Kelechi Iheanacho: Pendar Sepak Bola Nigeria Belum Padam di Premier League

Foto: Twitter @LCFC

Tersisih dari Manchester City, Iheanacho malah bersinar bersama Leicester City.

Nwankwo Kanu pernah menjadi penyerang Nigeria yang bersinar di Premier League. Tampil bersama Arsenal dan Portsmouth, Kanu memenangi beragam gelar di Tanah Ratu Elizabeth ini.

Pada Januari 1999, Arsenal mendatangkan Kanu dari Inter Milan. The Gunners mengeluarkan mahar sebesar 4,5 juta poundsterling untuk mendatangkan Kanu yang saat itu masih berusia 22 tahun.

Curriculum vitae Kanu saat itu cukup apik. Pada tahun 1995, Kanu sukses membawa Ajax menjadi kampiun Liga Europa. Setahun berselang, Kanu mengantar Timnas Nigeria mendapatkan medali emas Olimpiade Amerika Serikat.

Namun, prestasi Kanu di Inter agak merosot. Cuma 20 pertandingan yang Kanu jalankan dalam balutan seragam Nerazzurri. Alhasil, penyerang kelahiran 1 Agustus 1976 itu cuma bisa mengemas satu gol.

Karier yang meredup di Inter tak berpengaruh di Arsenal. Kanu tetap bersinar meski ada di bawah bayang-bayang Thierry Henry dan Dennis Bergkamp.

Di Arsenal, Kanu menciptakan 44 gol dan 29 assist dalam 196 penampilan. Tak cuma itu, Kanu juga bisa membawa Arsenal meraih dua gelar Premier League dan dua FA Cup.

Usai Kanu, Nigeria memang tak berhenti mengirim bakat-bakat cemerlangnya ke Premier League. Mulai dari Jay Jay Okocha, Yakubu Aiyegbeni, John Obi Mikel, hingga yang kini tengah bersinar bersama Leicester City, Kelechi Iheanacho.

Teranyar, Iheanacho berhasil membawa The Foxes melaju ke final FA Cup. Gol Iheanacho di babak semifinal melawan Southampton membuat Leicester akan menantang Chelsea di babak final yang akan berlangsung 15 Mei mendatang.

****

Bermain sepak bola bukan perkara mudah untuk Iheanacho kecil. Orang tuanya menentang keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola profesional.

Bagi orang tuanya, pendidikan formal adalah hal yang utama. Sebab, lewat pendidikan kesuksesan hidup akan diraih dengan mudah.

Maka, Iheanacho harus mengendap-ngendap untuk bermain bola. Tak jarang ia dihukum sang ayah karena ketahuan bermain sepak bola.

"Saya memiliki waktu yang terbatas untuk bermain sepak bola dan saya harus bermain di sekolah. Kadang-kadang saya pergi jauh dari rumah untuk bermain sepak bola sehingga kedua orang tua tidak melihat saya," kenang Iheanacho.

Hati dan keinginan orang tua Iheanacho akhirnya luluh. Pasalnya, Iheanacho terpilih mewakili tim sekolah untuk berkompetisi di negara bagian. Di situlah kesempatan bagi Iheanacho membuktikan kepada kedua orang tuanya.

Benar saja, Iheanacho berhasil membawa timnya juara kompetisi negara bagian. Dia pun didaulat menjadi pemain terbaik kompetisi.

Kejadian tersebut yang mengubah pandangan orang tuanya. Dari situ, karier sepak bola Iheanacho dimulai.

James Iheanacho--ayahnya--pula yang mendaftarkan Iheanacho di sekolah bola ternama di tempatnya. Masuk di Akademi Sepak Bola Taye, Iheanacho terus berkembang menjadi pesepak bola yang andal.

Berbagai juara kompetisi nasional berhasil direngkuhnya. Salah satunya adalah kompetisi usia muda di Abuja yang merupakan ibu kota Nigeria. Keberhasilan itu membuat bakat Iheanacho mulai dipandang seantero Nigeria.

Iheanacho juga sukses menembus skuad muda Nigeria mulai dari U-14 hingga U-17. Iheanacho akhirnya mendapat kesempatan untuk membela Nigeria di Piala Dunia U-17 2013.

Di turnamen itu, Iheanacho menunjukkan kelasnya. Nigeria berhasil dibawanya meraih gelar juara. Ia pun mendapatkan gelar Pemain Terbaik turnamen berbekal enam gol dan lima assist.

Dari turnamen tersebut bakat Iheanacho terendus pemandu bakat klub Eropa. Porto, Arsenal, hingga Manchester City berlomba-lomba ingin mendapatkan jasanya.

Sampai akhirnya pada Januari 2014, City yang berhasil mengontrak Iheanacho di usia 18 tahun. Kabarnya, City harus membayar uang sebesar 300 ribu poundsterling kepada Akademi Taye.

Satu setengah musim berada di skuat junior City, Iheanacho akhirnya mendapatkan debut di tim utama. Agustus 2015, Iheanacho diberikan menit bermain oleh Manuel Pellegrini saat City menghadapi Watford.

Saat itu, Iheanacho dimainkan pada menit 89 menggantikan Raheem Sterling. Menariknya, Iheanacho langsung keluar sebagai penyelamat City pada pekan selanjutnya. Bersua Crystal Palace di Selhurst Park, Iheanacho menjadi penentu kemenangan The Citizen, padahal juga baru masuk pada menit 89.

Musim perdananya di skuad utama City, Iheanacho tampil 35 kali di semua kompetisi. Ia juga sukses mengemas 14 gol dan lima assist.

Namun, menumpuknya bintang di City membuat Iheanacho perlahan terbengkalai. Ia memutuskan untuk hijrah ke Leicester City pada musim 2017/18.

Karier Iheanacho tak berlangsung mulus di Leicester. Pergantian pelatih dan kepergian beberapa bintang membuat kondisi Leicester tidak stabil.

Di musim perdananya, Iheanacho bisa membuat delapan gol dan empat assist. Namun, pencapaiannya menurun di musim berikutnya dengan torehan dua gol dan empat assist.

Masuknya Brendan Rodgers pada Februari 2019 menjadi angin segar untuk Iheanacho. Bersama Rodgers, Iheanacho bersinar di Leicester musim ini.

Salah satu senjata Iheanacho adalah kecepatannya. Lewat itu ia berhasil beradaptasi dengan baik di sepak bola Inggris sampai saat ini. Selain cepat, Iheanacho piawai melindungi bola dan melewati lawan.

Lewat kemampuannya itu, Iheanacho acapkali merepotkan lini belakang lawan. Iheanacho juga tak cuma piawai dengan kakinya saja. Bola-bola udara juga bisa menjadi santapan Iheanacho untuk membobol gawang lawan.

***

Kalau ditanya siapa pembuat gol terbanyak sementara Leicester pada musim ini jawabannya bukan Jamie Vardy. Penyerang asal Inggris itu memang sudah mengemas 14 gol untuk The Foxes musim ini di semua kompetisi.

Namun, angka itu masih kalah dari Iheanacho yang sudah mengemas 15 gol dalam 31 penampilan untuk Leicester di semua kompetisi. Menariknya, 15 gol yang diciptakan Iheanacho tercipta dari total 36 shots yang sudah ia lepaskan. Itu artinya goal conversion Iheanacho di angka 42 persen.

Hebatnya lagi, Iheanacho juga bisa membuat 10 gol dalam tujuh pertandingan terakhir Leicester City di lintas kompetisi. Tak heran, Iheanacho terpilih sebagai Pemain Terbaik Premier League Maret 2021. Iheanacho meraih gelar tersebut usai mengalahkan nama-nama beken seperti Harry Kane, Jesse Lingard, hingga Riyad Mahrez.

Iheanacho juga menjadi pemain Nigeria keempat yang memenangi penghargaan tersebut sesudah Jay Jay Okocha, Peter Odemwingie, dan Odion Ighalo. Ia juga menjadi pemain Leicester pertama yang meraih penghargaan tersebut setelah terakhir Jamie Vardy pada Oktober 2019.

Iheanacho tentu belum puas hanya mendapatkan gelar individu. Ia masih memiliki kans untuk bisa membawa Leicester meraih gelar di musim ini. Syaratnya, Iheanacho harus kembali memperlihatkan maginya di Final FA Cup pertengahan Mei mendatang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.