Leeds United Kualat

Kapten Leeds United, Luke Ayling, berduel dengan Alexandre Lacazette. (Instagram/@leedsunited)

Dibobol 12 gol oleh duo Manchester, baru menang 3 kali, dan sekarang terseok di urutan ke-16 Premier League. Ada apa dengan Leeds United?

Membuka musim dengan kekalahan 1-5, baru meraih tiga kemenangan, menelan kekalahan 0-7 di pekan 18, dan sekarang terseok di urutan ke-16 klasemen sementara Premier League. Itulah gambaran singkat kondisi Leeds United musim 2021/22. Bak bumi dan langit dengan Leeds yang mengundang banyak decak kagum musim lalu.

Melihat penderitaan Leeds ini, sulit untuk tidak memikirkan Karen Carney, eks penggawa Timnas Putri Inggris yang kini menjadi salah satu pundit terbaik Premier League dan Women's Super League. Karena ulah Leeds, Carney mendapat cercaan seksis dari netizen keparat dan mesti menutup akun Twitter-nya yang berpengikut 660 ribu orang.

Padahal, apa yang diucapkan Carney sangat masuk akal. Menurut mantan pemain Chelsea Women itu, pandemi virus corona membantu Leeds meraih promosi ke Premier League pada musim 2019/20. Carney tidak asal bicara karena, faktanya, tim yang bermain seperti Leeds di bawah asuhan Marcelo Bielsa membutuhkan waktu rehat untuk menaklukkan kompetisi sepadat Championship.

Championship diikuti 24 peserta dan itu berarti setiap klub mesti bermain 46 kali dalam semusim. Delapan laga lebih banyak ketimbang Premier League. Sejarah membuktikan, bukan sekali dua kali saja tim asuhan Bielsa kehabisan bensin di tengah jalan dan jeda kompetisi akibat pandemi menjadi momentum bagi Leeds untuk mengisi bahan bakarnya.

Karen Carney, korban kedegilan Leeds United. (Instagram/@kazcarney)

Sekali lagi, ucapan Carney logis. Akan tetapi, Leeds tidak menanggapinya dengan elegan. Mereka justru memulai perundungan terhadap wanita 34 tahun tersebut. Pada akhirnya, para suporter mereka yang kampungan pun ikut-ikutan mencemooh Carney.

Leeds bukannya tidak dikritik. Kecaman datang dari sana-sini, termasuk dari mantan rekan Carney di Timnas dan Chelsea, Bethany England. Akan tetapi, alih-alih mengakui kesalahannya, Leeds justru semakin memperbesar kobar api lewat pernyataan sang patron, Andrea Radrizzani. Dia bilang, "Menurutku, komentar (Carney) itu tidak menunjukkan rasa hormat kepada klub."

Perlu diingat bahwa, meski berhasil finis di urutan sembilan musim lalu, Leeds sempat merasakan masa sulit. Pada awal 2021, mereka menelan tujuh kekalahan dari sebelas pertandingan. Ucapan Carney sendiri dlontarkan usai Leeds menang 5-0 atas West Bromwich Albion pada akhir Desember 2020. Tak lama setelah itu, ucapan Carney langsung terbukti dengan tren buruk tersebut.

Leeds pada akhirnya berhasil bangkit dari keterpurukan dan mengakhiri musim di posisi terhormat. Pemain-pemain macam Raphinha, Jack Harrison, Stuart Dallas, Patrick Bamford, dan Kalvin Philips menjadi motor yang mengerek Leeds ke sepuluh besar klasemen. Philips bahkan kemudian jadi andalan Inggris di Euro 2020.

Akan tetapi, semua itu lenyap tak berbekas pada musim 2021/22 dan ada beberapa faktor yang menyebabkannya, termasuk analisis dari Carney tadi. Mustahil bagi tim seperti Leeds untuk terus mempertahankan performa dengan cara serupa selama bertahun-tahun. Kejenuhan, kelelahan, dan cedera pada akhirnya jadi tak terelakkan.

Tengok saja daftar pemain yang masuk ruang perawatan di Leeds. Bamford dan Philips cukup banyak absen musim ini karena cedera. Daniel James yang didatangkan pada awal musim juga sempat cedera. Nama-nama lain adalah Liam Cooper, Rodrigo, Robin Koch, dan Pascal Struijk. Semua merupakan pemain inti di Leeds.

Sebagian besar dari mereka sudah bermain untuk Leeds sejak sebelum promosi ke Premier League. Itu artinya, sudah bertahun-tahun mereka dipaksa bermain dengan intensitas tinggi oleh Bielsa. Hasilnya memang sempat bagus, tetapi dalam jangka panjang efek negatif seperti ini adalah sebuah keniscayaan yang tinggal tunggu waktu.

Celakanya, Leeds tidak punya pelapis berkualitas. Gap antara tim utama dan tim kedua mereka teramat jauh. Sudah begitu, upaya untuk menutup gap itu pun praktis tidak ada. Lihat saja nama-nama yang didatangkan pada awal musim. Selain Harrison yang dipermanenkan dari Manchester City, Leeds hanya merekrut dua nama "besar", yaitu James dari Manchester United dan Junior Firpo dari Barcelona.

Dan ngomong-ngomong soal Firpo, meski punya reputasi lumayan di Spanyol, pemain berdarah Republik Dominika itu adalah salah satu alasan mengapa Leeds tidak optimal musim ini.

Firpo didatangkan Leeds untuk menggantikan Ezgjan Alioski yang kontraknya habis dan hengkang ke Arab Saudi. Alioski sendiri, pada musim lalu, mampu berkolaborasi dengan sangat baik bersama Harrison di sisi sayap. Agresivitas Alioski dalam menyisir garis tepi membuat Harrison bisa lebih nyaman melakukan tusukan.

Sementara, Firpo tidak banyak melakukan itu. Alhasil, Harrison pun jadi terisolasi di sayap dan output serangannya pun tidak optimal. Musim lalu, Harrison bisa mencatatkan 1,3 tembakan dan 1,6 umpan kunci per laga. Sekarang, torehannya cuma 0,9 tembakan dan 1,3 umpan kunci per partai.

Di sisi sayap seberang, Raphinha punya problem berbeda. Sebenarnya, statistik ofensif pemain asal Brasil itu mengalami peningkatan. Musim lalu dia "cuma" membukukan 2,2 tembakan, 2,1 umpan kunci, dan 1,9 dribel sukses di tiap pertandingan. Sekarang, torehannya naik menjadi 3 tembakan, 1,8 umpan kunci, dan 2,4 dribel sukses tiap laga.

Akan tetapi, kenaikan angka statistik Raphinha itu justru mengkhawatirkan. Itu membuktikan bahwa dialah satu-satunya sumber serangan yang bisa diandalkan oleh Leeds saat ini. Pemain yang dibeli dari Rennes itu acapkali kudu berimprovisasi sehingga jumlah kesalahannya pun meningkat. Musim lalu dia hanya kehilangan bola 1,1 kali per laga, sekarang catatannya naik jadi 1,5.

Mengapa fokus hanya ditujukan pada dua pemain itu? Karena mereka adalah pemain sayap dan 76% serangan Leeds berasal dari area itu. Artinya, kalau sisi sayap mengalami kemacetan, ya, otomatis Leeds juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka tak lagi bisa mengontrol narasi laga sehingga lebih mudah ditekan dan lebih mudah kebobolan pula. Apalagi, seperti yang sudah disebut, skuad mereka musim ini compang-camping akibat cedera.

Apa yang terjadi pada Leeds ini adalah perpaduan dari dua hal. Pertama, gaya main Bielsa yang sangat menguras fisik. Kedua, kecerobohan Leeds dalam mempersiapkan tim untuk musim ini. Dengan kata lain, Leeds United kualat terhadap Karen Carney.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.