Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Jangan Beri De Ketelaere Beban yang Tak Perlu

Foto: Instagram @charlesdeketelaere

Charles De Ketelaere adalah pemain muda yang tengah menjadi buruan klub-klub liga top Eropa. Namun, jangan buru-buru memberinya beban yang terlalu besar.

Bahkan bagi para pemuda berbakat sekalipun, sepak bola tidak pernah menjadi tanah yang ramah.

****

Cat Stevens pernah mengheningkan dunia lewat Father and Son yang rilis pada 1970. Lagu ini konon dibuat sebagai bagian dari proyek drama musikal berjudul Revolussia yang mengambil latar revolusi Rusia.

Secara garis besar, ceritanya menyoal bapak dan anak dari sebuah keluarga Rusia yang punya keinginan berbeda. Ketika sang anak ingin maju ke garda terdepan revolusi, sang bapak ingin agar ia tinggal di kampung halaman untuk mengurus peternakan miliknya.

Saya mengingat lagu ini setiap kali mengikuti pemberitaan tentang anak-anak muda yang bersinar di atas lapangan sepak bola, termasuk Charles De Ketelaere yang sedang menjadi buruan. Anak muda 21 tahun ini belakangan disandingkan dengan berbagai klub di liga top, mulai dari Leeds United, Leicester City, hingga AC Milan. Bahkan dalam wawancaranya, Divock Origi berkata seandainya Milan berhasil mendapatkannya, itu berarti Milan menggaet pemain yang mampu membuat langkah mereka aman.

Jauh sebelum menjadi incaran klub-klub sepak bola papan atas, De Ketelaere adalah pemain tenis. Ia mengayun raket sejak usia sembilan tahun meski sejak umur tujuh tahun sudah bergabung dengan Club Brugge. Sebagai olahraga, tenis memberinya pelajaran tentang bagaimana caranya bertahan hidup sendirian.

Selama dimainkan dalam nomor tunggal, tenis adalah olahraga individu. Berbeda dengan sepak bola yang dibatasi waktu, tenis betul-betul mematok kemenangan pada skor semata. Jangan heran jika laga tenis bisa dimainkan selama berjam-jam. Ingat cerita laga 11 jam 5 menit John Isner vs Nicolas Mahut di Wimbledon? Itu bukan dongeng, tetapi kisah nyata. Keduanya harus menempuh laga panjang yang begitu menguras tenaga dan menghabiskan waktu tiga hari untuk memperebutkan tiket babak kedua.

Tenis yang dikenal De Ketelaere pun tegas dan kejam. Ia sanggup menelanjangi kesalahan-kesalahan atletnya dalam satu laga. Meski pada akhirnya De Ketelaere memilih sepak bola, tenis memberinya pelajaran penting yang membuatnya tak rapuh di tengah-tengah gempuran tuntutan sebagai atlet profesional.

Barangkali, "kesendirian" pemain tenis tunggal pula yang berperan besar membentuknya menjadi pemain yang tak egois. Ia tahu persis rasanya bertarung sendirian. Ia paham betul merebut kemenangan tanpa kawan. Maka dari itu, ketika mendapat kawan di sepak bola, ia tak lagi bermain untuk diri sendiri, melainkan timnya.

Delapan belas gol dan 10 assist di 49 laga seluruh kompetisi membuat De Ketelaere menarik perhatian. Akan tetapi, angka-angla tersebut tak serta-merta menunjukkannya sebagai penyerang tengah yang melulu memikirkan cara mencetak gol. Dalam analisisnya di The Athletic, Rob Tanner dan Phil Hay menjelaskan bahwa De Ketelaere dapat diandalkan dalam urusan menciptakan peluang bagi kawan-kawannya. Ia bisa berlari menembus kepungan tiga hingga empat pemain bertahan lawan, lalu membuat tusukan ke dalam kotak penalti.

Sebagai pemain muda, De Ketelaere sering dicoba untuk dimainkan dalam berbagai posisi. Di lini depan, ia pernah bermain di seluruh posisi, mulai dari kiri, tengah, hingga kanan. Meski demikian, ada sejumlah pendapat yang menyebut bahwa posisi terbaiknya adalah di nomor 8 dan nomor 10.

Dia juga sering bermain di kiri. Saat melawan RB Leipzig di Liga Champions misalnya. Ia membuat gol dengan menggunakan kecepatannya untuk mencapai byline dan menarik bola kembali ke Hans Vanaken, tanpa kehilangan pemosisian yang matang.

Sebagai salah satu klub yang mengincarnya, Milan menganggap De Ketelaere sebagai pemain yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan tim sekaligus. Pada dasarnya, Milan memerlukan upgrade di posisi sayap kanan dan nomor 10 karena Stefano Pioli acap menggunakan formasi 4-2-3-1.

Kabar baiknya, bersama Club de Brugge fasih memainkan dua posisi tersebut. Dengan kaki kiri sebagai yang terkuat dan keserbabisaannya, De Ketelaere bisa-bisa saja dijadikan Milan sebagai inside forward, terutama karena tim ini memang harus memperbaiki sisi kanan. Toh, inside forward akan lebih maksimal ketika dimainkan di sisi yang berbeda dari kaki terkuatnya. Jangan lupa bahwa inside forward adalah istilah untuk penyerang sayap bertipe inverted yang lebih menyerang.

Ketika menguasai bola, De Ketelaere diprediksi dapat menggunakan kebebasannya dengan matang. Ia memang bisa berlari kencang, mengelabui lawan, mengirim umpan silang, melakukan cut inside ke kotak penalti, maupun menendang dari jauh. Akan tetapi, seluruh kebebasan itu diberikan agar De Ketelaere dapat menjadi penopang yang kokoh bagi kawan-kawannya. Atas segala kehebatan yang sudah diperlihatkannya, memang tidak mengherankan jika nama De Ketelaere mulai gemerlap.

****

Potensi adalah satu hal, ekspektasi adalah hal lain. Itu pula yang menjadi perkara paling menyebalkan dalam setiap pemberitaan tentang De Ketelaere.

Meski bukan lagu duet, Father and Son terdiri dari karakter bapak dan anak. Waktu Cat Stevens menyanyikan bagian bapak, ia terdengar bijaksana dan nyaris tanpa gempuran emosi. Segalanya terasa berbeda ketika ia menyanyikan bagian anak. Emosinya menggebu-gebu. Ia menghentak dan membentak.

Di ranah sepak bola Eropa, De Ketelaere adalah seorang anak. Ia serupa kita yang mendapat lambaian tangan penuh harap dari orang tua saat pertama kali merantau atau magang di perusahaan ternama.

Saya juga begitu yakin bahwa De Ketelaera paya kelewat yakin bahwa De Ketelaere juga paham dengan hal ini. Dia sadar betul bahwa di dalam setiap peluang menjanjikan yang diterimanya tersimpan tanggung jawab dan tantangan yang sudah pasti tak mudah. Beban itu tak lagi sekadar gol yang harus ia cetak, tetapi ekspektasi dari segenap pencinta sepak bola dan suporter klub apa pun yang dipilihnya nanti.

Sepak bola seringkali menjadi tanah yang kejam bagi para pemain muda. Meski ada banyak yang bertahan, ada pula anak muda dengan segala macam potensi luar biasa yang pada akhirnya kandas karena tak sanggup menanggung ekspektasi.

Fakta bahwa De Ketelaere diinginkan oleh klub-klub liga top memang penanda yang menjanjikan. Namun, kalaupun pada akhirnya ia tak langsung bermain reguler atau malah harus malang-melintang ke klub yang lebih kecil, jangan buru-buru mengecapnya sebagai pemberi harapan palsu. Jangan-jangan, memang langkah itulah yang dibutuhkan pemain muda sepertinya untuk matang di lapangan hijau.

“How can I try to explain, cause when I do, he turns away again. It's always been the same, same old story. From the moment I could talk I was ordered to listen.”

Itu adalah bagian paling menyedihkan dari lagu Father and Son. Di sana terdapat amarah dan kekecewaan yang sialnya, tak tersampaikan secara langsung.

Lewat sepak terjang dan pencapaiannya sebagai pesepak bola muda Eropa, De Ketelaere sedang ada dalam momen-momen awal saat ia dapat berbicara. Ia berbicara lewat gol dan assist-nya. Ia berkata-kata dengan keberhasilannya menembus pertahanan lawan dan sejumlah pengakuan internasional.

Ada beban tak ringan yang ditanggung pesepak bola, terlebih ketika dia ada di tempat yang kurang beruntung. Jika De Ketelaere menjadi pemain Milan, misalnya. Benar bahwa tim ini baru saja juara. Namun, Milan adalah tim yang menjadi juara setelah terpuruk begitu lama. Para pemain yang datang ke tempat ini akan diberi beban untuk membuktikan bahwa gelar juara yang didapat Milan kemarin bukan kebetulan. Anak-anak muda yang menjadi tulang punggung Milan harus bisa menjadi penghiburan bagi orang-orang kalut dan penerang bagi mereka yang berjalan dalam gelap.

Menjadi anak-anak muda kuat adalah keharusan. Namun, memaksakan mereka untuk sampai di titik kekuatan yang sebenarnya belum diraih secara alami sama dengan memberikan beban yang tak perlu. Sialnya, beban-beban tak perlu inilah yang begitu sering menenggelamkan performa pemain muda.

Saya tak tahu apa-apa tentang karier di ranah sepak bola. Namun, saya tak mau De Ketelaere menjadi anak laki-laki yang menyanyikan bagian tadi. Saya berharap gocekannya tetap ringan dan tendangannya tetap kencang. Saya berharap pundaknya tak lekas ringkih karena menanggung beban ekspektasi yang kelewat berat. Lewat perjalanannya sebagai pesepak bola, saya berharap De Ketelaere pada saatnya nanti bisa menjadi sosok bapak yang digambarkan Cat Stevens di lagu tadi: Look at me, I'm old but I'm happy.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now