Langit Cerah Cobham

Foto: Chelsea FC.

Apa yang membuat Chelsea berbeda adalah keberanian mereka menaruh akademi sebagai fondasi, bukan sekadar ornamen tanpa fungsi. Dan berkat Cobham, nyala para pemain muda Chelsea tak akan pernah padam.

Candradimuka itu bernama Cobham. Akuisisi Roman Abramovich dan kedatangan Jose Mourinho menjadi pemantiknya. Keduanya tak hanya membelah era baru Chelsea dengan berjejal piala, tetapi juga membangun fondasi untuk jangka panjang.

Abramovich mengambil alih Chelsea pada 2003. Kemudian Mourinho datang setahun setelahnya, menggantikan Claudio Ranieri yang dipecat. Apa yang membuat keduanya bersinergi adalah visi. Tentu saja perekrutan pemain bintang ada di dalamnya. Namun, yang tak kalah penting, gambaran besar soal masa depan Chelsea. Salah satunya, Cobham, sebagai medium pengembangan pemain muda.

"Salah satu alasaku bergabung dengan Chelsea adalah komitmen Roman Abramovich dan dewan klub dalam berinvestasi para pemain masa muda. Memiliki tempat latihan terbaik akan menjadi daya tarik tersendiri saat kamu mengincar pemain baru,” kata Mourinho dilansir BBC.

Saat Manchester United dan Arsenal sudah duluan membangun fasilitas pelatihan, Chelsea masih stagnan. Mereka mendiami Harlington yang sudah dipakai tiga dekade lamanya. Bukan hanya ketinggalan zaman, Harlington juga tidak bisa didekatkan dengan kata nyaman.

Frank Leboeuf pernah mengomel karenanya. Perjalanan ke Harlington terlalu melelahkan. Belum lagi dengan suara bising pesawat dari area lepas landas di dekatnya serta angin dan hujan yang hampir selalu mengguyur Harlington.

Chelsea sebenarnya sudah mengincar sebuah lapangan golf di Surbury sebagai tempat pelatihan anyar. Namun, misi mereka gagal akibat tidak mendapatkan izin dari warga. Dari situlah Chelsea kemudian memilih Cobham. Perencanaan yang dirakit sejak September 2003 itu baru bisa direalisasikan setahun berselang. 

Di situs seluas 140 hektar itu Cobham berdiri. Ia menampung semua kegiatan sepak bola, mulai dari tim utama, reserve, akademi, dan tim wanita. Ada 30 lapangan sepak bola dengan 3 di antaranya memiliki fitur pemanas bawah tanah dan enam lainnya mengikuti standar Premier League.

Ditambah lagi dengan fasilitas penunjang macam gym, kolam rendam dingin serta tempat sauna, dan kolam hidroterapi HydroWorx. Bila ditotal, ongkos proyek ini menghabiskan sekitar 20 juta poundsterling.

"Hari ini adalah hari yang membanggakan bagi Chelsea," kata Peter Kenyon pada pembukaan Cobham tahun 2007. Pria yang waktu itu menjabat chief executive Chelsea tersebut melanjutkan, "Mengembangkan pemain home-grown adalah tujuan yang sangat penting bagi Chelsea. Pemain muda, akademi, dan staf pelatih kami akan bekerja sama dengan tim utama, ini adalah bagian dari filosofi klub.”

Neil Bath, yang sekarang menjabat kepala pengembangan pemuda Chelsea, mengemukakan bahwa tujuan akhir Cobham adalah mendorong seluruh pemain akademi untuk tampil di tim utama. Itulah mengapa Chelsea melakukan restrukturisasi akademi per 2004. Soal bagaimana cara mendapatkan pemain terbaik London dan bagian tenggara di usia muda, kemudian menggemblengnya menjadi sosok yang dibutuhkan tim.

Bath dibantu Andy Myers yang sudah menghabiskan 10 tahun di tim akademi. Ia juga yang menggantikan Jody Morris sebagai manajer U-18 ketika Morris pergi menyusul Frank Lampard ke Derby County.

Kemudian ada Ed Brand, Jon Harley, Jack Mesure, Andy Ross, serta Claude Makelele. Ya, gelandang genius ini pulang ke Chelsea dua tahun lalu untuk mementori para pemain akademi. Selain itu Makelele juga menjadi tempat konsultasi untuk para pemain pinjaman. Mengunjungi pemain yang “dititipkan” kemudian memberikan feedback soal penampilan mereka di tiap pertandingan.


Chelsea memulai level akademi sepak bola untuk kelompok usia U-9 hingga U-23. Tim akademi nantinya bersaing dalam program ekstensif yang disebut Fase Pengembangan Profesional. Ini dibagi antara U-18, U-19, dan U-21 (skuad pengembangan). Khusus untuk U-19 dan skuad pengembangan lumrahnya dibentuk dari kelompok pemain serta staf pelatih yang sama.

Nah, skuad pengembangan Chelsea ini berkompetisi di EFL Trophy. Turnamen yang punya nama lain Papa John’s Trophy (karena sponsor) adalah kompetisi senior Football League yang menampilkan 48 klub dari League One dan League Two. Tidak semua akademi klub diperbolehkan mentas di sana. Mereka mesti didapuk akreditasi Kategori Satu oleh Premier League. Chelsea sendiri sudah mendapatkannya pada 2016.

Proses audit ini merupakan bagian dari pemantauan liga yang terangkum dalam program Elite Player Performance Plan (EPPP). EPPP, yang dibuat pada tahun 2012, bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pemain lokal Inggris. Ada 10 variabel yang menjadi pertimbangan penilaian akademi klub. Tingkat produktivitas, pembinaan, fasilitas pelatihan, kesejahteraan adalah beberapa di antaranya.

EPPP punya wadah khusus untuk klub-klub akademi Kategori Satu. Namanya U21 Premier League yang kemudian beralih menjadi Premier League 2 seiring dengan pertambahan level usia dari U-21 ke U-23. Di musim 2019/20, Chelsea yang menjadi kampiunnya. Itu sekaligus menjadi titel Premier League 2 pertama mereka.

Di sana Chelsea diperkuat Reece James, Callum Hudson-Odoi, Ruben Loftus-Cheek, Marc Guehi, Tariq Lamptey, Armando Broja, dan Valentino Livramento. Bisa dibayangkan betapa menjanjikannya pemuda The Blues saat itu. 


Sekarang, mereka merangkai kariernya dengan akas. James, Hundson-Odoi, dan Loftus-Cheek berhasil bertahan di Stamford Bridge. Mereka termasuk dari tujuh alumni Cobham yang meraih atensi Thomas Tuchel. Bersama Andreas Christensen, Trevoh Chalobah, Lewis Baker, dan Mason Mount. Di antara skuat kampiun Premier League 2, James yang paling menarik perhatian. Ia menjadi topskorer sementara Chelsea lewat 4 golnya.

Ini bukan perkara siapa yang bertahan atau pergi. Nyatanya Guehi, Lamptey, Broja, dan Livramento hengkang ke klub Premier League lainnya juga masih menuai ambisinya. Mereka tak sekadar bersafari, tetapi menjadi jagoan tim.

Guehi, yang menjadi pemain termahal ketiga di Crystal Palace, tak pernah absen sejak pekan pertama. Bek berdarah Pantai Gading itu berhasil membantu The Eagles mengukir 4 cleansheet sejauh ini. Menariknya, Guehi menjadi andalan Patrick Vieira bersama dengan Conor Gallagher yang juga alumnus Cobham.

Kemudian ada Lamptey yang menjadi sensasi di Brighton and Hove Albion sejak musim lalu. Hanya saja, potensinya sedang tersendat karena cedera hamstring. Sementara Livramento dan Broja sama-sama mencicipi pembuahan bersama Ralph Hasenhuettl di Southampton.

Tanya saja para manajer Fantasy Premier League (FPL). Betapa menguntungkannya memiliki Livramento. Sudah ekonomis, manis pula performanya. Masing-masing satu gol dan assist, plus lima cleansheet serta dua bonus poin diukirnya. 

Sekarang Livramento mengumpulkan 48 angka dan masuk daftar tujuh besar pemain belakang dengan torehan poin tertinggi. Broja pun tak kalah ciamik. Sudah dua gol yang dibuatnya atau terbanyak bersama Adam Armstrong dan James Ward-Prowse.

Ini belum dihitung dengan Tammy Abraham dan Fikayo Tomori yang melancong ke Italia pada musim panas lalu. Di AS Roma dan AC Milan, keduanya sama-sama memainkan peranan vital. Abraham menjadi kepercayaan Mourinho di garis terdepan. Kontribusinya pun cukup lumayan: 3 gol dan 2 assist. Sementara Tomori menjadi satu-satunya personel Milan yang menyentuh seribu menit pementasan di Serie A. Bandingkan dengan Rafael Leao di posisi kedua yang baru mengecap 881 menit.

***

Pesta tujuh gol Chelsea ke gawang Norwich bulan lalu bukan sekadar kiasan. Lima lesakan itu lahir dari pemain akademi. James dan Hudson-Odoi mencetak masing-masing satu gol sedangkan Mount memborong tiga.

Keberhasilan yang dibangun dengan perjalanan panjang adalah keistimewaan. Lebih-lebih dengan kemenangan yang dipersembahkan oleh para pemain didikan. Yang membuat Chelsea berbeda adalah keberanian mereka menaruh akademi sebagai pondasi, bukan ornamen tanpa fungsi.

Sekarang, Abramovich dan Kenyon boleh beradu gelas berisi wine untuk merayakan kesuksesannya membangun masa depan Chelsea. Tentu Mourinho juga berhak untuk bergabung di pesta kecil itu bila masih diizinkan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.