Leonardo Spinazzola dan Generasi Bek Tepi Italia

Foto: Twitter @Euro2020.

Italia pernah memiliki bek-bek tepi yang lugas dan agresif. Kini, Leonardo Spinazzola melanjutkan estafet tersebut berkat penampilan apik di Piala Eropa 2020.

Jika pertahanan adalah sebentuk identitas, Italia telah berhasil menanamkannya dengan baik. Sampai-sampai kalau kamu menyebut 'Italia', kata berikutnya yang terbersit di benak adalah 'pertahanan'. Tidak peduli bahwa pada kenyataannya, Gli Azzurri memiliki gelandang-gelandang cerdas pada Euro 2020, yang memungkinkan mereka buat memainkan sepak bola ofensif.

Namun, apa boleh bikin. Sejak dahulu, Italia memang gudangnya pemain defensif yang bagus. Selain dikenal memiliki bek tengah yang tangguh, Italia juga punya bek tepi yang agresif dan disiplin. Aspek itu menunjang permainan defensif yang dulu kerap ditampilkan Italia.

Paolo Maldini adalah salah satunya. Ia memang tak begitu eksplosif, tetapi mampu tampil lugas dalam menghentikan pergerakan lawan. Mengawali karier sebagai bek kiri, Maldini dikenal elegan dan piawai membaca arah gerak bola dan lawan. Oleh karena itu, ia tidak melulu menggunakan tekel sebagai senjata untuk bertahan.

Pada generasi yang lebih muda daripada Maldini, ada Gianluca Zambrotta yang memiliki karakteristik permainan berbeda. Hebatnya, Zambrotta bisa bermain di bek tepi kanan dan kiri sama baiknya.

Saat Marcelo Lippi datang ke Juventus di musim 2001/02, Zambrotta mulai terbiasa bermain sebagai bek tepi kiri. Sebab, Lippi lebih memilih Lilian Thuram untuk mengisi pos bek tepi kanan Juventus.

Kendati demikian, Zambrotta tak canggung. Malah ia bisa bermain melebar dan sesekali melakukan tusukan ke dalam kotak penalti. Kehadiran Zambrotta di kiri juga membebaskan Nedved bermain di half-space.

Bersama Timnas, karier Zambrotta juga moncer. Total, 99 kali ia bermain bersama Gli Azzurri. Pria kelahiran Como 19 Februari 1977 tersebut juga menjadi salah satu pilar Italia di saat juara Dunia 2006.

Jika Maldini dan Zambrotta belum cukup, ingatlah bahwa Italia juga memiliki Fabio Grosso yang merupakan bek tepi. Penampilan Grosso pada Piala Dunia 2006 menjadi salah satu yang paling dikenang. Dengan kehadiran Zambrotta di kanan serta Grosso di kiri, Italia punya salah amunisi yang cukup menakutkan di kedua sisi.

Baik Zambrotta maupun Grosso memiliki naluri ofensif dan defensif sama baiknya. Pada Piala Dunia 2006, keduanya berhasil mengemas satu gol dan satu assist.

Regenerasi bek tepi Italia memang sempat mandek usai Zambrotta dan Grosso. Beberapa nama, seperti Mattia De Sciglio, Ignazio Abate, hingga Christian Maggio, sulit untuk tampil konsisten. Sampai akhirnya, pada Piala Eropa 2020, mereka bek tepi apik bernama Leonardo Spinazzola.

***

Awal karier sepak bola Spinazzola sebenarnya tak begitu mulus. Ketika bergabung dengan tim junior Siena pada usia 14 tahun, Spinazzola mengalami cedera engkel yang membuat dirinya galau: Harus lanjut atau berhenti begitu saja.

"Ibu saya meminta saya benar-benar memikirkannya--keputusan berhenti dari sepak bola. Sebab, saya mungkin tidak akan lagi mendapatkan kesempatan menjadi pemain sepak bola. Untungnya, saya mendengar masukan ibu," kenang Spinazzola.

Spinazzola tak terlalu lama bermain untuk Siena junior. Hanya sekitar tiga tahun. Setelahnya, bek yang juga memiliki kaki kanan kuat tersebut bergabung dengan Juventus. Dari satu putih-hitam ke putih-hitam lainnya.

Sial bagi Spinazzola, ia tak pernah benar-benar menjadi pilihan utama La Vecchia Signora. Cuma ada 12 laga yang dimainkan sejak bergabung dengan tim utama Juventus.

Selebihnya, Spinazzola lebih sering menghabiskan waktu sebagai pemain pinjaman. Ketika berstatus sebagai pemain Juventus, ia bermain untuk enam klub lain dengan status pinjaman. Namun, di sinilah Spinazzola akhirnya menemukan jalan terbaik untuk kariernya. 

Pada musim 2016/17, Spinazzola berjodoh dengan Atalanta sekali lagi. Itu adalah kali kedua ia bermain bersama La Dea dengan status pinjaman. Pada kesempatan pertama, yang ia jajal pada musim 2014/15, Spinazzola cuma kebagian jatah dua kali main di liga.

Setelah keesempatan pertama yang tidak mengundang impresi sama sekali itu, Spinazzola unjuk gigi. Pada 2016/17 itu, Spinazzola bermain sebanyak 30 kali di Serie A dengan torehan empat assist selama turun gelanggang.

Sayangnya, pada musim 2017/18, cedera mengerogoti Spinazzola. Ini membatasi penampilannya pada musim keduanya di Atalanta sebagai pemain pinjaman. Sepanjang musim, Spinazzola "cuma" tampil 18 kali. 

Setelah sempat kembali ke Juventus pada musim 2018/19, Spinazzola akhirnya mendapatkan jalan keluar. Semusim setelah kembali memperkuat Bianconeri, ia menjadi alat tukar untuk mendapatkan Luca Pellegrini dari AS Roma. 

Bersama Roma, Spinazzola seperti terlahir kembali. Apalagi, Paulo Fonseca, pelatih Roma ketika Spinazzola bergabung, kerap tampil dengan pola 3-4-3 atau 3-4-2-1. Dalam formasi tersebut, Spinazzola bisa aktif dalam membantu serangan.

Puncaknya adalah pada musim 2020/21. Spinazzola tampil sebanyak 39 kali untuk Roma dengan torehan dua gol dan delapan assist pada lintas kompetisi. Spinazzola juga menjadi pemain AS Roma yang paling banyak melakukan dribel sukses. Rata-rata, 2,2 dribel sukses ia lakukan sepanjang musim lalu di Serie A.

Tak cuma itu, rata-rata umpan kunci Spinazzola untuk Roma mencapai 1,4 per laga. Angka itu sama dengan Henrikh Mkhitaryan yang mendapatkan status sebagai pendulang assist terbanyak untuk Roma.

Dengan pencapaian yang cukup impresif itu, Spinazzola seperti membeli tiket sendiri untuk bisa bergabung dengan skuad Italia di Euro 2020.

***

Italia melakoni pertandingan pertama mereka di Euro 2020 dengan amat baik. Armada Roberto Mancini itu tak cuma menang, tetapi juga menampilkan permainan yang impresif.

Satu hal yang menonjol dari Azzurri hari itu adalah permainan mereka sangat solid. Pressing yang mereka lakukan mulai dari pemain depan membuat Turki tak bisa mengembangkan permainan. Tercatat, tak ada satu pun upaya ke arah gawang yang dibuat oleh Burak Yilmaz dkk.

Saat melakukan serangan, Italia juga amat dinamis. Menghadapi Turki, yang notabene kokoh di area sentral--baik di lini tengah ataupun belakang--, Italia melakukan sirkulasi bola dengan baik. Sementara itu, pemain-pemain mereka rajin bergerak untuk mengisi ruang ataupun merusak shape dari Turki.  

Salah satu pemain yang tampil memukau di laga tersebut adalah Spinazzola. Diplot sebagai bek tepi di sisi kiri, Spinazzola naik cukup tinggi ketika Italia memegang kendali bola. Kehadirannya membuat Lorenzo Insigne bisa bergerak bebas untuk menganggu konsentrasi bek-bek Turki.

Heatmap yang dilansir WhoScored memperlihatkan betapa tingginya posisi Spinazzola. Pemain berusia 28 tahun itu lebih sering menerima bola di sepertiga akhir pertahanan lawan.

Heatmap Spinazzola pada laga melawan Turki. Sumber: WhoScored.

Menariknya, saat Insigne bergerak lebih ke tengah, gantian Spinazzola yang menjadi bebas dan bisa masuk ke dalam kotak penalti lawan. Fragmen itu terlihat pada gol kedua Italia yang dikemas oleh Ciro Immobile. Spinazzola yang mendapat bola di kotak penalti langsung melepaskan tendangan ke gawang. Sepakannya itu memang berhasil ditepis oleh Kiper Turki. Namun, Immobile berhasil menendang bola rebound ke dalam gawang.

Melawan Turki, Spinazolla mencatatkan dua upaya ke gawang dan satu umpan kunci. Akurasi operannya juga mencapai 86 persen. Hebatnya, Spinazolla juga bermain baik ketika bertahan. Ia mampu menutup celah sehingga Turki kesulitan mengeksploitasi pertahanan Italia dari sisinya.

Salah satu aspek bagus dimiliki Spinazzola ketika bertahan adalah kepiawaiannya membaca permainan. Ia bisa dengan cepat memotong umpan-umpan lawan. Pada laga melawan Turki, Spinazzola total membuat dua intersep. Jumlah itu jadi ketiga yang paling banyak usai Jorginho dan Giorgio Chiellini.

Masuknya Cengiz Uender juga tak membuat Spinazolla kepayahan. Pemain yang pernah membela Juventus itu sukses membuat Uender tak berkutik selama berada di atas lapangan.

***

Spinazzola mungkin belum setenar atau memiliki banyak gelar seperti Zambrotta. Caps-nya di Timnas Italia juga baru cuma 15 laga. Namun, Spinazolla memiliki gaya bermain dan posisi yang sama dengan Zambrotta. Tak heran, pria yang lahir di Foligno, Umbria, itu amat mengidolai seniornya tersebut.

"Saya menganggap Zambrotta sebagai salah satu bek tepi terbaik sepanjang sejarah. Dia adalah winger yang berubah menjadi fullback seperti saya," ucap Spinazzola.

Kans Spinazzola untuk menjadi salah satu fullback terbaik di Italia dan dunia terbuka lebar. Apalagi, kalau ia bisa tampil konsisten dan membawa Italia melangkah jauh di Euro 2020.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.