Inggris di Piala Eropa 2020: Adaptif meski Tak Selalu Atraktif

Foto: @England.

Tiga pertandingan lagi, sepak bola akan kembali ke rumah. Bisakah itu terwujud?

Inggris datang ke Piala Eropa 2020 dengan kepercayaan diri yang tinggi. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kepercayaan tersebut tak melulu jadi monopoli mereka. Pasalnya, ada saja yang menyandingkan mereka dengan tim-tim seperti Belgia dan Prancis sebagai kandidat juara.

Bahwa Inggris adalah bangsa yang punya pede selangit itu bukan rahasia lagi. Malah, ada kecenderungan orang-orang Inggris cukup abai dengan apa yang terjadi di luar dunia. Seolah-olah mereka hidup dalam sebuah gelembung besar yang menutupi kepulauan mereka.

Dengan kecenderungan seperti itu, kita sering melihat mereka memandang sebelah mata liga-liga di luar negara mereka sampai-sampai menilai skuad tim nasional sendiri secara berlebihan. Namun, kepongahan Inggris tersebut kali ini layak mendapatkan justifikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris mendapatkan berkah dengan kemunculan bakat-bakat muda potensial. Potensi tersebut pun bukan isapan jempol atau sekadar blow-up media belaka. Faktanya, dalam rentang lima tahun terakhir, tim junior Inggris pernah meraih trofi di level internasional.

Pada 2017, tim U-20 dan tim U-17 Inggris sukses menjadi juara Piala Dunia pada kelompok umur masing-masing. Pada tim U-20 ketika itu, ada nama-nama seperti Dominic Calvert-Lewin, Dominic Solanke, Fikayo Tomori, dan Ainsley Maitland-Niles di dalam skuad. Sedangkan tim U-17 waktu itu diperkuat oleh Phil Foden, Emile Smith Rowe, Jadon Sancho, dan Callum Hudson-Odoi.

Ini belum termasuk dengan pemain-pemain yang meskipun tidak mencuat atau masuk ke dalam skuad tim nasional level junior, terasah dengan baik di klub atau liga masing-masing. Jangan lupakan juga bahwa dalam beberapa musim terakhir, Premier League kedatangan banyak pelatih dengan inventori dan pemahaman taktik yang beragam. Mau tidak mau, ini ikut memengaruhi perkembangan pemain juga dalam memahami permainan.

Alhasil, Inggris membawa skuad yang cukup memadai ke Piala Eropa 2020. Materi pemain mereka relatif komplet. Di belakang ada duet Harry Maguire dan John Stones. Di pos fullback, mereka kebanjiran amunisi, mulai dari Luke Shaw yang tampil apik sepanjang musim 2020/21, Kieran Trippier yang menjadi salah satu andalan Atletico Madrid di La Liga, Reece James dan Ben Chilwell yang membantu Chelsea menjuarai Liga Champions 2020/21, hingga Kyle Walker.

Lini tengah dan depan juga tidak kekurangan stok pemain bagus. Mereka memiliki gelandang-gelandang yang bisa dijadikan poros pada diri Declan Rice dan Kalvin Phillips, kreator seperti Mason Mount dan Jadon Sancho, pemain cerdas seperti Phil Foden, hingga para pemain lincah yang bisa menerobos dengan dribel pada diri Jack Grealish, Raheem Sterling, Marcus Rashford, dan Bukayo Saka.

Ini masih belum termasuk Harry Kane, yang sepanjang musim 2020/21 menunjukkan bahwa ia bisa mencetak gol dan mengkreasikan peluang dengan sama baiknya. Kendati performanya sedikit menurun pada awal-awal perhelatan Piala Eropa 2020, Kane jelas tidak begitu saja kehilangan talentanya.

***

Ada anggapan bahwa dengan skuad sebagus itu, Inggris semestinya bisa menampilkan sepak bola ofensif, proaktif, dan atraktif di Piala Eropa 2020. Namun, nyatanya tidak begitu. Sejak Piala Dunia 2018, Gareth Southgate sudah menunjukkan bahwa ia adalah pelatih yang adaptif. Yang ia incar adalah kemenangan. Oleh karena itu, Inggris tidak akan saklek dengan satu gaya main tertentu.

Per laporan The Athletic, Inggris kini memiliki tim data khusus. Mereka akan membedah cara main lawan dan menganalisisnya. Sebagai hasil akhir, mereka akan memberikan masukan kepada Southgate dan asistennya, yang kemudian bakal mengetuk palu menyoal skema mana yang bakal digunakan untuk lawan yang akan dihadapi.  

Laporan yang sama juga menyebut bahwa Inggris sudah mengumpulkan data-data soal Jerman dan memantau permainan mereka dalam 18 bulan terakhir. Jadi, kemenangan 2-0 yang kamu lihat pada Selasa (29/6/2021) malam, adalah buah dari sebuah kerja keras yang teramat panjang.

Maka, jangan heran apabila Inggris melakukan pendekatan berbeda terhadap lawan-lawan yang mereka hadapi. Bagi Southgate, satu yang tidak bisa diubah adalah struktur. Oleh karena itu, ia pasti akan mengedepankan kestabilan di lini belakang dan tengah terlebih dulu.

Pada laga melawan Kroasia, misalnya. Inggris sangat sabar dalam melakukan tekanan. Mereka tak bermain cepat dan agresif dari belakang. The Three Lions baru mengentak di sepertiga akhir lapangan. Inggris mengandalkan kecepatan Raheem Sterling dan Phil Foden di kedua sisi lapangan untuk membongkar pertahanan lawan.

Inggris merasa bisa mengambil risiko dengan melakukan dribel pada sepertiga akhir lapangan karena struktur di lini tengah dan belakang sudah terjaga. Di belakang barisan striker dan gelandang serang, mereka masih memiliki Declan Rice dan Kalvin Phillips yang cukup siaga. Namun, Inggris tak melulu bermain dengan cara seperti ini.

Simak ketika menghadapi Jerman pada babak 16 besar. Alih-alih tampil dengan pola 4-2-3-1 yang sudah diterapkan selama fase grup, Inggris malah melakukan mirroring formasi Jerman. Alasannya jelas, mereka tak ingin kalah jumlah saat mendapat tekanan.

Selain itu, menurut catatan Michael Cox, Inggris juga mewaspadai kecenderungan Jerman melakukan switchplay. Tim besutan Joachim Loew tersebut menerapkan gaya ini ketika menghadapi Portugal, di mana para pemain sayap mereka (terutama Robin Gosens) sering betul menghadirkan ancaman. 

Wingback Inggris disiplin menutup membuat ruang-ruang kosong yang biasa dibuka oleh pemain Jerman. Selain itu, ada tweak lain yang dilakukan Southgate pada pertandingan ini: Rice dan Phillips ia tugaskan untuk memberi pengawalan ketat kepada Toni Kroos. Southgate paham, Kroos adalah inisiator serangan Jerman di Piala Eropa kali ini.

Saat Kroos buntu, Jerman kebingungan. Kai Havertz yang bergerak bebas, tak mendapat banyak dukungan dan suplai saat menyerang. Rice sendiri bermain apik dalam pertandingan ini. Empat tekel, tiga intersep, dan satu sapuan ia lakukan sepanjang pertandingan.

Satu hal lain yang membuat Inggris bisa tampil apik adalah kepercayaan Southgate kepada para pemainnya. Banyak yang mempertanyakan, mengapa Jadon Sancho tak diberi menit bermain yang banyak oleh Southgate. Ada juga yang menilai sebaiknya Sterling saja yang dicadangkan.

Namun, Southgate bergeming. Ia paham betul dengan apa yang ada di dalam skuadnya saat ini. Sancho masih ia simpan, Sterling terus ia mainkan sejak menit awal. Kalau plan A buntu, ia masih punya amunisi cukup yang bisa dimainkan dari bench. Dengan cara inilah, ia menggunakan Jack Grealish, yang lebih sering masuk sebagai pemain pengganti.

Kepercayaan Southgate terbayar lunas. Sterling, kendati berulang kali disorot karena terlalu banyak melakukan dribel, nyatanya menunjukkan bahwa ia pemain cerdas. Asal, bisa bebas bergerak tanpa bola, ia bisa menemukan ruang di kotak penalti lawan dan menyelesaikan peluang. Selain itu, lihat bagaimana ia mundur selangkah, menjaga dirinya tetap onside, sebelum menerima umpan dari Luke Shaw dan membobol gawang Jerman.

"Southgate benar-benar mengerti apa yang ada di dalam tim. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan oleh para pemain. Dia mulai memahami apa yang terbaik untuk Inggris. Dengan pengalaman yang yang dia miliki, dia akan membawa Inggris berprestasi lebih baik," ucap Shaw seperti dilansir The Athletic.

***

Sampai babak 16 besar, Inggris menjadi tim yang paling minim membuat gol. Tak cuma gol, rata-rata shot per laga-nya juga hanya berada pada nomor 22 dari 24 peserta Piala Eropa 2020. Namun, Inggris sangat efektif di depan gawang. Dengan rata-rata 6,8 shot per laga, mereka sudah menciptakan 4 gol.

Inggis boleh tumpul di depan, akan tetapi lini belakangnya sangatlah solid. Belum ada gol yang bersarang ke gawang Jordan Pickford sejauh ini. Kiper Everton itu juga sudah melakukan rata-rata 1,8 penyelamatan per pertandingannya.

Mereka memang bermain sangat rapat dengan kedua gelandang porosnya amat aktif untuk membantu menggalang lini belakang. Dengan begitu, sesungguhnya, kinerja Pickford sebagai penjaga gawang cukup termudahkan.

Kini, justru makin menarik menantikan lawan seperti apa yang akan dihadapi Inggris selanjutnya. Pada babak perempat final, 'Tiga Singa' bakal menghadapi Ukraina. Jika lolos, sudah ada Denmark atau Rep. Ceko yang menanti. Mengingat mereka sekarang adalah tim yang adaptif, skema permainan bisa saja berubah.

Namun, tentu saja, jangan terlalu berharap Inggris bakal pasti menampilkan permainan ofensif nan atraktif.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.