Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Jangan Iri Dengki, PSV

Para pemain dan staf PSV ketika merayakan salah satu kemenangan mereka di Eredivisie musim ini. Foto: Twitter @PSV.

De Topper akhir pekan ini menjadi simbol perlawanan PSV Eindhoven terhadap hegemoni Ajax Amsterdam di dalam dan luar lapangan.

Salah satu pertandingan besar liga-liga Eropa yang tersaji akhir pekan ini akan digelar di Johan Cruyff Arena. PSV Eindhoven siap menantang Ajax Amsterdam dalam lanjutan Eredivisie Belanda, Minggu (24/10), berbekal riwayat bagus mengalahkan mereka di tempat yang sama di ajang Johan Cruijff Schaal, awal Agustus lalu.

PSV memang lebih siap saat itu. Mereka memulai musim lebih awal karena harus menjalani babak kualifikasi Liga Champions sejak akhir Juli. Tingkat kebugaran pertandingan (match fitness) mereka pun otomatis lebih baik daripada Ajax, yang beberapa pemainnya masih pengar usai mengikuti Euro maupun Copa America.

Pemain berdarah Nigeria kelahiran Inggris, Chukwunonso “Noni” Tristan Madueke, menjadi bintang pertandingan dengan melesakkan dua gol menawan. Si kidal yang beroperasi di sayap kanan itu berkali-kali merepotkan Nico Tagliafico. Gol-golnya lahir berkat kombinasi serbuan kilat dan keterampilan individual mumpuni. Saking kalutnya, Tagliafico mendapat kartu merah sebelum jeda. Ajax pun bermain pincang hanya dengan sepuluh pemain. Akibatnya, PSV menambah dua gol lagi pada babak kedua melalui Yorbe Vertessen dan Mario Goetze.

Mari melompat 11 pekan berselang. Hari ini, penampilan Madueke tak ubahnya merefleksikan penampilan tim secara keseluruhan. Bersinar selama pekan-pekan awal, tetapi mulai kehabisan akal. Minim dimensi permainan dan gampang ditebak. Triknya itu-itu saja. Terlalu berambisi melewati lawan dengan step-over yang rumit ketimbang memanfaatkan sokongan rekan setim. Atau bergerak memotong (cut-in) ala Arjen Robben untuk mencuri kesempatan melepas tembakan.

Kamis lalu, PSV kalah 1-2 dari AS Monaco pada perhelatan Liga Europa di kandang sendiri. Mereka terkejut dengan perubahan formasi Monaco yang menerapkan formasi tiga bek tengah. Monaco sukses menyerupai taktik Benfica saat menyingkirkan PSV pada babak play-off Liga Champions, yaitu memperketat pertahanan.

Untuk bergerak menyerang, PSV terlalu berorientasi pada sektor sayap, yaitu Madueke dan Cody Gakpo; serta dua full-back, Phillipp Mwene dan Philipp Max. Menyamping, menyamping, dan terus menyamping. Ketika bola bergerak melebar, dengan mudah pemain lawan sudah mengisi celah pertahanan mereka. Para pemain PSV kehilangan ruang dan waktu sehingga kreativitas gelandang seperti Gotze mubazir.

Pelatih Roger Schmidt berulang kali mengakui, PSV tampak kesulitan mencetak gol yang sederhana. Mereka kesulitan mencetak gol dengan cepat dan mudah. Hal itu tampak dalam beberapa kali penampilan di Eredivisie, seperti saat kelabakan melawan Go Ahead Eagles, Sparta Rotterdam, dan PEC Zwolle. PSV membutuhkan lebih dari 80 menit untuk mencetak gol-gol kemenangan pada semua pertandingan itu.

Situasi kian tidak berpihak bagi Schmidt. Madueke mengalami cedera otot dalam pertandingan melawan Monaco dan dipastikan absen melawan Ajax nanti. Pada pertandingan yang sama, Gakpo mengalami masalah engkel. Setelah menjalani pemeriksaan medis, pemain Timnas Belanda itu mesti beristirahat tiga atau empat pekan lamanya. Kehilangan Gakpo adalah kerugian besar bagi Schmidt.

Cody Gakpo, andalan PSV musim ini. Foto: Twitter @PSV.

Gakpo belum pernah absen dalam 19 pertandingan yang sudah dijalani PSV musim ini. Dia mampu menyumbang tiga gol dan tujuh assist. Itu merupakan jumlah kontribusi gol terbanyak di antara skuad PSV. Bahkan, mengintip data yang dikumpulkan WhoScored, Gakpo memimpin berbagai rasio statistik per laga; yaitu jumlah tembakan (3,2), dribel (2,8), umpan silang (2,2), dan umpan kunci (2,9).

Sudah tanpa mesin utamanya, PSV harus menghadapi tim yang moralnya sedang terbang tinggi. Ajax tampil meyakinkan pada pertandingan Liga Champions tengah pekan. Borussia Dortmund seperti diajari sepakbola dan dihantam 4-0. Usai pertandingan, ketika ditanya wartawan tentang skor telak itu, pelatih Dortmund Marco Rose menanggapi singkat, “Scheiße!”. Shit.

Kalau tak mampu menemukan solusi, bisa-bisa Schmidt nanti melontarkan umpatan bahasa Jerman yang lebih kasar. Sang pelatih menegaskan tidak mencari solusi dengan mengubah pendekatan cara bermain. Kemenangan atas Ajax saat Johan Cruijff Schaal adalah berkat serangan balik dan bermain cerdas, tapi bagi Schmidt, penampilan melawan Monaco secara taktik justru lebih baik. “Bermain pasif bukan solusi,” tukasnya.

PSV membutuhkan kemenangan untuk merebut puncak klasemen Eredivisie. Saat ini, mereka berjarak hanya satu poin dari Ajax. Persaingan gelar landskampioen musim ini boleh jadi adalah pacuan antara PSV dan Ajax. Di bawah mereka, peringkat ketiga dan keempat yang ditempati FC Utrecht dan Willem II, tertinggal lima dan empat poin. Feyenoord Rotterdam mungkin menyimpan ancaman, tapi terdampar di peringkat lima dengan menyimpan satu laga tunda. Sementara itu, AZ Alkmaar sedang dalam periode transisi usai penjualan sejumlah besar pemain andalan.

Sukses di kompetisi domestik merupakan salah satu target PSV sejak menjuarai Eredivisie untuk kali terakhir musim 2017/18. Itu terjadi persis satu musim setelah PSV mulai berdikari meninggalkan ketergantungan sokongan dana dari perusahaan elektronik ternama, Philips. Sejak musim 2016/17, jenama Philips tidak lagi terpampang sebagai sponsor utama jersey. Artinya, klub bebas mencari sponsor baru yang bisa menjamin pemasukan untuk menjawab tuntutan sepakbola modern seperti anggaran transfer atau gaji pemain.

Landskampioen 2017/18 seakan menjadi awal era PSV yang cerah, tapi pada saat bersamaan Ajax mulai menemukan ramuan yang pas dalam menggapai visi revolusi beludru Johan Cruyff. Dalam kolomnya di De Telegraaf, September 2010, Cruyff menulis, “Ini bukan Ajax yang saya kenal”. Sang legenda mencetuskan agar Ajax kembali meraih kejayaan di Eropa seperti era 1970-an. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan berliku, Ajax mulai mewujudkannya. Mereka menembus final Liga Europa 2016/17 dan semi-final Liga Champions 2018/19. Ditambah pula dengan dua gelar Eredivisie 2018/19 dan 2020/21.

Barangkali sukses terbesar Ajax yang paling membuat iri tim Eredivisie lain justru terletak di luar lapangan. Ketika dampak pandemi COVID-19 menghantam seluruh Eropa, kas Ajax masih relatif stabil. Klub mengumumkan kerugian €12 juta selama 2019/20, tapi jumlah itu relatif tak seberapa jika dibandingkan dengan merahnya neraca klub-klub besar Eropa lain. Stabilitas Ajax terletak pada kemampuan mereka menjaga penampilan Eropa serta kebijakan transfer pemain. Model bisnis Ajax menjadi salah satu acuan pengelolaan klub lain, tak terkecuali PSV.

Pekan lalu, PSV mengumumkan kerugian sebesar €23 juta. Salah satu yang menyebabkan laporan keuangan defisit adalah transfer Donyell Malen, Denzel Dumfries, Pablo Rosario, dan Mohamed Ihattaren yang dilakukan di luar kalender finansial 2020/21. Menurut general manager Toon Gerbrands, kondisi finansial yang sehat diperlukan dalam mendukung ambisi PSV meraih sukses domestik dan Eropa. Meski ditambahkan juga olehnya, gap finansial dengan Ajax masih terlampau lebar.

Ketika Ajax dipastikan meraup €50 juta hanya dari tiga matchday Liga Champions yang sudah dijalani, tentu saja PSV harus kembali ke kompetisi itu secepat mungkin. Itulah kenapa kekalahan dari Benfica di play-off musim ini begitu memukul. Tidak hanya menutupi pintu pemasukan, tetapi juga menunda ambisi PSV untuk bersaing dengan Ajax.

Kabar baiknya, jika para tim Belanda memelihara konsistensi penampilan di kompetisi antarklub Eropa musim ini, terbuka kemungkinan dua wakil Eredivisie lolos otomatis ke fase grup Liga Champions mulai musim 2023/24.

Tetap saja, PSV harus menolong diri mereka sendiri. Toh, mereka menjadi satu-satunya tim Belanda yang gagal merebut kemenangan pada matchday antarklub Eropa pekan ini. Pertemuan dengan Ajax dilabeli “De Topper”, secara harfiah berarti pertandingan puncak. Sayangnya, PSV belum pada kondisi yang bisa dibilang siap untuk meladeni label pertandingan sementereng itu.

Ayo, PSV, temukan solusi!

=====

*Agung Harsya, biasa mencuit sepak bola Belanda di @agungharsya

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now