Kevin Diks di Mata Rouven Schroeder

Foto: Riiana Izzietova

Saya berbincang dengan Rouven Schröder soal perkembangan Kevin Diks, kontrak jangka panjangnya, dan kemungkinan Gladbach merekrut pemain Indonesia.

Di Volksparkstadion sore itu, Kevin Diks hanya bermain selama 88 menit. Ia ditarik keluar karena mengalami cedera kepala usai berbenturan dengan bek HSV, Luka Vuskovic.

Saya bertemu dengan Diks selepas laga di mixed zone, tapi cedera kepala tersebut membuatnya tak mampu untuk meladeni wawancara.

Saya bertanya kepada Direktur Olahraga Borussia Mönchengladbach, Rouven Schröder, perihal cedera tersebut dan ia mengatakan bahwa itu bukan cedera serius yang akan membuat Diks absen dalam waktu lama.

Diks sendiri tampil cukup baik pada laga menghadapi HSV, mencatatkan empat sapuan, dua intersep, dua recoveries, dan memenangkan 75% duel udara.

Ia juga tampil baik soal urusan distribusi, acap menjadi opsi Gladbach untuk melakukan progresi, dan secara keseluruhan mencatatkan 90% umpan sukses.

Pemain 29 tahun ini juga terlihat percaya diri, mampu bergerak melakukan overlap maupun underlap untuk menempatkan diri agar menjadi target umpan dalam posisi bebas.

Pergerakan mobile Ransford Königsdörffer, pemain HSV yang secara posisi harus ia jaga saat Gladbach menerapkan man-to-man, memang membuatnya cukup kerepotan. Namun, Diks tampil cukup tenang dan tidak terpancing untuk meninggalkan struktur pertahanannya secara terus-menerus.

Penampilannya, bersama Nico Elvedi dan Philipp Sander sebagai trio bek tengah, menjadi salah satu alasan mengapa Gladbach tak kebobolan pada laga itu meski sepanjang laga mereka berada di bawah tekanan HSV.

HSV sendiri pada laga itu melepas 25 tembakan yang secara kumulatif mampu membuat mereka setidaknya mencetak satu gol, tapi realita memerlihatkan bahwa mereka gagal mengonversi satu pun menjadi gol.

HSV juga mampu membuat Gladbach tak mampu mendapatkan peluang emas usai mampu membaca diagonal play dan melakukan pressing dengan baik.

Diks dan Gladbach pulang dari Hamburg dengan membawa satu poin, hasil yang amat baik mengingat pada laga sebelumnya mereka baru saja dihajar Hoffenheim 5-1.

Selepas laga, saya berbicara secara eksklusif dengan Schröder mengenai Diks, perihal perkembangannya yang sangat positif dalam setengah musim perdananya di Bundesliga. Well, sebagai catatan, Diks langsung menjadi pemain inti Gladbach dan ia menunjukkan performa yang makin konsisten.

“Dia adalah pemain yang sangat berpengalaman, sangat bagus sebagai pemain bertahan. Ia juga mampu menjadi pemimpin di tim. Sangat, sangat penting untuk tim kami,“ ucap Schröder.

Diks sendiri didatangkan secara bebas transfer dari Copenhagen pada musim panas lalu usai kontraknya berakhir bersama klub asal Denmark itu. Yang menarik, ia juga dikontrak secara jangka panjang, sampai 2030.

Schröder kemudian mengungkapkan bahwa kontrak jangka panjang itu sepertinya akan terpenuhi, dengan Gladbach telah memiliki rencana untuk memertahankan pemain berusia 29 tahun itu.

“Saya pikir kontrak jangka panjang ini sangat penting buat kami, dengan Kevin akan bertahan untuk tahun-tahun ke depan,“ kata Schröder.

Ini menarik, karena menurutnya pula, Diks tak hanya punya nilai sebagai pemain belakang yang berkualitas, tapi ia juga bernilai secara global.

Pertama ia mampu menjadi representatif yang baik bagi Indonesia di mata internasional. Kedua, ini sejalan dengan strategi internasional Gladbach dan tren mereka yang mampu menampung dan mengembangkan bakat-bakat dari seluruh penjuru dunia, terkhusus Asia.

“Dia adalah sosok yang sangat bagus untuk Indonesia, representatif yang jujur. Dan kami berbicara sangat banyak soal Indonesia, sungguh negara yang sangat besar,“ ujarnya.

Schröder juga sedikit bercanda mengenai bagaimana Diks sebagai pemain yang berasal dari Indonesia juga memiliki exposure yang besar di media sosial—yang saya lihat juga berdampak positif bagi awareness Gladbach dalam konteks internasional.

“Saya baru saja berbicara kepadanya kemarin, saya bilang ‘Luar biasa!. 1,9 juta followers di Instagram. Saya rasa kamu hanya satu-satunya‘,“ ungkap Schröder.

Yang menarik, sang direktur olahraga yang baru direkrut Gladbach pada awal musim itu juga memberikan sinyal bahwa mereka tak menutup kemungkinan untuk merekrut pemain lain dari Indonesia dan Diks punya tugas khusus untuk itu.

“Kami memantau bakat dari seluruh dunia. Saya rasa [merekrut] langsung dari Indonesia akan sangat sulit, tapi tentu saja kami terus melihat peluang [merekrut pemain Indonesia] dan Kevin adalah pencari bakat untuk kami. Dan dia tahu soal [pemain] Indonesia,“ kata Schröder.

Well, Gladbach sendiri punya catatan apik dalam merekrut pemain asal Asia. Pada laga vs HSV itu, misalnya, tercatat ada tiga pemain Asia lain, selain Diks, yang tampil: Kota Takai dan Shuto Machino asal Jepang, juga Jens Castrop yang memiliki paspor Korea Selatan.

Musim lalu juga ada nama Ko Itakura yang mencuat, serta ada pemain muda Jepang lain yakni Shio Fukuda yang saat ini tengah dipinjamkan ke klub 2. Bundesliga, Karlsruher SC.

Gladbach jelas terus mencari dan Schröder sendiri memastikan kepada saya bahwa akan ada lagi pemain asal Asia yang bakal direkrut Gladbach dalam bursa transfer berikutnya.

Pengalaman mereka dengan pemain Asia, terutama dari Jepang, juga menunjukkan betapa mereka punya “teknik dan sangat baik sebagai team player,“, sesuatu yang dibutuhkan klub yang tak membeli, tapi memupuk bintang seperti Gladbach.

Bagi Indonesia sendiri, Diks mungkin akan jadi pembuka gerbang. Dan sejauh ini, ia membuktikan pula bahwa pemain Tim Nasional Indonesia, bukan Jepang atau Korea Selatan atau negara top Asia lain, juga bisa bersaing di salah satu liga terbaik Eropa.

Mungkin kita akan menyaksikan ada pemain-pemain lainnya yang turut serta ke Mönchengladbach atau Bundesliga.