Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Jose Mourinho Adalah Kerikil Buat Pep Guardiola

Ilustrasi: Arif Utama.

Bukan gunung yang membuat orang jatuh, tetapi kerikil di tepi jalanlah yang membuat ia tergelincir.

Alkisah pada 1911, ada seorang stuntman terkenal dari Amerika Serikat bernama Bobby Leach. Ia mencoba untuk terjun dari Air Terjun Niagara dengan menggunakan tong besi yang sudah ia rancang sedemikian rupa. Hasilnya?

Leach selamat. Namun, ia harus menjalani perawatan selama enam bulan di rumah sakit untuk sembuh. Dua tempurung lutut dan rahang Leach patah. Peduli setan, pada akhirnya ia mencatatkan diri sebagai salah seorang manusia yang selamat setelah terjun di Niagara, bersama Annie Edison dan Sam Patch.

Akan tetapi, 15 tahun setelah penerjunan yang sukses itu, Leach meninggal dengan cara yang unik dan tak wajar. Saat tengah berkunjung ke Selandia Baru, Leach terpeleset akibat kulit jeruk di sebuah trotoar dekat Prince Street. Ia mengalami patah kaki, lagi.

Nahas, kali ini nasib baik tidak berpihak padanya. Cedera lamanya saat melakukan penerjunan di Niagara kambuh, malah membuat kakinya melemah. Kaki Leach yang patah itu kemudian mengalami infeksi, hingga mengalami gangrene (mati akibat tidak mendapat pasokan darah yang cukup atau infeksi yang berat).

Kaki Leach lalu diamputasi. Setelah proses amputasi itu, kesehatannya tidak kunjung membaik, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Alhasil, dari kejadian Leach ini muncullah sebuah adagium terkenal: Bukan gunung yang membuat orang jatuh, tetapi kerikil di tepi jalanlah yang membuat ia tergelincir.

Jika ditafsirkan, kurang lebih artinya adalah bukan batu besar yang kadang membuat seseorang terluka, melainkan kerikil kecil yang mungkin tidak terlihat mata. Agaknya, beginilah cara Pep Guardiola memandang Jose Mourinho, sosok yang kini menjadi salah satu seterunya di dunia manajerial sepak bola Eropa.

***

Pep Guardiola sejatinya superior atas Mourinho. Transfermarkt mencatat, sudah 23 kali Mourinho dan Guardiola bertemu di ajang resmi. Total, dari 23 pertemuan itu, Guardiola unggul dengan 11 kali kemenangan, 6 hasil imbang, dan 6 kali kalah.

Mourinho bukanlah batu besar bagi Guardiola, laiknya Juergen Klopp yang bahkan mampu mengalahkannya sebanyak 9 kali dalam 20 pertemuan. Namun, yang menarik adalah, kekalahan-kekalahan yang diderita Guardiola dari Mourinho justru terjadi di saat-saat genting, masa ketika sejatinya tim yang dibesut Guardiola membutuhkan kemenangan.

Berikut adalah beberapa contoh ketika Mourinho, pada akhirnya, mampu menjadi kerikil bagi Guardiola.

Semifinal Liga Champions 2009/10, Inter Milan vs Barcelona

Guardiola dan Mourinho bertemu pertama kali di ajang Liga Champions 2009/10. Ketika itu, Guardiola membesut Barcelona, sementara Mourinho menukangi Inter Milan. Guardiola tengah sedang dalam masa jaya berkat juego de posicion penuh energi yang ia terapkan di Barcelona.

Possession football yang dipraktikkan Guardiola bersama Barcelona kala itu benar-benar membuat semua tim, baik itu di Spanyol maupun Eropa, ciut. Bagaimana tidak, kamu tidak diberikan kesempatan untuk memegang bola, sembari dibunuh secara perlahan-lahan lewat umpan-umpan cepat dari belakang hingga depan.

Namun, semua itu pada akhirnya mentah di tangan Mourinho. Lewat sebuah peragaan aksi bertahan yang kelak dikenal (dengan banal) sebagai parkir bus, sosok asal Portugal itu membuat Barcelona kelimpungan. Apalagi, Inter juga memiliki serangan balik yang apik, lewat kombinasi Wesley Sneijder, Samuel Eto’o, dan Diego Milito.

Alhasil, berkat sebuah aksi defensive masterclass yang diperlihatkan skuat Inter asuhan Mourinho, Barcelona tertunduk di babak semifinal Liga Champions 2009/10. Total agregat 3-2 terpampang ketika itu, melanggengkan jalan Inter ke final hingga akhirnya mereka menundukkan Bayern Muenchen di final dengan cara yang sama.

Final Copa del Rey 2010/11, Barcelona vs Real Madrid

Setelah dipermalukan Guardiola pada musim pertamanya melatih Real Madrid, Jose Mourinho membalasnya dengan cara yang elegan. Itu terjadi ketika Madrid bersua Barcelona di final Copa del Rey 2010/11.

Ketika itu, Barcelona masih dalam masa jaya. Gelar Liga Champions dan La Liga berhasil mereka rengkuh. Sekarang, mereka tinggal membutuhkan gelar Copa del Rey untuk menyempurnakan itu semua. Mereka siap untuk meraih treble kedua setelah musim 2008/09.

Akan tetapi, laga nyatanya berlangsung ketat. Madrid memberikan perlawanan yang sepadan. Bahkan, pertandingan sampai melalui babak perpanjangan waktu, karena skor 0-0 bertahan sampai menit 90 usai. Di masa inilah, Madrid menegaskan keunggulan.

Pada menit 103, Angel Di Maria berkombinasi dengan Marcelo di sisi kanan pertahanan Barcelona. Di Maria kemudian mengirimkan umpan silang, yang disambut dengan sundulan apik Cristiano Ronaldo. Madrid unggul 1-0, dan skor ini bertahan hingga laga rampung.

Madrid sukses menggagalkan kemungkinan Barcelona meraih treble musim itu. Trofi ini sendiri jadi trofi pertama yang sukses dipersembahkan Mourinho buat Madrid.

Premier League 2017/18, Manchester City vs Manchester United

Musim 2017/18, Pep Guardiola sudah hijrah ke Inggris, menukangi Manchester City. Ini adalah musim keduanya di Inggris. Musim pertama Guardiola lebih banyak berisikan adaptasi. Alhasil, City tidak meraih satu gelar pun di musim 2016/17.

Namun, memasuki musim 2017/18, mereka meraja. Di ajang Premier League, mereka sempat tidak terkalahkan hingga 22 pekan. Di ajang Piala Liga, mereka berhasil menggondol trofi. Ketidakberuntungan hanya menghiasi mereka di ajang Liga Champions dan Piala FA.

Pada pekan 32, City punya kesempatan besar merengkuh gelar Premier League lebih cepat. Jika mampu meraih kemenangan atas Manchester United, mereka akan dapat dua kesenangan sekaligus: merontokkan saudara sekota sekaligus merayakan gelar di kendang sendiri, Stadion Etihad.

Namun, Guardiola agaknya lupa bahwa yang menangani United saat itu adalah Jose Mourinho. Tak disangka, sosok asal Portugal ini sudah menyiapkan sesuatu di sakunya, setidaknya untuk menunda pesta juara City di markas sendiri.

Babak pertama laga, semua berjalan sesuai rencana City. Mereka unggul dua angka lewat gol-gol Vincent Kompany dan Ilkay Guendogan. Hingga babak pertama tuntas, kemenangan masih berada dalam bayang-bayang para pemain City.

Memasuki babak kedua, Mourinho langsung mengeluarkan sesuatu yang sudah ia simpan di dalam sakunya. Sesuatu itu mengejutkan. United, yang awalnya sudah diprediksi akan kalah, melawan balik. Dua gol dari Paul Pogba tercipta dalam kurun waktu dua menit. Kedudukan jadi imbang.

Pada menit ke-69, United menentukan kemenangan lewat sepakan voli Chris Smalling. Hingga laga usai, City gagal menyamakan kedudukan berkat penampilan apik pertahanan United plus penyelamatan-penyelamatan gemilang David de Gea. United memaksa City menunda pesta, setidaknya hingga pekan selanjutnya.

***

Akhir pekan ini, tepatnya pada Minggu (22/11/2020) dini hari WIB, Mourinho dan Guardiola bakal kembali bertemu. Guardiola masih menangani City, sedangkan Mourinho sudah ganti tim. Kali ini, ia memimpin skuat Tottenham Hotspur.

Sejauh ini, di ajang Premier League 2020/21, City tengah berusaha bangkit. Mereka sedang berusaha kembali membangun ketangguhan yang sempat mereka perlihatkan beberapa musim ke belakang. Guardiola juga sudah memastikan masa depannya dengan memperpanjang kontrak bersama City hingga 2023.

Namun, Guardiola mesti ingat, bahwa yang mereka hadapi kali ini adalah Mourinho. Bisa saja, di balik sakunya, ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk menahan laju kebangkitan City. Apakah itu perintah khusus buat Harry Kane? Atau, sebuah instruksi spesial untuk Son Heung-min?

Entahlah, yang kita tahu pasti, kerikil bernama Jose Mourinho itu nyatanya bisa membuat Pep Guardiola benar-benar terjatuh. Sesakit-sakitnya, separah-parahnya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now