Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Jose Mourinho dan Alter Egonya di Tottenham Hotspur

Foto: Instagram @spursofficial

Dengan Mourinho, Tottenham Hotspur tumbuh menjadi tim yang agresif, bahkan terproduktif di Premier League sejauh ini. Loh, kok bisa? Bukannya Mourinho hobi main bertahan ketimbang menyerang?

Jose Mourinho dan negatif football adalah dua hal yang berkelindan. Segala cara dilakukan. Main kelewat bertahan pun dia rela. Tak peduli nantinya Mourinho dicemooh karena permainan anak asuhnya yang menyebalkan. Terpenting, sih, timnya menang. Itu saja, tak lebih tak kurang. 

Kemenangannya atas Barcelona di semifinal Liga Champions 2009/10 merupakan ssalah satu fragmen yang membekas. Tiki-taka indah Pep Guardiola itu dimentahkan dengan pertahanan gerendel ala Mourinho. 

Inter Milan cuma salah satu dari beberapa klubnya. Mourinho, toh, juga kerap menunjukkannya semasa menukangi Chelsea dan Manchester United.


Mungkin Real Madrid satu-satunya pengecualian. Menjadi masuk akal karena El Real dihuni oleh bintang-bintang kelas dunia. Lagi pula tak ada alasan buat Mourinho untuk memainkan sepak bola defensifnya pada kompetisi sekelas La Liga yang merupakan salah satu penguasa di sana.

Di musim keduanya (2011/12), Mourinho sukses membuat Madrid memproduksi 121 gol. Itu jadi yang terbanyak dalam sejarah La Liga.

Catatan itu tak lantas membuat Mourinho dicap sebagai pelatih dengan pakem agresif. Gaya defensifnya kumat saat pulang ke Chelsea. Di bawah rezimnya, The Blues 'cuma' membikin 71 gol--kalah jauh dari Manchester City dan Liverpool yang menembus 100 gol di musim 2013/14.

Kiprahnya bersama Manchester United lebih mengenaskan lagi. Mourinho hanya bisa menghadirkan 122 gol selama dua musim. Betul, itu cuma terpaut satu gol lebih banyak dari Madrid-nya di periode 2011/12.

Jadi jangan heran kalau kedatangannya ke Tottenham Hotspur tahun lalu enggak memicu ekspektasi tinggi. Khususnya,  perkara agresivitas. Yah, skor kacamata atau 1-0 mungkin bakal kerap menghiasi papan skor di mana Tottenham mentas. Mirip-mirip dengan apa yang dialami United dalam empat musim ke belakang.

Namun, hitung-hitungan itu cuma berhenti di atas kertas. Alih-alih defensif, Mourinho justru me-Madrid-kan Tottenham. Nyatanya Harry Kane dkk sukses bikin 16 gol di lima laga pertama dengan bimbingan The Special One.

Start ini jadi yang terbaik dalam karier Mourinho, melebihi di Madrid sekalipun meski, yah, Tottenham tetap saja finis di posisi keenam klasemen akhir Premier League 2019/20; Lagi-lagi tanpa titel. 

Betul bahwa produktivitas Tottenham mulai mengendur di musim itu. Cuma 61 gol yang mereka lesakkan--terendah kelima di antara anggota Big Six. Namun, perlu diingat ada faktor di balik catatan itu. Mereka diterpa badai cedera pada pertengahan musim. Tak tanggung-tanggung, Kane dan Son Heung-Min yang jadi korbannya. Itulah yang membuat lini depan Tottenham menumpul.

Nah, musim 2020/21 kayaknya bakal jadi puncak produktivitas Mourinho bersama Tottenham. Wong sudah 16 gol mereka buat hingga pekan keenam Premier League. Itu termasuk kemenangan Hugo Lloris cs. atas United 6-1 pada awal Oktober.

Tentu gaya main Mourinho yang agresif ini tak ujug-ujug muncul. Dia memang melakukan pendekatan yang berbeda untuk Tottenham. Apalagi, skuad The Lilywhites memang cukup kompeten untuk memainkan sepak bola agresif.

Aktivitas Tottenham di bursa transfer musim panas lalu cukup mereprentasikan bagaimana orientasi mereka. Gareth Bale mereka pinjam dari Real Madrid. Pun dengan striker Benfica, Carlos Vinicius. Pemain asal Brasil itu bukan kaleng-kaleng, dia merupakan topskorer As Aguias di Liga Portugal musim lalu.

Divisi pertahanan juga ikut-ikutan dimodif. Adalah Matt Doherty dan Sergio Reguilon yang Tottenham gaet. Ya, keduanya merupakan tipikal full-back agresif. Nama yang disebut pertama sukses mengumpulkan 8 gol dan 8 assist dalam dua musim terakhir. Reguilon lebih tokcer lagi karena sudah menyumbang sebiji assist buat Tottenham.

Padahal, Tottenham masih punya Serge Aurier dan Ben Davies yang notabene punya karakteristik serupa. See? Sampai di sini cukup menggambarkan niatan Mourinho untuk mengatrol ketajaman timnya.

Jelas Kane tak bisa dikesampingkan dari lini serang Tottenham yang tengah berangasan. Dua kali peraih topskorer Premier League itu telah mengalami evolusi permainan. Tak sekadar pendulang gol, Kane mulai mafhum mengakomodasi peluang.

Itu terikat dengan kejelian Mourinho dalam memaksimalkan potensi Kane. Sebagaimana striker modern bekerja, dia dituntut bergerak lebih dalam untuk menjemput bola. Malah penempatan posisi rata-rata Kane musim ini lebih dalam dibanding Son.

Kepergian Christian Eriksen ke Inter Milan jadi alasan Mourinho menempatkan Kane lebih dalam. Wajar, sih, sebab Tottenham tak punya gelandang serang kreatif sebagai pengggantinya.

Hasilnya fantastis, Kane memuncaki daftar assist Premier League sejauh ini. Dengan tambahan satu assist pada duel versus Burnley dini hari tadi, torehan Kane ini genap mencapai 8. Itu dua kali lipat dari jumlah assist John McGinn yang menghuni posisi kedua. 

Dengan kata lain, opsi Tottenham sekarang lebih luas dan tak melulu bergantung kepada Kane untuk mencetak gol. Toh, dia bisa menjadi kreator. Urusan bikin gol bisa diserahkan kepada pemain lainnya.

Son berada di posisi nomor wahid untuk peran tersebut. Fluiditas dan ketajaman jadi nilai jualnya. Pun dengan kecepatan, salah satu keunggulan Son dibanding Kane. Itulah mengapa Mourinho memilihnya di garda terdepan.

Kendati mengisi pos winger kiri, Son diberi akses untuk aktif bergerak ke jantung pertahanan lawan. Itu bisa dilhat di duel lawan United. Son intens merangsek ke area sentral pertahanan lawan, berbeda dengan Erik Lamela atau Lucas Moura yang lebih sering bermain lebih dalam di sisi kanan.

Sementara Kane, ya, itu tadi. Dia intens menjemput bola ke lini tengah kemudian mendistribusikan ke Son. Menariknya, 7 dari 8 gol yang dibuat Son lahir melalui kontribusi Kane.

Kabar baiknya lagi, Mourinho belum kehilangan spesialisasinya dalam bertahan. Gawang Tottenham baru 8 kali bobol--terbaik ketiga setelah Aston Villa dan Arsenal. Selisih gol mereka jadi yang terbaik di antara para kontestan Premier League. Di Tottenham, Mourinho seperti menemukan alter egonya.

Bagaimana, sudah siap menerima Tottenham sebagai kandidat juara Premier League musim ini?

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now