Jersi Retro: Di Antara Sejarah dan Gaya

Ilustrasi: Arif Utama.

Bicara jersi, tidak bisa lepas dari gaya dan fashion. Namun, yang menarik adalah belakangan banyak desainer juga memasukkan unsur sejarah ke dalam desain jersi.

Musim 2019/20 mungkin menjadi salah satu yang paling diingat dalam sejarah sepak bola. Tidak hanya soal penundaan berbagai liga karena pandemi COVID-19, tapi juga banyaknya klub besar yang merilis jersi dengan desain retro.

Barcelona, Inter Milan, dan Paris Saint-Germain jadi beberapa di antara klub besar yang merilis jersi dengan gaya retro, entah dari segi desain atau warna. Kebetulan, mereka bekerja sama dengan Nike untuk urusan apparel.

Nike tidak mengeluarkan alasan spesifik mengapa mereka menjadikan retro sebagai desain jersi banyak klub saat itu. Namun, pilihan ini bisa jadi karena semakin tingginya minat orang untuk menggunakan berdesain retro.

Forbes mengungkapkan bahwa kemunculan Sean Wotherspoon di dunia streetwear menjadi sebab mengapa desain retro kian banyak dipilih orang. Tak hanya desain retro, pemilik butik Round Two tersebut juga kerap menjadi sebagai alasan orang berburu apparel di thrift shop.

Di luar tren dunia, terpilihnya retro sebagai desain kostum tim sepak bola juga terkait faktor emosional. Kenyataan tersebut dijelaskan oleh salah satu kolektor jersi bola, Gustavo Radescu. Menurutnya, retro dipilih agar fashion di sepak bola tetap dapat dinikmati oleh pendukung dari berbagai usia.

“Untuk orang dewasa, desain retro akan mengingatkan mereka pada kenangan sepak bola di masa kecilnya. Sementara itu, untuk pecinta sepak bola muda, memakai kostum bergaya retro akan membuat mereka dianggap mengikuti tren,” kata Radescu.

Dari sisi klub, desain retro dipilih karena dapat mengingatkan mereka saat meraih kejayaan di masa lalu. Siapa tahu, dengan menggunakan desain retro, mereka dapat mengulangi hal tersebut di masa kini.

Lantas, siapa saja klub yang berhasil meramu jersi berdesain retro? Kemudian, apa saja filosofi yang melatarbelakangi hal tersebut? Yuk, simak daftar berikut ini.

Barcelona, Jersi Ketiga 2019/20

Foto: Hypebeast.


Dari segi desain dan warna, jersi ketiga Barcelona musim itu mirip dengan kostum away yang mereka gunakan pada musim 1996/97. Mereka sama-sama menggunakan spread collar dan menjadikan teal green sebagai warna utama.

Meski gagal menjuarai La Liga pada akhir musim, tapi 1996/97 menjadi salah satu musim terbaik bagi Barcelona. Sebab, pada tiga kompetisi lain yang diikuti musim tersebut, mereka berhasil menutupnya dengan gelar juara--Copa del Rey, Supercopa de Espana, dan Piala Winners.

Ingatan lain soal musim tersebut adalah kedatangan Ronaldo dari PSV Eindhoven dan kembalinya Hristo Stoichkov, setelah sempat pindah dari Parma. Ronaldo menutup La Liga musim itu dengan status top-skorer setelah mencetak 34 gol dari 37 penampilan.

Inter Milan, Jersi Ketiga 2019/20

Foto: Footballkitnews.


Jersi ketiga Inter Milan 2019/20 terbilang menarik karena menggabungkan dua musim, 1997/98 dan 2009/10. Warna yang cenderung gelap dengan sponsor utama berwarna kuning diambil dari 1997/98. Sementara, elemen garis dan kerah yang berbentuk bulat dari 2009/10.

“Inter memiliki musim yang baik saat itu. Kami coba memadukan desain dan warna yang digunakan oleh Inter saat itu dengan tren streetwear terkini. Kami dan Inter merasa sangat puas dan menilai jersi ini amat dinamis,” kata Pete Hoppins, perwakilan Nike dalam peluncuran jersi tersebut.

Inggris, Jersi Home 2020

Foto: Talksport.


Inggris tampil cukup lumayan pada Piala Dunia 2018. Selain diingat lewat penampilan, bagaimana tampilan jersi Inggris pada turnamen tersebut juga cukup menarik perhatian. Inggris tampak gagah meski jersi mereka sederhana.

Setelah dua tahun tanpa perubahan, Inggris merilis jersi pada akhir 2020. Jersi ini mirip dengan yang mereka gunakan pada Piala Dunia 1998, baik dari kombinasi warna dan tata letak. Untuk font set mereka tak terlalu mirip meski gayanya nyaris serupa.

Scott Munroe, Vice-President of Apparel Nike, mengakui bahwa jersi yang dirilis memang terinspirasi dari jersi yang dikenakan Inggris pada Piala 1998. “Perubahan kami lakukan agar jersi ini tampak lebih segar dan tegas,” kata Munroe kepada FourFourTwo.

Arsenal, Jersi Away 2019/20

Foto: Ultra Football.


Arsenal menggunakan desain kostum yang cukup nyentrik pada awal 1990-an. Menggunakan Adidas, mereka memadukan warna kuning dengan corak menyerupai huruf ‘v’ yang memenuhi seluruh baju. Jersi ini dianggap ikonik dan bahkan diberi nama “bruised banana”.

Desain ini didaur ulang oleh Adidas pada musim 2019/20. Perbedaannya, garisnya tak sekuat jersi lama dan corak ‘v’ diganti dengan zig zag yang berbentuk diagonal. Demikian juga warna merah yang digunakan tidak sebanyak sebelumnya.

Italia, Jersi Home 2019

Foto: SoccerBible.


Pada Oktober 2019, Italia mengeluarkan jersi anyar berwarna hijau. Jersi ini mirip dengan yang mereka gunakan pada 1954. Bedanya warna jersi terbaru mereka mendekati warna sacramento green, sementara jersi lawas mereka emerald green.

Gaya Renaissance dipilih untuk menjadi corak utama jersi ini. Mereka menggunakan warna biru pada kerah dan emas pada logo PUMA dan federasi sepak bola Italia, FIGC. Jersi ini pertama kali digunakan ketika menghadapi Yunani pada Kualifikasi Piala Eropa 2020.

PUMA, sebagai desainer jersi ini, menjelaskan bahwa warna hijau dipilih untuk menyambut anak-anak muda yang menjadi tulang punggung Italia. Pernyataan PUMA memang benar diwujudkan oleh pelatih Roberto Mancini, di mana 12 dari 25 pemain yang dipanggil adalah pemain muda.

[AF]

====

*Buat yang mau tahu lebih banyak soal jersey, lengkap dengan panduan fashion dan lifestyle-nya, bisa main-main ke KultureKit. Cek Instagram mereka di: @kulturekit.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.