Koeman, Post-Cruyffians, dan Jalan ke Barcelona

Ilustrasi: Arif Utama

Durasi kepelatihan Koeman yang pendek-pendek itu bukan jeritan putus asa khas orang tersesat. Koeman tahu persis langkah dan tujuannya. Semua klub yang didatanginya hanya batu loncatan untuk tiba di Barcelona.

Sambil menenteng predikat pelatih post-Cruyffians yang harum semerbak, Ronald Koeman datang dan pergi dari satu klub ke klub lain hanya untuk tiba di Barcelona.

Tidak ada yang benar-benar terkejut ketika Barcelona menunjuk Koeman sebagai pelatih pada 2020. Hampir semua orang yang berasosiasi dengan Barcelona, Ajax, dan Cruyff tahu bahwa melatih Blaugrana adalah ambisi yang diperamnya sejak gantung sepatu sebagai pemain.

Cruyffisme yang masyhur itu dimulai dari timur Amsterdam. Ajax era 1970-an adalah Ajax yang tergila-gila pada kerumitan geometri. Watak itu dimulai dari pemikiran sang pelatih, Rinus Michels. Orang Belanda inilah yang membentuk dan berdebat secara konstan dengan Cruyff ketika berlaga di Ajax.

Michels meletakkan batu pertama dan menyusun fondasi kokoh. Namun, Cruyff adalah arsitek yang merancang pemikiran Michels kelumit demi kelumit, lalu membangunnya menjadi kuil bernama Total Voetbal. Di dalam kuil itulah bersemayam pemikiran yang hingga kini disembah oleh mereka yang mengibadahi taktik dengan kelewat serius.

Inti sepak bola ala Cruyff adalah pergerakan untuk menemukan ruang, mengeksploitasi, lalu menciptakan ruang yang baru tanpa henti. Untuk mencapai tujuan itu ia membutuhkan umpan. Dalam sepak bola Cruyff, umpan sama pentingnya dengan gol, sama krusialnya dengan penyelamatan kiper dalam adu penalti.

Umpan, terutama umpan pendek, berfungsi untuk mengatur arah bola, patokan kecepatan pemain, serta mengubah irama pertandingan. Cruyff menjadikan bakat, kecepatan, dan ketangguhan pemain sebagai alat yang mesti untuk menciptakan umpan yang diyakininya sebagai nyawa permainan.

Sistem ini dibangunnya dari Ajax, lalu dirawatnya hingga ke Spanyol. Di titik itulah orang-orang Spanyol bersorak. Mereka memasuki lapangan dengan kepala mendongak karena akhirnya sepak bola Spanyol punya ciri khas.

Sistem Inggris menempatkan tekel dan permainan keras sebagai unsur penting yang harus ada di setiap pertandingan. Sepak bola Brasil bicara tentang memindahkan panggung sirkus dan keriaan karnaval ke atas lapangan bola.

Hanya di Brasil-lah para pemain diizinkan untuk menggiring bola dengan genit, menebar senyum saat berhadapan satu lawan satu dengan bek lawan. Sementara Jerman adalah kisah tentang para serdadu yang membawa sepak bola dalam ransel mereka.

Sepak bola Cruyff yang lama-kelamaan menjadi identitas Spanyol adalah pemikiran yang menempatkan umpan ke dalam kotak misteri terbesar yang sanggup dipegang oleh lapangan bola. Totaal voetbal, tiki-taka, atau apa pun yang lahir dari kegilaan Cruyff akan taktik itu lama-kelamaan berkembang menjadi sistem universal. Di era sepak bola modern rasanya sulit menemukan tim yang tidak menggunakan umpan-umpan pendek sebagai dasar permainan.

Meski demikian, bukan berarti segalanya mulus bagi para pelatih post-Cruyffians. Frank de Boer contoh yang paling mentereng. Merengkuh segalanya di Ajax sebagai pemain, De Boer mati kutu di ranah kepelatihan. Total laga yang dipimpinnya saat melatih Inter Milan dan Crystal Palace saja cuma 19.

Pun demikian dengan Frank Rijkaard. Memborong 5 gelar juara sebagai pelatih Barcelona, termasuk Liga Champions, Rijkaard didepak dari Galatasaray dan Timnas Arab Saudi. Akibatnya, orang-orang berpikir bahwa jangan-jangan, post-Cruyffians hanya efektif jika diterapkan pada klub-klub yang berkelindan dengan Cruyff. 

Pertanyaan tentang relevansi post-Cruyffians bertambah kental karena Van Gaal berhasil mengantar Bayern Muenchen menaiki 3 podium juara. Meski sama-sama besar di Ajax dan matang di Barcelona, sama-sama tercatat sebagai pemain Belanda, dan sama-sama pernah melatih di Camp Nou, Van Gaal dan Cruyff adalah dua kubu yang berseteru.

Tidak ada yang benar-benar bisa membuktikan bahwa sistem yang dibangun Van Gaal dan Cruyff berbeda. Keduanya sama-sama lahir dari mata yang berbinar-binar ketika Michels berbicara tentang sepak bola dengan nada menggebu-gebu meski Van Gaal benar-benar tak mendapat tempat di Ajax.

Perbedaan keduanya adalah pada keleluasaan para pemain. Cruyff dalam wawancaranya kepada Donald McRae untuk The Guardian memaparkan bahwa meski menginginkan tim bermain kolektif, ia menyukai pemain yang berpikir. Itulah sebabnya ia selalu memberikan kebebasan kepada satu atau dua pemain yang senang berkreasi untuk dirinya sendiri dalam tim.

Pep Guardiola adalah contoh yang bagus untuk itu. Guardiola punya kemampuan taktis yang luar biasa, tetapi lemah dalam bertahan. Dari situ, Cruyff memaksanya untuk berpikir tentang cara mengakali kelemahan tersebut.

Guardiola menemukan jalan keluarnya dengan fokus mengurus area kecilnya sendiri saat bertahan. Cruyff lalu mengutus beberapa pemainnya untuk membantu mengurus area yang lebih besar. Bahkan dalam situasi bertahan yang notabene merupakan kelemahannya, Guardiola diberikan kebebasan untuk mengatur areanya sendiri.

Ciri itu tidak akan terlihat dalam sepak bola Van Gaal. Barangkali keduanya berangkat dari titik yang sama. Namun, Van Gaal adalah sebenar-benarnya manusia ortodoks yang bertahan hidup di era sepak bola modern.

Ia begitu mengedepankan metode dan menuntut para pemainnya untuk menjadi orang-orang text book. Itulah sebabnya Angel di Maria yang merupakan pemain kreatif mati kutu saat berlaga di Manchester United asuhan Van Gaal.

Cruyff dan Van Gaal sama-sama menyembah sistem 4-3-3. Akan tetapi, Van Gaal bukan penyembah yang taat. Ketika Belanda gagal ke Piala Dunia 2002, Van Gaal mulai mengembangkan sistem tersebut menjadi 3-5-2 dan 4-2-3-1.

Sistem pertama bisa dilihat pada Timnas Belanda di Piala Dunia Brasil, sedangkan 4-2-3-1 dipakainya di Alkmaar dan United. Meski sama-sama berpangkal dari penguasaan bola, umpan, serta kontrol atas ruang, kedua sistem itu bersifat lebih pragmatis. Sekompi batalion, itulah cara Van Gaal melepaskan diri dari bayang-bayang Cruyff.

Van Gaal datang ke Bayern dengan misi membentuk tim impiannya. Oleh karena itu, tim harus benar-benar bermain sesuai sistem dan metode yang dibuatnya. Watak kaku itu tidak membuat Van Gaal menutup pintu semua orang.

Di eranyalah Thomas Mueller mulai mendapatkan performa terbaiknya. Tanpa ego setinggi langit Van Gaal, rasanya tak akan ada Mueller sang raumdeuter yang masyhur. Pun demikian dengan perjalanan karier Mario Gomez dan Ivica Olic di Bayern.

Sistem militeristik ala Van Gaal yang celakanya mengantarkan Bayern Muenchen menjadi penguasa Jerman meski hanya berumur dua musim itu membuat orang-orang kian bertanya-tanya apakah post-Cruyff benar-benar tak relevan jika dilempar ke rimba seliar sepak bola?

***

Meski menyaksikan kejatuhan De Boer dan Rijkaard, tak sekalipun tekad Koeman untuk kembali ke Barcelona surut. Koeman berulang kali bicara di hadapan media Catalunya bahwa ia begitu ingin menjadi pelatih kepala Barcelona meski tak sekalipun tawaran datang kepadanya.

Alih-alih membayar klausulnya dari Ajax pada 2003, Barcelona justru mendatangkan Rijkaard sebagai pelatih. Singkat kata, Koeman tak pernah masuk hitungan Barcelona.

Koeman tahu impiannya akan musnah jika dia diam tak berbuat apa pun. Dari situ, ia memutuskan untuk melatih klub La Liga. Adalah Valencia yang menjadi tujuannya pada 2007. Koeman datang ke Mestalla dengan isi kepala yang jernih. Dia tahu persis apa yang ingin dikerjakannya di Valencia. Maka Koeman mengganti dua formasi andalan Valencia, 4-4-2 dan 4-2-3-1, menjadi 4-3-3 yang sudah dikenalnya betul sejak di Ajax.

Koeman gigit jari. Hanya satu dari delapan laga pertamanya yang berakhir dengan kemenangan. Perubahan tak berhasil, Koeman melihat area lain yang harus dibongkar. Ia lantas menyingkirkan pemain-pemain veteran, seperti kapten David Albelda, kiper Santi Canizares, dan winger Miguel Angel Angulo. Tentu saja keputusan ini menjadikan Koeman sebagai musuh bebuyutan para suporter.

Meski berhasil mengorbitkan Juan Mata dan Ever Banega, Koeman tak pernah mendapatkan tempat di hati para penggemar. Valencia yang dipimpinnya juga tak konsisten. Mereka bisa mengalahkan Madrid di Bernabeu, tetapi tumbang di hadapan tim gurem seperti Almeria dan Murcia.

Konon, Koeman tak peduli dengan Valencia. Ia tidak pernah tertarik untuk menjadi legenda, juruselamat, bahkan sekadar pelatih yang memperbaiki performa Valencia. Sejumlah kabar burung bahkan menyebut bahwa Koeman emoh menerima masukan dari tim, terutama pemain senior. Itulah alasannya ia kukuh betul untuk bekerja dengan para pemain muda yang tidak punya pengaruh dan tak akan bernyali mempertanyakan keputusannya.

Pun demikian ketika ia memimpin Southampton dan Everton. Di Southampton, Koeman berhasil membentuk Virgil van Dijk sebagai salah satu bek incaran klub-klub raksasa. Di Everton, ia memberikan kesempatan kepada Dominic Calvert-Lewin.

Mengutip The Athletic, Koeman bahkan mengiyakan tawaran owner Everton, Farhad Moshiri, hanya demi uang semata. Barangkali sang bos besar menyodorkan uang dalam jumlah yang tak mungkin ditolak oleh orang-orang waras.

***

Orang-orang tersesat melakukan segala cara agar ditemukan: Mulai dari membuat tanda SOS, menyalakan suar, hingga berteriak sambil berharap ada telinga yang menangkap keputusasaan mereka.

Namun, Koeman tidak tersesat. Ia tahu persis ke mana harus melangkah dan paham betul tujuannya. Masa bakti Koeman yang pendek-pendek itu bukan jeritan putus asa karena ia tak sampai-sampai di tempat yang dituju. 

Perjalanan yang sepintas terlihat asal jadi itu adalah isyarat bahwa ia tak butuh berlama-lama di suatu tempat selain Barcelona. Klub apa pun yang didatanginya tak lebih dari batu loncatan untuk tiba di Barcelona.

Keributan dan kontroversi yang berkawan dengannya selama melatih bukan gejala bahwa ia kehilangan akal sehat. Cruyff yang dipuja oleh hampir seantero Barcelona itu adalah pemberontak ulung. 

Sejak masih menjadi pemain, Cruyff adalah individu yang selalu menolak konservatisme. Bahkan pada musim pertamanya, Cruyff memimpin Barcelona menumbangkan Real Madrid 5-0 di Camp Nou. Jangan lupa bahwa Madrid adalah simbol kekuasaan tirani Jenderal Franco. 

Cruyff pernah menolak bermain di Timnas Belanda saat orang-orang menganggap kesempatan itu sebagai kehormatan. Penolakan Cruyff kian lantang setelah mengeteahui bahwa staf KNVB mendapat asuransi ketika bepergian ke luar negeri, sedangkan pemain tidak.

Cruyff dengan rambut gondrongnya, nyali untuk mengkritik kebijakan konservatif dan diskriminatif, serta kualitas taktik yang memaksa pemain dan pelatih berpikir ulang tentang apa artinya bertalenta adalah alasan yang membuat Barcelona menjadi tempat yang aman bagi para pemberontak.

Maka ketika Koeman berulah dan menolak tunduk pada sistem yang itu-itu saja, ia sedang berteriak lantang kepada para petinggi di Camp Nou bahwa watak Barcelona itu juga mengalir dalam darahnya. Bahwa tak peduli sejauh apa pun ia pergi dan selama apa pun penolakan itu diterimanya, ia tetap layak untuk memimpin Barcelona.

Lewat kisruh dan kegaduhan, Barcelona akhirnya membukakan pintu bagi Koeman. Kini Koeman berdiri di pinggir lapangan Barcelona, merasakan sendiri bahwa kemudi yang diserahkan kepadanya tak sama dengan yang pernah diterimanya.

Koeman memang memuja Cruyff. Namun, Van Gaal adalah orang pertama yang membiarkannya menginjakkan kaki di tepi lapangan, di dalam ruangan penuh dengan tumpukan data statistik pemain. Maka dari itu tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi ketika melihat para penggawa Barcelona bersiaga dalam formasi 3-5-2. Memberontak dari si pemberontak, siapa yang tahu?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.