Italia vs Inggris: Perang Kendali para Gelandang

Foto: Arif Utama

Is football coming home or going to Rome?

Seperti mimpi rasanya Matteo Berrettini bisa melaju ke final Wimbledon 2021. Berangkat sebagai unggulan ketujuh, ia bakal berhadapan dengan petenis nomor satu dunia, Novak Djokovic. Menjadi spesial karena Berrettini adalah petenis Italia pertama yang berhasil melaju ke partai puncak turnamen tertua sekaligus bergengsi di muka bumi ini.

Koran Italia, Gazzetta dello Sport, sampai menyandingkannya dengan keberhasilan Italia menembus final Euro 2020. Berrettini di kiri dan Roberto Mancini di kanan. Di tengah-tengahnya terpampang huruf "W" yang merepresentasikan Wimbledon dan Wembley. Bila Berrettini nantinya mentas di Wimbledon, Gli Azzurri akan bertarung melawan Inggris di Wembley. Kebetulan sekali.

***

Italia versus Inggris adalah final ideal. Mereka adalah kontestan dengan penampilan paling spesial. Sapu bersih 6 pertandingan diukir Italia. Inggris, meski sempat imbang sekali, juga sama-sama belum terkalahkan. Gawang mereka bahkan selalu bersih sebelum akhirnya dibobol Mikkel Damsgaard di semifinal.

Kokohnya pertahanan Inggris ini sebenarnya bukan semata perkara kehebatan individual Jordan Pickford di bawah mistar atau Harry Maguire sebagai pentolan backfour. Faktornya lebih kepada sistem permainan Gareth Southgate. Pakem 4-2-3-1 yang diusungnya membuat Inggris lebih aman dalam bertahan dan bertransisi.

Bisa dilihat dari bagaimana Southgate merangkai double pivot-nya. Kemampuan defensif yang menjadi pertimbangan utama. Itulah mengapa Southgate memasang Declan Rice dan Kalvin Phillips alih-alih Jordan Henderson.

Phillips sudah terbiasa bermain man-to-man marking ala Marcelo Bielsa di Leeds United. Kemampuan semacam ini penting untuk mengikis serangan lawan, sementara Rice tak ubahnya sebagai bek tambahan. Rata-rata tekel serta intersepnya di sepanjang turnamen mencapai 1,3 dan 1,8 per laga. Kalkulasi ini menjadi yang terbaik di antara seluruh pemain Inggris.


Pencetak gol kemenangan Italia atas Inggris di Euro 1980, Marco Tardelli, cukup yakin bahwa pertandingan final nanti akan ditentukan oleh lini tengah. Ia percaya Italia bisa mengguguli Inggris dari sana.

Tardelli ada benarnya. Ketiga gelandang Italia lebih kreatif dari kepunyaan Inggris. Jorginho merupakan salah satu konduktor terbaik di dunia. Marco Verratti tak hanya dinamis, tetapi juga rajin memproduksi kans. Rata-rata 3 umpan kunci ia buat di tiap pertandingan, tertinggi kedua setelah Kevin De Bruyne. Sementara Nicolo Barella adalah pemain secondline ulung. Satu gol dan dua assist menjadi buktinya.

Gelandang-gelandang berkualitas ini memudahkan Mancini untuk mengubah pakemnya dari 4-3-3 menjadi 3-2-5 dalam mode serangan. Barella masuk ke kanan dalam, sedangkan Verratti dan Jorginho menjaga area tengah. Di belakang, Giovanni Di Lorenzo membentuk shape tiga bek bersama Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Sementara full-back kiri, nantinya Emerson Palmieri, bertransformasi menjadi winger. Pergerakan ini demi melicinkan Lorenzo Insigne buat masuk ke halfspace lawan.

Buat Inggris, membiarkan Jorginho dan Verratti bermain sesuka hati sama saja dengan bunuh diri. Mereka punya kualitas dan kecerdasan untuk mendominasi penguasaan bola. Keduanya rata-rata melepaskan 70 lebih umpan per laga dengan akurasi di atas 92%. Ini yang membedakan Italia dengan lawan-lawan Inggris sebelumnya. Salah-salah, bukannya memegang kendali permainan mereka justru bakalan didikte lawan.

Foto: @azzurri

Untuk mengantisipasinya Southgate bisa menjiplak metode Luis Enrique di semifinal. Bagaimana ia menimbun pemain di tengah demi memojokkan Jorginho dan Verratti. 

Hasilnya tokcer. Tak lebih dari 35 umpan mereka lepaskan sepanjang pertandingan atau sekitar setengah dari normalnya meski, ya, Italia masih bisa menjebol gawang Spanyol lewat serangan sayapnya. Tak lagi hanya lewat Lorenzo Insigne, tetapi juga Federico Chiesa. Yang disebut belakangan sudah mengumpulkan 2 gol hanya dari 1 xG. Itu belum dengan potensi ancaman Emerson di sisi kiri.

So, sudah sebaiknya Southgate kembali menurunkan Bukayo Saka sejak awal pertandingan. Ketimbang gelandang lainnya, Saka yang paling ideal untuk menghentikan sekaligus memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Emerson.

Kecepatan yang ia punya, serta tendensinya untuk mengganggu lawan menjadi pertimbangan utamanya. Ini beririsan dengan karakter gelandang yang diinginkan Southgate bahwa mereka mesti mampu dan mau menekan lawan. Ini pula yang menjadi jawaban mengapa Jack Grealish ditarik keluar di babak perpanjangan waktu versus Denmark.

Untuk menyerang, Southgate akan menggunakan tombak dan belati di kedua tangannya. Tombak membantunya beradu kekuatan, sementara belati ia pakai untuk serangan cepat. Tidak lebih tajam dari tombak, tetapi ia sulit tertebak dan efektif untuk mengacak-acak pertahanan lawan. Ya, semacam itu cara kerja Harry Kane dan Raheem Sterling. Bisa kita lihat bagaimana metode semacam ini sukses membuat Jerman, Ukraina, dan Denmark keteteran.

[Baca Juga: Pertalian Kane-Sterling: Space and Movement]

Sterling mafhum beroperasi di kedua sisi, plus kepiawaian Kane untuk bermain lebih dalam. Ini kombinasi mematikan untuk membiaskan kawalan lawan. Semisal gagal, Inggris bakal memaksimalkan situasi bola mati. Tiga kali mereka bikin gol dari sana atau terbanyak di antara tim lainnya.

Dari sudut pandang Italia, rada rumit membandingkan form Kane dengan Ciro Immobile. Sudah tiga pertandingan dilaluinya tanpa gol. Dalam rentang waktu itu pula 7 tembakannya tak ada satupun yang mengenai sasaran.

Namun, bukan berarti Immobile nihil kans. Tak melulu perkara gol, melainkan bagaimana ia membantu mengatrol peluang buat lini kedua. Kemampuannya sebagai reflektor di depan akan berguna. Lagi pula, bomber Lazio ini sudah bikin 2 assist, terbanyak bersama Verratti dan Barella.

Satu hal lagi yang tak akan dilewatkan oleh Mancini:Pressing. Inggris adalah tim yang doyan mendominasi permainan. Italia juga sama. Itulah mengapa pressing menjadi penentu siapa yang nantinya akan memegang kendali.

Namun, para pemain Inggris lebih tidak betah dalam meladeni tekanan. Ini berkaitan dengan komposisi lini tengah di atas. Para gelandang Italia lebih kreatif ketimbang Inggris. Verratti cs. lebih mahir mengolah bola, mendribel, kemudian mendistribusikannya ke depan. 

Rice dan Phillips berbeda. Alih-alih ke depan, mereka lebih intens mengembalikan bola ke belakang (backfour atau kiper). Situasi ini yang mungkin bakal dimanfaatkan oleh Italia.

---

Jalannya pertandingan mungkin bakal berjalan lambat. Meski kedua tim saling berebut kendali permainan, mereka akan melakukannya tanpa terburu-buru. Karena pada akhirnya, pemenang adalah mereka yang bisa memanfaatkan kesalahan lawan walau itu secuil.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.