Kenapa Cristiano Ronaldo Belum Tamat?

Foto: Twitter @juventusfc

Cristiano Ronaldo membuat kepergiannya sebagai kehilangan tak terperi bagi Real Madrid dan kedatangan tak terbayangkan bagi Juventus.

Cristiano Ronaldo selalu menemukan cara untuk membuat tim bergantung padanya. Orang-orang menyebut Ronaldo seperti anggur, semakin tua semakin sedap, semakin berumur semakin ganas.

Di hadapan Ronaldo, idealisme tentang permainan indah, sepak bola sebagai jalan keluar, sepak bola sebagai bentuk perlawanan, filosofi yang membuat para penggila sepak bola mendadak berubah menjadi pujangga yang mengumbar kalimat puitis adalah tahi kucing belaka. 

Ronaldo peduli setan dengan tendensi untuk menjadi abadi. Ia tidak serupa dengan Pep Guardiola yang dikenang sebagai pemain yang membuktikan bahwa kemenangan selalu dapat direngkuh dengan cara elegan. 

Ia tidak seperti Andrea Pirlo yang diingat sebagai genius lapangan sepak bola. Ia tak mau ambil pusing demi diakui sebagai eksotis yang mewariskan banyak kenangan lewat sepak bola seperti Juan Roman Riquelme dan Garrincha.

Satu-satunya hal yang dipedulikan Ronaldo adalah bagaimana membuat dirinya sendiri menjadi pemain yang selalu dibutuhkan tim. Hanya butuh dua atau tiga menit dengan mesin pencari internet untuk menemukan ketekunan Ronaldo untuk menjaga tubuhnya. Mulai dari diet, tidur, hingga latihan semua dilakukannya supaya memiliki tubuh yang sanggup menopang umur karier yang panjang. 

Semuanya serba-terhitung, bukan sekadar “Saya rasa latihan seperti ini sesuai, saya rasa makanan ini cocok." Pun demikian dengan perkara teknis. Adaptasi adalah kunci yang membuat Ronaldo selalu dibutuhkan oleh timnya. Ronaldo tidak melakukannya dalam dua atau tiga tahun saja. Baginya adaptasi adalah perjalanan yang mesti ditempuh selama sepatu belum digantung, bahkan saat lapangan bola sudah menjadi tanah kebesarannya sepanjang satu dekade. 

2009/10-2013/14

Ronaldo berlaga di bawah kepemimpinan lima manajer berbeda selama membela Madrid. Kedatangannya adalah bagian dari ambisi Los Galacticos Florentino Perez. Madrid tak cukup hanya menjadi klub perengkuh gelar juara La Liga. Mereka harus bisa menjadi klub yang berjaya. 

Itulah sebabnya para pemain bintang didatangkan menjelang musim 2009/10. Tak cuma Ronaldo, Madrid turut mengangkut Karim Benzema, Ricardo Kaka, Xabi Alonso, dan Raul Albiol, dan juru taktik anyar, Manuel Pellegrini.

Ronaldo menjadi mesin pencetak gol yang menembak di seluruh area lini depan. Tak peduli kiri, kanan, atau tengah, Ronaldo tampil beringas. Musim perdananya di La Liga selesai dengan 26 gol. Menghitung di seluruh kompetisi, Ronaldo memantik sorak suporter Madrid dengan menorehkan 33 gol.

Kedatangan Jose Mourinho mengubah peran yang diemban Ronaldo. The Special One membentuknya sebagai penyerang kiri yang memiliki kebebasan untuk bermain dalam dan menyisir area sayap. 

Mourinho tidak sedang mencoba-coba tanpa perhitungan. Taktik seperti itu diambil karena sistem permainan Mourinho di Madrid tidak kelewat mengandalkan possession seperti Pellegrini. Mourinho membutuhkan pemain yang bisa menyerang cepat saat transisi.

Lagi pula, Madrid memiliki Gonzalo Higuain dan Karim Benzema yang secara bergantian didapuk sebagai penyerang tengah. Meminta Ronaldo mengemban peran serupa sama dengan mubazir.

Higuain dipandang pas berlaga sebagai penyerang tengah karena itu memang posisi naturalnya. Akan tetapi, Higuain juga bisa diandalkan untuk ikut membantu para pemain sayap dan gelandang saat harus melepas tembakan. 

Sementara, Benzema memikul tanggung jawabnya dengan berlari tanpa lelah untuk menjelajah area pertahanan lawan. Di lain waktu, Benzema akan melindungi Ronaldo dan membiarkannya untuk bermanuver.

2014/15-2017/18

Pada musim-musim awalnya di Manchester United, Ronaldo berulang kali membuat rekan setimnya frustrasi, termasuk Gary Neville. Bukan karena tak jago, tetapi karena Ronaldo doyan berlama-lama dengan bola.

Ketika seharusnya bisa langsung menembak, ia malah asyik mendribel dan menggocek bola. Permainan atraktif tetapi tidak efektif buat apa? Laga sepak bola tidak sama dengan sirkus.

Kabar baiknya, Ronaldo berbenah dan mampu menjadi tumpuan pasukan Sir Alex Ferguson untuk mencetak gol. Perkembangan serupa pun terjadi di Madrid. Pada musim pertama di La Liga, Ronaldo mencatatkan rerata 3,1 dribel per pertandingan. 

Jumlah tersebut merosot hingga 1,6 pada 2012/13 atau musim terakhir Mourinho melatih Madrid. Jangan buru-buru Ronaldo kehilangan magi. Penurunan dribel dibarengi dengan peningkatan jumlah gol, dari 26 pada 2009/10 menjadi 34 pada 2012/13.

Saat Madrid mengalami gejolak internal akibat ulah Mourinho di ruang ganti, Ronaldo tak hanya mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin yang memacu kawan-kawannya di ruang ganti. 

Ronaldo juga memimpin tim di atas lapangan dengan permainan yang lebih fungsional, direct, dan tajam. Performa esensial tersebut membuat Madrid tidak kehilangan tumpuan saat gonjang-ganjing yang memuakkan terjadi. 

Kepergian Mourinho dengan segala keruwetannya mewariskan timbunan pekerjaan rumah untuk Carlo Ancelotti yang datang sebagai pengganti. Sebelum berpikir jauh bagaimana caranya merengkuh La Decima, Ancelotti mesti harus meredakan permusuhan di dalam tim. 

Ancelotti memberikan kebebasan kepada Gareth Bale, Benzema, dan Ronaldo yang mesti bermain dalam satu tim yang sama. Kepergian Higuain ke Napoli membuat slot penyerang tengah menjadi milik Benzema. 

Ronaldo berhasil menerjemahkan konsep Ancelotti dengan menjadi tandem yang sepadan untuk Benzema di dalam kotak penalti. Jumlah tembakannya di dalam kotak penalti jauh lebih tinggi ketimbang dari luar kotak penalti. Kondisi ini diikuti dengan meningkatnya lagi jumlah dribel suksesnya, menjadi 2,2 per laga liga.

Musim berganti, daya ledak Ronaldo semakin menjadi. Bahkan pada 2014/15, Ronaldo mencetak rekor lewat 48 gol di La Liga.

Pada Januari 2016 Zinedine Zidane mengambil alih kemudi kepelatihan dan sekali lagi, Ronaldo ditahbiskan sebagai goal getter utama, sedangkan Benzema berlaga sebagai pemain depan yang sifatnya lebih playmaking. Build-up serangan di sepertiga akhir lapangan adalah tanggung jawab Benzema sehingga tim dapat mengandalkan Ronaldo untuk mencetak gol.

Ronaldo menandai perjalanannya di La Liga bersama Zidane dengan 35 gol pada 2015/16, 25 gol pada 2016/17, dan 26 gol pada 2017/18. Dibandingkan saat mencetak rekor, jumlah tersebut memang menurun. Akan tetapi, dalam kurun tersebut Ronaldo juga cukup banyak absen.

2018/19-2020/21

Mudah untuk menebak bahwa Ronaldo akan banyak beroperasi di kotak penalti saat ia berseragam Juventus. Bagaimanapun, peran itu yang diembannya dalam beberapa musim terakhir. 

Kita pikir, para pelatih menunjuk Ronaldo untuk menjadi goal getter utama karena usianya sudah tidak lagi mudah. Namun, apa yang terjadi di Juventus membantah argumen tersebut.

Pada musim pertamanya di Serie A, Ronaldo mencatatkan rerata 33,3 umpan per pertandingan. Jumlah itu mendekati dengan torehannya pada 2011/12 ketika masih menjadi winger di Madrid. Begitu pula dengan percobaan dribelnya. Pada musim perdana Juventus, Ronaldo membuat 2,7 percobaan dribel (sukses 1,5) per pertandingan. 

Jumlah tersebut memang tidak semasif musim perdananya di Madrid (percobaan 6,2, sukses 3), tetapi ada perubahan yang cukup drastis jika melihat apa yang terjadi dalam beberapa musim di Bernabeu. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa Ronaldo lebih aktif terlibat dalam permainan Juventus. 

Di bawah kepelatihan Pirlo, peran Ronaldo ternyata tidak berubah. Ketimbang memainkan Ronaldo sebagai goal getter yang lebih banyak ngepos di kotak penalti lawan, Pirlo mengembalikan Ronaldo kepada bentuk klasiknya: Penyerang kiri yang banyak terlibat dalam permainan.

Juventus membutuhkan Ronaldo beradaptasi menjadi pemain yang bisa mengemban tugas sebagai pemasok bola bagi bek sayap, alih-alih muara tunggal serangan. 

Ketika masih berstatus sebagai pemain Pirlo adalah otak serangan Juventus. Pengalaman tersebut membuatnya paham bahwa Juventus butuh pemain kreatif supaya serangan tidak putus di tengah jalan. 

Sebagai orang yang tumbuh di lapangan bola, Pirlo maupun pelatih Juventus lain yang pernah ‘memegang’ Ronaldo tahu betul bahwa nama besar si bintang Portugal ini tidak dibangun di atas kontroversi atau perkara yang aneh-aneh. 

Kalau Ronaldo bisa sebesar sekarang, itu adalah buah yang dipetik dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Jika Ronaldo tetap bisa bertahan di level teratas bahkan saat usianya sudah lebih dari 35 tahun, itu adalah upah dari kesediaannya untuk beradaptasi. 

Alasan itu membuat para pelatih Juventus, termasuk Pirlo, percaya Ronaldo dapat memikul tanggung jawab baru di Turin. Agak berbeda dengan Madrid, Juventus adalah tim dengan intensitas serangan yang menyebar. Serangan utama tidak datang dari tengah, tetapi sayap. Untuk bisa menjadi orang yang sama dengan di Madrid, Ronaldo butuh adaptasi menghadapi perubahan tersebut.

Hasilnya tidak mengecewakan karena Ronaldo sekarang bermain sebagai orang yang lebih team player. Perubahan itu mau tidak mau memengaruhi total tembakan Ronaldo di Serie A: 5,7 (2018/19), 6,3 (2019/20), dan 5 (2020/21). Bandingkan dengan tiga musim terakhirnya di Madrid: 6,6 (2017/18), 5,6 (2016/17), dan 6,3 (2015/16).

Statistik tersebut diikuti dengan rerata peluang (chances) yang mencapai angka 1,76 per pertandingan, padahal chances yang dibuatnya dalam tiga musim terakhir di Madrid adalah 1,5 per laga. 

Pada musim 2019/20, angkanya memang menurun menjadi 1,65. Akan tetapi, menyebut Ronaldo mulai kembali ke peran terakhirnya di Real Madrid rasanya kurang tepat. 

Jika chances created pada 2018/19 dibedah, kita akan menemukan 46,5 umpan kunci dan 8 assist. Sementara pada 2019/20, Ronaldo membuat 49,5 umpan kunci dan 5 assist. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa penurunan assist dan umpan kunci sebagai komponen chances created cukup sebanding. 

Keterlibatan Ronaldo dalam permainan Juventus tidak hanya bicara soal umpan dan dribel, tetapi juga pergerakan tanpa bola. Bukan tak mungkin Ronaldo mengecoh para bek lawan untuk membuka ruang bagi kawannya yang akan menembak. Selama Ronaldo ada di kotak penalti meski tidak menguasai bola, kemungkinan besar bek lawan akan fokus menjaganya. Dengan begitu, Juventus memiliki peluang untuk membobol gawang lawan. 

Selain itu, Pirlo berulang kali menginstruksikan para penyerangnya untuk ikut menekan sampai area belakang saat lawan melakukan deep build up. Maka, bukan tak mungkin Ronaldo atau Alvaro Morata harus terlibat dalam pertarungan satu lawan satu. 

****
Perubahan demi perubahan belum membuat Ronaldo mati kutu. Tuntutan Juventus supaya Ronaldo memainkan peran yang sudah lama ditinggalkannya ternyata tidak menjadi permintaan yang bertepuk sebelah tangan. 

Juventus memang masih terjerembap di peringkat lima Serie A 2020/21. Namun, Ronaldo tetap di puncak. Ballon d’Or boleh dibatalkan, tetapi sepak bola mengakuinya sebagai pemain terbaik abad ini. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.