Ini Cadiz, Bung!

Ilustrasi: Arif Utama

Dengan sepak bola defensif, Cadiz menghadirkan kejutan di La Liga musim ini. Apakah kejutan tersebut bakal terus berlangsung sampai akhir musim?

Ini bukan soal lagunya Afgan. Apalagi tentang kumpulan orang yang bertugas membawa stik golf di lapangan. Ini soal Cadiz CF dan sederet ceritanya.

Cadiz punya kisah manis. Mereka merupakan promosi pertama yang berhasil menumbangkan Real Madrid dan Barcelona di paruh pertama musim sejak La Liga diikuti 20 peserta.

Tentu saja, nasib Cadiz musim ini belum habis. Jalan masih panjang. Namun, duduk di peringkat ketujuh sampai pekan ke-13 La Liga tetaplah pencapaian yang layak untuk mendapatkan sedikit tepuk tangan.

***

Sepak bola acap memberikan ruang untuk kejutan-kejutan. Manakala mereka yang tak dianggap tiba-tiba memukul mundur mereka yang dinilai punya kuasa, orang-orang tiba-tiba gumun: Ternyata yang seperti itu mungkin saja terjadi.

Lantas, kita mengetahui bahwa sepak bola kerap memunculkan adegan bernama ‘giant killing’. Yang lemah melumat yang kuat. Lalu, kita melihat bagaimana kesebelasan-kesebelasan kecil mengangkangi yang besar. Sheffield United, misalnya.

Pada 2019/20, The Blades membuat orang-orang mengelu-elukan pelatih mereka, Chris Wilder. Kemampuan Wilder membuat pemain-pemain Sheffield United melakukan rotasi posisi secara cair menjadi pembahasan di mana-mana. Hasilnya, Sheffield sempat menghuni papan atas sebelum akhirnya mengakhiri musim di posisi kesembilan. Padahal, status mereka adalah tim promosi.

Namun, selayaknya sebuah kejutan, sekejap itu pula mereka pergi. Musim ini, Sheffield United menduduki posisi buncit klasemen hingga pekan ke-12. Tentu saja ada pertanyaan macam “apa yang terjadi dengan timnya Wilder itu?”, tapi selebihnya mereka seolah-olah terlupakan begitu saja.

Cerita Granada di La Liga tidak jauh berbeda dengan Sheffield United, meski mereka relatif lebih mulus. Setelah tiga musim berada di Segunda Division, Granada tampil sebagai tim promosi La Liga pada musim kemarin. Setelah mengakhiri musim pada posisi ketujuh, mereka pun berhak melaju ke kualifikasi Liga Europa.

Musim ini, pencapaian Granada masih terbilang lumayan. Dari 12 kali bertanding, mereka telah mengoleksi 5 kemenangan, 3 hasil imbang, dan 4 kali kalah. Alhasil, tim besutan Diego Martinez tersebut duduk di posisi keenam klasemen sementara.

Di bawah Granada, ada Cadiz. Seratus sepuluh tahun usia mereka, tapi belum pernah ada trofi yang mampir. Alih-alih trofi, Cadiz lebih sering turun-naik divisi. Prestasi tim asal Andalusia ini sedemikian insignifikannya sampai-sampai ketika mereka duduk di posisi tujuh klasemen, orang-orang kembali gumun. Terlebih, Cadiz sukses menjungkalkan Barcelona dan Real Madrid.

Namun, Cadiz sudah terbiasa tidak dianggap. Lahir dari tim yang dibentuk untuk sekadar melawan para pelaut Inggris di pelabuhan Kota Cadiz, awalnya mereka cuma tim sekolahan biasa. Orang-orang setempat mengenal mereka sebagai ‘The Mirandilla’, yang berasal dari sekolah La Salle.

Karena berstatus ‘tim sekolahan’, Mirandilla tidak serta-merta bisa langsung bermain di kompetisi resmi. Untuk bisa tampil, mereka kudu meminjam lisensi Cadiz FC dan oleh karenanya kedua tim pun dilebur, meski nama ‘Mirandilla’ tetap dipertahankan.

Pada 1933, Mirandilla tampil di Kejuaraan Regional dan bisa masuk ke divisi dua hanya dalam kurun dua tahun. Meski sudah menjadi tim kuat di Kota Cadiz, banyak warga yang masih menganggap Mirandilla tak lebih dari tim sekolahan. Keberadaan mereka masih belum utuh.

Berbagai pihak mengusulkan perubahan nama. Lantas, pada Juni 1936, sebuah sidang umum digelar demi menyetujui perubahan nama dari Mirandilla menjadi Cadiz. Nama boleh berubah, tetapi warna kuning dan biru pada seragam tetap dipertahankan hingga sekarang.

Apes, beberapa pekan setelah pergantian nama tersebut, Perang Sipil pecah di Spanyol. Seluruh kompetisi olahraga terhenti sampai kecamuk perang berhenti pada 1939. Ketika kompetisi bergulir kembali, Cadiz mendapatkan satu tempat di Divisi Dua, tempat yang dahulunya merupakan milik Mirandilla.

Dari situ, dimulailah kiprah Cadiz sebagai “tim yo-yo” yang lebih sering turun-naik divisi ketimbang mendapatkan trofi. Selama 141 sejarah tim, baru 13 kali Cadiz bermain di La Liga. Prestasi terbaik mereka adalah duduk di urutan ke-12 pada musim 1987/88. Sisanya, mereka lebih sering menghabiskan musim untuk bisa bertahan di La Liga.

Oleh karena itu, perjalanan mereka di La Liga musim ini menjadi anomali. Sudah hampir setengah musim berjalan, Cadiz menemukan diri mereka bukan sebagai pesakitan yang baku hantam dengan tim papan bawah lainnya untuk lepas dari zona degradasi. Mereka justru lebih dekat dengan papan atas.

Sebenarnya Cadiz tak istimewa-istimewa amat kalau bicara soal melakukan serangan. Faktanya, mereka memang bukan tim yang menganut sepak bola proaktif atau ofensif. Namun, justru karena sadar bahwa mereka tidak punya banyak modal bagus, mereka memilih untuk berjuang sekuat tenaga dengan apa-apa saja yang mereka miliki.

Pelatih Cadiz, Alvaro Cervera, sadar bahwa percuma bagi timnya untuk memainkan sepak bola ofensif atau proaktif. Buktinya, Cadiz menjadi tim yang paling rendah rata-rata ball possesion di La Liga. Cadiz cuma mencatatkan 36,7 persen penguasaan bola per pertandingannya.

Oleh karena itu, shots per game Cadiz juga rendah. Rata-ratanya Submarino hanya membuat 8,1 tembakan per laga. Paling rendah di antara semua tim yang mentas di La Liga musim ini. Expected goals (xG) Cadiz juga rendah dengan angka 11,24 (terendah ketiga di La Liga).

Bagi Cervera, kekuatan Cadiz memang bukan terletak pada penguasaan bola. Sebaliknya, ia melihat timnya justru lebih cocok kalau membiarkan lawan menguasai bola. Cervera lebih suka melihat timnya bermain efektif: Rebut bola dari lawan, lakukan serangan balik, lalu cetak gol.

“Permainan kami bukanlah soal mencetak lebih banyak gol dari lawan, tetapi soal bagaimana lawan jangan sampai mencetak gol ke gawang kami,” ujar Cervera.

Ucapannya memang terdengar ngawur. Apalagi kalau mengingat sepak bola adalah permainan yang memberikan kemenangan kepada tim yang mencetak lebih banyak gol ketimbang lawannya. Namun, Cervera tidak asal bicara.

Yang dia maksud, Cadiz justru bakal kesulitan kalau memaksakan diri menyerang dengan cara mendominasi penguasaan bola dan melakukan overload di lini depan. Dengan begitu, kata Cervera, Cadiz bakal kekurangan orang untuk menjaga pertahanan. Kalau sudah kekurangan orang, bakal sulit bagi mereka untuk mencegah lawan mencetak gol.

Oleh karena itu, Cervera menginstruksikan anak-anak buahnya untuk tampil seagresif mungkin. Manakala lawan menguasai bola, sebisa mungkin segera rebut dan lakukan serangan balik. Terbukti, jumlah tekel dan intersep pemain-pemain Cardiff cukup tinggi. Sampai pekan ke-13, rata-rata Cadiz melakukan 16,9 tekel per laga (nomor dua di La Liga) dan 13,4 intersep per laga (nomor tiga di La Liga).

Alvaro Cervera. Foto: Twitter @Cadiz_CFIN

Selain tekel dan intersep, Cadiz juga mengandalkan kerapatan antarpemain. Cervera biasanya menyusun timnya dengan formasi 4-4-2. Dua blok, masing-masing terdiri dari empat pemain, biasanya akan berdiri berdekatan untuk menjaga pertahanan. Pada beberapa kesempatan, Cervera memang pernah bermain dengan 4-2-3-1 atau 4-4-1-1, tetapi formasi 4-4-2 itulah yang lebih sering ia gunakan.

Kendati tampil dengan taktik defensif, Cadiz tidak bermain dengan low-block (menumpuk pemain di dalam dan sekeliling kotak penalti). Sebaliknya, mereka justru bermain dengan mid-block. Dua blok tadi berdiri rapat di area depan kotak penalti sendiri dan middle-third. Dengan begitu lawan biasanya bakal kesulitan untuk membangun serangan begitu sampai middle-third.

Lalu, bagaimana cara mereka membangun serangan? Well, selain mengandalkan serangan balik, Cadiz memilih untuk tidak membangun serangan dari belakang. Sebaliknya, bola dari belakang biasanya langsung diarahkan ke area tengah. Apabila, dua gelandang di tengah berhasil mendapatkan bola, dua orang striker dan dua orang sayap langsung naik untuk menerima operan.

Jika kehilangan bola di lini depan, para pemain Cadiz akan melakukan pressing dengan intensitas rendah. Tujuannya bukanlah untuk merebut bola sesegera mungkin, melainkan untuk menunda lawan melakukan serangan. Dengan begitu, Cadiz mendapatkan lebih banyak waktu untuk bertransisi dari menyerang ke bertahan dan menyusun ulang mid-block mereka.

Di lini depan, Cadiz cukup bergantung dengan Alvaro Negredo. Penyerang gaek berusia 35 tahun tersebut berandil dalam enam dari 11 gol yang sudah Cadiz cetak. Rinciannya, Negredo sudah mencetak tiga gol dan menyumbang tiga assist.

***

Kendati mampu menghadirkan kejutan hingga menjelang pertengahan musim, ujian Cadiz untuk tetap merapat ke papan atas belum selesai. Malah, ada kemungkinan ujian konsistensi mereka bakal makin berat.

Sebagai tim yang tampil defensif, Cadiz sudah kebobolan 17 gol --jumlah tersebut lebih banyak dari 11 gol yang mereka cetak. Sekalipun sukses menundukkan Real Madrid dan Barcelona, Cadiz juga pernah dilumat Atletico Madrid 0-4 dan teranyar takluk dengan skor yang sama di tangan Celta Vigo.

Yang jelas, para pendukung Cadiz bolehlah menikmati masa-masa kejutan ini selama belum berakhir.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.