Karut-Marut PSS

Ilustrasi: Arif Utama

Di bawah arahan Dejan Antonic, PSS punya beberapa masalah yang membuat mereka mendapatkan hasil buruk di Liga 1 sejauh ini.

Sleman sedang tidak baik-baik saja. Kata itu yang akan keluar dari mulut kita ketika berbicara soal sepak bola di daerah ini.

Omah PSS -Kantor PSS- yang berada di Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman mendadak ramai pada Kamis (30/9) lalu. Banyak spanduk dan poster yang ditempelkan pendukung PSS di kantor yang baru diresmikan akhir tahun lalu.

Spanduk dan poster yang ditempel dan dibentangkan oleh Slemania berbentuk kecaman. Mereka tak puas dengan penampilan tim di bawah arahan pelatih asal Serbia, Dejan Antonic.

Pencapaian 'Super Elja' di kompetisi Liga 1 musim ini memang mengecewakan. Sudah memainkan enam pertandingan, Irfan Jaya dan kolega cuma menang sekali dan imbang dua kali. PSS juga jadi klub keempat yang kebobolan cukup banyak dengan jumlah 9 kali.

Seruan untuk memberhentikan Dejan bermunculan. Tak cuma dalam bentuk poster dan spanduk yang menghiasi Omah PSS, tetapi juga di dunia maya.

Permintaan suporter PSS untuk Dejan mundur memang sudah terjadi sejak Piala Menpora lalu. Dalam turnamen pramusim tersebut, PSS tampil mengecewakan di babak fase grup meski mendapat hasil yang cukup apik.

Mereka juga cukup beruntung menembus babak semifinal. Di laga terakhir grup, mereka menang atas Persebaya lewat penalti Irfan Bachdim. Lalu, di babak delapan besar, PSS menyingkirkan Bali United lewat drama adu penalti.

Perjalanan PSS hanya sampai babak semifinal. Tim yang bermarkas di Stadion Maguwoharjo itu kalah dari Persib dengan agregat 3-2.

*****

PSS mengarungi kompetisi Liga 1 dengan beberapa perubahan. Fabiano Beltrame memilih mundur dari klub dan bergabung dengan Persis Solo. Hal yang sama juga terjadi dengan gelandang mereka yakni Nico Velez. Sebelum Liga 1 dimulai, pemain asal Argentina itu mengundurkan diri dan memilih main di Thailand.

Padahal, Nico Velez tampil cukup baik sepanjang Piala Menpora. Satu gol dan satu assist menjadi catatan eks pemain Felda United itu sepanjang turnamen. Ia juga mencatatkan 0,29 dribel sukses per pertandingannya.

Sialnya, PSS tak cepat mencari pengganti untuk Nico sebagai pengatur serangan. Hal tersebut yang membuat serangan-serangan PSS jadi monoton dan mudah dipatahkan oleh lini belakang lawan. Sebagai bukti, PSS menjadi tim yang paling sedikit mendapatkan attempts di seri perdana Liga 1. Menurut Lapangbola, PSS cuma mencatatkan 54 attempts dengan jumlah gol enam.

Kita memang tak mengetahui angka harapan peluang (xG) dari total tembakan itu. Namun, melihat dari jumlahnya yang sedikit, kita tahu bahwa PSS terlihat kurang cakap dalam mengkreasikan peluang. Dejan Antonic terlalu menitikberatkan alur serangan di sisi tepi, tanpa bisa menemukan formula lain.

Memang, di situ PSS punya pemain eksplosif seperti Irkham Milla dan Irfan Jaya. Catatan keduanya cukup impresif sejauh ini.

Irfan Jaya sudah membuat dua assist dan satu gol sepanjang Liga 1 musim ini. Eks pemain Persebaya itu juga membuat 105 passing sukses dari lima penampilannya. Adapun Milla, sudah mengemas dua gol dan satu assist dari lima penampilannya untuk PSS. Salah satu golnya menyelamatkan PSS dari kekalahan dari Persija di laga perdana Liga 1.

Akan tetapi, Milla dan Irfan Jaya kerap tak mendapat dukungan dari lini kedua serta para bek tepi. Ini yang membuat dua winger PSS kesulitan untuk menembus pertahanan lawan atau sekadar mendapatkan bola. Arthur Irawan atau Bagus Nirwanto lebih banyak berkutat di lini belakang. Sisi tepi jarang sekali melakukan kombinasi.

PSS semakin mandek karena variasi serangan dari tengah minim. Kim Kurniawan adalah tipe all-round midfielder yang kurang lihai dalam hal memberikan end-passing lini depan. Selain itu, mantan pemain Persib ini juga lebih sering berdiri terlalu dalam untuk membantu pertahanan. Dua gelandang lainnya malah lebih banyak bergerak melebar.

Masalah PSS lainnya terletak di pemilihan pemain. Dejan seperti belum bisa memilih 11 pemain inti secara konsisten. Di tengah, Dejan masih kerap bingung memilih antara Wahyu Sukarta, Misbakus Solikin, atau Aaron Evans. Dan setiap pilihannya terlihat belum bisa meningkatkan performa dan kreativitas PSS.

Paling kontroversial tentu pemilihan Arthur Irawan di pos bek tepi kiri. Pemilihan ini kebetulan juga ditentang oleh para pendukung PSS di media sosial. Padahal, di pos tersebut PSS memiliki Samsul Arifin.

Samsul Arifin bermain sangat baik di ajang Piala Menpora. Dalam membantu serangan, ada dua assist yang dibuatnya sepanjang turnamen. Belum lagi catatan 20 intersep dan delapan sapuan dari empat laga yang dimainkannya di Piala Menpora.

Selain minimnya kreativitas, organisasi pertahanan juga menjadi sumber kelemahan PSS sejauh ini. Mereka kerap keteteran menghadapi serangan lawan khususnya dari sisi tepi. Jika lawan mampu melakukan overload di salah satu sisi tepi, PSS bakal kerepotan.

Dua gol saat melawan Persebaya lahir dari buruknya sisi tepi pertahanan PSS. Penempatan posisi pemain acap terlalu jauh sehingga menimbulkan ruang yang lebar. Ruang-ruang tersebut membuat pemain lawan bisa berkreasi dan menciptakan gol.

Kelemahan lainnya adalah situasi bola mati. Empat gol yang tercipta lahir dari buruknya koordinasi PSS dalam menghadapi bola mati, terutama soal bola kedua (second-ball). Para pemain belakang kurang cekatan dan cenderung lebih menunggu saat bola berhasil di sapu dari area pertahanan.

***

PSS berhasil promosi ke Liga 1 usai menjadi kampiun Liga 2 di musim 2018. Kala itu, PSS yang berada di bawah komando Seto Nurdiantoro bermain sangat dinamis. Bola-bola pendek jadi andalan mereka untuk membangun serangan. Penguasaan bola diutamakan.

Selain itu, 'Super Elja' juga mengutamakan pressing ketat saat sudah kehilangan bola. Mereka berusaha merebut bola dari lawan secepat mungkin, meminimalisir terciptanya peluang berbahaya di area pertahanan mereka.

Pada babak penyisihan, PSS berhasil menjadi pemuncak klasemen wilayah timur. Mereka menjadi tim yang paling produktif dengan torehan 37 gol dan cuma kebobolan 15 kali. Kokoh dan suburnya PSS berlanjut hingga babak final. Pada laga yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, PSS mengalahkan Semen Padang dengan skor 2-0. Hasil yang mengantarkan PSS menembus Liga 1 hingga saat ini.

Pencapaian serta permainan apik seperti itu yang dirindukan oleh para pendukung PSS. Mereka ingin timnya bermain lebih baik, atraktif, dan garang, karena dengan begitu kemenangan akan datang sendirinya.

Para suporter PSS terlihat jengah menonton timnya sekarang: Minim kreasi, acap buntu jika sisi sayap tersumbat.  Pada akhirnya, yang diandalkan hanyalah bola-bola lambung tanpa arah dan aksi individu dari para pemain yang belum tentu bisa maksimal di setiap pertandingan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.