Jangan Tinggi-tinggi, Klopp!

Foto: @LFC.

Garis pertahanan tinggi kerap jadi masalah Liverpool musim ini. Mereka kebobolan banyak gol karena hal tersebut. Menengok laga vs Leipzig tengah pekan lalu, sudah saatnya Klopp melakukan perubahan.

"Speed. Speed. Speed. Speed against the highline."

Thomas Tuchel melontarkan empat kata 'speed' dalam konferensi pers pra-laga melawan Liverpool awal Maret lalu. Empat kata itu menegaskan betapa pentingnya memiliki kecepatan untuk menghadapi tim seperti Liverpool.

Sebagai pengejawantahan dari omongannya, Tuchel menunjuk Timo Werner jadi pemain terdepan dalam formasi 3-4-2-1 malam itu. Tuchel tahu striker berpaspor Jerman itu punya kecepatan yang luar biasa untuk bisa menghukum Liverpool.

Werner pada akhirnya memang tak mencetak gol--golnya dianulir wasit karena offside. Namun, beberapa kali dia mampu memberikan ancaman untuk lini belakang Liverpool. Pergerakannya membuat duet Fabinho dan Ozan kabak kesulitan.

Proses sebelum gol offside Werner. Foto: Youtube Liverpool

Gol satu-satunya Chelsea pada laga itu, yang dicetak Mason Mount, juga hadir berkat kejelian memanfaatkan Chelsea memanfaatkan kecepatan. Mount berhasil menghukum garis pertahanan tinggi Liverpool lewat aksi menawan yang kemudian diselesaikan dengan tendangan terukur.

***

Liverpool adalah tim yang selalu menggunakan garis pertahanan tinggi. Juergen Klopp, sang manajer, seperti terlihat tak punya pilihan lain. Dari pekan ke pekan, selalu saja begitu. Dan dari pekan ke pekan pula, Liverpool banyak mendapatkan kesulitan berkat hal tersebut.

Laga melawan Chelsea di atas jadi salah satu contohnya. Liverpool kalah dan satu-satunya bola yang masuk ke gawang mereka tercipta karena lawan mampu memanfaatkan garis pertahanan tinggi itu.

Situasi ini sebenarnya sudah dihadapi Liverpool sejak partai pertama Premier League musim ini menghadapi Leeds. Silakan tonton ulang laga yang berakhir 4-3 untuk kemenangan The Reds itu, dan Anda akan lihat betapa garis pertahanan tinggi sangat menyulitkan mereka.

Namun, Juergen Klopp belum mau belajar.

Ketika kemudian mereka dihajar oleh Aston Villa dengan skor telak 2-7, garis pertahanan tinggi jugalah yang jadi biang keladinya. Kegagalan dalam menerapkan offside di situasi tersebut membuat Jack Grealish, Ollie Watkins, dan Ross Barkley dengan mudahnya meluluhlantakkan pertahanan Liverpool.

Saat Virgil van Dijk, orang yang jadi alasan kenapa Klopp menerapkan garis pertahanan tinggi, menderita cedera parah, Klopp juga tak mengganti plannya. Tentu saja itu bukan pilihan yang bijak. Garis pertahanan tinggi makin menyulitkan Liverpool.

Begini, ketika memiliki Van Dijk di lini belakang, Liverpool punya sosok bek yang bisa mengover ruang di lini belakang. Van Dijk punya kecepatan, pintar membaca permainan, dan tahu betul cara menghentikan lawan. Dia memang garansi aman dari sistem ini.

Namun, ketika dengan kehadiran Van Dijk saja pertahanan Liverpool sudah mulai bisa dieksploitasi, lawan sudah mulai menemuhkan celahnya, kenapa Klopp masih kekeh untuk tetap memasang garis pertahanan tinggi? Itu sebuah bunuh diri, bukan?

Nyatanya Liverpool kemudian hadir sebagai tim yang paling banyak menghadapi umpan terobosan di Premier League musim ini. Pun, berdasarkan WhoScored, Liverpool jadi tim salah satu tim yang paling sering menghadapi umpan lambung direct. Mereka rata-rata menerima 65 tiap laganya.

Foto: @DistanceCovered

Bagi lawan, menghujam Liverpool dengan umpan terobosan atau umpan lambung direct adalah cara yang ideal. Mereka tinggal melepaskan banyak umpan ke lini pertahanan Liverpool yang tinggi itu dan gunakan pemain depan yang cepat untuk menerima bola. Niscaya itu akan berhasil.

Buktinya sudah banyak. Jose Mourinho melakukannya saat bertandang ke Anfield dan hasilnya Spurs berhasil mencuri satu gol via Son Heung-Min. Kala itu, kecepatan pemain Korea Selatan tersebut mampu membuat Rhys Williams kesulitan.

Atau, tengok saja laga melawan Leicester saat Kabak babak belur. Pada laga itu dia kesulitan bermain dengan garis pertahanan tinggi dan dia terus-terusan harus menghalau umpan terobosan para pemain Leicester sembari mengawal Jamie Vardy juga. Momen blunder Kabak dan Alisson Becker, ya, terjadi karena situasi ini.

Garis pertahanan tinggi sebelum Kabak dan Alisson bertabrakan. Foto: Youtube Leicester

Anda juga boleh menonton ulang laga Derbi Merseyside pada Februari lalu. Dua gol yang bersarang di gawang Alisson seluruhnya bermula dari kecerdikan penggawa Everton memanfaatkan garis pertahanan tinggi Liverpool. Pada gol pertama, umpan terobosan berpadu cantik dengan kecepatan Richarlison.

Proses gol pertama Everton. Foto: Youtube Everton

Pada gol kedua, giliran kecepatan Dominic Calvert-Lewin yang membuat lini pertahanan Liverpool tergopoh-gopoh. Namun, Kabak dan Nat Phillips tak ada yang mampu mengejar dan pada akhirnya Alexander-Arnold melakukan pelanggaran yang berbuah penalti. Liverpool kalah 0-2 pada laga itu.

Proses sebelum gol kedua Everton. Foto: Youtube Everton

Gol-gol yang masuk karena situasi itulah yang kerap kali membuat Liverpool kalah. Padahal, jika saja Klopp mau lebih cepat menurunkan egonya dengan membuat lini pertahanan timnya lebih dalam, bisa saja gol-gol di atas tak bersarang ke gawang mereka.

Terlebih, Phillips dan Kabak bukan Van Dijk yang punya atribut untuk menyelamatkan Liverpool saat berada dalam kondisi terdesak--seperti ketika menerima serangan balik. Kabak kerap mengambil keputusan terlalu cepat, sedangkan Phillips cenderung lambat.

Namun, beruntunglah kalian wahai fan Liverpool. Sebab, dalam laga vs RB Leipzig tengah pekan lalu, Klopp berbenah. Dia menerapkan garis pertahanan rendah pada laga tersebut. Hasilnya, seperti kalian tahu, Liverpool menang 2-0 pada laga tersebut.

Pada laga itu, penempatan posisi dua bek tengah Liverpool lebih mundur ketimbang dalam dua laga sebelumnya, yakni menghadapi Fulham dan Chelsea.  Selain itu, perubahan ini juga ditengarai karena Fabinho sudah kembali mengisi pos nomor 6. Sesuatu yang terakhir kali terjadi empat bulan lalu.

(kiri ke kanan) vs Leipzig, vs Chelsea, vs Fulham. Grafis: WhoScored

Kehadiran Fabinho yang punya daya jelajah dan atribut defensif yang baik di pos nomor 6 memang akan memudahkan Liverpool untuk memundurkan garis pertahanannya. Sebab, ketika lini tengah serta depan melakukan pressing ke pemain belakang dan tengah lawan, dan kemudian muncul ruang di depan lini pertahanan, Fabinho bisa jadi orang yang mengover itu.

Pada laga vs Leipzig, pemain asal Brasil itu mencatatkan 12 ball recoveries (aksi memenangi penguasaan bola kembali). Itu adalah bukti bahwa dia bisa jadi perisai untuk duet Kabak-Phillips yang sangat riskan jika bermain terlalu tinggi.

Kredit: Vidio.com

Lagi pula, garis pertahanan rendah terlihat tak terlalu berpengaruh pada aspek pertahanan. Justru, Liverpool bisa memaksimalkan bola-bola lambung dari lini belakang sebagaimana saat Van Dijk masih main. Hal tersebut bisa membuat para pemain depan punya ruang yang lebih banyak dan kans untuk hanya berhadapan dengan satu atau dua pemain saja jadi tambah besar.

Melihat mandeknya lini serang Liverpool di Premier League, penerapan itu jelas layak jadi opsi. Possesion-based attack yang diterapkan Klopp harus diberi alternatif. Karena ketika kalah penguasaan bola dalam laga vs Leipzig pun, mereka mampu bermain baik.

Premier League, buat Liverpool, masih menyisakan 10 laga lagi. Sementara di Liga Champions, mereka sudah lolos ke perempat final. Tak ada kata terlambat untuk melakukan pembenahan. Siapa tau mereka bisa punya kesempatan untuk menyelinap ke posisi empat, atau membuat kejutan di Liga Champions.

So, kini saatnya untuk bilang: Jangan tinggi-tinggi, Klopp!

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.