Kai Havertz Adalah Pembelian Jitu Chelsea, Mari Tunggu Gol dan Assist Lahir Darinya

Visual: Arif Utama

Bagaimana Frank Lampard menjadikan Kai Havertz sebagai senjata mematikan untuk lini depan Chelsea?

Tarik-ulur itu berujung pada Kai Havertz memamerkan seragam biru kebesaran Chelsea di Stamford Bridge. Bayer Leverkusen boleh berkeras hati sebisa mungkin, tetapi takdir akhirnya menyebutkan bahwa Havertz berjodoh dengan London Barat.

Havertz menjadi pembelian besar teranyar Chelsea musim ini. Timo Werner sudah, pun begitu dengan Ben Chilwell. Hakim Ziyech lebih dulu mereka ikat pada pertengahan musim lalu. Lengkap sudah musim panas nan mewah buat The Blues.

Secara hitung-hitungan, Chelsea bisa dibilang untung. Mereka mendapatkan Havertz, Werner, Chilwell, dan Ziyech dengan total bujet sekitar 220 juta euro. Yah, ‘cuma’ nombok 60 juta euro dari hasil penjualan Eden Hazard ke Real Madrid pada musim panas 2019/20.

Harusnya Havertz bisa jadi pembelian ideal buat Chelsea. Usianya baru 21 tahun, langit-langit di atas kepalanya masih jauh. Kendati masih belia, ia merupakan poros permainan Bayer Leverkusen musim lalu.

Pada awalnya, Havertz berposisi sebagai gelandang serang. Namun, pelatih Leverkusen, Peter Bosz, mendorongnya sebagai penyerang tengah dalam formasi 4-2-3-1. Hasilnya tokcer, pemain kelahiran Aachen tersebut menjadi topskorer Leverkusen di lintas ajang 2019/20 dengan 18 golnya.

Catatan Havertz makin mentereng dengan raihan 6 assist di Bundesliga. Di Leverkusen, ia hanya kalah dari Kevin Volland yang menorehkan 7 assist. Untuk ukuran pemain yang baru mengecap musim kedua sebagai penggawa reguler Die Werkself, pencapaian Havertz tergolong luar biasa. Wajar kalau kemudian Chelsea kesengsem.

Pertanyaannya, bisakah Havertz mereplika performa serupa di Inggris? Atau mungkin, bisakah Chelsea (dalam hal ini sang pelatih, Frank Lampard) mengeluarkan kemampuan terbaik Havertz? Untuk menjawabnya, mari mendedah alasan mengapa Chelsea menggaet Havertz.

Selain pencetak gol yang cukup ulung, Havertz adalah seorang kreator peluang. Musim kemarin, Chelsea amat bertumpu pada Willian yang menghuni sektor sayap. Tengok saja bagaimana pemain asal Brasil itu mencatat rata-rata 2,1 umpan kunci per laga. Setelah Willian, ada Pedro Rodriguez yang membuat rata-rata 1,5 umpan kunci per laga.

Namun, sudah tidak ada Willian dan Pedro pada skuat Chelsea musim ini. Havertz, dan juga Ziyech, pada akhirnya menunjukkan bahwa Lampard membutuhkan kreator peluang yang lebih segar.

Kendati begitu, ada kemungkinan Havertz tidak akan bermain di pos kesukaannya sebagai gelandang serang tengah. Lampard, yang cukup doyan dengan pola ofensif, amat sering menggunakan formasi 4-3-3 sepanjang musim kemarin. Jika demikian, kemungkinan besar ia akan memainkan trio Christian Pulisic-Timo Werner-Ziyech di lini depan.

Dengan begitu, ada kemungkinan Havertz akan bermain sebagai gelandang tengah, menemani N’Golo Kante dan Jorginho. Kehadirannya, tentu saja, bisa menggerus porsi main Mason Mount dan Mateo Kovacic.

Pola demikian bukannya tanpa konsekuensi. Sebagai gelandang tengah, peran ofensif Havertz juga bakal ikut terkebiri.

Lain soal apabila Lampard memasang pola 4-2-3-1. Dalam pola demikian, Havertz bisa bermain sebagai gelandang serang tengah. Bersama Pulisic dan Ziyech, yang bermain sebagai gelandang serang sebelah kiri dan kanan, ketiganya akan menopang Timo Werner yang bermain sebagai penyerang tunggal.

Formasi tersebut jelas lebih ideal jika Lampard mengincar keseimbangan. Pertama, ia tidak perlu menggerus peran ofensif Havertz. Kedua, kemampuan terbaik masing-masing pemain di lini depan (termasuk Ziyech dan Pulisic) juga tetap bisa dimaksimalkan dengan baik.

Untuk urusan kedalaman di lini tengah, serahkan saja pada Kante dan Jorginho. Mau bermain seofensif apa pun, sudah ada pemain-pemain yang mampu berperan sebagai penyaring agar serangan lawan tak langsung berhadapan dengan lini pertahanan.

****

Secara garis besar, keputusan Chelsea mendatangkan Havertz adalah langkah tepat. Kendati masih butuh waktu untuk beradaptasi di lingkungan anyarnya ini, Havertz bisa menjadi senjata mematikan untuk lini depan The Blues.

Baik Havertz, Pulisic, maupun Ziyech sama-sama memiliki kemampuan untuk mengkreasikan peluang. Ditambah Werner yang sering bergerak dinamis--dan memiliki kemampuan dribel yang cukup oke--lini depan Chelsea boleh jadi bakal amat cair. 

So, jangan kaget andai Havertz nantinya langsung bikin gol dan assist di tiga laga awalnya bersama The Blues.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.