Jungkang-Jungkit Hojbjerg

Foto: @hojbjerg23.

Hojbjerg pernah jatuh dalam kesedihan. Namun, ia berhasil bangkit dan jadi andalan Antonio Conte.

Gawai Pierre-Emile Hojbjerg berdering. Ia, yang sedang mengalami cedera kaki ketika itu, buru-buru mengangkatnya.

"Halo," ucap Hojbjerg.

Sapaan itu tidak berbalas. Namun, telepon masih tetap terhubung dengan orang misterius.

"Haloooo," kata Hojbjerg lagi.

Tiba-tiba Hojbjerg mendengar suara tangis seorang pria. Suara tangis itu lekas-lekas mengiris-iris pikiran dan perasaannya.

"Ini Ayah. Ayah sakit."

Hojbjerg tertegun dan terkejut. Sudah lama sekali, sebelum percakapan melalui gawai berlangsung, ia tidak pernah berkomunikasi dengan sang ayah. Saat itu, hubungan Hojbjerg dan sang ayah memang sedang tidak baik-baik saja.

Hojbjerg adalah anak yang keras kepala. Ia seringkali gigih menolak tuntutan maupun permintaan dari sang ayah jika bertentangan dengan keinginannya. Jika itu terjadi, hubungan mereka renggang. Namun, tidak lama setelahnya, mereka kembali rekat. Itu terjadi berulang-ulang.

"Sakit apa?" kata Hojbjerg kepada sang ayah.

"Kanker," jawab sang ayah sambil terisak-isak.

Air mata Hojbjerg mengalir. Kabar buruk itu benar-benar mengguncang kehidupannya. Ia jadi mudah sedih dan gelisah. Itu pun sempat berpengaruh pada perkembangannya sebagai pesepakbola.

Tak lama setelah mendapat kabar itu, Hojbjerg mengambil keputusan untuk merawat dan mengobati ayahnya di Jerman. Ada harapan besar kanker itu tidak lekas-lekas merenggut nyawa sang ayah.

"Aku tidak ingin mati," kata sang ayah sambil memeluk Hojbjerg saat mendarat di Jerman.

"Itu tidak akan terjadi. Kita akan melawan ini bersama-sama," jawab Hojbjerg menahan tangis.

Mereka berjuang dengan sekeras-kerasnya, setangguh-tangguhnya. Namun, Tuhan berkata lain. Tidak lama setelah menjalani pengobatan di Jerman, sang ayah meninggal dunia. Kematian sang ayah membuat Hojbjerg terhanyut dalam kesedihan. Hidupnya tidak lagi indah. Semua gelap gulita.

Karier sepak bola Hojbjerg perlahan memudar. Selain gagal menembus starting line-up Bayern Muenchen, ia juga sulit mengembangkan skill olah bola. Ia kemudian menjelajah Bundesliga dengan memperkuat Augsburg dan Schalke 04.

Di Augsburg, Hojbjerg cuma bermain 10 kali sebagai starter. Sedangkan di Schalke 04, ia mulai bangkit. Meski tidak mendapat puja-puji yang berlebihan, orang-orang mulai menyukai gaya main Hojbjerg. Sampai-sampai, Southampton menaruh minat dan merekrutnya pada 2016.

Namun, titik balik kehidupan Hojbjerg terjadi pada 2017. Ada satu hal yang membuat gairah hidupnya yang sempat mati kembali meletup-letup. Itu adalah kelahiran seorang anak yang ia beri nama Theo.

"Saat Theo lahir, untuk pertama kali sejak ayah saya meninggal dunia, saya berkata pada diri sendiri, 'Wow, hidup benar-benar hebat. Hidup benar-benar luar biasa'," kata Hojbjerg dalam program Sat Af sebagaimana dilansir The Athletic. "Saya kemudian menangis seperti bayi."

Tangisan itu menyulut motivasi Hojbjerg untuk mengasah skill sebaik-baiknya bersama Southampton. Ia menghabiskan waktu lebih banyak dari rekan-rekannya untuk berlatih di gym maupun lapangan. Pelan dan pasti, performanya menanjak.

Yang spesial dari Hojbjerg adalah kepemimpinannya. Ia tahu betul bagaimana caranya membangun komunikasi. Kata-katanya di dalam maupun luar lapangan selalu didengar rekan-rekannya. Maka tidak heran jika Hojbjerg menjadi kapten Southampton meski usianya baru 23 tahun.

Di Southampton, Hojbjerg tidak hanya mengasah olah bola, tetapi juga belajar bagaimana mental tak jadi persoalan. Sebagai gelandang, ia punya kualitas yang oke dalam menyerang maupun bertahan.

WhoScored mencatat, rata-rata tekel dan intersep Hojbjerg mencapai 3,8 per 90 menit pada Premier League 2019/20. Sedangkan agresivitas Hojbjerg dalam fase ofensif dapat dilihat dari rata-rata 2,09 shot creating actions (SCA) per laga. Sederhananya, SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan.

Atribut itu disempurnakan dengan kemampuan umpan-mengumpan. Tak heran jika Hojbjerg terlibat dalam build-up Southampton. Merujuk FBref, pria berkebangsaan Denmark itu mencatatkan 1.413 umpan sukses sepanjang musim 2019/20. Itu jadi tertinggi kedua setelah James Ward-Prowse.

Statistik itu plus konsistensi penampilan Hojbjerg sepanjang musim 2019/20 membuat Tottenham Hotspur di bawah kepelatihan Jose Mourinho merekrutnya untuk musim 2020/21. Di sana, Hojbjerg langsung jadi bagian penting kepingan Tottenham-nya Mourinho.

Hojbjerg jadi pemain yang siap melakukan apapun, sesuai keinginan Mourinho. Yang paling mecolok tentu saja tugas untuk meredam serangan, pelindung back-four, sekaligus pengalir bola.

Namun, Tottenham mengalami turbulensi. Pascakepergian Mourinho, Tottenham merekrut Nuno Espirito Santo. Awalnya, kedatangan Nuno membuat Tottenham digdaya. Sayangnya, itu tidak berlangsung awet. Tottenham-nya Nuno meredup. Untuk bangkit kembali, Tottenham mendatangkan Antonio Conte.

Peralihan nakhoda tersebut tidak lantas membuat nyali Hojbjerg ciut. Ia tetap berlatih dengan sebaik-baiknya dan memperlihatkan performa terbaik dalam setiap laga. Itu juga yang menjadi prinsip Hojbjerg dalam mengarungi tanah terjanji bernama Premier League.

"Saya tidak melakukan banyak hal, tetapi apa yang saya lakukan (bermain sepak bola) harus menjadi yang terbaik," kata Hojbjerg.

Tuah dari prinsip itu, Hojbjerg menjadi salah satu pemain yang performanya paling konsisten. Ya, kalau sudah gitu, Conte tidak ragu untuk menjadikan Hojbjerg kepingan penting.

Conte memang sempat banyak mengeluh dengan kondisi tim. Keluhan itu juga terlihat dari format bermain yang berganti-ganti. Namun, setelah bereksperimen dalam banyak laga, Conte akhirnya menemukan pakem terbaik dengan mengusung formasi 3-4-2-1.

Dalam format tersebut, Hojbjerg jadi pilihan utama sebagai gelandang tengah. Dalam beberapa laga terakhir, Hojbjerg selalu berduet dengan rekrutan anyar Tottenham, Rodrigo Bentancur.

Jika Bentancur bermain dengan mobilitas tinggi dan rutin terlibat dalam serangan, Hojbjerg adalah breaker. Kemampuan bertahan Hojbjerg benar-benar diandalkan Conte.

Salah satu atribut Hojbjerg yang membuat Conte kesengsem adalah kejeliannya menutup half space. Kejelian itu juga yang membuat Tottenham mampu meredam kreator-kretor lawan. Itu dilengkapi dengan kualitas pressure-nya yang oke.

Merujuk FBref, jumlah pressure sukses Hojbjerg musim ini mencapai 532 kali. Angka itu tertinggi di antara skuad Tottenham. Hanya Emerson yang punya pressure sukses terdekat. Itu juga "cuma" 362 kali.

Hojbjerg juga tahu kapan waktunya membantu serangan, kapan berlari menutup ruang-ruang saat lawan melancarkan serangan balik. Itu juga yang membuat permainannya efektif dan efisien.

"Hojbjerg adalah pemain penting bagi kami. Ia masih muda [usia Hojbjerg 26 tahun, red], tapi punya pengalaman yang oke," ucap Conte.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.