Kenapa Juventus Bermain Buruk di Pekan Awal Serie A 2021/22?

Instagram: @juventus

Permainan buruk Juventus di pekan-pekan awal Serie A 2021/22 bukan tentang ada atau tidak adanya Ronaldo, tetapi karena minimnya kreativitas.

Juventus mengawali Serie A 2021/22 dengan semenjana. Tak ada kemenangan yang direngkuh di dua laga perdana. Setelah imbang 2-2 dengan Udinese, Juventus kalah 0-1 dari Empoli. Parahnya, hasil minor itu didapat di Turin alias kandang sendiri dan Empoli datang ke Serie A sebagai tim promosi.

Ketika Massimiliano Allegri meminta agar suporter melupakan Cristiano Ronaldo, ia meminta perkara yang masuk akal. Pasalnya, hasil buruk itu bukan menyoal ada atau tidak adanya Ronaldo, tetapi karena minimnya kreativitas.

Persoalan pertama adalah karena Juventus bertanding tanpa sosok pemimpin. Bukan, ini bukan bicara mental blablabla, tetapi taktik. Ambil contoh Paulo Dybala yang ditempatkan di lini terdepan bersama Federico Chiesa. Tak ada satu pun di antara mereka yang merupakan penyerang murni. Akibatnya Dybala lebih sering bermain ke dalam sampai hampir sejajar dengan Adrien Rabiot atau Rodrigo Bentancur. 

Chiesa beberapa kali tampil menggebrak, bahkan ia berani berduel satu lawan satu dengan bek Empoli. Akan tetapi, upaya tersebut gagal membuahkan hasil karena minimnya sokongan dari lini tengah yang terkungkung oleh pressing Empoli.

Mengutip statistik Whoscored, Dybala juga sempat membuat enam crossing ke kotak penalti. Persoalan yang perlu digarisbawahi, akurasinya 0%. Kondisi ini menggambarkan tidak adanya pemain yang sanggup menyelesaikan umpan tersebut dari kotak penalti. Hal seperti inilah yang membuat pemilihan duet penyerang Chiesa dan Dybala di lini terdepan patut dipertanyakan. 

Di Piala Eropa 2020 Chiesa memang tampil dengan peran ganda, pelayan dan penyelesai akhir. Yang jadi pembeda, kualitasnya sebagai penyelesai akhir dapat bersinar di Timnas Italia karena ia ditopang oleh para penyuplai ulung seperti Jorginho dan Marco Verratti.

Allegri memang menurunkan seorang trequartista di duel melawan Empoli untuk menopang kreativitas, itu adalah Weston McKennie. Namun, trequartista bukan peran natural McKennie. Alih-alih mengkreasikan peluang, McKennie lebih direpotkan dengan tugas man to man marking kepada gelandang Empoli, Samuele Ricci. Lagi pula, McKennie lebih efektif mengemban tugas sebagai gelandang box to box ketimbang trequartista.

Dalam kekalahan dari Empoli itu, duet Rabiot dan Bentancur yang bertugas sebagai gelandang box to box, sedangkan Danilo bertindak sebagai gelandang yang menjaga kedalaman. Pada awalnya, pemain asal Brasil tersebut melakoni tugasnya dengan baik. Masalah mulai muncul ketika para gelandang dan penyerang Empoli melakukan pressing. Danilo seperti kehilangan energi untuk meladeni pressing tersebut, padahal ketangguhan mendikte permainan merupakan perkara mutlak bagi gelandang yang bertugas di kedalaman. 

Keputusan Allegri untuk melakoni laga dengan formasi 4-3-1-2 sebenarnya beralasan. Langkah itu diambil karena Empoli melakoni laga dengan formasi serupa. Kekuatan gelandang lawan diadu dengan kekuatan gelandang timnya. Akan tetapi, taktik itu menjadi senjata makan tuan bagi Allegri. Bukan karena Juventus kekurangan gelandang bagus, tetapi karena mereka diinstruksikan untuk turun arena dengan peran dan posisi yang tidak tepat.

Permainan Juventus sempat membaik di babak kedua begitu Alvaro Morata menggantikan McKennie, formasi pun berubah menjadi 4-4-1-1. Di sini Dybala dan Morata mampu bekerja sama dengan padu, serangan-serangan Juventus jadi bernyawa. Setelah turun minum, Juventus memang bisa tampil lebih menghentak dengan membuat 11 percobaan. Namun, di antara sekian banyak peluang tersebut hanya 2 yang mengarah ke gawang.

Ketika permainan menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Allegri melakukan pergantian pemain yang lagi-lagi mengubah segalanya. Chiesa, salah satu pemain terbaik di laga itu--membuat 3 tembakan, 2 umpan kunci, 3 dribel sukses, 2 tekel sukses, dan 1 sapuan--ditarik dan digantikan oleh Dejan Kulusevski yang kehilangan possession 5 kali, dengan 3 di antaranya di area sepertiga akhir serangan Empoli.

Mandeknya progresi di lini tengah membuat para full-back menjadi hulu utama serangan Juventus. Cuadrado mengambil tanggung jawab ini dengan membuat umpan kunci. Catatan 4 umpan kuncinya menjadi yang tertinggi di antara seluruh pemain. Masalahnya, itu tidak cukup untuk mendongkrak permainan tim secara keseluruhan. 

Dalam analisisnya untuk Old Juve, Jyotirmoy Hald menjelaskan ketidakseimbangan merupakan persoalan pada sektor full-back Juventus. Cuadrado ditandemkan dengan Alex Sandro yang ternyata tidak memiliki daya serang yang setara dengannya. Akibatnya, manuver dari area full-back jadi berat sebelah. Ini dapat dilihat dari sampai area mana keduanya beroperasi. Cuadrado cenderung bermain jauh di atas garis tengah, sedangkan Sandro di belakang garis tengah.

****
Terlalu dini untuk mengecap Juventus akan babak belur hanya dengan melihat dua laga awal ataupun satu kekalahan di kandang. Namun, bukan berarti ini dapat dibiarkan begitu saja. 

Allegri bukan orang asing di Juventus. Ia telah bersama Dybala selama lima tahun, ia memiliki McKennie di pramusim dan sesi latihan, ia pun melihat bahwa Federico Bernardeschi tampil luar biasa di pos sayap kanan--bukan di sayap kiri--saat menghajar Atletico Madrid di leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2018/19.

Sepak bola adalah permainan kompleks, tetapi dasarnya sederhana. Untuk dapat menyusun taktik dengan tepat, hal pertama yang harus diketahui adalah memainkan pemain di posisi dan peran yang tepat.It is not a rocket science. Dalam laga melawan Empoli, Allegri seperti menciptakan labirin yang bukannya membuat lawan tersesat, tetapi mengacaukan langkahnya sendiri, dengan memberikan posisi dan peran yang tidak pas untuk sejumlah pemainnya.

Sebagian orang mengingat laga ini: Matchday ketiga Liga Champions 2018/19, laga Manchester United melawan Juventus di Old Trafford. Juventus memang hanya menang tipis, 1-0, atas skuad asuhan Jose Mourinho saat itu. 

Namun, di antara sekian banyak pertandingan yang dilakoni Allegri bersama Juventus, ini pantas untuk disebut sebagai salah satu yang terbaik. Bicara soal moncernya permainan Juventus saat itu, tak bisa dilepaskan dari solidnya komposisi lini tengah yang disisi oleh Cuadrado, Bentancur, Miralem Pjanic, dan Blaise Matuidi. 

Primanya Juventus bertumpu pada performa Pjanic yang andal memotong serangan United dari lini tengah dan Bentancur yang gigih mendistribusikan bola yang dimenangi oleh Pjanic kepada rekan-rekannya. Ketika itu Bentancur tidak menjadi otak serangan, tetapi jantung yang memompa darah (bola) ke seluruh tubuh (tim). Ia tampil dinamis dengan daya jelajah tinggi dan giat membantu serangan dan pertahanan dengan seimbang.

Kualitas seperti inilah yang tidak dimiliki Juventus, khususnya, pada pertandingan melawan Empoli. Siapa yang menjadi jantung dan siapa yang menjadi otak serangan, itulah yang sebaik-baiknya mesti ditentukan oleh Allegri sebelum turun arena. Akibat kealpaan tersebut bukan cuma kekalahan, tetapi juga permainan yang membuat entah berapa banyak suporter Juventus ngeri membayangkan apa yang bakal terjadi di pekan-pekan ke depan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.