Lapangan Adalah Gelas Kosong, N’Golo Kante Airnya

Foto: Twitter @nglkante.

Daya jelajah adalah kekuatan N'Golo Kante. Selayaknya air, ia mengisi ruang-ruang di atas lapangan.

Seandainya lapangan sepak bola adalah gelas kosong, N’Golo Kante adalah airnya. Jejak sepatunya tersebar di mana-mana, mengisi tiap sudut lapangan, membantu serangan sekaligus aktif menolong pertahanan, dan dengan semua itu dia menjelma sebagai salah satu pemain terpenting Chelsea.

Daya jelajah memang jadi ciri khas Kante. Dalam tulisan berjudul We Do Not Dream yang tayang di Players’ Tribune, Claudio Ranieri sampai menyebut Kante sebagai pemain yang punya baterai cadangan di balik jersinya. Kenapa? Sebab Kante tak pernah berhenti berlari.

Ranieri, yang merupakan pelatih Kante selama di Leicester City, pernah menegur si pemain karena kebiasaannya itu. Ketika sesi latihan, ia memanggil Kante yang terus-menerus berlari dan lantas berkata, “N’Golo, santai, dong. Jangan berlari mengejar bola terus-terusan.”

Kante mengiyakan dan menuruti kemauan sang pelatih. Namun, menahan Kante mengitar mengejar bola seumpama menahan seekor harimau lapar agar tak memakan daging segar di hadapannya alias mustahil. Maka sepuluh detik kemudian, kata Ranieri, Kante kembali berlari ke seluruh sisi lapangan.

Teguran Ranieri kala itu cuma sebatas imbauan agar pemainnya menghemat tenaga. Pada pertandingan betulan, sementara itu, ia akan mempersilakan Kante bergerak ke mana saja untuk mengejar bola sebab dengan beginilah kemampuan sesungguhnya bisa termaksimalkan.

Ranieri masih ingat laga melawan Chelsea di King Power Stadium pada 2015 atau musim ketika Leicester menjadi juara. Dalam laga itu Kante seolah ada di mana saja. Menurut WhoScored, Kante menonjol saat bertahan dengan 7 tekel sukses sekaligus aktif menyerang lewat catatan 2 key pass.

Usai laga, Ranieri berkata, “Dia sangat luar biasa. Dia akan selalu mengejar bola di tempat ini, di stadion lain, di mana pun.”

Ketika akhirnya Kante hengkang ke Chelsea dan melakukan segala hal seperti saat masih berseragam Leicester, kita tahu bahwa ucapan Ranieri adalah benar belaka. Di semua stadion tiap kali Chelsea berlaga, dia terus-menerus berlari mengejar bola bahkan hingga musim ini.

***

Sepuluh tahun lalu tak ada yang mengenal Kante yang cuma pemain divisi keenam Liga Prancis, Boulogne. Sepuluh tahun lalu pula, cita-cita Kante tak muluk-muluk. Ia cuma mau hidup tenang, menamatkan studinya di jurusan akuntansi, dan bila mungkin bekerja di ranah yang sama.

Kisah itu dituturkan oleh Eric Vandenabeele, rekan setim Kante di Boulogne, dalam sebuah sesi wawancara dengan FourFourTwo. Ucapannya berdasar pada banyak obrolan bersama Kante. Ia juga merujuk pada sikap pemalu yang kerap Kante tunjukkan di luar lapangan.

Namun, Vandenabeele paham betul, rekannya itu adalah sosok yang bakal mencurahkan segala yang dipunya ketika berlaga di lapangan. Karena Kante punya stamina yang luar biasa, dia tak akan berhenti berlari hingga bola dikuasai, hingga laga benar-benar usai.

Suatu hari, keduanya bersama-sama menyaksikan pertandingan Liga Champions. Vandenabeele, yang melihat Kante tampak begitu kagum menyimak bola yang bergulir selama pertandingan, langsung berkata, “Kamu pasti akan bermain di sana nanti.”

“Mustahil. Tidak akan ada kesempatan,” respons Kante sambil tersipu malu. Vandenabeele hanya tersenyum sebab tahu bahwa kawannya memang rendah hati.

Pada 2013, Kante bergabung dengan klub Ligue 1 bernama Caen. Dua musim berselang, dia pindah ke Leicester dan berhasil menjuarai Premier League. Kante hengkang ke Chelsea musim berikutnya dan sejak itu capaiannya bertambah: Meraih gelar Premier League keduanya, tampil di Liga Champions, hingga merengkuh trofi Piala Dunia 2018.

Orang-orang sudah mendaulatnya sebagai super star tetapi menurut Vandenabeele, Kante hari ini masih sama rendah hatinya dengan Kante yang berstatus pemain tim amatir. “Hingga sekarang dia tak terganggu dengan semua ketenaran itu. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik,” tuturnya.

Keinginan untuk selalu melakukan yang terbaik itulah yang bikin Ranieri merekrutnya dari Caen. Itu juga alasan Conte sangat yakin bahwa Kante bisa sukses di Chelsea ketika merekrutnya setahun berselang. Terlebih, Kante punya hal yang paling Conte sukai dari sosok gelandang: Tak kenal lelah.

Karena atribut tersebut, Conte menginstruksikan Kante berperan sebagai gelandang yang terus aktif mengejar bola. Conte juga punya alasan lain: Pemainnya itu punya riwayat bertahan mengesankan. Dalam 37 laga bersama Leicester, Kante mampu melakukan 175 tekel sukses dan 156 kali intersep.

Conte lantas menempatkan Kante sebagai satu dari dua gelandang tengah skema 3–4–2–1. Ketika musim berakhir, Chelsea berhasil meraih gelar juara dan capaian itu, menurut Conte, tak lepas dari peran Kante yang punya catatan 3,4 tekel per laga. Gelar individu PFA Player of the Year jadi buktinya.

Segala catatan musim itu semakin menegaskan Kante sebagai gelandang dengan kemampuan bertahan mengesankan. Namun, pada dasarnya, Kante juga punya kemampuan distribusi bola tingkas satu. Persentase operannya kala itu bahkan menyentuh angka 89 persen.

Pada Piala Dunia 2018, hal tersebut kian jelas lantaran Kante jadi pemain dengan operan terbanyak di Timnas Perancis (361). Bahkan ketika pelatih Chelsea beralih dari Conte menuju Maurizio Sarri, peran Kante di lini serang semakin terlihat kentara.

Semua bermula dari skema yang Sarri bawa. Bersama Ranieri dan Conte, Kante berperan sebagai satu dari dua gelandang. Dengan Sarri, dia mesti berbagi peran dengan tiga pemain sekaligus. Nahasnya, peran bertahan jadi milik Jorginho sebagai gelandang bertahan tunggal.

Kante lantas mendapat peran box-to-box yang jauh lebih menyerang ketimbang peran-perannya berama pelatih terdahulu. Untungnya, yang dia torehkan terbilang mengesankan karena Kante mampu mencetak 4 gol dan 4 assist, catatan terbaiknya dalam semusim.

Frank Lampard, juru taktik yang menggantikan Sarri pada musim berikutnya, masih mempertahankan posisi baru Kante. Catatan menyerangnya pun tetap terjaga lewat torehan 3 gol. Satu-satunya yang jadi pengganggu musim itu, selain performa inkonsisten Chelsea, adalah cedera yang cukup panjang.

Namun, memberi peran yang terlalu menyerang justru membuat kemampuan utama Kante meredup. Bersama Ranieri dan Conte, jumlah tekel per laganya selalu lebih dari angka tiga. Ini menurun drastis pada masa Sarri (2,1 tekel per laga) dan Lampard (2).

“Dia tak hanya gelandang bertahan, tetapi juga ikut menyerang. Dia bahkan bisa bermain dari ujung ke ujung lapangan. Namun, saya lebih suka jika dia bermain dengan posisi sebenarnya,” ungkap Conte pada masa-masa awal ketika melatih Chelsea.

Bersamaan dengan cedera yang sempat lama mengganggunya, keberadaan Kante agak meredup. Hingga datanglah Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman ini tak hanya membawa Chelsea kembali ditakuti, tetapi juga berhasil membuat Kante kembali relevan.

Foto: Chelsea News.

Tuchel sebetulnya tidak langsung menjadikan Kante pilihan utama. Duet gelandang tengah dalam skema 3–4–2–1 miliknya adalah Mateo Kovacic dan Jorginho. Dalam lima laga pertama Tuchel, cuma sekali keduanya tak main bersama, yakni kala melawan Tottenham Hotspur.

Namun, sejak melawan Southampton, kombinasi itu berubah. Tak ada lagi Jorginho. Tuchel menggantikannya dengan Kante untuk berduet dengan Kovacic yang ternyata terus bertahan hingga banyak laga berikutnya, termasuk kala melawan Manchester United.

Perubahan ini berangkat pada fakta bahwa tak adanya sosok breaker di lini tengah. Kendati Chelsea masih sulit kebobolan, Tuchel sadar lawan bisa mengeksploitasi area lapangan timnya dengan leluasa. Bahkan Newcastle sanggup mencatat 122 sentuhan di area Chelsea kala keduanya bersua.

Untuk masalah itu, Kovacic dan Jorginho jadi penyebabnya. Catatan bertahan mereka dalam liga awal Tuchel standar. Bedanya, Kovacic agak lebih baik (10,4 tekel dan 4,8 intersep, berbanding 10 tekel dan 4,4 intersep Jorginho). Barangkali inilah alasan Tuchel mengganti Jorginho dengan Kante.

Beda dengan Jorginho, aspek bertahan Kante jauh lebih jempolan. Terbukti, lima pertandingan awalnya bersama eks pelatih Borussia Dortmund ini melahirkan catatan tekel (3 kali per laga) dan intersep (5 kali per laga) tertinggi di antara semua pemain Chelsea.

Tuchel memang memberi peran utama sebagai perusak aliran bola lawan buat Kante, sedangkan Kovacic fokus mengalirkan bola. Pendekatannya tak beda dengan Conte, yakni dengan meminta Kante untuk aktif mengejar bola, terutama begitu memasuki area lapangan Chelsea.

Walau begitu, jangan lupa, Kante punya daya jelajah tinggi sehingga jika kesempatan tiba, dia bisa saja merangsek dengan cepat ke lini depan tanpa sepengetahuanmu.

Simak leg kedua 16 besar Liga Champions melawan Atletico Madrid. Usai menghalau bola dalam situasi lemparan ke dalam, Kante mengikuti laju Christian Pulisic. Pergerakan itu sederhana tetapi mampu membuat fokus lawan terpecah sehingga Emerson, yang akhirnya mencetak gol, luput dari kawalan.

“Kante memberikan intensitas yang luar biasa. Senang bisa melatihnya, dia sangat rendah hati dan sangat membantu di lapangan. Dia adalah anugerah terbesar untuk tim ini. Penampilannya bersama Mateo Kovacic sungguh bisa diandalkan,” kata Tuchel.

***

Kante adalah pemain inti dan penting Perancis ketika menjuarai Piala Dunia 2018. Namun, hingga setidaknya enam orang mengangkat piala, Kante justru tak kelihatan batang hidungnya. Tubuhnya yang cuma setinggi 1,68 cm tertutupi oleh kerumunan perayaan itu.

Ketika euforia mulai mereda, barulah Kante kelihatan. Ia berdiri di dekat Steven N’Zonzi yang lantas sadar bahwa rekan setimnya tersebut sama sekali belum memegang piala. N’Zonzi kemudian mengambil trofi dari Florian Thauvin dan menyerahkannya kepada Kante yang malu-malu.

Yang kita lihat hari itu adalah gambaran Kante di luar pertandingan. Menurut beberapa rekannya di Leicester, para pemain kerap tak sadar bahwa Kante ada di sebelahnya. Auranya seolah tak terlihat, yang berarti jauh berbeda dengan apa yang dia tunjukkan kala berlaga.

Jika di luar pertandingan Kante tak terlihat, ketika laga berlangsung Kante adalah pemain yang keberadaannya paling kentara. Semua berkat daya jelajahnya yang tinggi. Kante bisa bertahan tetapi juga mampu aktif membantu penyerangan, meski tak secara langsung.

Saking tingginya daya jelajah Kante, legenda sepak bola Prancis, Marcel Desailly, pernah berkata, “Jika 70 persen bumi ditutupi air, sisanya akan ditutupi oleh N’Golo Kante.”

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.