Jalan Berliku Robin Gosens

Foto: @robingosens.

Tumbuh dari penolakan, Robin Gosens kini berubah menjadi tumpuan.

Mei 2012. Borussia Dortmund mengadakan trial untuk menjaring pemain berbakat di bawah usia 19 tahun. Acara tersebut diikuti oleh ratusan pemain dari seluruh belahan Jerman dan salah satu pemain yang ada di daftar hadir adalah Robin Gosens.

Gosens berangkat ke ajang tersebut atas bujukan teman dan pelatihnya di VfL Rhede. “Semula, aku tidak yakin untuk ikut seleksi itu. Namun, mereka mengatakan bahwa aku punya bakat untuk diadu dengan anak-anak lain,” kata Gosens.

Perjalanan sejauh 110 kilometer ditempuh Gosens. Namun, hasil akhir dari ajang pencarian tersebut tidak memihak Gosens. Ia dinyatakan tidak memenuhi syarat-syarat yang mereka jadikan sebagai acuan.

Kegagalan menembus Dortmund cukup menyesakkan Gosens. Ia bahkan sempat berpikir untuk meneruskan mimpi masa kecilnya, menjadi polisi. Belum sempat bergerak mendaftar ke akademi kepolisian, ia mendapatkan panggilan dari Rhede untuk mengikuti pertandingan melawan FC Kleve.

Pertandingan tersebut digelar di markas Kleve. Meski datang terlambat, Gosens mampu mencetak satu gol dan 2 assist. Usai laga, ia dipanggil seseorang, yang ternyata adalah salah satu pencari bakat, untuk mengikuti seleksi di Vitesse Arnhem.

Proses seleksi yang diikuti Gosens di Vitesse tidak lebih sulit dibandingkan dengan yang ia lakoni di Dortmund. Jalannya untuk menjadi pesepak bola terbuka di sini begitu ia dinyatakan lolos untuk masuk ke akademi.

“Ada banyak pesepak bola Belanda yang punya talenta lebih baik daripada saya. Namun, di usia itu, tidak ada yang punya pengalaman bermain sebanyak saya,” kata Gosens soal alasannya lolos di akademi Vitesse.

Gosens membutuhkan waktu satu tahun untuk lulus dari akademi dan bermain di tim utama Vitesse. Singkatnya waktu Gosens di akademi disebabkan oleh pelatih anyar Vitesse saat itu, Peter Bosz, memiliki obsesi dengan pemain yang memiliki kecepatan.

Perjalanan Gosens di tim utama Vitesse tak berlangsung lama. Tidak kunjung adanya kesempatan membuatnya meminta Bosz untuk dipinjamkan. Klub Eerste Divisie, FC Dordrecht, akhirnya menjadi pilihan.

“Saya memilih pergi karena ada banyak hal yang ingin saya gali. Saya tidak ingin berpuas diri dan akan berusaha sejauh mungkin,” kata Gosens kepada The Athletic. Keputusan Gosens bergabung Dordrecht tidak keliru. Ia langsung menjadi pilihan utama di sana.

Karier Gosens di Dordrecht hanya berlangsung selama satu setengah musim. Berikutnya, ia singgah ke Heracles Almelo. Di Heracles, namanya mulai mencuri perhatian banyak klub besar Eropa, salah satunya Atalanta.

“Setelah pertandingan terakhir musim 2016/17, agen saya terbang ke Bergamo untuk membicarakan kepindahan saya. Sementara itu, saya, bersama seluruh pemain Heracles terbang ke Mallorca,” kata Gosens kepada Kicker.

Sesampainya di Mallorca, Gosens mendapatkan laporan bahwa Atalanta sepakat untuk menebus banderol yang ditetapkan Heracles. “Belum ada satu hari sejak tiba, mereka sudah meminta saya untuk segera mengakhiri liburan.”

***

Gian Piero Gasperini punya segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi pelatih mumpuni: Presiden yang memberikan banyak keleluasaan dan pemain-pemain yang dibekali semangat pantang menyerah.

Syahdan, Gasperini membuat keputusan besar soal gaya bermain yang harus dilakukan oleh anak asuhnya menjelang laga melawan Ajax Amsterdam, Desember 2020. Masalahnya Gasperini menyodorkan keputusan tersebut tepat sehari sebelum pertandingan.

Pemain yang paling menerima impak dari perubahan tersebut adalah kapten tim, Alejandro Gomez. Ia tidak terima karena perubahan taktik tersebut membuat tugasnya di laga itu hanya menunggu bola di depan dan mencetak gol.

Buntut penolakan tersebut, Gomez diparkir dalam lima pertandingan selanjutnya. Gasperini kian berceloteh bahwa ia hanya akan memainkan pemain yang siap bekerja keras dan menuruti segala kemampuannya.

“Saya membutuhkan pemain yang siap dimainkan dalam segala macam situasi dan kondisi. Di luar itu, tidak,” ujar Gasperini. Melihat Gomez yang menolak keinginannya, wajar melihat kemudian ia disingkirkan.

Berbeda dengan Gomez, Gosens adalah salah satu pemain yang disukai oleh Gasperini. Menurut asisten pelatih Atalanta, Mauro Fumagalli, Gosens adalah tipikal pemain yang siap melahap segala permintaan yang diajukan oleh Gasperini.

“Ia selalu menjelaskan apa yang diharapkan dari saya. Ia juga bercerita tentang keinginannya untuk menjadikan saya sebagai seorang attacking full-back. Hampir setiap selesai latihan, ia berbicara banyak soal posisi dan peran yang harus saya lakukan dalam permainan,” kata Gosens.

Sebagaimana murid baru lainnya, mula-mula ia tidak cukup piawai bermain dalam peran tersebut. Kadang, ia berdiri amat jauh di depan. Di momen lain, overlap yang ia lakukan sering telat.

Saat pertama kali datang, Gosens mengakui bahwa ia jauh berada di bawah ekspektasi Gasperini. “Saya bahkan amat jarang berbicara dengan serius kepadanya,” tambahnya.

Usut punya usut, masalah terbesar Gosens adalah bahasa. Saat pertama kali datang ke Bergamo, ia tidak mengerti Bahasa Italia. Satu kata yang ia pahami hanya “ciao”. Itu pun baru ia ketahui setelah menandatangani kontrak di Atalanta.

***

Kini, Gosens tidak hanya menjadi andalan Atalanta, tapi juga Jerman. Penerapan attacking full-back dalam taktik Jerman membuatnya tidak membutuhkan adaptasi. Pada akhirnya, ia pun dipanggil untuk memperkuat Jerman di Euro 2020.

Gosens menjadi bek kiri utama Jerman di Euro 2020. Ia membalas kepercayaan tersebut dengan mencetak satu gol dan satu assist pada laga melawan Portugal, 19 Juni lalu. Melihat kiprahnya sejauh ini, apakah ceritanya semenarik perjalanan hidupnya?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.