Lagi-lagi soal Perasaan

Foto: @ivanrakitic

Ivan Rakitic tampil buruk saat Sevilla bersua Barcelona, Sabtu (27/2). Mungkin, salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuannya mengatasi perasaan.

Ivan Rakitic bukan orang yang terbiasa untuk menyembunyikan perasaan. Ia tidak banyak berbicara soal taktik atau lawan, tapi soal perasaan, ia siap membuka ke banyak orang.

Rakitic tidak melupakan sifat yang diajarkan oleh kedua orang tuanya dan melekat kepadanya hingga dewasa. Ayah Rakitic, Luka, adalah imigran dari Kroasia, sementara ibunya, Kata, adalah keturunan Bosnia.

Kobi Kuhn mungkin menjadi orang pertama yang tahu bagaimana sifat tersebut menancap dalam diri Rakitic. Mantan pelatih Timnas Swiss tersebut bercerita bahwa Rakitic pernah menolak ajakannya untuk bergabung dengan Swiss lewat alasan yang terlalu personal.

“Ia berkata terlalu jujur untuk untuk menolak ajakan saya,” kata Kuhn. Belakangan, diketahui bahwa saat itu Rakitic memilih bergabung dengan Timnas Kroasia karena kedua orang tuanya memintanya untuk tidak melupakan tanah leluhur.

Keputusan Rakitic menolak ajakan Kuhn direspons negatif oleh pendukung Timnas Swiss. Bagi mereka, ia dianggap sebagai imigran yang tidak mau balas budi. Ia memilih bergeming dan tetap pada pendiriannya: Memilih Timnas Kroasia.

Istri Rakitic, Raquel Mari, juga tidak lepas dari korban perasaan Rakitic. Dalam kencan pertama mereka, Rakitic tak segan bercerita bahwa ia sudah menyukai Mari sejak pertama kali mereka bertemu setibanya ia di Sevilla pada 2011.

Alasan tersebut menyihir perasaan Mari. Setelah berpacaran selama dua tahun, mereka memutuskan menikah di sebuah gereja pada 2013. Kini, mereka telah memiliki dua anak perempuan, Althea dan Adara.

***

Rakitic datang ke Sevilla ketika usianya belum genap 23 tahun. Ia didatangkan dari Schalke 04 dengan mahar yang tidak cukup besar, 2,5 juta euro. Tanpa modal dan nama besar, kedatangan Rakitic dipenuhi keraguan.

Maklum saja, dari lima pemain asal Kroasia yang pernah berseragam Sevilla, hanya Davor Suker yang berhasil. Ivan Juric, yang menjadi pemain Kroasia paling lama berada di Sevilla, bahkan hanya dimainkan 15 kali dari 4 musim.

Kondisi tersebut membuat Rakitic tidak memiliki beban. Pelan-pelan, ia mulai berkembang menjadi pemain penting, mulai dari di atas lapangan hingga belakang layar. Hingga kemudian, Unai Emery datang pada musim dingin 2012/13.

Emery lantas mengubah tugas Rakitic dari pengalir bola menjadi gelandang serang. Perubahan ini membuat ketajaman Rakitic meningkat. Jika ditotal, ia berhasil membukukan lima gol selama diberi tugas baru.

Pada musim 2013/14, Emery menunjuk Rakitic sebagai kapten menggantikan Andres Palop yang pergi ke Bayer Leverkusen. Pemilihan ini membuatnya jadi kapten pertama Sevilla yang berasal dari luar Spanyol setelah Diego Maradona.

Satu momen yang paling diingat Rakitic dari musim ini adalah laga melawan Barcelona di Camp Nou. Meski gagal membawa Sevilla memenangi pertandingan ini, ia berhasil membukukan satu gol dan satu assist.

Rakitic mengakhiri musim tersebut dengan membawa Sevilla menjuarai Liga Europa. Di level individu, ia menjadi pemain terbaik final Liga Europa dan masuk ke Team of The Season Liga Europa serta Team of The Season La Liga.

***


Penampilan apik Rakitic bersama Sevilla membuat Barcelona kepincut. Mereka tak mengalami kesulitan untuk memenuhi harga 18 juta euro yang dipasang oleh Sevilla. Setelah proses negosiasi dalam waktu singkat, Rakitic resmi memperkuat Barcelona.

Pada 11 April 2015, Rakitic untuk pertama kalinya pulang ke Sevilla dengan status lawan. Kenyataan tersebut ternyata tidak membuat pendukung Sevilla sakit hati. Mereka bahkan menyambut Rakitic dengan banner bertuliskan ”Tempat ini akan selalu menjadi rumahmu. Terima kasih, Kapten!

Rakitic tidak sanggup menahan pujian yang diberikan oleh pendukung Sevilla. Sembari menangis, ia melemparkan sepatu dan kaos kaki yang ia gunakan di laga tersebut ke tribune sebelah utara. Saat pemain Barcelona lain langsung pulang, ia meminta izin untuk menginap sehari di Sevilla.

Empat bulan kemudian, Rakitic kembali menghadapi Sevilla di ajang Piala Super Eropa. Meski berhasil membawa Barcelona menang 5-4, tapi ia kecewa karena terpaksa harus mengalahkan Sevilla. “Ini pertandingan yang berat buat saya,” jelas Rakitic.

Perlahan, Rakitic mulai menambatkan hatinya di Barcelona. Mantan pelatih Barcelona, Ernesto Valverde, bahkan pernah berkata bahwa Rakitic adalah satu dari beberapa pemain asing yang mau mengerahkan lebih dari dayanya untuk Blaugrana.

“Ia memiliki kemauan setara dengan pemain yang memiliki DNA Barcelona. Ia adalah pemain yang paling siap untuk mengangkat tim ini,” kata Valverde.

Satu bentuk cinta Rakitic dibuktikan saat ia menolak rencana pergi ke Paris Saint-Germain. Rencana ini muncul setelah namanya disebut-sebut sebagai bagian dari kedatangan kembali Neymar ke Barcelona.

Rakitic dengan tegas mengatakan, “Saya tidak memiliki alasan untuk pergi dari klub ini entah sekarang atau kapan. Saya ingin membuktikan loyalitas dan rasa cinta saya kepada klub ini selama mungkin.”

Di balik itu semua, Barcelona mungkin tidak memiliki visi yang sama dengannya. Satu musim setelah rumor tersebut, Ronald Koeman datang. Kedatangan Koeman membuatnya masuk ke dalam daftar pemain yang tidak diinginkan.

Pada musim panas 2020/21, Rakitic memutuskan pulang ke Sevilla. Selain tidak adanya kesempatan baginya untuk bermain dari Koeman, ia merasa bahwa perlakuan klub tidak sesuai dengan loyalitas yang ia tunjukkan.

***

Sevilla bukan sekadar klub bagi Rakitic, tapi juga rumah. Ia memang tidak selalu dapat memberikan makanan enak dan uang jajan melimpah, tapi di sana kamu akan dihargai dan diberi apresiasi.

Di bawah Julen Lopetegui, ia kembali mendapatkan kesempatan bermain secara reguler. Dari 39 pertandingan yang telah dijalani oleh Sevilla, ia mencatat 33 penampilan dan menjadi pemain nomor empat dengan penampilan terbanyak untuk klub asal Andalusia tersebut.

Rakitic telah berjanji akan memberikan seluruh daya yang ia punya ke Sevilla. Namun, ia tidak boleh lupa bahwa Barcelona kini bukan hanya lawan di atas lapangan, tapi juga dalam perasaan.

Sabtu (27/2), Sevilla kalah 0-2 dari Barcelona. Rakitic dimainkan dalam laga tersebut sejak menit pertama dan tampil begitu buruk. Penyebab ia tampil buruk mungkin cuma satu hal: Membawa perasaan ke dalam pertandingan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.