Kai Havertz dan Timo Werner Butuh Bantuan Frank Lampard

Timo Werner (kanan) bersama Christian Pulisic pada sebuah laga. Foto: Instagram @timowerner.

Ada sejumlah alasan mengapa Kai Havertz dan Timo Werner melempem. Werner memiliki masalah dengan finishing, sementara persoalan Havertz lebih pelik lagi.

Ada dua hal yang membuat pemain dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam sebuah tim. Pertama, kualitas yang dimiliki oleh sang pemain itu sendiri. Kedua, bagaimana caranya manajer memaksimalkan kualitas sang pemain lewat skema dan pendekatan taktik yang ia punyai.

Jika dua hal itu mampu diterapkan, tim akan tampil secara kohesif. Pemahaman taktik yang sejalan antara manajer dan pemain, ditambah dengan kualitas individu yang memang dimiliki oleh sang pemain, adalah salah satu faktor penting yang menentukan kekuatan dari sebuah tim.

Alhasil, jangan heran jika Anda melihat sebuah tim tampil pincang, entah dalam satu laga atau dalam sederet laga. Biasanya, kepincangan tim ini tidak cuma menyoal kualitas pemain yang buruk, melainkan juga kemampuan manajerial dari sang manajer yang kurang mumpuni.

Nah, saat ini, Frank Lampard tengah mengalami hal tersebut. Ia kesulitan untuk mengeluarkan potensi dari dua rekrutannya pada musim panas lalu, Timo Werner dan Kai Havertz. Pada beberapa laga terakhir, Havertz dan Werner laiknya bocah yang baru pindah sekolah dari Jerman ke Inggris. Mereka kembali mengalami kegagapan yang pernah terjadi pada awal musim lalu.

***

Chelsea memasuki festive period (periode Natal dan Tahun Baru) Premier League dengan kepercayaan diri tinggi. Dalam sembilan laga terakhir jelang periode tersebut, Chelsea tidak pernah tersentuh kekalahan, dengan raihan lima kemenangan dan empat hasil imbang. Namun, memasuki festive period, Chelsea ambruk.

Diawali kekalahan dari Everton, Chelsea kepayahan menghadapi festive period ini. Mereka tumbang di tangan Wolverhampton Wanderers dan Arsenal, lalu ditahan imbang oleh Aston Villa. Mereka cuma mampu sekali menang, yakni ketika menghadapi West Ham United.

Pertanyaan pun menyeruak: Kenapa Chelsea yang begitu digdaya menjelang festive period, justru malah melempem di setelahnya? Ternyata, salah satu masalahnya bersumber di lini serang mereka. Bisa dibilang, Frank Lampard sedikit kebingungan memanfaatkan talenta-talenta lini serang Chelsea yang melimpah.

Bayangkan saja, mereka punya nama-nama macam Timo Werner, Kai Havertz, Christian Pulisic, Tammy Abraham, Hakim Ziyech, serta Olivier Giroud di lini depan. Tidak semuanya bisa terakomodasi dalam skema dasar 4-3-3 yang diterapkan oleh Lampard.

Hal ini juga yang pada akhirnya memengaruhi penampilan Werner dan Havertz. Memang, ada momen ketika Havertz dan Werner sempat tampil menggila. Namun, belakangan ini, mereka tampil mengecewakan. Mereka tidak mampu jadi solusi saat Chelsea menghadapi tim dengan blok rendah.

Menyoal Werner, Julian Nagelsmann, pelatihnya di RB Leipzig, memang pernah berujar bahwa Werner harus diberi ruang. Dengan begitu, Werner dapat memaksimalkan kecepatan yang ia punya. Lampard bukannya tidak melakukan itu. Ia memberikan ruang buat Werner dengan caranya sendiri, dengan cara memasangkan Werner dengan sosok-sosok lain di lini depan seperti Abraham, Pulisic, atau Callum Hudson-Odoi.

Namun, selama festive period ini, Werner justru malah jadi pesakitan. Laga melawan Wolves jadi salah satu laga ketika Werner tampil melempem. Menurut The Atlantic, Werner hanya mencetak tiga tembakan pada laga itu, dan tak ada satu pun tembakannya yang mengarah ke gawang.

Bukan cuma itu, Werner juga kesulitan menembus kotak penalti lawan. Para pemain Wolves menahan Werner agar tetap selalu berada di sayap, sehingga ia tidak bisa memberikan ancaman. Alhasil, angka xG (expected goals) Werner rendah pada laga itu, yakni 0,23.

Kalau persoalan posisi dan taktik sudah dibenahi, sekarang tinggal Werner sendiri. Melihat performanya ketika sudah mendapatkan posisi yang baik, plus ruang yang cukup untuk menembak, tetapi masih gagal mencetak gol, kesimpulannya cuma satu: Ia harus memperbaiki finishing-nya sendiri.

Lalu soal Kai Havertz, masalahnya lebih pelik lagi. Pada November lalu, ia terkena COVID-19. Hal itu memengaruhi penampilannya di atas lapangan. Sejatinya, Havertz adalah pemain yang punya kemampuan dalam meneruskan progresi permainan. Ia kerap berada di antara lini tengah dan lini serang, menjadi distributor bola bagi para pemain depan.

Namun, dalam laga melawan Wolves, Havertz juga tak kalah melempem. Umpan-umpan yang ia lepaskan kebanyakan mengarah ke sisi atau ke belakang. Hal tersebut membuat serangan Chelsea banyak terhenti, sehingga akhirnya ia digantikan Mateo Kovacic pada menit 71.

Buruknya penampilan kedua pemain ini pada akhirnya memengaruhi lini serang Chelsea secara keseluruhan. Lalu, apa yang harus dilakukan Lampard untuk mengatasi situasi ini?

***

Menilik apa yang dialami oleh Havertz dan Werner, agaknya memang formasi dasar 4-3-3 tidak mengakomodasi kemampuan keduanya. Di sinilah fleksibilitas Lampard dalam menerapkan taktik diuji. Dengan potensi Werner selaku penggebrak serta Havertz sebagai distributor bola, ia perlu coba mematenkan skema dasar lain yang dapat mengakomodasi Werner dan Havertz.

Misal, Lampard bisa coba memainkan skema dasar 4-4-2 berlian (4-3-1-2) dengan memasang Havertz di belakang dua striker dan Werner sebagai salah satu striker yang posisinya sedikit lebih ke dalam. Dengan begitu, baik itu Werner maupun Havertz dapat memiliki ruang untuk berkreasi di lini serang sesuai kualitas yang mereka miliki.

Lampard juga tetap bisa menggunakan skema dasar 4-3-3, dengan catatan Hakim Ziyech mesti bermain. Sosok asal Maroko itu, selain memberikan suntikan kreativitas buat lini serang Chelsea, nyatanya kehadiran Ziyech juga memberikan ruang buat Havertz. Selain itu, ia juga bisa jadi penyuplai bola yang andal buat Werner. Namun, Ziyech pun belum tentu bisa main terus-menerus.

Opsi lain: Memainkan 4-3-3 tanpa ada satu pun striker murni atau pemain yang mengambil peran sebagai target-man. Dengan begitu, lini serang Chelsea bisa menjadi lebih cair. Harapannya, dengan begitu Werner bisa mendapatkan kebebasan dan keleluasaan untuk bergerak dinamis.

Intinya, semua kembali kepada skema yang nantinya diterapkan Lampard. Memang, pada akhirnya nanti ada yang terkorbankan, misalkan Pulisic maupun Hudson-Odoi. Namun, sebagai manajer sebuah tim besar, Lampard tentu harus memiliki banyak rencana dan skema di balik sakunya. Ia tidak boleh terpaku pada satu rencana, karena itu akan jadi bumerang baginya.

Jadi, dalam kasus Werner dan Havertz ini, mereka memang butuh bantuan Lampard. Mereka butuh suntikan formasi dasar yang tepat. Jika Lampard sudah menemukan itu, ditopang juga oleh kualitas Werner dan Havertz, ia bisa mengangkat penampilan Chelsea lebih tinggi lagi.