Jangan Ganggu Alexander-Arnold

Foto: LFC.

Tidak ada alasan lagi buat memainkan Trent Alexander-Arnold di posisi tengah. Sebagaimana Klopp bilang, full-back kanan terbaik harus bermain di posisinya.

Pada jeda internasional pekan lalu, Trent Alexander-Arnold muncul jadi salah satu topik pembicaraan. Musababnya, ia dimainkan oleh Gareth Southgate di Timnas Inggris sebagai gelandang tengah alih-alih full-back kanan sebagaimana biasanya.

Dari situ, muncul perdebatan soal posisi terbaik untuk Alexander-Arnold: Apakah tetap sebagai full-back kanan atau beralih jadi gelandang tengah?

Gary Lineker, legenda Timnas Inggris, sih, menyebutnya harus bermain sebagai gelandang. Seperti Philipp Lahm dan Joshua Kimmich di Timnas Jerman. Southgate lalu mengatakan perlu melihat pemain berusia 22 tahun itu bermain di posisi lebih ke depan (dalam hal ini gelandang tengah).

Namun, pelatihnya di Liverpool, Juergen Klopp, menolak sepakat. Buatnya, Alexander-Arnold adalah seorang full-back kanan terbaik di dunia dan karena itu tak ada alasan untuk memindahkannya ke posisi manapun.

Legenda Liverpool, Jamie Carragher, setuju dengan Klopp. Ia mengatakan bahwa posisi terbaik Alexander-Arnold memang sebagai full-back kanan. Lagi pula, dari posisi itulah assist demi assist bermunculan. Tak ada yang perlu diubah.

Bila melihat performa dan statistik Alexander-Arnold, komentar Klopp dan Carragher memang tepat. Sang pemain justru bisa mengerahkan seluruh kemampuannya ketika bermain sebagai full-back. Ruang gerak tak terbatas, dia bisa melakukan eksplorasi.

Dan daripada berlarut-larut dengan perdebatan ini, mari kita bahas saja.

***

Perubahan yang dilakukan Klopp terhadap Alexander-Arnold pada awal musim ini adalah bukti bahwa ide memindahkannya ke posisi gelandang jadi tak masuk akal. Kenapa? Karena itu bisa mempersempit ruang geraknya.

Awal musim ini, Alexander-Arnold diberi kebebasan oleh Klopp. Ia tak hanya diperbolehkan menyisir flank, tapi juga dipersilakan untuk mengokupasi half-space. Pemain asli Liverpool itu juga diberi peran sebagai inverted full-back. Kita bisa melihat ini dari peta sentuhannya di laga terakhir vs Leeds akhir pekan lalu.

Liverpool menyerang ke arah kiri. Grafis: WhoScored

Kebebasan itu lantas membuat Alexander-Arnold punya ruang bermain yang semakin luas. Posisinya untuk melepaskan umpan kepada pemain lain menjadi lebih bervariasi, tak melulu dari sisi tepi. Makanya tak usah heran kalau hingga pekan keempat ini, ia jadi pemain dengan jumlah umpan kunci terbanyak di Premier League.

Total sudah 19 umpan kunci yang keluar dari kaki Alexander-Arnold dan dari situ ia juga sudah melepas dua assist. Selain itu, ada 17 umpan darinya yang berkontribusi terhadap peluang Liverpool. Untuk ukuran full-back, angka ini luar biasa. Alexander-Arnold sungguh sangat kreatif.

Dua assist yang sudah ia ciptakan kebetulan juga tercipta di dua area bermainnya saat ini: Satu di flank dan satu di half-space. Untuk yang di flank, ini terjadi di laga vs Leeds. Tipikal assist Alexander Arnold: Umpan datar, yang kencang dan akurat, ke depan gawang lawan.

Assist kedua, yakni yang tercipta di laga versus Burnley, terjadi di area half-space. Alexander-Arnold inisiatif untuk masuk ke dalam setelah menerima umpan dari Harvey Elliott yang berada di sisi flank. Dengan cerdik kemudian ia melepas umpan ke Sadio Mane.

Omong-omong soal Elliott, kehadirannya memang jadi salah satu penyebab bebasnya ruang bermain Alexander-Arnold. Ini karena pemain berusia 18 tahun itu paham kapan harus tetap berada di tengah sebagai gelandang dan kapan harus melebar ke flank untuk membuka ruang buat Alexander-Arnold.

Nah, dengan cederanya Elliott, Klopp juga harus menemukan sosok lain yang bisa bertukar posisi dengan Alexander-Arnold. Dilihat dari skuad sekarang, yang paling memungkinkan, sih, Jordan Henderson. Kebetulan di laga vs Leeds dan pada musim 2019/20 ia juga bermain di posisi gelandang tengah kanan.

Jika Klopp tetap berhasil menyediakan sosok yang mampu bertukar posisi dan menyediakan keleluasaan buat Alexander-Arnold, Liverpool tak perlu khawatir soal kreativitas karena pemain paling kreatif dalam tim akan tetap mencerlang.

Sebab Alexander-Arnold merupakan sosok playmaker di tim dan, karena itu, kreasinya jangan dibatasi hanya sekadar di satu ruang saja. Semakin banyak tempat baginya untuk menciptakan peluang, semakin banyak juga gol yang bakal tercipta.

Terlebih ini juga bisa membuat Liverpool punya 5-6 pemain di lini paling depan ketika sudah masuk area pertahanan lawan. Semakin banyak opsi, semakin berbahaya juga serangan sebuah tim. Tak heran kalau angka harapan peluang (xG) Liverpool musim ini menyentuh angka 11,7. Tertinggi di Premier League.

Namun, bila Alexander-Arnold dimainkan sebagai gelandang, itu justru akan menahan kreativitasnya. Kenapa? Karena ia akan sulit berkontribusi di sepertiga akhir area lawan. Peta sentuhan di 45 menit pertama vs Andorra (laga di mana ia main di tengah) bisa dijadikan contoh.

Grafis: Sky Sports

Pada 45 menit pertama itu, tak ada satu pun umpan kunci yang ia lepaskan. Justru, ketika pada babak kedua Alexander-Arnold dipindahkan kembali ke posisi full-back, lahir dua umpan kunci dari kakinya. Inilah mengapa ide untuk memindahkannya jadi pemain tengah terdengar buruk.

Mungkin banyak yang menilai memindahkan Alexander-Arnold ke tengah bisa membuatnya tak terbebani aspek bertahan yang tinggi, seperti saat jadi full-back. Namun, pemain bernomor punggung 66 ini terlihat memperbaiki aspek bertahannya musim ini.

Dari data per 90 menit yang kami himpun viaFbref, angka tekel+intersep Alexander-Arnold menyentuh 4,25. Angka tersebut jadi yang terbaik jika kita bandingkan dengan musim lalu, musim 2019/20, dan musim 2018/19. Dalam wawancara dengan Simon Hughes di The Athletic, ia juga mengaku menambah fokus latihan dalam hal bertahan.

Soal bertahan ini juga berpengaruh dengan pertukaran posisi yang disebutkan di atas. Ketika Alexander-Arnold masuk ke area half-space, gelandang seperti Elliott yang geser posisi ke flank akan dibebankan tugas untuk track-back guna menambal posisi yang ditinggalkan Alexander-Arnold.

Grafis: The Athletic

So, tidak ada alasan lagi buat tidak memainkan Trent Alexander-Arnold di posisi tengah. Sebab, dalam aspek menyerang, ia akan sangat berbahaya jika dimainkan sebagai full-back. Dan untuk urusan bertahan pun masalah tak sebesar musim lalu.

Jika memang tak ada sesuatu yang mendesak, sebaiknya dia harus tetap bermain sebagai full-back kanan. Karena di situlah potensi terbaiknya akan keluar. Dan sebagaimana di katakan Klopp, full-back kanan terbaik harus tetap bermain di posisinya.

Jadi, buat orang-orang yang masih saja percaya bahwa pemain ini harus bermain sebagai gelandang, saya mau bilang satu hal: Tolong jangan ganggu-ganggu Alexander-Arnold.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.