Jalur Nasib Jack Harrison

Foto: @jackharrison11.

Bagaimana semua modal Jack Harrison untuk jadi pemain besar gagal karena satu hal: Inkonsistensi.

Jack Harrison mengambil sebuah jalan hidup di saat usianya dianggap belum cukup. Sebelas tahun berselang, keputusan tersebut membawanya ke dimensi yang tidak pernah ia bayangkan.

Harrison diberkahi bakat yang luar biasa. Bakat ini entah turun dari mana karena kedua orang tuanya sama sekali tidak mencintai sepak bola. Namun yang pasti, setiap pencari bakat yang melihat penampilannya pasti tidak akan pulang dengan tangan hampa.

Liverpool jadi klub besar pertama yang mencium bakat Harrison. Setelah Liverpool, Harrison menimba ilmu di akademi milik Manchester United. Ia bergabung dengan akademi United saat usianya menginjak tujuh tahun.

Perjalanan Harrison di akademi United dimulai dengan mulus. Nyaris tidak ada tantangan hingga ia mampu menapaki setiap kelompok umur dengan mudah. Bahkan, bersama Marcus Rashford, ia bergantian menutup pertandingan sebagai pemain terbaik.

Saat semua sepertinya berjalan mulus, karier Harrison di mulai goyah. Ibunya, Debbie, merasa cemas saat tahu bahwa lebih banyak alumnus akademi yang gagal menembus tim utama. Debbie makin kecewa saat ia tidak pernah mendapatkan laporan hasil latihan.

“Saat ia menceritakan semua keresahannya, saya mulai berpikir bahwa sepertinya bertahan di akademi United bukan jalan yang seharusnya saya ambil,” kata Harrison. Harrison tidak butuh waktu lama untuk meninggalkan akademi United dan mengejar mimpi satu-satunya: Bermain di Premier League.

Debbie memilih Berkshire School di Amerika Serikat untuk membuat Harrison makin matang. Berkshire adalah sekolah asrama yang memang dikhususkan untuk anak-anak yang punya mimpi di olahraga.

Semua kemudahan yang didapatkan Harrison saat pertama kali bergabung akademi United tak terulang di sini. Sebelum mulai belajar, ia harus berangkat ke Amerika Serikat dari Inggris sendirian karena Debbie tidak punya cukup uang untuk memberangkatkan dua orang.

Ketika tiba, Harrison, yang sama sekali tidak punya kenalan di Amerika, harus siap mengadu nasib di akhir bulan. Di saat teman-temannya bisa pulang ketika masa liburan, ia harus bertahan karena lagi-lagi uang jadi persoalan.

Kondisi tersebut membuat salah satu pencetus dan guru sepak bola di Berkshire, Jon Moodey, iba. Daripada kesepian saat berada di sekolah, Moodey menawari Harrison untuk tinggal di rumahnya untuk selama masa liburan.

Kedekatan keduanya terjalin sejak itu. Ia pun akhirnya tahu bahwa muridnya ini punya latar belakang di sepak bola yang luar biasa. Dengan jalan pintas yang ia miliki, Harrison melaju mulus hingga akhirnya diterima oleh New York City FC, yang notabene berafiliasi dengan Manchester City.

Satu hal yang terus diingat selama Harrison bermain di Berkshire adalah bagaimana mereka mendominasi region New England. Bahkan, Harrison juga menjadi bagian dari tim dan sempat mencatatkan rekor kemenangan 54 kali secara beruntun.

Dari klub bau kencur, Harrison pindah ke Manhattan SC. Manhattan adalah salah satu klub pemasok pemain untuk klub-klub Major League Soccer. Yang jadi makin menarik, saat itu Manhattan juga tengah menjalin kesepakatan dengan New York City FC.

Berbagai saran membuat New York City FC kepincut. Namun demikian, mendapatkan Harrison tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka pun harus melakukan segala cara karena Harrison dipilih oleh Chicago Fire dalam MLS Superdraft 2016.

Keputusan New York City untuk mengerahkan segalanya demi mendapatkan Harrison dibayar lunas. Pada musim perdana, Harrison langsung jadi pemain inti. Padahal, saat itu ia belum pernah sekalipun mencicipi rasanya bermain di level profesional.

Harrison makin matang di musim kedua. Bahkan, David Villa, yang jadi rekan setim Harrison, mengakui bahwa ia adalah salah satu pesepak bola terbaik di MLS saat itu dan mengatakan bahwa sudah saatnya ia pulang ke Eropa.

“Dia memiliki kemampuan yang jauh di atas pemain-pemain yang bermain di sini. Melihat kualitasnya, amat sayang apabila ia tidak mencoba bermain di kompetisi yang levelnya lebih tinggi,” kata Villa.

Nasib seakan mendengar perkataan Villa. Sebelum musim 2017 berakhir, afiliasi New York City FC, Manchester City, memberikan penawaran untuk Harrison. Sebagai saudara muda, tidak ada pilihan bagi New York City untuk menerimanya.

Memilih pulang ke Inggris seakan mengingatkannya pada masa-masa awalnya di Amerika Serikat: membangun kariernya dari nol. Jangankan mendapatkan nama besar, kesempatan bermain harus kembali ia perjuangkan.

Pergi sementara dari City dan bergabung Middlesbrough akhirnya jadi satu-satunya pilihan. Masalahnya, ia tidak mendapatkan banyak kesempatan karena gagal bersaing dengan dua nama yang lebih dulu dikenal Stewart Downing dan Adama Traore.

Hingga akhirnya, Leeds, yang saat itu baru saja memilih Marcelo Bielsa sebagai pelatih, datang. Tiga masa peminjaman dilakoni oleh Harrison demi memperkuat Leeds dan akhirnya awal musim ini ia resmi milik Leeds.

Sejak Bielsa memegang tongkat kepemimpinan, Harrison selalu jadi pilihan utama di posisi sayap kiri. Dalam tiga musim sebelumnya, ia bahkan mencatat rata-rata 40 penampilan per musimnya. Mau sebesar apapun perubahan pola, Harrison kemungkinan besar akan dimainkan.

Sebagai tim yang gemar menyerang lawan dari tepi, keberadaan Harrison di posisi sayap amat penting bagi Leeds. Ia tidak hanya memiliki umpan silang berbahaya tapi juga mampu mengirimkannya lewat segala cara, entah itu secara rendah atau tinggi.

Baiknya umpan silang Harrison dibuktikan lewat catatannya empat musim terakhir. Selama periode tersebut, ia membukukan rata-rata 0,62 umpan silang akurat. Tidak ada gelandang sayap asal Inggris yang punya catatan lebih baik.

Harrison juga punya pergerakan tanpa bola di atas rata-rata. Ia pandai mencari ruang hingga tidak akan segan untuk terus mengejar bola ke mana pun. Kompetensi tersebut amat jarang ditemukan dalam diri pemain sayap.

Perkara jarang ditemukan itu, Andrea Pirlo, mantan rekan satu tim Harrison di New York City, bahkan sampai memberikan testimoni: “Tidak banyak gelandang sayap yang berkontribusi terhadap pertahanan sebesar yang dilakukan olehnya.”

Di balik itu semua, permasalahan Harrison adalah konsistensi. Tidak ada ceritanya ia bermain sangat baik dalam satu musim penuh. Ia barangkali memang bukan pemain terburuk, tapi ia juga bukan pemain yang menyandang predikat terbaik.

Inkonsistensi inilah yang membuat kariernya seperti jalan di tempat. Sebagai pemain yang ngalor-ngidul di banyak akademi besar, harusnya Harrison bisa mengaum lebih jauh. Bukan malah stagnan di zona nyaman.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.