Joao Cancelo: Inverted Full-Back Made by Guardiola

Ilustrasi: Arif Utama.

Guardiola terus berevolusi untuk membuat Juego de Posicion tetap relevan. Dan Cancelo, adalah medium terbarunya.

"Aku mendapatkannya dari Jerman. Ketika mereka kehilangan bola dan full-back kami melebar, mereka segera membunuhmu dengan serangan balik."

Begitu Pep Guardiola menjawab pertanyaan Gary Lineker via BT Sport soal inverted full-back dan bagaimana dia menyerahkan peran itu kepada Joao Cancelo.

***

Guardiola adalah sosok yang menikmati kesempurnaan. Itu membuatnya begitu detail dalam mengukur sistem permainannya. Bagi Guardiola, formasi dasar tak lebih penting ketimbang prinsip yang dia anut. 

Bola-bola pendek jadi elemen fundamental untuk menguasai permainan. Timnya secara konsisten mencanangkan distribusi bola dari lini paling belakang, dari penjaga gawang bahkan. Dengan begitu, mereka punya banyak opsi dalam membangun serangan. Setidaknya, timnya punya lebih banyak personel dibanding pemain lawan yang melakukan tekanan.

Namun, prinsip tak melulu sejalan dengan kenyataan. Ia boleh jadi pegangan, tetapi harus ada evolusi untuk membuatnya tetap relevan, termasuk apa yang dipelihatkan Premier League kepada Guardiola.

Musim pertamanya di City gagal total. Tak satu trofi pun diraih The Citizens, padahal Guardiola datang ke Etihad Stadium dengan label pelatih tersukses di dunia. Well, tentu afirmasi ini sangat bisa diperdebatkan. Namun, satu yang pasti, Guardiola punya daya analisis yang luar biasa. Makanya mudah baginya untuk mengevaluasi kelemahan-kelemahan timnya. Dalam hal ini kegagalan City ada pada musim 2016/17.

Masalah pertama adalah second ball dan yang kedua, full-back. Untuk problem pertama, Guardiola sudah menyimpulkan pentingnya second ball di Premier League pada awal kedatangannya. Artinya, dia memang sudah siap berkompromi dengan gaya main Inggris.

Sementara full-back merupakan bahaya laten di City. Meski punya striker dan gelandang mewah, full-back mereka lumayan butut. Ada Pablo Zabaleta, Bacary Sagna, dan Gael Clichy yang umurnya sudah lebih dari 30 tahun.

Inilah yang mendasari Guardiola untuk jorjoran pada musim keduanya. Tak tanggung-tanggung, dia mendatangkan tiga full-back sekaligus: Benjamin Mendy, Kyle Walker, dan Danilo. Bila ditotal ketiganya menghabiskan 120 juta poundsterling.

Hasilnya tokcer. Guardiola berhasil mengantar City juara Premier League. Tak cuma itu, Sergio Aguero dkk. juga sukses mengumpulkan 100 poin atau 19 angka lebih banyak dari Manchester United di peringkat kedua.

Lalu, apa hubungannya kesuksesan City itu dengan inverted full-back?

Begini, sebelum sampai di sana kita perlu mendapatkan gambaran dari inverted full-back itu sendiri walau sebenarnya ada beberapa penyebutan buat mereka. Ada yang memakai false full-back, free full-back, atau phantom full-back. Poinnya, sih, sama -sama merujuk ke peran full-back 'ajaib' ini.

Secara harfiah istilah inverted punya arti terbalik. Dalam sepak bola, kata "inverted" paling umum digunakan buat para winger. Pemain-pemain sayap itu dipasang berkebalikan dengan kaki terkuatnya. Seorang pemain sayap berkaki kidal ditempatkan di sisi kanan. Pun sebaliknya, winger dengan kaki terkuat di kanan diposisikan di tepi kiri.

Dengan begitu, inverted winger bakal lebih leluasa untuk bermanuver ke jantung pertahanan lawan dan melakukan tembakan dengan kaki terkuatnya. Mereka tak lagi sekadar mengkreasi peluang dari sisi tepi.

Sama halnya dengan inverted full-back. Mereka dilegalkan untuk bergerak masuk ke area sentral. Lain peran dengan full-back biasa yang bakal intens melebar. Simpelnya, full-back biasa bakal bertransformasi ke winger. Sementara inverted full-back akan menjadi pemain tengah atau gelandang bertahan.

Seperti yang dibilang Guardiola tadi, sistem ini dia gunakan untuk meminimalkan serangan balik lawan--khususnya, dari sisi tepi. Alasannya, semakin tinggi overlap full-back, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk transisi ke bertahan. Nah, dengan metode inverted full-back ini si pemain akan lebih cepat untuk trackback dari gelandang ke posisi full-back seperti semula.

Inverted full-back ini bisa dibilang sebagai evolusi dari peran full-back Guardiola semasa di Barcelona. Lihatlah bgaimana Dani Alves menjadi full-back yang aktif terlibat dalam gol-gol El Barca. Dia berhasil memproduksi 26 assist pada tiga musim terakhir Guardiola. Konsekuensi logisnya, Barcelona saat itu menjadi lebih rentan dalam menghadapi serangan balik.


Sebetulnya Guardiola sudah memakai peran inverted full-back pada musim keduanya di City. Paling sering, sih, Walker dan Mendy. Fabian Delph dan Oleksandr Zinchenko yang berposisi alami sebagai gelandang juga memainkan peran itu saat Mendy cedera.

Ambil contoh saat City bersua dengan Bournemouth pada edisi 2018/19. Guardiola kala itu memasang Zinchenko dan Danilo sebagai full-back. Mereka menemani Nicolas Otamendi dan Aymeric Laporte di pos bek sentral. Dua ball-playing defender ini yang kemudian menjadi andalan City untuk membangun serangan awal.

Dalam proses ini, Zinchenko (LB) akan bergerak ke dalam--mendekat ke Laporte--untuk menciptakan overload. Pemosisian tersebut akan memberikan opsi umpan buat eks Athletic Bilbao itu sekaligus membiaskan penjagaan dari winger kanan Bournemouth yang awalnya ditugaskan mengikat Ilkay Guendogan (LM).

Foto: Twitter @coachdogge

Laporte kemudian mengirimkan bola kepada Zinchenko. Setelah lawan melakukan tekanan, dia kemudian menyodorkan umpan ke Guendogan yang bebas dari kawalan. Dari situ dia lantas bergerak ke half-space. Itu juga didukung dengan pergerakan Leroy Sane yang melebar dan Gabriel Jesus yang menarik bek tengah lawan. 

Jadi, inverted full-back mesti didukung dengan sistem yang mumpuni. Para pemain lain juga dituntut untuk mampu membaca permainan. Beruntung City mempunyai pemain dengan intelek macam Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, Phil Foden, Rodri, dan Guendogan yang piawai menemukan celah di antara lini, menawarkan City beberapa opsi umpan.

Secara mendasar yang dibutuhkan dari seorang inverted full-back adalah pemain dengan spesifikasi teknis mumpuni: Mulai dari visi, olah bola, dan kemampuan dalam mendistribusikan bola. Yang paling vital adalah kesadaran akan sistem permainan. Dia harus mampu menangkap momentum. Guardiola menemukannya dalam diri Cancelo.

Cancelo merupakan tipe pemain versatile. Dia pernah bermain sebagai wing-back, bahkan juga winger. Dari sana mindset ofensifnya terbentuk. Makin lengkap karena eks Inter Milan itu punya daya playmaking yang bagus untuk ukuran bek sayap. Itulah mengapa Guardiola menunjuk Cancelo untuk mengisi area tengah.

Menukil data Whoscored, Cancelo adalah produsen umpan kunci tertinggi kedua di City--setelah De Bruyne--dengan rerata 1,7 per laga. Kian komplet karena pemain Portugal itu juga aktif dalam melakukan aksi defensif. Konsep itu tertuang lewat rata-rata tekel dan intersepnya yang mencapai 2,3 dan 1,5. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di antara rekan setimnya, termasuk Zinchenko dan Walker.

Spesifikasi Cancelo membuat metode inverted full-back Guardiola kian tokcer. Bagaimanapun, inverted full-back bakal lebih sempurna bila diisi oleh full-back natural, bukan gelandang seperti Zinchenko. Tidak, tidak berarti dia buruk. Hanya saja, inverted full-back tetap harus diperankan oleh pemain dengan atribut defensif yang oke. Ya, seperti Cancelo ini.

Sementara dalam proses bangun serangan, Cancelo nyatanya berhasil mendongkrak agresivitas dari lini kedua. Tengok saja produktivitas Guendogan yang enggak keruan. Sudah 12 gol dibuat gelandang berdarah Turki itu di Premier League, terbanyak di antara para koleganya.

Gol terakhirnya juga masih hangat. Tepatnya tengah pekan lalu, saat City menumpas Borussia Muenchengladbach di babak 16 besar Liga Champions. Dalam proses gol Guendogan itu bisa dilihat posisi Cancelo yang sejajar dengan Phil Foden. Gerakan progresif semacam ini membuat Guendogan sukses memaksimalkan serangan di half-space pada beberapa kesempatan.

Cara kerja Cancelo berbeda dengan full-back modern. Umumnya, mereka aktif dalam membantu serangan dari sisi sayap. Ambil sampel Andrew Robertson, produsen assist terbanyak Liverpool sejauh ini. Job desk-nya adalah menyisir sisi tepi lawan kemudian menciptakan kans via umpang silang atau cutting-inside. Robertson tak perlu intens bergerak ke tengah karena Juergen Klopp sudah memasrahkan tugas itu ke tiga gelandangnya yang bertipe box-to-box.

Foto: Heatmap Andrew Robertson di Premier League 2020/21
Foto: Heatmap Joao Cancelo di Premier League 2020/21

***

Seperti yang dibilang tadi, Guardiola adalah sosok yang menikmati kesempurnaan. Itu membuatnya begitu detail dalam mengukur sistem permainannya. Orang-orang mungkin sudah mulai menguak kelemahan paham Juego de Posicion miliknya.

Namun, Guardiola terus berevolusi untuk membuatnya tetap relevan dan Cancelo adalah medium terbarunya. Guardiola menyulapnya menjadi inverted full-back demi menjaga imannya kepada penguasaan bola.

Satu hal lagi, jangan kaget kalau nantinya Cancelo bakal sehebat, atau bahkan melebihi, Dani Alves dan Philipp Lahm.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.