Kulusevski Tak Mestinya Jadi Seperti Ini

Dejan Kulusevski belum bisa bersinar di Juventus. (Instagram/@dejan.k10)

Datang dengan potensi besar, Dejan Kulusevski belum kunjung mampu tampil meyakinkan bersama Juventus. Kalau begini terus, bisa jadi dia bakal segera terbuang.

Dejan Kulusevski tidak semestinya jadi seperti ini. Dia adalah the next big thing. Dia adalah harapan masa depan. Namun, setelah 18 bulan berkostum Juventus, Kulusevski bak kehilangan arah. Dia terancam layu sebelum berkembang.

Jika diminta bersaksi, Parma akan dengan senang hati menuturkan betapa seksinya pergerakan-pergerakan Kulusevski. Bola bisa begitu lengket di kakinya. Postur yang kokoh juga membikin lawan acap frustrasi untuk mencuri bola darinya. Sepakan-sepakannya lengkungnya pun begitu akurat. Dia bisa mencetak gol, bisa pula mengirimkan umpan matang yang diselesaikan menjadi gol.

Kulusevski di Parma adalah purwarupa winger masa depan yang sempurna. Itulah mengapa Juventus begitu ngebet merekrutnya. Mereka rela mentransfer uang 35 juta euro ke rekening Atalanta—pemilik asli Kulusevski—pada Januari 2020 meskipun waktu itu, menurut Transfermarkt, harga pasaran Kulusevski "cuma" 25 juta euro.

Bagi Atalanta, penjualan Kulusevski itu adalah transaksi bisnis yang luar biasa menguntungkan. Pada 2016, Kulusevski ditarik dari klub Swedia, IF Bromma, untuk bergabung dengan tim Primavera milik Atalanta.

Dua setengah tahun lamanya Kulusevski menimba ilmu di tim junior La Dea. Sampai akhirnya, pada Januari 2019, dia dipromosikan ke tim utama oleh Gian Piero Gasperini. Namun, kans yang dia dapatkan belum banyak. Pemuda kelahiran Stockholm itu cuma dimainkan 3 kali sepanjang paruh kedua musim 2018/19, itu pun semuanya sebagai pemain pengganti.

Jelang dimulainya musim 2019/20, Atalanta menyekolahkan Kulusevski ke Parma. Persaingan di Parma tentu saja tidak seketat di Atalanta dan itu dimanfaatkan betul oleh Kulusevski. Bermain sebagai sayap kanan dalam tridente Parma, Kulusevski sanggup menyarangkan total 10 gol dan 8 assist dari 36 pertandingan di musim 2019/20.

Dengan torehan demikian, uang 35 juta euro yang dibayarkan Juventus ke Atalanta tadi jadi seperti tidak terasa. Apalah artinya uang sekian, di ekosistem sepak bola zaman sekarang, jika dibandingkan dengan apa yang bisa diperbuat Kulusevski selama 10 atau bahkan 15 tahun ke depan?

Oleh Juventus, Kulusevski diberi kontrak 4,5 tahun sampai musim panas 2024. Sekarang, satu setengah tahun sudah dijalani Kulusevski di Juventus tetapi potensi yang begitu nyata dia tunjukkan bersama Parma justru makin jarang terlihat. Musim ini, Kulusevski bahkan jauh lebih sering bermain sebagai pengganti (19 kali) dibandingkan menjadi starter (7 kali).

Padahal, dalam laga debutnya bersama Juventus, Kulusevski langsung mampu mencetak gol ke gawang Sampdoria. Gol ini adalah gol yang sangat Kulusevski karena dicetak lewat tendangan placing mendatar ke pojok kanan gawang lawan. Akurasi tembakan sejak awal memang sudah menjadi salah satu senjata andalan sosok keturunan Makedonia Utara itu. Namun, setelah itu dia lebih kerap tenggelam.

Di bawah asuhan Andrea Pirlo musim lalu, Kulusevski sesungguhnya masih diberi cukup banyak kesempatan unjuk gigi. Dia bermain di 35 laga Serie A (19 sebagai starter) dan 6 kali (3 sebagai starter) di Liga Champions. Akan tetapi, Kulusevski cuma bisa mencetak 4 gol dan 3 assist. Jauh sekali dibanding catatannya bersama Parma meskipun Juventus adalah tim yang jauh lebih kuat.

Musim ini, seiring dengan digantikannya Pirlo oleh Max Allegri, Kulusevski kian terbenam. Pada Oktober 2021, dia memang sukses mencetak gol kemenangan Juventus atas Zenit St. Petersburg. Namun, Kulusevski baru betul-betul jadi buah bibir ketika mencetak satu dari empat gol Bianconeri ke gawang Roma dalam kemenangan dramatis 4-3 di Olimpico. Itu pun dengan catatan.

Catatannya adalah cedera yang dialami oleh Federico Chiesa. Sudah bukan rahasia bahwa Chiesa adalah pemain andalan Juventus di sisi sayap. Maka, ketika Chiesa tumbang dan kemungkinan baru akan bisa bermain musim depan, Kulusevski mendadak jadi perbincangan. Bisakah dia menggantikan peran Chiesa di skuad Si Nyonya Tua?

Well, jika pertanyaannya cuma seperti itu, tentu jawabannya adalah bisa. Biar bagaimana juga, Kulusevski masih muda. Dia punya potensi besar dan sebetulnya sudah berulang kali menunjukkan itu. Hanya, di Juventus, persaingan memang tidak mudah. Musim lalu, Juventus masih punya Cristiano Ronaldo yang sesekali juga bermain di sisi sayap. Sementara musim ini, kedatangan Allegri mengacaukan segalanya.

Masuknya Allegri membuat Juventus jadi bermain ultra konservatif. Mereka lebih kerap menunggu di kedalaman lalu melancarkan serangan balik cepat. Cara main seperti ini menguntungkan pemain-pemain konservatif seperti Adrien Rabiot yang di awal-awal musim acap dipasang sebagai gelandang kiri dalam formasi 4-4-2. Federico Bernardeschi yang pekerja keras itu juga mendapat keuntungan serupa.

Chiesa masih mendapat banyak menit bermain semata-mata karena dia adalah satu-satunya pemain yang bisa melakukan transisi dengan cepat. Gaya main Allegri membuat pemain seperti Chiesa jadi sangat terpakai meskipun penggunaannya juga masih sangat bisa dipertanyakan. Sementara, pemain seperti Kulusevski jadi betul-betul tersisih.

Meski punya atribut fisikal yang tak buruk, kekuatan utama Kulusevski tak berada di situ. Jika Chiesa punya kecepatan dan keuletan yang bakal cocok dengan sistem mana pun, kelebihan fisikal Kulusevski ada pada kekuatan tubuh bagian atasnya, di mana dia bisa melindungi bola dari juluran kaki-kaki lawan.

Kelebihan tersebut biasanya akan terpakai dalam tim yang mengandalkan umpan-umpan pendek. Kekuatan tubuh bagian atas bakal berguna dalam melindungi bola di ruang sempit. Celakanya, Juventus asuhan Allegri yang ini tidak bermain dengan cara demikian. Alhasil, segala kelebihan Kulusevski jadi tak terutilisasi.

Namun, cedera yang dialami Chiesa membuat Allegri dan Kulusevski jadi tak punya pilihan lain. Allegri mau tak mau harus memberi kesempatan pada Kulusevski. Kulusevski pun wajib membayar tuntas kesempatan yang diberikan padanya. Sejak Chiesa cedera, Kulusevski sendiri memang selalu dimainkan menjadi starter. Namun, performanya belum maksimal. Tak ada gol ataupun assist yang dibuat olehnya.

Meski demikian, bisa dipastikan kesempatan bakal terus datang bagi Kulusevski, terlebih jika Juventus tidak mendatangkan pemain baru pada Januari ini. Bagi Kulusevski sendiri, ini bakal jadi beban tersendiri. Sebab, lawan-lawan Juventus setelah ini tak ada yang mudah. Ada Milan, Verona, Atalanta, dan Torino di Serie A sebelum disusul Villarreal di Liga Champions.

Ini adalah masa-masa penghakiman bagi Kulusevski. Jika berhasil melewati semua rintangan dengan baik, masa depannya akan terjamin. Apabila dia tetap angin-anginan, boleh jadi dia bakal dilepas sebelum kontraknya berakhir.

Namun, perlu diingat pula bahwa tidak semua berada di bawah kendali Kulusevski. Allegri yang berwenang meracik taktik juga mesti bertanggung jawab bila pemain kidal ini gagal berkembang. Sayangnya, melihat gelagat para petinggi Juventus selama ini, kita sudah bisa menebak siapa yang akan dipertahankan dan siapa yang akan dibuang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.