Ironi Lampard

Foto: Instagram @franklampard

Semasa bermain, ia tahu benar apa yang dibutuhkan klubnya. Namun, Lampard yang sekarang justru tampak seperti orang asing yang tak mengenal Chelsea.

Pada suatu waktu Frank James Lampard adalah sosok yang dielu-elukan oleh di seantero Chelsea. Jangan tanya ada berapa banyak banner bergambar wajahnya yang dipajang di tembok-tembok Stamford Bridge. Chant-chant menyebut nama Lampard juga sering didengungkan oleh fans Chelsea di stadion.

Segala macam puja-puji itu adalah perkara wajar. Lihat torehan kontribusinya selama bermain. Jika ditotal, pria kelahiran 20 Juni 1978 itu sudah memberikan 13 trofi untuk The Blues. Itu sudah termasuk satu gelar Liga Champions di musim 2011/12 dan tiga gelar Premier League.

Catatan pribadi Lampard dengan Chelsea juga mengagumkan. Bermain sebagai seorang gelandang, Lampard justru bisa menjadi pencetak gol terbanyak Chelsea sepanjang masa. Kurang lebih 13 musim berseragam Chelsea, Lampard membukukan 211 gol dan 151 assist. Koleksi gol Lampard bahkan ada di atas legenda Chelsea, seperti Bobby Tambling (202), Kerry Dixon (193), dan Didier Drogba (164).

Uniknya, Lampard tak benar-benar pensiun di Chelsea. Ia memilih hijrah ke MLS dan bergabung dengan New York City FC. Pada Agustus 2014, Manchester City meminjam Lampard. Bersama City, Lampard pernah membuat gol ke gawang Chelsea meski ia tak melakukan selebrasi.

Lampard mengumumkan pensiunnya pada 2017. Namun, ia enggan meninggalkan sepak bola begitu saja. Setahun usai pensiun, Lampard didapuk menjadi pelatih Derby County. Dari sini petualangan karier Lampard sebagai pelatih dimulai.

"Ini pekerjaan pertama saya sebagai manajer. Namun, saya akan dibantu oleh beberapa pelatih terbaik. Saya cukup yakin dengan kemampuan pribadi dan tim, termasuk direksi," tutur Lampard kepada BBC.

Masalahnya, kiprah Lampard bersama Derby tidak berujung gelar juara. Lampard juga tak mampu membawa The Rams promosi ke Premier League.

Lampard menukangi Derby dalam 57 penampilan dengan rincian 26 kemenangan, 15 imbang, dan 16 kali kekalahan. Di bawah asuhan Lampard, Derby mengemas 103 gol dan kebobolan 80 kali.

Lampard cuma semusim bersama Derby. Alasannya bukan karena dipecat, melainkan Chelsea yang memintanya untuk menjadi manajer di Stamford Bridge.

Pada akhirnya Lampard kembali ke Chelsea. Kali ini, ia datang dengan status dan tugas berbeda. Ia bertanggung jawab menggantikan Maurizio Sarri yang dipecat oleh manajemen The Blues.

Jangan kira Lampard ketika Chelsea sedang adem-ayem. Tak cuma dihukum FIFA dengan larangan transfer, The Blues juga kehilangan Eden Hazard yang hengkang ke Real Madrid.

Lampard merespons situasi tak sedap itu dengan memberi kepercayaan kepada pemain di akademi Chelsea. Mason Mount, Tammy Abraham, Fikayo Tomori, dan Reece James mendapat ruang dalam kepelatihan Lampard.

Mount bahkan berpendar pada musim perdana Lampard, 2019/20, dengan membukukan delapan gol dan enam assist. Angka itu menjadikan Mount sebagai penyumbang assist kedua terbanyak di Chelsea setelah Willian.

Nah, kiprah Lampard pada musim perdana dengan Chelsea cukup apik. Ia berhasil mengantas Chelsea finis di posisi empat dan menjadi finalis Piala FA.

Pada musim berikutnya, Lampard dibekali amunisi yang sangat mentereng. Dana 250 juta poundsterling digelontorkan manajemen agar Lampard dapat mendatangkan pemain. Hasilnya, Kai Havertz, Timo Werner, Edouard Mendy, Ben Chilwell memperkuat Chelsea.

Seharusnya situasi yang membaik itu selaras dengan performa Chelsea. Siapa yang tidak bergidik melihat lini serang Chelsea pada awal musim? Suporter Chelsea mana yang tak kegirangan menyambut musim 2020/21?

Sialnya, ekspektasi tinggal ekspektasi. Alih-alih impresif, Chelsea justru tampil inkonsisten sejak awal musim. Sekeras apa pun berusaha menutupi, kegundahan menanggung beban ekspektasi itu tetap terlihat pada wajah Lampard. Emosi Lampard juga mudah tersulut. Coba ingat lagi ribut-ribut di pinggir lapangan yang melibatkannya dengan Juergen Klopp dan Jose Mourinho.

Pada enam laga awal Premier League, Chelsea cuma sanggup meraih dua kemenangan. Tiga laga berakhir imbang dan satu laga berujung kekalahan. 

Chelsea lalu bangkit dengan meraih tiga kemenangan beruntun. Setelah performa yang menyenangkan para suporter itu, Chelsea merosot lagi. Tiga kekalahan, sekali menang, dan sekali imbang jadi catatan lima laga terakhir The Blues. Rangkaian hasil tersebut lantas membuat entah berapa banyak orang sepakat bahwa Lampard memang betul-betul anak bawang di dunia kepelatihan.

Tak heran jika Roman Abramovich memecat Lampard dari kursi kepelatihan Chelsea. Apalagi, Abramovich memang gampang memecat pelatih. Roberto Di Matteo yang sukses mengantarkan Chelsea juara Liga Champions untuk pertama kalinya saja dipecat usai mengecap hasil buruk.

Dalam tulisan di The Athletic, ada beberapa faktor lain yang membuat Lampard dipecat oleh Chelsea. Salah satunya hubungan yang kurang harmonis dengan Direktur Sepak Bola Chelsea, Marina Granovskaia. Lampard juga kesal karena keinginannya untuk mendatangkan Declan Rice tak terpenuhi.

Persoalan di ruang ganti juga menjadi sorotan. Beberapa pemain Chelsea merasa Lampard tidak pernah memberikan instruksi taktik yang jelas. Selain itu, Lampard belum bisa menemukan pemimpin yang ajeg dalam skuadnya. Kalau ruang ganti saja kacau, apalagi performa di lapangan.

Hingga pemecatannya, Lampard belum bisa membenahi lini belakang Chelsea yang bobrok. Musim lalu, Chelsea kebobolan sekitar 1,44 kali per pertandingan. Catatan itu membuat Lampard menjadi manajer Chelsea dengan rata-rata kebobolan tinggi di atas Roberto Di Matteo (1,33) dan Guus Hiddink (1,26).

Musim ini, pertahanan Chelsea tak juga membaik. Meski sudah mendatangkan Thiago Silva dan Edouard Mendy, gawang Chelsea sudah bobol sebanyak 23 kali di Premier League. Angka itu membuat Chelsea menjadi tim kedua di peringkat 10 besar yang kebobolan banyak setelah Manchester United, dalam 19 laga.

Itu belum ditambah dengan buruknya poin per laga yang direngkuh Lampard, cuma 1,67. Di antara seluruh pelatih Chelsea pada era Abramovich, torehan itu menjadi yang terkecil.

Yang paling penting, Lampard tak bisa memaksimalkan beberapa pilarnya. Timo Werner, Kai Havertz, dan Hakim Ziyech melempem. Bahkan Lampard urung menemukan posisi dan pola permainan yang pas untuk menyokong performa Werner dan Havertz. Kondisi ini membuat gembar-gembor di bursa transfer terkesan seperti euforia tanpa makna saja.

Kepemimpinan Lampard terasa ironis. Pasalnya, Lampard merupakan salah satu legenda terbesar Chelsea. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di Stamford Bridge. Semasa bermain, ia tahu benar apa yang dibutuhkan klubnya. Namun, Lampard yang sekarang justru tampak seperti orang asing yang tak mengenal Chelsea

****

Saat ditunjuk menjadi manajer Chelsea, Lampard paham dengan tekanan yang bakal dihadapinya. Itulah yang disampaikannya seusai pemecatan.

Kepergian Lampard memang serupa ironi karena kali ini ia meninggalkan Chelsea sebagai pesakitan. Namun, kekecewaan ternyata bukan satu-satunya yang diwariskan Lampard sebagai pelatih Chelsea.

"Ketika saya mengambil peran sebagai pelatih, saya memahami tantangan yang akan dihadapi. Saya bangga dengan pencapaian kami dan sangat bangga untuk para pemain akademi yang tampil ke tim inti dan bermain baik. Mereka adalah masa depan klub.”

Jadi, berharap saja apa yang ditinggalkan Lampard tidak sia-sia, tidak mati sebelum berkembang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.