Juventus vs Barcelona: Duel Dua Tim Bermasalah

Foto: Twitter @juventusFCEN

Juventus dan Barcelona sama-sama berkutat dengan inkonsistensi hasil. Oleh karena itu, bolehlah kita menyebut pertandingan ini sebagai duel dua tim bermasalah.

Semasa bermain, Andrea Pirlo merupakan gelandang yang sangat elegan. Umpan-umpannya bisa memanjakan dua pihak: Rekan setimnya dan mereka yang menyaksikannya bermain. Pirlo seolah bisa membaca apa yang akan terjadi dalam beberapa momen ke depan; ia paham ke mana semestinya bola bergerak dan di mana semestinya si kulit bulat berada. Sepak bola pun terasa mudah dengan adanya Pirlo di lini tengah.

Namun, Pirlo yang super itu kerap tak berdaya di hadapan Barcelona. Sebanyak lima kali Pirlo bertemu Barca dengan dua tim yang berbeda, tetapi hanya satu kemenangan yang bisa ia raih.

Satu-satunya kemenangan itu ia dapatkan ketika membela AC Milan pada musim 2004/05; Milan menang 1-0 atas Barcelona pada Grup F Liga Champions di San Siro. Selebihnya, Pirlo selalu tertunduk lesu usai laga melawan Barcelona. Tiga laga berakhir dengan kekalahan, satu lainnya imbang.

Kini Andrea Pirlo sudah tak lagi di lapangan. Tugasnya saat ini berada di pinggir lapangan dan memberikan instruksi kepada anak-anak asuhnya di Juventus. Pada Kamis (29/10/2020) dini hari WIB, Pirlo akan memimpin pasukannya menghadapi tim yang sulit ia kalahkan itu.

***

Ini adalah musim perdana Pirlo sebagai pelatih. Bahkan ketika Juventus resmi menunjuknya sebagai nakhoda tim utama, ia belum menyelesaikan tesisnya di pusat pendidikan kepelatihan Coverciano. Maka, keputusan Juventus menunjuknya cukup mengejutkan. Terlebih, baru seminggu sebelumnya mereka mengangkat Pirlo sebagai pelatih Tim U-23.

Apakah manajemen Juventus salah menunjuk Pirlo sebagai pelatih? Belum tentu. Namun, sejauh ini Pirlo memang belum memperlihatkan hasil yang masuk kategori ‘luar biasa’ untuk 'Si Nyonya Tua'. Pada ajang Serie A, Juventus hanya mengantongi dua kemenangan dan tiga kali imbang.

Salah satu kemenangannya juga terjadi karena WO akibat Napoli tidak datang pada pekan ketiga. Menghadapi Barcelona pada matchday II Liga Champions, Pirlo dihadapkan dengan sejumlah masalah. Selain faktor inkonsistensi hasil akhir, Pirlo juga kehilangan beberapa pilarnya karena alasan kebugaran.

Giorgio Chiellini tak bisa bermain karena cedera. Weston McKennie dan Cristiano Ronaldo belum sembuh dari COVID-19. Ketidakhadiran McKennie menjadi salah satu masalah dari Juventus. Sebab, gelandang asal Amerika Serikat itu bisa menjadi tameng untuk lini belakang.

Sekadar informasi, 62 persen upaya lawan yang diterima Juventus berasal dari tengah. 12 persen hadir dari sisi kanan dan 26 persen berasal dari kiri.

Tak cuma itu, 25 persen gawang Juventus bobol lewat skema serangan balik. Hal itu yang semestinya dilindungi oleh seorang gelandang pekerja seperti McKennie.

McKennie sudah memainkan dua pertandingan untuk Juventus. Hasilnya, ia bisa melakukan rata-rata 2 tekel, 1,5 intersep, dan 1,5 sapuan. Bandingkan dengan Arthur yang jadi pengganti McKennie. Dengan jumlah pertandingan yang sama, Arthur hanya membuat rata-rata 2 tekel, 0,7 intersep, dan 1 sapuan per laganya.

Selain McKennie, absennya Ronaldo juga menjadi masalah untuk Juventus. Tidak ada pemain yang mampu mengonversi peluang menjadi gol. Laga melawan Verona menjadi contohnya. Juventus melepaskan 22 upaya --6 di antaranya ke gawang-- dengan expected goals (xG) mencapai 2,18. Namun, hanya ada satu gol yang bisa dibuat oleh Juventus. Morata yang memiliki xG tertinggi di pertandingan tersebut --dengan angka 0,62-- tak bisa membuat gol.

Pirlo, menurut sejumlah laporan di Italia, adalah salah satu lulusan terbaik Coverciano. Nilai akhir tesisnya hanya kalah dari Thiago Motta. Mereka yang pernah membaca tesisnya, ‘The Football I Would Like (to Play)’ pun paham bahwa Pirlo sebetulnya punya ide yang jelas.

Sekalipun pernah mengaku menggemari 4-3-3, Pirlo tak pernah terpaku dengan satu formasi tertentu. Sepak bola di masa depan, bagi Pirlo, harus berlaku cair. Oleh karena itu, ia tidak bisa terkungkung oleh formasi. Maka, Pirlo lebih percaya pada pembagian role pemain ketimbang sekadar posisi dan formasi.

Di Juventus, ia lebih sering memainkan formasi tiga bek, entah 3-4-1-2 ataupun 3-4-2-1. Kalaupun menggunakan empat bek, ia malah tidak pernah menggunakan 4-3-3 --lebih sering mengubah bentuknya timnya menjadi 4-4-2 ketika bertahan. Semua tergantung kebutuhan role pemain.

Kini, Pirlo mesti belajar bagaimana mengartikulasikan idenya di lapangan dengan lebih baik dan mengubahnya menjadi rentetan hasil bagus yang konsisten.

***

Sama seperti Pirlo, Ronald Koeman juga baru menduduki jabatan pelatih di klub anyar. Manajemen Barcelona memutuskan untuk mempekerjakannya sebagai pelatih pada awal musim ini. Tugas Koeman berat, pasalnya Barcelona berada dalam situasi yang keruh di internal.

Awalnya, Koeman terlihat meyakinkan. Barcelona ia bawa menang 4-0 atas Villarreal lalu 3-0 atas Celta Vigo pada pekan pertama dan kedua La Liga. Namun, setelah itu penampilan Barcelona menurun.

Hanya ada satu kemenangan yang diraih Barcelona dari empat pertandingan terakhir yang mereka jalani. Sisanya, Barcelona bermain imbang satu kali dan dua kali kalah. Salah satu kekalahan terjadi saat Barcelona bersua Real Madrid pada ajang La Liga akhir pekan lalu.

Selain tren yang negatif, Barcelona juga tak diperkuat beberapa pemain utamanya pada matchday II Liga Champions. Philippe Coutinho tak bisa bermain karena sedang mengalami cedera hamstring. Lalu, Gerrard Pique juga absen karena mendapat kartu merah di matchday pertama versus Ferencvaros.

Tak hadirnya Pique jelas menjadi masalah untuk Barcelona. Sebab, ia sudah membuat 2,4 intersep dan 3,6 sapuan di La Liga. Jumlah itu paling tinggi di antara pemain Barcelona lainnya.

Selain itu, lini belakang Barcelona juga tengah jadi sorotan. Bek-bek Barcelona tak bisa berkutik saat menghadapi Madrid akhir pekan lalu. Kealpaan mereka dalam menjaga area half-space dan mengantisipasi through-pass (umpan terobosan) menjadi dua dari sekian problem pada pertandingan tersebut.

Foto: Twitter @DeJongFrenkie21

Sebenarnya, bukan salah bek sepenuhnya, sih. Pivot yang ditugaskan Koeman juga harusnya bertanggung jawab. Alih-alih bertanggung jawab, double pivot yang biasa dimainkan Sergio Busquets dan Frenkie de Jong malah jadi titik lemah. Mereka berdua kerap berada dalam posisi yang salah.

Posisi De Jong terlalu ke kiri untuk mengover area yang ditinggalkan oleh Jordi Alba. Alhasil, tinggal Busquets sendirian yang berada di lini tengah Blaugrana.

Apesnya, Busquets sudah tak secepat empat atau lima tahun lalu untuk membaca arah serangan lawan. Berharap pada Lionel Messi untuk bertahan sangatlah riskan. Sergino Dest yang memiliki kans untuk membantu juga ikutan aktif menyerang, bukan menjadi inverted full-back.

Pertahanan Barcelona semakin ringkih karena mereka menerapkan garis pertahanan yang tinggi. Posisi tengah terlihat sepi sehingga lawan bebas berkreasi. Situasi ini terjadi di gol yang tercipta saat melawan Ferencvaros dan Real Madrid.

Dengan sederet kelemahan tersebut, Koeman mesti berpikir keras. Andai Pirlo kembali bermain dengan tiga bek, ada lima channel yang bisa Juventus eksploitasi, termasuk dua area half-space. Andai Koeman tidak jeli, Pirlo bisa memanfaatkan rongga tersebut.

Terlebih, Pirlo beberapa kali memasang role yang cukup bikin pemain belakang lawan keteteran: Meminta para gelandang yang berada di belakang penyerang untuk melakukan pressing. Kalau Busquets dibiarkan sendirian lagi, ini bisa menjadi petaka buat Barcelona.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.