bisa melihat jalan keluar dari kondisi tersebut pada pengujung dekade 1990an dan baru mulai stabil pada tahun 2000. Bersamaan dengan itu, Dynamo Kyiv yang diasah dengan begitu presisi oleh Lobanovskyi mencuat.

Cara Lobanovskyi dalam menangani sebuah tim seringkali terlihat melelahkan. Ia tidak percaya dengan kebintangan satu orang semata; ia lebih meyakini bahwa sebuah tim harus bergerak secara kolektif. Oleh karena itu, tiap-tiap pemain akan mendapatkan pelatihan khusus secara teknis dan diserahi tugas yang bisa jadi teramat mendetail pada setiap pertandingan. 

Seperti sebuah mesin, masing-masing pemain adalah komponen dengan tugasnya masing-masing supaya kendaraan bisa berjalan dengan baik. Namun, supaya komponen itu bisa menjalankan fungsinya dengan baik, Lobanovskiy harus memastikan setiap hari bahwa mereka berada dalam kondisi baik dan terasah dengan benar.

Metode Lobanovskiy yang begitu mikroskopik tersebut kemudian melahirkan sebuah tim yang berisikan pemain-pemain seperti Shevchenko, Serhiy Rebrov, Andriy Gusin, Kakha Kaladze, Oleh Luzhny, hingga Olexandr Shovkovskiy. Dynamo pada ujung 1990an itu adalah hasil jerih payah Lobanovskyi mempersiapkan pemain-pemainnya sampai detail terkecil, persis seperti Ukraina yang kudu mengalami pergulatan lebih dulu sebelum akhirnya muncul sebagai negara dengan kondisi ekonomi lebih baik menjelang abad 21.

Pada 1997/98, Dynamo melaju hingga babak perempat final Liga Champions sebelum akhirnya dibikin angkat kaki oleh finalis musim itu, Juventus. Shevchenko, yang waktu itu baru berusia 21 tahun, mengakhiri turnamen dengan torehan 5 gol, satu gol lebih sedikit dari Rebrov. Dari situ, namanya mulai mencuat.

Semusim setelahnya, Dynamo melaju sampai semifinal Liga Champions dan Shevchenko menjadi salah satu pencetak gol terbanyak dengan torehan 8 gol. Cuma Dwight Yorke yang menandingi pencapaiannya. Kepindahan Shevchenko ke klub yang lebih besar pun sudah tak bisa dibendung lagi.

Pada 1999/2000, Shevchenko pun memulai petualangannya bersama Milan. Sekalipun dikenal sebagai penyelesai akhir yang baik, ia bukanlah striker malas yang hanya mau beroperasi di dalam kotak penalti saja. Sebaliknya, Shevchenko adalah pekerja keras.

Ini berkenaan dengan tempaan Lobanovskiy sendiri. Pemain-pemain Dynamo kala itu dituntut tidak hanya memiliki teknik yang bagus, tetapi juga determinasi dan work-rate yang sama baiknya. Pasalnya, Dynamo-nya Lobanovskiy tidak sekadar memainkan sepak bola ofensif, tetapi juga agresif lewat pressing ketat yang dimulai sejak lini depan.

Dengan tempaan seperti itu, Shevchenko punya work-rate dan kemampuan finishing yang sama baiknya. Ia, menurut Alex Hess dalam sebuah tulisannya di VICE, tidak hanya menghadirkan magi lewat kemampuan individunya, tetapi juga seringkali memperlihatkan bahwa ia adalah pemain yang rajin dan mengedepankan team work. Ini, kata Hess lagi, menunjukkan bahwa Shevchenko adalah pemain yang cukup membumi terlepas dari status kebintangannya.

***

Shevchenko memutuskan pensiun dari Timnas Ukraina usai Piala Eropa 2012. Setelahnya, banyak yang meminta Sheva menjadi pelatih untuk timnas berjuluk Zhovto-Blakytni itu. Awalnya, ia menolak. Bagi Shevchenko, tawaran itu terlalu prematur mengingat ia belum memiliki jam terbang yang cukup untuk menjadi pelatih.

Sheva lalu mengambil kursus kepelatihan tak lama usai pensiun. Tahun 2015, ia mendapatkan lisensi dan menjabat sebagai asisten pelatih Timnas Ukraina sebelum Piala Eropa 2016 dimulai.

Sayangnya, Ukraina gagal bersinar pada turnamen tersebut. Mereka kalah dari Jerman, Irlandia Utara, dan Polandia di babak grup. Alhasil, Ukraina pun tersingkir usai menjadi juru kunci klasemen Grup C tanpa meraih satu poin pun dan tidak mencetak gol sama sekali.

Pencapaian buruk itu membuat sang pelatih, Mykhaylo Fomenko, dipecat. Kemudian, federasi sepak bola Ukraina menunjuk Shevchenko sebagai penggantinya. Pria yang akrab disapa Sheva itu kemudian mengajak Mauro Tassotti dan Andrea Mulder untuk menjadi staf kepelatihannya.

Tassotti menjadi sosok penting sebagai tangan kanan Shevchenko. Ia kerap memberi masukan, khususnya soal aspek pertahanan. Mulder, sementara itu, bertindak sebagai analis bagi permainan Ukraina maupun calon lawan.

Shevchenko mengubah Ukraina menjadi tim yang lebih ofensif. Kombinasi operan pendek para pemainnya juga begitu cair. Yang paling penting, kerja sama di masing-masing lini terlihat ketika Ukraina mampu memegang kendali permainan. Ini mirip-mirip dengan Dynamo-nya Lobanovskiy yang mengedepankan permainan ofensif sekaligus mengandalkan kolektivitas tim.


"Lobanovskyi lebih dari seorang guru, dia sudah saya anggap sebagai ayah. Saya selalu mendengarkan apa yang keluar dari mulutnya dan mencermati kata-katanya. Dia memberikan impak yang besar kepada saya. Dia sangat disiplin dan pintar," ucap Sheva seperti dilansir The Athletic.

Penekanan Lobanovskyi kepada kerja sama antarpemain ditiru betul oleh Shevchenko. Jarak antarpemain Ukraina tak terlalu saat membangun serangan. Hal ini membuat mereka bisa dengan apik melakukan sirkulasi dan progresi bola.

Gaya tersebut memang gagal mengantarkan Ukraina melaju ke Piala Dunia 2018, tetapi federasi sepak bola Ukraina tetap percaya pada kemampuan Shevchenko. Kepercayaan tersebut dibayar lunas. Pada turnamen besar berikutnya, Piala Eropa 2020, Ukraina mentas di panggung utama.

Ukraina, seperti halnya Hongaria, adalah salah satu tim yang mencuri perhatian. Penyebabnya sama: Kedua tim memeragakan sepak bola ofensif dan agresif. Mereka juga ditunjang dengan mental bertanding yang spartan.

Laga pembuka melawan Belanda, misalnya, Ukraina berhasil menyamakan kedudukan usai tertinggal 0-2—meski akhirnya, mereka kalah juga dengan skor tipis 2-3. Ukraina tak menanggalkan gaya main dengan passing pendek dari lini belakang pada laga tersebut. Sebagai bukti, ada 339 operan yang mereka buat dari lini belakang hingga tengah.


Kalah pada matchday perdana, Ukraina bangkit pada laga berikutnya. Melawan Makedonia Utara, Ukraina tampil dominan dan mengontrol jalannya pertandingan. Operan-operan pendek mereka mencapai 447 kali. Progesi operan mereka juga baik dengan catatan 295 forward passing (operan ke depan).

Satu lagi, yang bikin Ukraina layak mendapatkan perhatian adalah betapa ganasnya mereka. Rata-rata shot per game Ukraina ada di angka 9,7 per laganya. Catatan tersebut lebih baik dari Portugal dan juga Inggris yang notabene memiliki pemain-pemain depan dengan kualitas yang lebih baik.

Kehadiran Ruslan Malinovskiy, Andriy Yarmolenko, dan Oleksandr Zinchenko di lini tengah juga memudahkan permainan passing Ukraina. Malinovskyi sendiri menjadi pemain dengan rata-rata umpan kunci yang tinggi dengan angka 2,7 per laganya. Pemain Atalanta itu berada di posisi ketujuh dengan rataan umpan kunci terbanyak di antara seluruh pemain di ajang Piala Eropa kali ini.

Selain Malinovskyi, Ukraina juga memiliki Yarmolenko. Pemain yang bertindak sebagai kapten ini bisa menjadi pelayan sekaligus penyelesai akhir serangan Ukraina. Yarmolenko dibekali skill dan akurasi sepakan yang memadai. Untuk itu, pergerakannya dari sisi tepi menjadi salah satu senjata Ukraina.

Tak ketinggalan, ada Roman Yaremchuk yang juga menjadi pilar penting skuad Shevchenko di Euro 2020 ini. Postur yang tinggi tak membuat Yaremchuk kaku dan statis. Malah, penempatan posisi Yaremchuk patut mendapatkan apresiasi. Penyerang berusia 25 tahun itu juga cukup klinis dengan kemasan dua gol dari rata-rata dua shot yang ia buat sepanjang turnamen.

Kini, salah satu masalah yang mesti dibenahi Shevchenko tinggal lini belakang. Ukraina tak begitu kokoh untuk menerima serangan lawan. Umpan-umpan silang dan lubang di sisi kiri pertahanan perlu dibenahi. Lihat saja dua dari tiga gol Belanda yang berproses dari sisi kiri pertahanan mereka.

Berbekal status salah satu peringkat ketiga terbaik di fase grup, Ukraina pun sukses melaju ke babak 16 besar. Kabar baiknya, Ukraina belum akan menghadapi salah satu tim besar. Mereka bakal melawan Swedia pada fase gugur nanti

Kekuatan kedua kesebelasan bisa dibilang seimbang. Akan tetapi, dengan materi merata dan masalah yang sudah dibenahi, bukan tak mungkin Ukraina-nya Shevchenko yang akan menjadi pemenang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.