Jangan Mengabaikan Mane

Foto: LFC

Mo Salah memang jadi kunci di balik mengerikannya lini depan Liverpool musim ini. Namun, kita tak boleh lupa bahwa, soal aspek ofensif, catatan Mane musim ini juga membaik.

Mohamed Salah begitu luar biasa musim ini. Di ajang Premier League, ia sudah menetak 10 gol dan lima assist dalam sembilan pertandingan. Itu berarti, Salah telah berkontribusi di lebih dari setengah gol Liverpool di Premier League (27). Karenanya, ketika berbicara tentang lini depan Liverpool, sorotan langsung akan diberikan kepada Salah.

Itu tentu tidak salah. Akan tetapi, karena kita lebih fokus kepada Salah, kita melewatkan satu hal: Bahwa Sadio Mane membaik musim ini.

Mane, sejauh musim ini berjalan, sudah mencetak lima gol di Premier League. Jumlah itu hampir setengah dari jumlah gol yang ia cetak musim lalu (11). Perlu dicatat, bahwa musim ini Mane mencetak lima gol hanya dalam delapan penampilan sebagai pemain utama. Sementara, di musim lalu, Mane mencetak 11 gol dari 31 penampilan sebagai pemain inti.

Yang menarik, jika kita melihat catatan gol per tembakan tepat sasaran, angka yang diciptakan Mane juga meningkat. Musim ini, dari 10 tembakan tepat sasaran, ia mampu menciptakan lima gol. Itu artinya, persentase kesuksesan tembakan tepat sasaran Mane berada di angka 50%.

Di musim lalu, dari 35 tembakan tepat sasaran, hanya 11 yang jadi gol. Persentase suksesnya hanya 31%. Pun jika kita melihat angka harapan gol (xG) yang ia catatkan musim ini. Angka Mane, lagi-lagi, meningkat. Di musim ini xG per 90 menitnya ada di angka 0,72, sedangkan musim lalu hanya ada di angka 0,49.

Mane, musim ini, lebih klinis. Peluang yang ia dapatkan pun begitu berkualitas. Lantas, apa saja yang membuat Mane membaik musim ini?

Yang pertama adalah karena Liverpool meningkatkan intensitas permainannya musim ini. Dengan kembalinya para pilar di lini belakang, Juergen Klopp kembali percaya diri untuk membuat timnya bermain cepat dan penuh pressing. Soal Mane, kuncinya ada di yang pertama: Main cepat.

Berdasarkan data yang dihimpun Opta, satu rangkaian serangan Liverpool musim ini hanya membutuhkan waktu rerata 10,95 detik. Sementara di musim lalu, Liverpool membutuhkan waktu 11,46 detik per satu rangkaian serangan. Nah, perubahan ini mampu "memanjakan" Mane.

Dengan situasi main lebih cepat, Mane bisa mendapatkan momen di mana ia tak dikawal banyak pemain lawan. Kita tahu bahwa Mane andal soal urusan melewati lawan dan, jika yang harus ia hadapi hanya satu, itu akan membuatnya mudah meloloskan diri untuk berada di situasi nyaman untuk menembak.

Mane menggeser posisi ke tengah untuk lepas dari kawalan lawan. Foto: Youtube Liverpool

Tak cuma itu, cepatnya rangkaian serangan Liverpool musim ini juga membuat Mane acap berada dalam posisi unggul lari/langkah dari lawannya. Dengan kecepatan yang ia miliki, akan mudah bagi Mane untuk tak terkejar dan mendapatkan situasi menembak dengan cukup bebas.

Mane sudah unggul lari atas pemain lawan. Foto: Youtube Liverpool

Musim ini, angka sentuhan per tembakan Mane juga menurun musim lalu. Jika musim lalu Mane melakukan satu tembakan per 18,5 sentuhan, musim ini ia melepaskan satu tembakan per 13 sentuhan. Artinya, serangan cepat Liverpool memang memberikan kemudahan buat para pemain depannya untuk lebih "mudah" dalam menembak.

Dan itu tak cuma berlaku buat Mane saja. Salah pun merasakan hal yang sama. Musim ini, pemain berpaspor Mesir itu menembak satu kali per 13,6 sentuhan, dibanding 15,3 sentuhan musim lalu. Jota pun demikian. Ia melepaskan satu tembakan per 13,1 sentuhan musim ini, berbanding 14,8 musim lalu.

Hal kedua yang membuat Mane membaik adalah keputusan Klopp untuk memberikan ruang yang luas buat Mane. Di musim ini, Mane diberi keleluasaan untuk bertukar posisi dengan penyerang tengah. Ini membuat Mane tak melulu berada di sebelah kiri, tapi juga bisa menempatkan diri di tengah kotak penalti.

Mane bertukar posisi dengan Jota. Foto: Youtube Liverpool

Hal ini sebenarnya sudah terlihat sejak musim lalu, kami pun sempat mengkritik itu dan menilainya sebagai salah satu penyebab menurunnya produktivitas Mane. Dan itu benar. Yang membuatnya berbeda adalah kepintaran Mane dalam menemukan ruang dan, lagi-lagi, permainan cepat Liverpool.

Jika musim lalu Mane acap berada di tengah dan dikerubungi lawan--sehingga membuatnya menembak di posisi sulit, pada musim ini Mane bisa menempatkan diri di tengah kotak penalti, tetapi tetap berada dalam posisi tak terkawal. Ia juga acap bergerak secara tiba-tiba untuk melakukannya, dan itu bikin lawan bingung.

Mane tak terkawal di kotak penalti. Foto: Youtube Liverpool

Hal-hal di atas pada akhirnya memang membuat Mane membaik. Membuat Mane mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk menembak, terutama di dalam kotak penalti lawan. Musim ini, ia menembak 3,2 kali per 90 menit di kotak penalti lawan, sedangkan musim lalu ia hanya menembak 2,9 kali per 90 menit di area yang sama.

Dan musim ini, secara keseluruhan, Mane juga bisa menyelesaikan peluangnya dengan lebih baik. Ia tak buang-buang banyak peluang. Dari angka harapan gol (xG) 5,9, Mane bisa mencetak lima gol musim ini. Pada musim lalu, dari xG sebesar 15,2, pemain asal Senegal ini cuma bisa mencetak 11 gol.

Namun, Mane bukannya tanpa penurunan musim ini. Soal aspek ofensif ia memang lebih meledak, tapi jika berbicara aspek defensif, Mane musim ini tak lebih baik dari musim lalu. Tentu saja, yang pertama adalah soal pressing, mengingat ini adalah aspek penting buat pemain depan Liverpool.

Di musim ini, intensitas pressing Mane menurun. Jika musim lalu ia mencatatkan rerata 15 pressing per 90 menit, musim ini hanya ada 11 pressing per 90 menit yang ia catat. Itulah mengapa, ketika menghadapi Manchester United--yang mudah disorganisasi dan kesulitan melancarkan build-up ketika di-pressing, Klopp memilih mencadangkan Mane.

Sebab, di antara Salah, Jota, atau Firmino, angka pressing Mane adalah yang paling minim. Bila tak lebih rajin dalam melancarkan pressing, bisa saja Mane kembali dicadangkan ketika menghadapi lawan yang mudah dieksploitasi--seperti Manchester United.

Klopp tentu pengin para pemain depannya lebih aktif. Karena, secara keseluruhan pun, Liverpool musim ini melakukan pressing secara intens di sepertiga akhir area lawan. Sejauh ini The Reds mencatatkan rerata 41 pressing per 90 menit di area itu. Angka itu jadi yang tertinggi ketiga di liga.

Selain itu, angka tekel+intersep yang dicatatkan Mane per 90 menit juga menurun jauh musim ini. Sepanjang 9 pertandingan di Premier League, ia cuma mencatatkan 1,59. Sementara, di musim lalu, ia bisa mencatatkan 1,83 tekel+intersep. Ini berarti, keagresifan Mane dalam bertahan memang menurun musim ini.

Well, musim memang masih panjang. Namun, bila Mane berhasil memperbaiki aspek defensifnya, ia bisa semakin paripurna musim ini. Tentu saja juga dengan mempertahankan konsistensi dalam urusan menyerang seperti apa yang sudah ia lakukan sejauh ini.

Sebab, dalam misi untuk bisa kembali meraih prestasi musim ini, Liverpool tak bisa bergantung pada Salah saja. Mereka juga membutuhkan Mane. Tentu saja, kalau urusan menyerang, bukan Mane yang kita lihat musim lalu, tetapi Mane yang kita lihat awal musim ini atau Mane yang cemerlang di dua atau tiga musim terakhir. Dan untuk urusan bertahan, kita perlu melihat Mane melampau catatannya musim lalu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.